Bab 58 Perjuangan dan Penghianatan

22 February 2026

Para dokter dan perawat bekerja dengan cepat dan penuh konsentrasi, melakukan segala upaya untuk menyelamatkan Ratnawati. Ruswanda berdiri di sudut ruangan, hatinya dipenuhi kecemasan dan doa. Waktu seakan berjalan lambat saat ia menyaksikan tim medis berjuang untuk menghidupkan kembali istrinya.

Setelah beberapa menit yang terasa seperti seumur hidup, salah satu dokter akhirnya menoleh ke arah Ruswanda dengan ekspresi serius namun penuh harapan. "Kami berhasil mengembalikan detak jantungnya, Pak Ruswanda. Namun, kondisinya masih sangat kritis. Kami akan memindahkannya ke ICU untuk pemantauan lebih lanjut."

Ruswanda merasakan campuran antara lega dan ketakutan. Meskipun Ratnawati berhasil diselamatkan untuk saat ini, perjuangan mereka belum berakhir. Dengan hati yang penuh harapan, Ruswanda mengikuti tim medis yang membawa istrinya ke ICU, berdoa agar keajaiban terus berpihak pada mereka.

Setelah sekian lama menunggu, akhirnya dokter berhasil mengembalikan Ratna kembali hidup. “Pak Ruswanda, sepertinya istri Bapak belum bisa dioperasi saat ini karena kondisinya masih kurang stabil,” ujar dokter dengan lembut. Ruswanda hanya bisa mengangguk, dadanya terasa sesak. Malam itu, dia duduk sendirian di lorong rumah sakit, merenungi nasibnya, menunggu istrinya sadar. Cahaya neon dari koridor menyinari wajahnya yang pucat, dan detak jantungnya berdebar seiring dengan detik-detik yang berlalu. Semua yang dia inginkan adalah melihat Ratna tersenyum lagi, seperti dulu. Semoga keajaiban benar-benar berpihak pada mereka berdua.

Malam itu berubah menjadi pagi yang cerah. Di kediaman Sudarta, dia bersiap-siap untuk pergi ke kantor. Setelah mengecek tasnya dan mengenakan jas, dia melangkah keluar rumah. Udara segar menyambutnya dan dia merasa semangat untuk memulai hari.

Namun, takdir berkata lain. Saat Sudarta sedang dalam perjalanan menuju kantor pusat, tiba-tiba sebuah motor muncul dengan kecepatan tinggi. Motor itu menabrak Sudarta dengan keras, membuatnya terguling ke jalanan. Tubuhnya terasa sakit, dan dia merasa pusing. Semua orang yang berada di sekitar berkerumun untuk melihat kondisinya.

Sementara itu, pengendara motor yang menabrak Sudarta langsung kabur sebelum bisa ditangkap oleh polisi. Orang-orang berbisik, mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Sudarta merasa kesakitan dan pandangannya kabur. Dia mencoba bangkit, tetapi kakinya terasa lemah.

Beberapa orang membantunya berdiri dan seorang petugas medis segera tiba di tempat kejadian. Sudarta merasa lega melihat bantuan datang. Dia duduk di trotoar, menunggu pertolongan lebih lanjut. Wajahnya pucat dan matanya terus memandang ke arah motor yang telah menabraknya.

Dalam kebingungannya, Sudarta berusaha mengingat apa yang terjadi. Siapa pengendara motor itu? Mengapa dia kabur begitu saja? Apakah ini kecelakaan atau ada niat jahat di baliknya? Pertanyaan-pertanyaan itu berputar di benaknya, sementara dia merasa semakin lemah.

Tidak lama kemudian, ambulans tiba dan Sudarta segera dilarikan ke rumah sakit terdekat. Dia merasa khawatir tentang kondisinya, tetapi juga bersyukur karena masih hidup. Semua berubah begitu cepat, dari pagi yang cerah menjadi malam yang penuh ketidakpastian.

