Bab 49 Berkah rumah lama

Penulis JanaIndria
12 January 2026

"Iya. Aku memesan khusus ke tukang kayu di Jepara supaya bentuknya persis dengan yang lama, tapi bahannya pakai kayu jati tua supaya tidak keropos lagi," Erlan tersenyum bangga.

Langkah Emma terhenti saat ia mencapai sayap kanan rumah. Di sana terdapat sebuah ruangan kecil dengan pintu kaca yang menghadap ke taman belakang.

"Ini ...." Emma membuka pintu itu.

"Ini ruang pribadimu dulu, Em," ujar Erlan pelan. "Dulu ini gudang, tapi aku ingat kamu sering menjahit di sini sambil melihat hujan di taman. Jadi, aku buatkan ruangan khusus untukmu."

Emma masuk ke dalam. Ruangan itu sudah dilengkapi dengan mesin jahit industri yang terbaru, rak benang yang tersusun rapi, dan sebuah meja pola yang sangat luas. Di dindingnya, terdapat foto masa kecil Erlan dan Emma yang sedang bermain di taman itu.

Emma menutup mulutnya, air mata mulai mengalir. "Kak ... kenapa Kakak sebaik ini?"

Erlan menghampiri adiknya, merangkul bahunya. "Karena saat rumah ini hancur dan orang tua kita tidak ada, kamu adalah rumah bagiku, Emma. Selama dua tahun kamu hilang, aku merawat rumah ini seolah-olah aku sedang merawatnya bersamamu. Aku, kita hanya punya kenangan ini, kenangan kecil kita."

"Dan aku ingin kamu merasa bahwa kenangan kita tidak pernah dibongkar oleh buldoser."

Arsen yang berdiri di ambang pintu, menatap Erlan dengan rasa hormat yang mendalam. Ia menyadari bahwa bukan hanya dirinya yang berjuang dengan "kegilaan" harapan. Erlan, dengan cara yang lebih tenang namun sangat kokoh, telah membangun monumen cinta untuk adiknya.

"Terima kasih, Lan," ucap Arsen tulus.

Erlan menoleh dan mengangguk. "Sen, rumah ini juga terbuka untuk Saka. Aku sudah siapkan area bermain di taman belakang. Persis di tempat kita dulu main kelereng."

Nuri mendekat, membawa nampan berisi teh hangat. "Ayo, diminum dulu. Mas Erlan ini kalau bicara soal rumah bisa berjam-jam, lupa kalau tamunya haus."

Mereka semua duduk di teras belakang, menghirup aroma tanah dan rumput yang basah karena hujan tadi sore. Suara gemericik air dari kolam ikan koi milik Erlan menambah ketenangan sore itu.


"Sen, aku dengar dari Aleea, butik L'Aura mau buka cabang di sini?" tanya Erlan membuka percakapan.

"Iya. Bu Melani ingin Emma memimpin cabang di dekat sini agar dia tidak terlalu jauh dari Saka dan rumah ini," jawab Arsen.

Emma menatap kakaknya. "Kak, soal Mbak Nuri... kapan rencana resepsinya? Gaunnya sudah hampir selesai, lho. Aku tambahkan detail melati yang paling halus untuk Mbak Nuri."

Nuri tersenyum malu-malu. "Kami rencananya bulan depan, Emma. Di rumah ini saja. Erlan ingin akadnya dilakukan di ruang tengah, di tempat yang sama saat Bapak dan Ibu dulu membahagiakan kita."

Arsen tertegun tak percaya. "Di rumah ini? Kamu yakin, Lan?"

"Yakin, Sen. Aku ingin membawa berkat baru ke rumah tua ini. Aku ingin rumah ini kembali penuh dengan suara tawa, bukan hanya bayangan masa lalu," jawab Erlan mantap.

Emma meraih tangan Nuri. "Aku akan buatkan gaun paling cantik untuk Mbak. Terima kasih sudah mencintai Kakakku yang kaku ini."

Mereka tertawa bersama. Suasana begitu cair, sangat manusiawi, dan penuh dengan kehangatan yang selama dua tahun ini menjadi barang langka.

"Kak," panggil Emma pelan, kepalanya bersandar di bahu Arsen. "Boleh kita sering-sering ke sini? Aku ingin Saka tahu di mana ibunya dulu belajar berjalan."

