"Dengan senang hati, Nyonya Adhianata," bisik Arsen sebelum kembali menenggelamkan dirinya dalam keindahan istrinya.
Malam itu, kamar di sayap kanan kediaman Adhianata menjadi saksi bahwa maut pun tak bisa memisahkan apa yang telah disatukan oleh rasa sakit dan cinta yang murni. Di balik pintu jati itu, sebuah kehidupan baru telah benar-benar dimulai.
Semburat jingga mulai muncul di ufuk timur. Arsen terbangun lebih dulu, namun ia tidak beranjak. Ia hanya diam, menikmati pemandangan paling indah di dunia: Emma yang tertidur pulas di pelukannya, dengan seulas senyum tipis di bibirnya yang sedikit bengkak.
Arsen meraba wajah Emma dengan sangat pelan, takut membangunkannya. Ia merasa menjadi pria paling kaya di dunia, bukan karena saham Adhianata Corp, melainkan karena wanita di pelukannya ini.
Emma bergerak sedikit, lalu membuka matanya perlahan. "Sen? Jam berapa ini?"
"Baru jam lima subuh, Sayang. Tidurlah lagi," bisik Arsen.
Emma menggeliat, merasakan pegal yang menyenangkan di sekujur tubuhnya. "Badanku terasa seperti habis maraton."
"Maaf," Arsen nyengir nakal. "Aku sedikit... bersemangat tadi malam."
Emma tertawa, ia menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua. "Jangan minta maaf. Aku menyukai setiap detiknya."
Emma bangkit duduk, bersandar pada bahu Arsen. "Sen... soal Ibra. Apa dia benar-benar tidak bisa menyentuh kita lagi?"
Arsen memegang tangan Emma, menatapnya dengan serius. "Dia di penjara dengan keamanan maksimum, Emma. Papa sudah memastikan dia tidak akan pernah mendapatkan remisi. Dan mulai sekarang, ke mana pun kamu dan Saka pergi, ada tim keamanan yang menjagamu tanpa mengganggu privasimu. Aku tidak akan membiarkan kesalahan yang sama terulang."
"Terima kasih, Arsen."
Tiba-tiba, suara ketukan kecil terdengar di pintu.
"Ayah? Bunda? Saka sudah bangun!" suara cadel itu terdengar dari luar, disusul suara Ibu Suti yang mencoba membujuknya.
Arsen dan Emma saling pandang, lalu tertawa bersama. Hidup mereka yang sebenarnya telah kembali. Bukan lagi kesunyian yang mencekam, melainkan kebisingan yang manis dari seorang putra yang menjadi bukti cinta mereka.
"Masuk, Saka!" seru Arsen sambil merapikan selimut.
Pintu terbuka, dan bocah kecil itu berlari masuk, melompat ke tengah-tengah ranjang di antara Ayah dan Bundanya. Ibu Suti berdiri di ambang pintu dengan senyum penuh arti.
"Maaf, Pak Arsen, Neng Emma. Mas Saka sudah nggak sabar mau pamer mobil barunya," ujar Ibu Suti.
"Nggak apa-apa, Bu Suti," sahut Emma sambil memeluk Saka.
Arsen merangkul keduanya—istrinya dan anaknya. Ia menatap langit-langit kamar, lalu memejamkan mata dengan rasa syukur yang amat dalam.
"Terima kasih sudah pulang, Emma," bisik Arsen sekali lagi.
Suara derit pintu besi yang berat menggema di lorong dingin Lembaga Pemasyarakatan Kelas I. Ibra berjalan dengan tangan terborgol, dikawal oleh dua petugas sipir. Wajahnya yang dulu angkuh kini tampak kusam, dengan janggut tipis yang tidak terawat. Namun, matanya tetap memancarkan api kegilaan yang sama.
Di ruang kunjungan yang dibatasi kaca tebal, seorang wanita muda duduk dengan gelisah. Ivana, adik perempuan Ibra, menatap kakaknya dengan pandangan yang sulit diartikan—campuran antara benci, malu, dan sisa-sisa kasih sayang keluarga.
Ibra duduk, meraih gagang telepon di balik kaca. "Tumben kamu datang, Ivana. Mana Papa? Mana pengacara? Kapan aku bisa keluar dari lubang ini?"
Ivana menarik napas panjang, menatap Ibra dengan mata yang berkaca-kaca. "Mas... berhentilah bertanya soal pengacara. Papa sudah menyerah. Mas tahu sendiri siapa yang Mas lawan. Adhianata bukan orang yang bisa disogok."
"Halah! Arsen itu cuma beruntung, tapi aku puas karena istrinya mati!" Ibra tertawa sinis, suara tawanya kering. "Setidaknya aku menang, Ivana. Dia kaya, tapi dia sendirian. Dia hancur."
Ivana terdiam sejenak, lalu ia mendekatkan wajahnya ke kaca. "Itu alasan aku ke sini, Mas. Aku ingin Mas berhenti bermimpi bahwa Mas menang."
"Maksudmu apa?" rahang Ibra mengeras.
"Emma masih hidup, Mas," bisik Ivana.
