“Nayla!” kata Sudarta dengan nada terkejut. “Jadi kamu yang menjadi investor kami?”
Nayla, yang kini dikenal sebagai Mrs. Andrian, hanya bisa tersenyum tipis. “Ya, Pak Sudarta. Saya yang akan menjadi investor untuk kantor cabang di Tegal.”
“Ya Tuhan, bagaimana ceritanya? Dulu kamu hanyalah seorang sekretaris, sekarang kamu menjadi orang hebat,” kata Sudarta, masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Nayla tersenyum lebih lebar. “Waktu dan kerja keras bisa mengubah banyak hal, Pak Sudarta. Saya telah bekerja keras untuk mencapai posisi ini.”
Tiba-tiba, dari balik kerumunan, Abidin muncul dan berdiri di hadapan Sudarta. Wajah Sudarta berubah menjadi pucat. “Abidin, kaukah itu?” tanyanya dengan suara gemetar.
“Benar, Pak! Saya Abidin yang sekarang menjadi bagian dari perusahaan Mrs. Andrian,” jawab Abidin dengan nada penuh kemenangan.
Sudarta tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia merasa dunia seakan berputar di sekelilingnya. Dengan tangan gemetar, ia mempersilahkan Nayla dan Abidin masuk ke ruang meeting. Di dalam ruangan, suasana terasa tegang. Sudarta mencoba mengendalikan dirinya, tetapi pikirannya terus berputar, mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi.
Nayla duduk di kursi utama, sementara Abidin berdiri di sampingnya. “Pak Sudarta, saya ingin membahas rencana investasi kami di Tegal,” kata Nayla dengan suara tenang namun tegas.
Sudarta mengangguk, berusaha fokus pada pembicaraan. “Baik, Mrs. Andrian. Apa yang ingin Anda ketahui?”
Nayla mulai menjelaskan rencana investasi mereka, tetapi Sudarta tidak bisa sepenuhnya mendengarkan. Pikirannya terus kembali ke masa lalu, mengingat saat-saat ketika Nayla masih menjadi sekretaris Ruswanda. Ia tidak pernah menyangka bahwa Nayla akan menjadi sosok yang begitu berpengaruh dan kuat.
Setelah beberapa saat, Nayla berhenti berbicara dan menatap Sudarta. “Pak Sudarta, apakah Anda baik-baik saja? Anda tampak sedikit terganggu.”
Sudarta tersentak dari lamunannya. “Maaf, Mrs. Andrian. Saya hanya sedikit terkejut dengan semua ini. Tapi saya yakin kita bisa bekerja sama dengan baik.”
Nayla tersenyum lagi. “Saya harap begitu, Pak Sudarta. Saya ingin memastikan bahwa investasi ini berjalan lancar dan menguntungkan bagi kedua belah pihak.”
Pertemuan itu berakhir dengan beberapa kesepakatan awal. Namun, Sudarta tahu bahwa ini baru permulaan. Ia harus mencari tahu lebih banyak tentang Nayla dan Abidin, serta apa yang sebenarnya mereka rencanakan.
Setelah pertemuan selesai, Sudarta kembali ke ruangannya. Ia merasa lelah dan bingung. Bagaimana mungkin Nayla, mantan sekretarisnya, kini menjadi investor yang begitu berpengaruh? Dan mengapa Abidin, yang telah dipecat karena korupsi, kini bekerja untuk Nayla?
Malam itu, Sudarta tidak bisa tidur. Ia terus memikirkan apa yang telah terjadi dan apa yang mungkin akan terjadi. Ia tahu bahwa ia harus bersiap untuk menghadapi segala kemungkinan. Dengan tekad yang kuat, Sudarta berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan membiarkan siapapun menghancurkan hidupnya lagi.
Sementara itu, di sebuah kantor yang sepi, Ruswanda masih berada di ruangannya. Malam itu dengan cahaya lampu remang-remang memperlihatkan meja kerjanya yang berantakan. Ia merapikan stapler, mengumpulkan berkas-berkas, dan menata pena-pena yang berserakan. Namun, diantara kertas-kertas itu, ada sesuatu yang menarik perhatiannya: sebuah test pack yang tergeletak di sudut meja.
Ruswanda mengambilnya dan memandang benda kecil itu dengan perasaan campur aduk. Test pack milik Nayla. Wanita yang pernah menjadi sekretarisnya, wanita yang pergi tanpa jejak setelah peristiwa yang menghancurkan hatinya.
Ia teringat masa lalu yang menyakitkan. Mereka berdua terlibat dalam hubungan yang seharusnya tidak pernah terjadi. Ruswanda, seorang direktur yang sudah menikah dan Nayla, seorang sekretaris muda yang cantik dan cerdas. Mereka terjebak dalam gairah yang memabukkan, mengabaikan segala akibat yang akan datang.
Hingga suatu hari, Nayla menghilang. Ia pergi tanpa kata-kata dan meninggalkan Ruswanda dengan perasaan bersalah dan kekosongan yang tak terlupakan. Ruswanda mencoba melupakan semuanya, tetapi kenangan tentang Nayla selalu menghantuinya.