Arsen mengecup puncak kepala Emma. "Tentu, Sayang. Rumah ini, rumah kita, kantor... semuanya adalah milikmu sekarang. Kamu tidak perlu lagi sembunyi di balik daster lusuh atau suara kereta api."

Malam mulai turun, lampu-lampu taman yang hangat mulai menyala, menerangi rumah yang dulu suram kini menjadi istana kenangan yang megah. Di dalam penjara, seorang pria meraung dalam kebenciannya. Namun di sini, di bawah langit yang sama, cinta baru saja menyelesaikan jahitannya yang paling sempurna. Sebuah kehidupan yang mengalir, sederhana, dan akhirnya... pulang.


Saat Arsen sedang membantu Erlan mengecek sistem keamanan rumah yang baru, Emma dan Nuri duduk berdua di gazebo taman.

"Mbak Nuri," panggil Emma pelan.

"Iya, Emma?"

"Terima kasih ya, sudah menemani Kak Erlan di saat-saat tersulitnya. Aku tahu, menjadi orang yang ditinggalkan itu berat, tapi menjadi orang yang harus menopang mereka yang ditinggalkan itu jauh lebih berat."

Nuri tersenyum lembut, memegang tangan Emma. "Erlan itu pria yang hebat, Emma. Dia tidak banyak bicara, tapi setiap batu yang dia pasang di rumah ini, dia sebut namamu dalam doanya. Aku tidak pernah merasa cemburu, justru aku merasa terharu bisa menjadi bagian dari keluarga yang cintanya sekuat ini."

Emma terharu mendengarnya. "Kak Erlan memang begitu. Dia tidak pandai mengekspresikan perasaan lewat kata-kata, tapi dia akan membangunkan istana kalau itu bisa membuat orang yang dia sayangi tersenyum."

Tiba-tiba ponsel Emma bergetar. Sebuah video call dari rumah.

"Bunda! Ayah! Saka... sudah... ma-em!" wajah Saka yang gembil muncul di layar, sedang memamerkan mulutnya yang belepotan cokelat, didampingi Ibu Suti yang tertawa di belakangnya.

"Aduh, anak Bunda pinter banget!" seru Emma riang. "Eyang Suti, Saka jangan dikasih cokelat kebanyakan ya, nanti nggak mau tidur."

"Ndak apa-apa, Neng. Sekali-kali," suara Ibu Suti terdengar hangat di seberang sana.

"Ini Mas Saka sudah kangen, katanya mau pamer mobil-mobilan baru pemberian dari Pak Jaka."

"Iya, nanti Bunda pulang ya, Sayang. Bunda sama Ayah sedang di rumah Eyang Erlan."

Menutup telepon itu, Emma menghela napas lega. Ia menatap Nuri. "Dulu, aku pikir duniaku sudah berakhir di peron itu, Mbak. Ternyata, Tuhan hanya memutar jalan sedikit supaya aku tahu betapa berharganya setiap detik yang aku miliki sekarang."

Nuri dia, namun pelukan hangat merupakan jawabn yang di butuhkan oleh Emma, saat ini dan mungkin selamanya.

HIngga akhirnya pelukan mereka terurai saat Arsen dan Erlan kembali menghampiri mereka.

"Sudah malam, ayo kita pulang. Saka sudah mulai merepotkan Ibu Suti," ajak Arsen sambil merangkul pinggang Emma.

"Lan, minggu depan aku kirimkan tim untuk bantu persiapan akad ya," ujar Arsen pada Erlan.

"Siap, Sen. Terima kasih."

Saat mobil Mercedes hitam itu perlahan meninggalkan gerbang rumah, Emma menoleh ke belakang, menatap rumah masa kecilnya yang kini bersinar terang. Ia tidak lagi melihat puing kesedihan di sana. Yang ia lihat adalah sebuah pelabuhan baru untuk masa depan.

Di dalam mobil, Arsen menggenggam tangan Emma erat.

"Besok," ujar Arsen, "kita mulai hari baru tanpa rahasia lagi, ya?"

Emma mengangguk, menyandarkan kepalanya di bahu Arsen. "Iya, Sen. Tanpa rahasia. Hanya kita."

Dan di bawah lampu jalanan Jakarta yang berkelap-kelip, kehidupan sang pengantin yang kembali telah menemukan ritmenya yang paling indah.