"Kalau kalian datang ke sini karena cermin itu," kata tetua itu tanpa menoleh, "berarti waktunya sudah hampir habis."
Sarah dan Mia berhenti melangkah.
"Bapak... tahu dari mana kami ke sini mau bertanya soal... cermin?" tanya Sarah ragu-ragu.
Tetua itu tidak menjawab. Ia hanya menghela napas yang terdengar samar di telinga Sarah.
Rumah kayu itu terlihat gelap dan sempit, hanya diterangi cahaya matahari pagi yang masuk dari celah-celah papan dinding. Aroma kayu tua dan dupa bercampur jadi satu, membuat udara terasa berat tapi anehnya menenangkan.
"Bapak bilang… waktunya sudah hampir habis. Apa maksudnya?" tanya Mia hati-hati.
Tetua itu, yang diketahui bernama Wira, menutup pintu perlahan. "Batas perlindungan desa ini tidak permanen. Sama seperti jimat yang kalian bawa."
Sarah refleks memegang kalungnya. "Bapak juga tahu soal jimat ini?"
Wira berbalik. Tatapannya kini meneliti wajah Sarah, cukup lama hingga Sarah merasa tidak nyaman. "Aku tahu siapa yang memberimu itu. Dan aku tahu kenapa makhluk di cermin memilihmu."
Sarah menahan napas. "Kami ke sini karena satu hal, Pak. Kami mau tahu asal-usul cermin itu. Beberapa waktu lalu, saya membelinya dari toko barang antik di pusat kota Indahpura."
Wira mengangguk pelan, seolah perkataan Sarah itu sudah ia duga. "Indah Mahkota Antik."
Sarah menelan salivanya gugup. "Betul, toko itu. Bapak... kenal dekat dengan keluarga pemiliknya?"
Wira mengangguk lagi. "Pemilik toko itu sudah meninggal. Kamu mungkin sudah dengar juga soal anak pemilik toko itu yang kini tidak diketahui keberadaannya."
Mia langsung mencondongkan badan. "Reno Gutama?"
"Kalian tahu namanya," gumam Wira. "Berarti sudah lebih jauh dari yang seharusnya."
Sarah dan Mia saling bertukar pandang.
Ruang tengah rumah itu sederhana. Lantai kayu tua berderit setiap kali diinjak. Dindingnya dipenuhi anyaman bambu dan beberapa foto hitam putih yang warnanya hampir habis dimakan usia. Di sudut ruangan, ada meja kecil dengan dupa menyala pelan, asapnya melingkar naik membentuk pola aneh sebelum menghilang di langit-langit.
Wira duduk perlahan, gerakannya lambat, seolah setiap kata yang akan ia ucapkan membutuhkan pertimbangan matang. Ia pun lalu memberi isyarat agar Sarah dan Mia ikut duduk.
"Keluarga Gutama bukan sekedar pedagang barang antik," kata Wira akhirnya. "Mereka adalah penjaga. Penjaga benda-benda yang seharusnya tidak pernah jatuh ke tangan manusia."
Sarah mengerutkan kening. "Penjaga… seperti apa maksudnya?"
"Seperti yang kalian pikirkan," jawab Wira lirih. "Benda terkutuk. Benda yang mengikat makhluk dari dunia lain. Cermin yang kalian bawa itu salah satunya."
Mia menggigit bibir. "Berarti cermin itu memang… hidup?"
Wira tidak langsung menjawab. Ia meraih kotak kayu kecil di bawah bangku, lalu membukanya. Di dalamnya ada kain hitam yang warnanya sudah pudar. Dengan hati-hati, ia membuka kain itu, memperlihatkan sebuah pecahan kaca yang tampak usang.
Sarah merasakan jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.
"Ini sisa dari cermin yang gagal dijaga," kata Wira. "Dulu, ada satu keluarga yang mencoba menghancurkannya tanpa ritual. Akibatnya, makhluk di dalamnya bebas… tapi hanya sementara. Sebelum akhirnya menghabisi mereka satu per satu."
"Bukannya cermin itu gak bisa dihancurkan?" gumam Mia sambil melirik Sarah yang terlihat tegang.
Wira menoleh ke arah mereka, memperhatikan keduanya dengan seksama. "Apa kalian sudah pernah mencoba menghancurkan cermin itu?"
Pertanyaan Wira barusan berhasil membuat Sarah menelan salivanya, gugup.
"Saya... pernah mencoba buang cermin itu dari kamar hotel. Tapi bukannya hancur, cermin itu malah..." Sarah menghentikan ucapannya.
Memori tentang kematian Ken dan Dilla, serta Reza yang dipenjara karena cermin itu, membuat Sarah merasa bersalah untuk kesekian kalinya.
Wira menatap Sarah cukup lama seolah sedang membaca apa yang ada di pikirannya.
