Bab 47 Pleaseeee

Penulis JanaIndria
12 January 2026

Arsen tertawa, ia melepaskan pelukannya dan menghampiri putranya. Ia melompat masuk ke kolam bola bersama Saka. Suara tawa ayah dan anak itu memenuhi ruangan, menghapus sisa-sisa trauma yang selama ini menghantui.

Emma berdiri di ambang pintu, menatap dua pria yang paling ia cintai di dunia ini. Ia mengelus perutnya, merasakan kedamaian yang sesungguhnya. Ia menoleh ke arah jendela, menatap taman rumah Wijaya yang hijau.

‘Ayah, Ibu...’ batin Emma. ‘Kak Erlan akan menikah, dan aku sudah kembali ke rumahku. Benang yang dulu putus, sekarang sudah tersambung kembali. Dan kali ini, jahitannya jauh lebih kuat,’ bisik Emma dengan penuh harap dan keyakinan.


Malam telah larut di kediaman Adhianata. Suara tawa Saka yang tadi memenuhi lorong kini telah digantikan oleh kesunyian yang menenangkan. Bocah kecil itu telah terlelap di kamar barunya, dijaga oleh Ibu Suti yang bersikeras ingin memberikan waktu privat bagi orang tua Saka.

Arsen menutup pintu kamar utama dengan perlahan. Bunyi klik dari kunci yang berputar seolah menjadi tanda dimulainya sebuah babak yang selama dua tahun ini hanya ada dalam angan-angan.

Emma berdiri di dekat jendela besar yang menghadap ke taman. Ia masih mengenakan gaun tidur sutra berwarna off-white pemberian Aleea. Cahaya bulan masuk menyinari lekuk tubuhnya, memberikan aura yang begitu magis.

Arsen berjalan mendekat, langkahnya tanpa suara di atas karpet tebal. Ia berhenti tepat di belakang Emma, namun tidak langsung menyentuhnya. Ia hanya menghirup dalam-dalam aroma melati yang menguar dari rambut Emma.

"Dua tahun, Emma," bisik Arsen, suaranya parau dan rendah. "Dua tahun yang lalu aku membenci kamar ini karena ia terlalu luas untuk satu orang."

Emma berbalik, menatap mata Arsen yang kini dipenuhi binar pemujaan. "Sekarang tidak lagi, Kak. Aku di sini. Nyata."

Arsen mengulurkan tangan, jemarinya yang gemetar menyusuri garis rahang Emma, turun ke leher, lalu berhenti di pundak. "Boleh aku memastikannya lagi? Bahwa ini bukan sekadar halusinasi akibat dukaku?"

Emma tersenyum, senyum yang begitu manis namun sarat akan undangan. Ia meraih tangan Arsen, membawanya ke dadanya, tepat di mana detak jantungnya berpacu kencang. "Rasakan ini, Kak. Jantung ini berdetak untukmu. Masih sama seperti dulu."

Arsen menarik napas pendek. Tanpa peringatan, ia merengkuh pinggang Emma, menariknya hingga tidak ada lagi udara di antara mereka. Ia menunduk, mencari bibir Emma yang sudah sangat ia rindukan.

Ciuman itu dimulai dengan rasa lapar yang tertahan. Awalnya liar, penuh tuntutan, seolah Arsen ingin menghapus setiap detik kerinduan yang menyiksanya selama ini. Emma membalasnya dengan intensitas yang sama, tangannya meremas rambut di tengkuk Arsen, menariknya lebih dalam.

"Hmm... Kak-" Emma mendesah pelan di sela-sela cumbuan mereka.

Arsen melepaskan tautan bibir mereka sejenak, namun tetap membiarkan wajahnya hanya beberapa milimeter dari wajah Emma. Napas mereka memburu, beradu menjadi satu uap hangat.

"Aku merasa seperti remaja lagi," bisik Arsen sambil terkekeh kecil, namun matanya gelap oleh gairah. "Tanganku gemetar hanya karena menciummu."

"Aku juga, Aku," Emma meraba dada Arsen, merasakan otot-pundak suaminya yang mengeras di balik piyama satinnya. "Dua tahun aku tidak pernah disentuh siapa pun. Kulitku merindukan tanganmu sampai rasanya perih."

Arsen membelai pipi Emma, lalu ibu jarinya mengusap bibir Emma yang kini memerah dan sedikit basah. "Setiap jengkal kulitmu adalah peta yang ingin kuhafal ulang malam ini. Tidak akan ada bagian yang terlewat."

Arsen mengangkat tubuh Emma dalam satu gerakan mantap, membawanya menuju ranjang besar yang sudah ditaburi aroma lavender. Ia meletakkan Emma dengan sangat hati-hati, lalu ikut naik ke atasnya, menumpu tubuhnya dengan kedua sikunya.