Sudarta memejamkan mata, berusaha meredakan rasa sakitnya. Dia berharap bisa pulih dan menemukan jawaban atas semua pertanyaan yang menghantuinya. Sementara itu, motor yang menabraknya masih menjadi misteri dan pengendara yang kabur belum ditemukan. Semua itu menjadi bagian dari cerita hidupnya yang tak terduga.

“Apa! Ayah kecelakaan?” teriak Marcel ketika menerima panggilan dari sekretaris Ruswanda, Desi namanya. Detak jantungnya berdegup kencang, dan matanya membelalak. Dia segera meninggalkan kantornya dan bergegas menuju rumah sakit.

Kebetulan, Marcel berada di sekitar perusahaan pusat saat itu. Jalanan terasa semakin panjang, dan dia merasa tak sabar. Pikirannya melayang pada wajah ayahnya, Sudarta, yang selalu tegar dan penuh semangat. Bagaimana bisa ini terjadi?

Saat dia tiba di rumah sakit, langkahnya terburu-buru. Ia melihat Sudarta terbaring di tempat tidur, wajahnya pucat dan tubuhnya terbungkus kain putih. Marcel memeluk ayahnya dengan erat. “Ayah, apa yang terjadi?” bisiknya, suaranya penuh kekhawatiran.

Sudarta menatapnya dengan mata lemah. “Motor… motor menabrakku,” gumamnya. “Dia kabur, Marcel. Orang itu kabur begitu saja.”

Marcel merasa marah dan bingung. Siapa yang berani menabrak ayahnya lalu melarikan diri? Apa motif di balik kecelakaan ini? Pertanyaan-pertanyaan itu berputar-putar dalam pikirannya, sementara dia mencoba menahan air mata.

Desi, sekretaris Ruswanda, berdiri di samping mereka. “Marcel, aku sudah menghubungi polisi,” katanya dengan suara gemetar. “Kita akan mencari pengendara motor itu. Tidak ada yang bisa melarikan diri begitu saja.”

Marcel mengangguk, tangannya masih memegang erat tangan ayahnya. Dia merasa marah, takut, dan bingung. Semua terjadi begitu cepat. Kehidupan mereka berubah dalam sekejap.

Sudarta menatap Marcel dengan mata lelah. “Jaga perusahaan kita, Nak,” ucapnya pelan. “Dan temukan siapa yang melakukan ini. Aku percayakan padamu.”

Marcel mengangguk lagi, janji terucap dalam hatinya. Dia akan menemukan kebenaran, demi ayahnya dan demi keadilan. Sementara itu, koridor rumah sakit terasa semakin gelap, dan langit luar jendela mulai memerah. Semua terasa dramatis, seperti dalam film yang dia tonton dulu. Hanya kali ini, ini adalah kenyataan yang tak bisa dihindari.

Sementara itu, di sebuah ruangan gelap di lantai atas sebuah salah satu gedung perusahaan, bayang-bayang bergerak dengan tenang. Seorang pria dengan wajah tertutup sebagian oleh bayangan mengangkat teleponnya. Suara di ujung sana terdengar tegang namun puas.

"Kita berhasil melukai Sudarta," katanya dengan nada dingin.

Di seberang sana, suara misterius menjawab dengan nada puas, "Bagus! Buatkan dia menderita untuk selamanya."

Pria itu menutup teleponnya dan tersenyum tipis. Dia tahu bahwa perintah itu bukan sekadar ancaman kosong. Sudarta telah menjadi duri dalam daging bagi mereka, dan sekarang saatnya untuk membalas dendam. Dia melangkah keluar dari ruangan itu, meninggalkan bayang-bayang yang semakin gelap.

Di rumah sakit, Marcel masih duduk di samping tempat tidur ayahnya. Sudarta terlihat lemah, namun matanya masih menyimpan semangat. Marcel menggenggam tangan ayahnya dengan erat, berusaha memberikan kekuatan.

