Pak Sudarta mengangkat wajahnya, matanya terbelalak. Di hadapannya berdiri Nayla, mantan sekretaris Ruswanda yang kini dikenal sebagai Mrs. Andrian, seorang CEO yang sukses. Sudarta merasa seperti melihat hantu dari masa lalu.
“Nayla?” gumamnya, suaranya tercekat. “Eh, maksud saya, Mrs. Andrian.” Ia berusaha menyembunyikan kekagumannya. Bagaimana mungkin Nayla, yang dulu hanya seorang sekretaris, bisa berubah menjadi sosok begitu berpengaruh?
Nayla tersenyum, matanya tajam. “Ngomong-ngomong, Pak Sudarta, kenapa kaki Bapak banyak perban?” tanyanya. “Ada apa?”
Sudarta merenung pada perban yang melilit kakinya. “Kemarin,” katanya dengan suara parau, “saya ditabrak oleh pengendara yang tidak bertanggung jawab.”
Nayla menarik napas dalam-dalam. “Ya Tuhan, lalu bagaimana, Pak? Apakah masih sakit?”
Sudarta tersenyum lemah. “Alhamdulillah, sekarang saya diperbolehkan pulang hari ini.” Ia merasa lega, meski tubuhnya masih terasa lemah akibat kecelakaan itu.
“Syukurlah kalau begitu,” kata Nayla. Tiba-tiba Sudarta menanyakan satu hal kepada Nayla “Kalau boleh saya tahu, Mrs. Andrian mau kemana?” tanyanya, matanya tajam.
“Ah, anu… sebenarnya saya adalah pemilik rumah sakit ini, Pak.” katanya. Sudarta memandang wanita di depannya dengan kagum. “Anda berhasil mengubah nasib, dari sekretaris menjadi pemimpin. Saya tak pernah menduga.”
Nayla tersenyum bangga. “Terima kasih, Pak Sudarta. Semua berkat kerja keras dan dukungan banyak orang. Dan sekarang, saya bertekad memperbaiki sistem kesehatan di sini.”
Sudarta mengangguk, pikirannya melayang pada masa lalu. Dulu, Nayla hanya seorang sekretaris yang membantu mengatur jadwal dan catatan. Kini, ia adalah pemilik rumah sakit yang mengubah hidup banyak orang. Dunia memang penuh kejutan, dan Sudarta merasa beruntung bisa menyaksikannya dari dekat.
Nayla menatap Sudarta dengan mata yang tak terbaca. “Oyah, Mrs. Andrian,” ucap Sudarta, “perkenalkan ini adalah anakku, Marcel.”
Marcel, seorang pemuda tampan, jatuh hati pada Nayla yang berparas cantik. Ia merasa seperti dalam dongeng, di mana sang pangeran bertemu dengan putri cantik yang menyimpan rahasia.
Namun, Nayla hanya bisa cuek dan tidak memandang Marcel. Ada sesuatu di balik senyumnya yang menggoda, sesuatu yang tak terungkap. Dendam terhadap Sudarta dan keluarganya, mungkin?
“Marcel,” kata Marcel sambil berjabat tangan dengannya. Matanya penuh dengan ketertarikan, namun Nayla tetap misterius. Marcel hanya bisa tersenyum, berharap bisa memecahkan teka-teki di balik wanita ini.
Waktu telah berlalu hingga memasuki petang. Sudarta mengucapkan selamat tinggal pada Mrs. Andrian, wanita yang menyimpan rahasia dan dendam di balik senyumnya. Sudarta dan marcel menaiki mobilnya, hatinya berdebar karena perasaan yang tak bisa dijelaskan.
Dalam perjalanan pulang, tiba-tiba mobil Sudarta dikepung oleh segerombolan preman. Mereka muncul dari kegelapan, wajah mereka penuh dengan niat jahat. Sudarta terkejut, tangannya gemetar saat mencoba mengunci pintu mobil.
“Berikan uangmu!” teriak salah satu preman, sambil menodongkan pisau. “Cepat!”
Sudarta merasa terjepit. Ia tak punya banyak pilihan. Namun, sebelum ia bisa merespons, pintu mobil terbuka dengan kasar. Marcel, anaknya yang selama ini hanya dikenal sebagai pemuda tampan, melompat keluar.
Marcel adalah seorang jagoan. Ia memiliki keahlian bela diri yang mematikan dan kali ini, ia tak ragu-ragu melawan para perampok. Pukulan dan tendangan berputar, menghantam preman-preman itu. Darah bercucuran dan langit malam menjadi saksi bisu atas pertarungan ini.
Sudarta hanya bisa menatap, campuran antara kagum dan ketakutan. Marcel bertarung dengan keberanian yang menggetarkan hati. Ia melawan bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk melindungi ayahnya.
Namun, preman-preman itu tak mudah dikalahkan. Salah satu dari mereka berhasil menusuk Marcel dengan pisau. Marcel terjatuh, wajahnya pucat. Sudarta merasa dunia berputar, hatinya hancur melihat anaknya terluka.
