Terkadang film bisa sangat mempengaruhi psikologis kita manusia sebagai orang yang menonton. Mulai dari adegan-adegannya, aktor dan aktris pemerannya sampai skenario ceritanya. Semua bisa mempengaruhi perilaku seseorang.
Di Indonesia sendiri sebenarnya ada banyak banget film berbobot dan layak ditonton anak-anak seumuran Rama yang masih entah 6 hingga 10 tahun waktu itu. Tapi kenyataannya Rama gak dapet film-film yang layak itu. Rama malah dapet film yang setelah Ia pikir-pikir sejak dulu, sampai sekarang Rama udah gede baru menyadarinya. Ternyata film-film yang Ia tonton di masa kecil itu merusak IQ Rama. Film itu adalah film “INDIA (BOLLYWOOD).”
Rama gak tau dan gak ngerti apa yang ada di dalam pikiran Opanya saat itu. Yang jelas dan pasti terjadi setiap hari, Opanya setiap pagi memutar lagu India. Kalian bisa bayangin gimana otak Rama mulai teracuni lagu-lagu India yang dulu hingga sekarang Rama gak pernah tahu artinya setiap pagi.
….
Rama mendengar lagu India dan membaca artinya di TV tiap pagi, terkadang gak nyambung dan aneh.
Ada *italic text* Dengan suara penyanyi cewek india yang cempreng banget.
Jujur Ia merasa susah bedain antara mana suara penyanyi cewek India beneran dan mana suara Alfin and The Chipmunks
....
Seharusnya semua anak-anak yang semasa dan seangkatan Rama hapal lagu “diobok-obok” nya Joshua, Rama malah hapal lagu “Kuch Kuch Hoo Tahee” nya Sharukh Khan. SUMPAH INI SERIUS !
....
Fenomena paling parah terjadi pada setiap hari libur.
Di usia sekitar 6 – 10 tahun Rama, hari libur adalah hari ter-kampret yang Ia alami. Karena setiap hari libur, Opanya mulai memainkan musik andalannya (India) sejak jam 6 pagi didepan DVD.
Sebagai pengantar, Opa Rama akan memutar lagu-lagu India yang kira-kira sampai habis 2 atau 3 kaset VCD lagu India. Sampai kadang Oma Rama yang sedang jualan sayuran didepan rumah awalnya masih normal, berubah bisa jadi abnormal.
Cara jualannya berubah seperti pedagang di film India.
Ngomongnya pake bahasa India *italic text*. Transaksi bisa berubah dengan uang Rupee. Terus joget-joget India depan konsumen sampai gak lama kemudian pinggulnya keseleo, encok jadi penyebab osteoporosisnya. (Kalian harus bayangkan sendiri).
Kalo Opanya, gak perlu ditanya lagi.
Sudah joget-joget depan TV sesuai irama. Bak penari India yang profesional memerankan peran Amitha Bachan. Ketukan kaki dan badan tepat gak meleset sedikitpun. Sampai terkadang sekali-sekali dia salto. Bayangkan. Hebat kan? HEBAT BANGET ! Rama sangat bangga kepada Opanya.
Itu baru pengantar di hari libur masa anak-anak Rama yang ajaib.
....
Merasa tidak puas dengan hanya memutar lagu-lagu India, Opanya melanjutin ke sesi ke-2, adalah memutar film India. Rama yang saat itu hanyalah anak-anak biasa, anak ingusan meskipun tidak sedang terserang flu mau tak mau harus jadi korban mendampingi Opanya nonton film yang sudah bisa dipastikan ada nyanyi-nyanyi, joget-joget dan berlari-lari di rerumputan hijau (bukan main sepak bola). Rama gak bisa nolak. Rama pasrah.
....
Bisa dibayangkan anak-anak seumuran Rama entah 7 atau 8 tahun waktu itu. Seorang laki-laki kecil yang suka banget makan nasi pecel dikantin sekolah seharga lima ratus rupiah setiap pagi, nanti kehilangan jasa berangkat sekolah dengan diantarkan hingga uang jajan buat beli nasi pecelnya dipotong. Sungguh pelanggaran hak asasi manusia.