"Ayah, aku akan menemukan siapa yang melakukan ini," kata Marcel dengan suara tegas. "Aku tidak akan membiarkan mereka lolos begitu saja."

Sudarta mengangguk pelan. "Hati-hati, Nak. Mereka bukan orang sembarangan. Jangan sampai kamu juga terluka."

Marcel mengangguk, menyadari bahaya yang mengintai. Dia tahu bahwa ini bukan sekadar kecelakaan biasa. Ada sesuatu yang lebih besar di balik semua ini, dan dia bertekad untuk mengungkapnya.

Sementara itu, di tempat lain, pria yang menelepon bos-nya tadi sedang mengatur rencana berikutnya. Dia tahu bahwa melukai Sudarta hanyalah langkah awal. Mereka harus memastikan bahwa Sudarta tidak akan pernah bisa bangkit lagi. Dia menghubungi beberapa orang kepercayaannya, memberikan instruksi dengan detail.

"Kita harus memastikan bahwa Sudarta tidak akan pernah bisa kembali ke perusahaan," katanya dengan tegas. "Kita harus menghancurkan reputasinya, membuatnya kehilangan segalanya."

Orang-orang kepercayaannya mengangguk, siap melaksanakan perintah. Mereka tahu bahwa ini adalah misi yang berbahaya, namun mereka juga tahu bahwa mereka tidak punya pilihan lain. Mereka harus melaksanakan perintah bos mereka, apapun resikonya.

Di rumah sakit, Marcel terus berjaga di samping ayahnya. Dia merasa marah dan frustasi, namun dia tahu bahwa dia harus tetap tenang. Dia harus berpikir jernih untuk bisa menemukan siapa yang bertanggung jawab atas semua ini. Dia mulai menghubungi beberapa teman dan kolega ayahnya, mencoba mencari petunjuk.

"Apakah ada yang mencurigakan belakangan ini?" tanya Marcel kepada salah satu teman ayahnya.

Teman ayahnya menggeleng. "Tidak ada yang aneh. Sudarta selalu berhati-hati. Tapi mungkin ada seseorang yang merasa terancam oleh keberhasilannya."

Marcel mengangguk, mencoba mencerna informasi itu. Dia tahu bahwa ayahnya memiliki banyak musuh, namun dia tidak menyangka bahwa mereka akan bertindak sejauh ini. Dia harus menemukan siapa yang berada di balik semua ini, dan dia harus melakukannya dengan cepat.

Sementara itu, pria yang mengatur rencana jahat itu sedang memantau perkembangan dari kejauhan. Dia tahu bahwa Marcel tidak akan tinggal diam dan dia harus bersiap untuk menghadapi segala kemungkinan. Dia menghubungi bosnya lagi, memberikan laporan terbaru.

"Marcel sedang mencari tahu siapa yang bertanggung jawab," katanya.

Bosnya tertawa kecil. "Biarkan dia mencari. Dia tidak akan menemukan apa-apa. Kita sudah merencanakan ini dengan sangat baik."

Pria itu mengangguk, merasa lega. Dia tahu bahwa mereka memiliki keuntungan dan dia bertekad untuk memanfaatkannya sebaik mungkin. Mereka akan memastikan bahwa Sudarta dan keluarganya tidak akan pernah bisa bangkit lagi.

Suatu hari, saat Marcel keluar dari rumah sakit untuk mencari petunjuk lebih lanjut, sebuah mobil hitam tanpa plat nomor mengikuti setiap langkahnya dari kejauhan. Siapa yang ada di dalam mobil itu? Apakah mereka sekadar mengawasi atau merencanakan sesuatu yang lebih jahat? Marcel tidak menyadari bahaya yang semakin mendekat dan permainan kucing dan tikus ini baru saja dimulai. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Nantikan di bab berikutnya.