Namun, Marcel tak menyerah. Dengan tenaga terakhir, ia menghantam preman yang menusuknya. Pisau terlepas, dan Marcel terkulai lemas di tanah. Preman-preman itu melarikan diri, meninggalkan dua orang di tengah jalan yang sepi.
Sudarta berlutut di samping Marcel, tangannya gemetar saat mencoba menghentikan pendarahan. “Marcel,” bisiknya, “kau baik-baik saja.”
Marcel tersenyum lemah. “Ayah,” katanya, “aku hanya ingin membuktikan bahwa aku bisa melindungimu.”
Sudarta menangis. Dalam kegelapan malam, di tengah darah dan luka, mereka berdua merasakan kehangatan cinta dan pengorbanan. Dan di balik semua ini, Nayla, sang wanita misterius, masih menyimpan rahasia yang belum terungkap.
Hingga di pagi hari, Ruswanda berada di rumah sakit, sedang membeli sarapan untuk dirinya. Ia meninggalkan istrinya, yang masih berada di kamar rawat inap. Tiba-tiba, di koridor rumah sakit, ia melihat dua wanita, istrinya Sudarta dan istrinya Marcel sedang terburu-buru menuju ruangan tertentu.
"Ratih, tunggu!" seru Ruswanda, memanggil istrinya Sudarta. Perempuan yang disapa dengan nama Ratih menoleh ke arahnya. "Pak Ruswanda?" katanya terkejut. "Bapak kok ada di sini?"
Ruswanda menghela nafas. "Saya sudah tiga hari berada di sini, menemani istriku yang sedang menjalani operasi," jawabnya. "Nah, kalian berdua, kenapa ada di sini?”
Istrinya Sudarta, yang dikenal sebagai Ratih, menceritakan kepada Ruswanda "Kemarin malam," cerita Ratih "mobil Pak Sudarta mengalami perampokan. Mereka mengancam dengan pisau dan merampas barang berharga.”
Ruswanda mengangguk. "Marcel berhasil melawan mereka," tambahnya. "Tapi dia terluka. Kami membawanya ke sini untuk mendapatkan perawatan."
Ruswanda merasa dunia berputar. kini bersama dalam situasi yang tak terduga. Ia merasa campur aduk antara kekhawatiran dan rasa syukur. Mungkin, di balik semua ini, ada rencana yang lebih besar yang menghubungkan mereka kembali.Ruswanda mengangguk, matanya penuh dengan kekhawatiran. "Baiklah, saya akan menemuinya," ucapnya dengan suara serak. Ia mengikuti Ratih dan Rihana menuju ruangan Marcel.
Ketika pintu ruangan terbuka, pemandangan yang menyayat hati menanti mereka. Marcel terbaring di tempat tidur, wajahnya pucat. Kemeja putihnya kotor oleh darah yang mengucur dari luka di perutnya.
Ratih, ibunda Marcel berlutut di samping Marcel, tangannya gemetar saat mencoba menghapus darah dari wajah anaknya. "Marcel," bisiknya, "kau harus bertahan."
Rihana menangis, memegang tangan Marcel dengan erat. "Kami di sini, Nak," katanya. "Kau tidak sendiri."
Ruswanda merasa dadanya sesak. Ia mengenal Marcel sejak kecil, melihatnya tumbuh menjadi pemuda yang kuat dan berani. Kini, anak itu terbaring lemah, menghadapi ancaman kematian.
Marcel membuka matanya, pandangannya kabur. "Pak Direktur" gumamnya, "saya... saya melindungi ayah"
Ruswanda menatap anak itu dengan bangga. "Kau telah berjuang dengan gagah berani," katanya. "Kami akan menjagamu."
Namun, di balik semua ini, ada pertanyaan yang menghantui pikiran Ruswanda. Siapa yang berusaha membunuh Marcel? Dan apa hubungannya dengan Nayla, wanita misterius yang menyimpan rahasia?
Dalam keheningan ruangan, Ruswanda bersumpah akan mengungkap kebenaran. Ia tak akan membiarkan Marcel menjadi korban dendam yang tak terungkap.
Dengan napas terengah-engah, Ruswanda menjawab panggilan telepon. Suara di seberang sambungan terdengar terburu-buru, gemetar karena ketakutan. "Pak," pembantu itu terbata-bata, "Anda harus segera kembali. Ada sesuatu yang harus Anda lihat."
Sambungan terputus, meninggalkan Ruswanda dengan perasaan cemas. Apa yang menantinya? Apa rahasia yang akan terungkap? Ia menatap Ratih dan Ratna, mata mereka penuh dengan antisipasi. Koridor rumah sakit terasa seperti mengulur waktu, memantulkan pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab.
Dan begitu, Ruswanda melangkah ke dalam ketidakpastian, didorong oleh panggilan misterius yang akan mengubah segalanya.