"Orang terdekatmu jadi korban? Ada yang meninggal?" tanyanya.
Sarah menoleh cepat ke arah Wira. Begitu pun dengan Mia yang sejak tadi hanya diam memperhatikan.
Melihat respon keduanya, Wira langsung mengerti bahwa cermin yang dibawa oleh Sarah sudah menelan banyak korban.
"Reno... kalian bisa menemuinya di hutan larangan. Namun, saya tidak yakin apakah kalian bisa selamat sampai sana tanpa bertemu makhluk apapun di perjalanan."
Wira menghela napas panjang, lalu berdiri dan berjalan menuju jendela kecil di samping rumah. Ia membuka sedikit penutupnya, menatap ke arah pepohonan yang menjulang tinggi, gelap di kejauhan.
"Hutan larangan itu bukan sekadar tempat," katanya pelan. "Itu benteng terakhir. Reno masuk ke sana bukan karena dikurung atau dikejar. Dia memilih bersembunyi."
Sarah tertegun. "Memilih… bersembunyi?"
Wira mengangguk. "Setelah ayahnya meninggal, Reno sadar satu hal. Selama dia berada dekat dengan peradaban, makhluk dari benda-benda antik yang dimiliki keluarganya, akan terus mencari inang baru. Dan selama namanya masih terhubung dengan keluarga Gutama, makhluk-makhluk itu tidak akan berhenti mengikutinya."
Mia menelan ludah. "Jadi dia sembunyi di hutan larangan supaya… makhluk itu gak bisa keluar?"
"Kurang lebih seperti itu," jawab Wira. "Hutan itu menekan keberadaan mereka. Membuat mereka lemah. Reno tahu risikonya. Dia hidup di antara batas sadar dan tidak, supaya makhluk-makhluk itu tidak bisa sepenuhnya menguasainya."
Sarah meremas jari-jarinya sendiri. "Tapi kalau begitu… dia sendirian selama ini?"
"Tidak," kata Wira lirih. "Ada penjaga lama di sana. Dan ada harga yang harus dibayar setiap hari."
Mia mengernyit. "Harga?"
Wira kembali duduk. Tatapannya kini jauh lebih tajam dari sebelumnya. "Reno harus terus menahan diri untuk tidak keluar. Sekali saja dia meninggalkan hutan itu terlalu lama, makhluk yang terikat padanya akan mencari pengganti. Dan kalian sudah tahu, siapa yang sering menjadi sasaran."
Sarah merasa dadanya sesak. Bayangan wajah-wajah orang yang telah mati kembali muncul di benaknya.
"Kalau kami menemui Reno," ujar Sarah pelan, "apa dia benar-benar bisa menghentikan semua ini?"
Wira terdiam cukup lama sebelum menjawab. "Dia tahu lebih banyak tentang cermin itu daripada siapa pun yang masih hidup. Tapi bertemu dengannya bukan berarti kalian akan mendapatkan jawaban yang kalian inginkan."
"Apa maksudnya?" tanya Mia.
"Karena Reno sudah terlalu lama hidup dengan rasa bersalah," jawab Wira. "Dan orang seperti itu seringkali lebih memilih diam daripada membuka luka lama."
Di luar, angin berdesir melewati sela-sela pepohonan. Suaranya terdengar seperti bisikan yang saling bertabrakan.
"Kalau kami tetap pergi," kata Sarah akhirnya, suaranya mantap meski tangannya gemetar, "apa yang harus kami lakukan supaya bisa sampai ke sana hidup-hidup?"
Wira berdiri lagi, lalu mengambil segenggam abu dari wadah dupa. Ia membaginya ke dalam dua kantong kain kecil dan menyerahkannya pada Sarah dan Mia.
"Jangan menyebut nama siapa pun di hutan," pesannya. "Jangan menjawab jika ada suara yang memanggil kalian. Dan yang terpenting… jangan bercermin di sana."
Mia mengernyit. "Bercermin?"
"Air, kaca, bahkan bayangan di mata satu sama lain," kata Wira tegas. "Makhluk itu suka mencari celah."
Sarah mengangguk pelan.
Saat mereka bersiap pergi, Wira memanggil sekali lagi. "Satu hal yang harus kalian ingat. Reno tidak terikat oleh cermin. Dia bersembunyi karena ingin menebus kesalahan keluarganya. Kalau kalian datang dengan niat memaksa… hutan itu sendiri yang akan menolak kalian."
Sarah dan Mia saling pandang, lalu mengangguk pelan dan berpamitan kepada Wira.
Tidak ada jalan kembali.
Ketika mereka melangkah keluar dari rumah kayu itu, batas hutan larangan mulai terlihat semakin dekat. Pepohonan tampak lebih rapat dan gelap, seolah menunggu.
Dan entah kenapa, Sarah merasa sesuatu di dalam cermin itu ikut menunggu juga.