Tangan Arsen mulai bekerja. Ia meraba lengan Emma, menyusuri garis bahu, lalu perlahan menurunkan ritsleting gaun tidur Emma. Kain sutra itu meluncur jatuh, menyingkap keindahan yang selama ini tersembunyi.

Arsen tertegun sesaat. Ia menatap bekas stretch mark halus di perut Emma—jejak dari kehadiran Saka. Bukannya merasa terganggu, Arsen justru menunduk dan menciumi garis-garis itu dengan penuh hormat.

"Ini adalah tato paling indah yang pernah kulihat," bisik Arsen di atas kulit perut Emma. "Saksi bisu perjuanganmu melahirkan putra kita tanpa aku di sampingmu."

Air mata Emma menetes, ia mengusap rambut Arsen. "Rasa sakitnya hilang setiap kali aku membayangkan wajahmu, Sen."

Arsen mendongak, matanya berkilat. Ia kembali mencium Emma, kali ini lebih lembut, lebih merayap. Tangannya meraba lekukan pinggul Emma, merasakan kulit yang sehalus porselen namun hangat membara. Sentuhannya berpindah ke paha, lalu naik kembali, memancing desahan-desahan kecil dari bibir Emma.

"Kak... ah, Kak ... kumohon," lirih Emma, tubuhnya melengkung mengikuti sentuhan tangan Arsen yang kini semakin berani.

"Sabar, Sayang," bisik Arsen di telinga Emma, sebelum menyesap cuping telinganya, membuat Emma bergidik hebat. "Kita punya sepanjang malam. Aku ingin meresapi setiap detakmu."

Arsen meraba punggung Emma, kulit mereka yang bersentuhan seolah memercikkan aliran listrik. Ia menciumi leher Emma, memberikan tanda-tanda merah kecil yang menandakan kepemilikannya. Tangannya kini mulai menjelajah lebih jauh, mencari titik-titik sensitif yang dulu sangat ia hafal.

Setiap kali Arsen menyentuh bagian yang tepat, Emma akan membalas dengan remasan di punggung Arsen, kukunya sedikit menancap, menyalurkan rasa nikmat yang tak terbendung.

"Arsen, aku ingin merasakanmu... sekarang," bisik Emma, suaranya serak oleh gairah.

Arsen melepaskan pakaiannya sendiri dengan tergesa, menyingkap tubuh tegapnya yang penuh otot hasil dari pelarian stresnya selama dua tahun. Saat kulit mereka akhirnya bertemu sepenuhnya, tanpa penghalang sehelai benang pun, sebuah erangan kepuasan keluar dari bibir keduanya.

"Kamu sangat cantik, Emma. Jauh lebih cantik dari ingatanku," ujar Arsen sambil menatap mata Emma dalam-dalam.

"Dan kamu... masih suamiku yang paling tampan," balas Emma.

Penyatuan itu terjadi dengan sangat magis. Bukan sekadar pelepasan biologis, melainkan sebuah ritual kembalinya sang pemilik kepada rumahnya. Arsen bergerak dengan ritme yang penuh perasaan, sesekali berhenti hanya untuk mencium kening Emma, memastikan istrinya tetap nyaman.

Emma memeluk Arsen erat, kakinya melingkar di pinggang suaminya, mencoba membawa Arsen sedalam mungkin ke dalam dirinya. Setiap gerakan membawa mereka semakin tinggi, melampaui rasa sakit masa lalu, melampaui ketakutan akan Ibra, melampaui segala duka.

"Aku mencintaimu... Kak," rintih Emma di puncak kenikmatannya.

"Aku lebih mencintaimu, Emma... Selamanya," sahut Arsen, suaranya pecah saat ia akhirnya mencapai puncak bersama istrinya.

Hening kemudian menyelimuti kamar itu. Hanya suara napas yang memburu dan detak jantung yang beradu. Arsen tidak segera menjauh; ia tetap memeluk Emma, membiarkan tubuh mereka tetap menyatu dalam kehangatan sisa gairah.

Emma menyandarkan kepalanya di dada Arsen, jarinya membentuk pola-pola abstrak di kulit dada suaminya yang berkeringat. "Sen?"

"Hmm?" Arsen mencium puncak kepala Emma.

"Sindrom Couvade-mu... apa masih terasa?" tanya Emma dengan nada menggoda.

Arsen tertawa rendah, sebuah tawa yang terdengar sangat bahagia. "Sekarang yang terasa hanya kepuasan yang luar biasa. Dan mungkin sedikit rasa lapar. Tapi bukan lapar akan makanan."

Arsen membalikkan posisi mereka, kembali menatap Emma dengan tatapan lapar yang baru. "Aku baru menyadari, dua tahun itu waktu yang sangat lama untuk ditebus hanya dalam satu kali, kan?"

Emma tertawa kecil, menarik tengkuk Arsen untuk ciuman berikutnya. "Kalau begitu, jangan berhenti. Aku tidak keberatan jika kita harus terjaga sampai fajar."