Ibra tertegun. Gagang telepon di tangannya nyaris terlepas. "Jangan bohong kamu! Aku lihat dia jatuh! Aku yang mengatur semuanya!"
"Dia selamat," lanjut Ivana, suaranya bergetar. "Dan bukan cuma itu. Dia punya anak. Laki-laki. Namanya Saka. Dia anak Arsen, Mas. Wajahnya sangat mirip dengan Arsen."
Ibra berdiri dengan sentakan yang membuat kursinya terjungkal. Matanya melotot, urat-urat di lehernya menonjol. "BOHONG! KAMU PASTI DISUAP ARSEN UNTUK BICARA BEGINI!"
"Buat apa aku bohong, Mas?" tangis Ivana pecah. "Seluruh Jakarta sudah tahu. Arsen baru saja mengadakan pesta penyambutan besar-besaran. Emma kembali sebagai desainer ternama. Mereka bahagia, Mas! Mereka punya keluarga yang sempurna, sementara kamu membusuk di sini!"
"TIDAAAK! EMMA HARUS MATI! DIA MILIKKU!" Ibra memukul kaca tebal itu dengan tangan terborgol. Brak! Brak! "IBRA TIDAK PERNAH KALAH!"
"Mas, sadarlah!" teriak Ivana dari balik kaca. "Kegilaanmu ini yang membunuh masa depan kita! Gara-gara Mas, keluarga kita hancur! Arsen sudah menutup semua jalur bisnis Papa! Kita miskin, Mas! Dan Mas masih saja memikirkan wanita yang bahkan tidak pernah melihat Mas?"
Petugas segera meringkus Ibra yang mulai histeris. Ia meronta-ronta, wajahnya merah padam karena amarah yang memuncak.
"AKU AKAN KELUAR! AKU AKAN MEMBUNUH ANAK ITU! AKU AKAN MEMBAKAR RUMAH MEREKA!" raung Ibra.
"Mas tidak akan pernah keluar," ucap Ivana dengan nada dingin yang menyayat hati. "Papa sendiri yang meminta jaksa untuk memberikan hukuman maksimal agar Mas tidak menyakiti siapa pun lagi. Selamat tinggal, Mas. Ini terakhir kalinya aku menjengukmu."
Ivana meletakkan telepon, berdiri, dan berjalan pergi tanpa menoleh lagi. Di belakangnya, suara raungan Ibra yang putus asa menggema di seluruh ruang kunjungan, suara dari seorang pria yang menyadari bahwa benteng kegilaannya telah runtuh total.
Di sisi lain kota, sebuah mobil Mercedes hitam melaju pelan memasuki sebuah perumahan asri. Di balik kemudi, Arsen sesekali melirik Emma yang duduk di sampingnya. Emma tampak tenang, namun jemarinya terus meremas ujung blusnya, menandakan ada kegugupan yang tersimpan.
"Kamu oke?" tanya Arsen lembut, sambil meraih tangan Emma dan menggenggamnya.
Emma tersenyum tipis. "Hanya... sedikit tegang, Kak. Sudah lama sekali aku tidak melihat rumah itu. Kak Erlan bilang dia melakukan banyak perubahan, tapi dia tetap mempertahankan denahnya."
"Erlan sangat mencintai rumah itu, Emma. Sama seperti dia mencintaimu. Dia ingin rumah itu siap menyambutmu, kapan pun kamu 'pulang'," ujar Arsen.
Mobil berhenti di depan sebuah pagar besi minimalis berwarna hitam. Di baliknya, berdiri sebuah rumah bergaya modern-kontemporer yang sangat gagah. Penggunaan material batu alam dan kayu jati yang dominan memberikan kesan mewah namun tetap hangat.
"Masya Allah..." Emma turun dari mobil, matanya membelalak. "Ini... ini rumah kita dulu, Kak?"
"Strukturnya sama," Arsen berdiri di sampingnya. "Tapi Erlan menggunakan material terbaik. Dia ingin rumah ini sekuat Adhianata Digital."
Erlan keluar dari pintu depan, mengenakan kaos santai. Di sampingnya, Nuri tersenyum manis menyambut mereka.
"Dek! Akhirnya sampai juga," Erlan menghampiri adiknya, memeluknya singkat. "Ayo masuk. Cicipi rumah baru rasa lama."
"Kak... ini bagus banget," bisik Emma saat melangkah masuk ke ruang tamu.
Tata letaknya persis seperti yang Emma ingat. Letak jendela, posisi tangga, bahkan sudut tempat ayahnya dulu biasa membaca koran. Namun sekarang, lantainya menggunakan marmer putih yang sejuk, dan dindingnya dihiasi panel kayu yang memberikan aroma hutan yang menenangkan.
"Aku tidak mengubah satu jengkal pun garis temboknya, Emma," Erlan menjelaskan sambil menuntun mereka berkeliling. "Ruang makan tetap di sana, kamar Ibu dan Bapak tetap di sana. Hanya saja, atapnya sekarang lebih tinggi supaya sirkulasi udaranya lebih enak."
Emma menyentuh pegangan tangga kayu yang sangat halus. "Pegangan ini... masih berbentuk melengkung seperti dulu ya, Kak?"