Itu akan terjadi ke Rama jika menolak tuk menemani Opanya. Rama gak akan bisa merasakan nasi pecel masuk ke dalam perutnya setiap sekolah. Sungguh itu akan menjadi ujian paling berat dari pada mata pelajaran matematika atau aksara jawa.
....
Sebenarnya berdasarkan dari sudut pandang Rama dari sudut lapangan hijau, film India itu keren (tapi sedikit). Dramatis (iya banget), tegang (ada juga), aneh (banyak banget), seksi (banyak banget).
Film India itu memiliki banyak cerita. Tapi, semua skenario ceritanya cuma tentang cinta. Mulai dari persahabatan (tentang cinta), pengorbanan (tentang cinta), petualangan (ada cintanya juga), perkelahian (cinta juga), action (cinta juga) dan pembunuhan (akibat cinta juga).
Ada apa dengan cinta ? kok mau-maunya menunggu Rangga. Oke ini gak nyambung. Ralat.
....
Bagi Rama, alur cerita di film India hanya tentang cinta tak direstui. Mengejar cinta calon istri orang lain. Kadang yang selalu ada adalah mengejar kereta yang nampak sangat bohong mereka berlari-lari di sebelah kereta sedang berjalan (ya emang bohong). Fitnah memfitnah. Salah paham. Seorang kakak mengalah sama adiknya. Masalah harta keluarga. Dendam Nyi Pelet. Angling Dharma. EHH LOH ? Ralat.
Hal yang paling membuat Rama kesal dan bingung sampai sekarang adalah kehadiran polisi di film India yang selalu datang setelah semuanya udah selesai. Entah kenapa mereka terlihat bego, latah dan ngantukan.
Mereka akan hadir disaat penjahat film udah mati, masalah sudah selesai, di credit film, sampai Teuku Wisnu ama Shireen Sungkar udah resmi menjadi suami istri yang sah, polisi india baru muncul sampai sekarang.
ANEH BANGET.
....
Adegan-adegan di film India paling banyak adalah joget-joget.
Si cewek yang awalnya jutek, sombong, cuek, semuanya pasti bisa luluh dengan si cowok yang bisa nyanyi-nyanyi, joget-joget depan mereka. Dan itu sangat mempengaruhi psikologis Rama sebagai penonton setia film India.
Kadang Rama ingin mencoba jurus bernyanyi dan joget-joget India itu dikompleks rumahnya pas banyak bapak-bapak, ibu-ibu dengan anak-anak ceweknya lagi ngumpul.
Ia berpikir seandainya saja di dunia ini mencari cinta segampang itu. Mungkin Rama sekarang bisa menjadi salah satu cowok Playboy di dunia ini dan keren seperti Sharukh Khan atau Salman Khan.
Apalagi Rama yang sudah memiliki banyak bekal ilmu dari adegan-adegan film India dalam menaklukan hati cewek. Nyanyi, joget, sisir rambut pakai tangan bersihkan ketombe. Tentu Rama gak akan lama menjadi jomlo seperti saat ini. #uh
....
Nonton film India bersama Opanya, tidak pernah bisa mengenal waktu. Dari pagi bisa sampe sore. Berganti-ganti judul film. Bahkan seakan-akan waktu terulang kembali ke pagi hari ketika Opanya mulai memutar lagu-lagu India.
Seringkali Opanya mengulang kembali film yang sebenarnya sudah mereka tonton di bulan atau minggu-munggu sebelumnya ketika kehabisan stok kaset VCD film India. Rama yang malang.
SUMPAH INI SERIUS!
....
Rama dan Opanya bisa duduk berdua berjam-jam bersama setiap minggu di depan televisi dan VCD dengan nonton film India atau lagu-lagunya.
Sampai kadang pantat Rama rasanya hilang. Gejalan osteoporosis dini di tulang belakangnya muncul. Dan otaknya teracuni berbagai virus dramatis dan joget-joget yang tidak jelas sampai sekarang.
Sebagai cucu terbaik, Rama tentu harus berterima kasih.
"Terima kasih Opa. Atas tontonan yang (tidak) mendidik itu."
bold text
(2011)