Kemudian, berita itu datang. Nayla hamil. Ruswanda terkejut. Ia mengira dirinya mandul, karena selama ini ia dan istrinya tidak pernah memiliki anak. Namun, ternyata hasil diagnosa miliknya telah ditukar oleh istrinya. Istrinya yang sangat ingin memiliki keturunan, yang rela melakukan apa saja untuk memastikan mereka memiliki anak.
Ruswanda memanfaatkan situasi ini bersama Nayla. Ia berusaha memperbaiki kesalahan masa lalu dengan memberikan Nayla apa yang seharusnya menjadi haknya. Namun, perasaan bersalah dan rasa cinta yang tak pernah padam membuatnya semakin terjerat dalam permainan berbahaya ini.
Ruswanda merasa dunianya runtuh. Test pack itu, yang seolah menjadi penanda dosa dan rahasia mereka, kini menghadapinya dengan tajam. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk menjaga rahasia ini, tetapi masa lalu dan masa depannya bertabrakan di hadapannya.
Tiba-tiba, telepon berdering. Pembantunya memberitahu bahwa istrinya tiba-tiba masuk ke rumah sakit. Ruswanda merasa seakan-akan takdir sedang mempermainkannya. Ruswanda merasa seakan-akan dunia berputar lebih cepat. Telepon itu membawa kabar yang tak terduga, mengguncang ketenangan ruangannya yang remang-remang. Istrinya, yang selama ini menjadi pendamping setia, kini terbaring di rumah sakit. Apa yang terjadi? Apakah ini akibat dari rahasia yang disembunyikan selama ini?
Dalam kepanikan, Ruswanda mengambil jaketnya dan bergegas menuju pintu. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan, tetapi satu hal pasti bahwa ia harus segera berada di sana, di samping istrinya. Kenangan tentang Nayla, test pack, dan dosa masa lalu terasa semakin jauh. Yang ada hanya kekhawatiran dan ketidakpastian.
Di lorong rumah sakit yang dingin, Ruswanda berlari. Ia mencari nomor kamar yang diberikan oleh pembantunya. Setiap langkah terasa berat dan detak jaraknya semakin cepat. Istrinya, yang selama ini menjadi pusat hidupnya, kini mungkin membutuhkan pertolongan. Ruswanda berdoa, berharap agar takdir tidak mempermainkannya lagi.
Ruswanda berdiri di depan pintu ruang ICCU, pandangannya terfokus pada nomor kamar yang tertera di dinding. Pembantunya, yang setia menemaninya, menoleh dengan ekspresi khawatir. “Pak Ruswanda,” bisiknya, “Ibu Ratnawati sedang sekarat.”
Ruswanda merasa dunianya runtuh. Istrinya, Ratnawati, yang selama ini menjadi pendamping setia, kini berjuang melawan penyakit yang tak pernah diketahui oleh Ruswanda. Kanker rahim, diagnosis yang terlambat dan tanpa gejala yang jelas telah menggerogoti tubuh istrinya selama dua tahun.
Dalam kepanikan, Ruswanda memasuki ruangan itu. Ia melihat istrinya terbaring lemah, wajahnya pucat dan matanya sayu. Meski selalu berusaha kuat, Ratnawati kini tampak rapuh. Ruswanda meraih tangan istrinya, mencoba menahan air mata yang menggenang.
“Ratna,” bisiknya, “mengapa tidak pernah kau ceritakan padaku? Mengapa kau sembunyikan ini?”
Ratnawati tersenyum lemah. “Aku tidak ingin membebani mu, Pah. Kau sudah memiliki banyak tanggung jawab.”
Ruswanda merasa bersalah. Ia, yang selalu sibuk dengan pekerjaan dan urusan bisnis, tidak pernah menyadari bahwa istrinya menderita. Kini, saat kenyataan menghampiri, ia merasa tak berdaya.
Dokter datang, membawa kabar buruk. Kanker telah menyebar, dan prognosisnya tidak baik. Ruswanda menatap istrinya, mencoba menemukan kata-kata yang tepat. “Aku di sini, Ratna. Aku akan selalu di sampingmu.”
Ratnawati tersenyum lagi, matanya lelah. “Terima kasih, Pah.”
Ruswanda mencium kening istrinya. Ia merasa hancur, tak tahu bagaimana menghadapi kehilangan ini. Di antara rasa bersalah dan cinta yang tak terungkap, ia berdiri di samping tempat tidur istrinya, menunggu saat-saat terakhir.
Ruswanda berada di persimpangan yang menentukan. Di satu sisi, ada Nayla dan rahasia yang selama ini terpendam. Di sisi lain, istrinya, Ratnawati, yang terbaring lemah di kamar ICCU. Apakah Ruswanda akan mengungkapkan perselingkuhannya dengan Nayla, atau ia akan tetap menjaga perasaan Ratnawati? Pilihan ini akan mengubah segalanya. Nantikan kelanjutannya!