Feels to be Yours-Tanpa Ampun-BAB 13

Penulis Ryukaze
13 January 2026

Noa terbangun lebih dulu.

Cahaya menyelinap tipis dari sela tirai, jatuh lembut di dinding dan menyentuh wajah Ezra yang masih terlelap. Lengan pria itu melingkari tubuhnya, berat tapi hangat, seperti jangkar yang menahan Noa tetap di tempatnya. Napas Ezra teratur, dada bidangnya naik turun perlahan, dan untuk sesaat, dia terlihat seperti pria biasa. Bukan penguasa, bukan badai, bukan ancaman.

Noa mengangkat wajah sedikit, cukup untuk menatapnya.

Dia mengamati garis rahang Ezra yang tegas, alis yang selalu tampak mengernyit bahkan saat tidur, bibir yang jarang menunjukkan senyum tapi selalu tegas ketika memberi perintah. Ada bekas kelelahan di sana, samar tapi nyata. Noa menatapnya seperti seseorang menatap lukisan mahal di museum, kagum, menghargai, tapi tahu itu bukan miliknya untuk dibawa pulang.

Dia tidak berharap dimiliki.

Tidak pernah.

Bagi Noa, merasa dibutuhkan saja sudah cukup. Lebih dari cukup.

Dia bergerak pelan, mendekatkan tubuhnya, berusaha menyamankan posisi Ezra tanpa membangunkannya. Kulit mereka bersentuhan lebih banyak sekarang. Kehangatan Ezra masih terasa, lembap oleh sisa minyak dan keringat semalam. Noa membiarkan dirinya larut di sana, menyimpan momen itu diam-diam, seperti rahasia kecil yang hanya ia sendiri yang tahu.

Lalu Ezra bergerak.

Ada tarikan kecil di lengannya, napas yang berubah ritme. Bahkan dalam tidur dan bangunnya, aura dominan itu tak pernah benar-benar pergi. Dia menggeliat pelan, dengan satu tarikan napas panjang.

Noa langsung membuka mata lebih lebar.

“Kau tidur nyenyak, Tuan,” ucapnya pelan, suaranya lembut, hampir seperti bisikan yang tak ingin mengganggu pagi.

Ezra tidak menanggapi.

Matanya terbuka, dingin, fokus, seolah beberapa jam kebersamaan tadi hanyalah mimpi yang tidak perlu diingat. Dia melepaskan lingkarannya, bangkit dari ranjang tanpa ragu, lalu meraih celananya. Gerakannya tenang, efisien, tanpa emosi berlebih.

Noa tidak tersinggung.

Dia sudah terbiasa.

Ezra berjalan keluar kamar tanpa menoleh, tanpa kata. Tidak ada pamit, tidak ada penjelasan. Bagi Noa, itu bukan penolakan. Itu adalah pola. Keberadaannya memang seperti itu, hadir saat dibutuhkan, menghilang saat tidak.

Ia menarik napas dalam, lalu bangkit. Setelah berpakaian, Noa menyusul keluar. Di ruang utama, Ezra sedang berpakaian, punggungnya menghadap Noa. Apartemen itu masih berantakan, pecahan kaca masih berserakan, jejak amukan masih terasa di udara.

“Aku akan suruh Nael cari orang untuk membersihkan,” kata Ezra datar, seolah membicarakan hal paling biasa di dunia.

Noa mengangguk. “Iya, Tuan.”

Ia mendekat dengan langkah ringan, hampir tanpa suara. Ada jeda kecil, seolah ia menimbang kata-katanya sendiri, lalu berbicara dengan hati-hati.

“Lusa… di kampus ada acara. Tiga hari.” Nada suaranya tetap lembut. “Apa aku boleh ikut?”

Ezra berbalik menatapnya.

Tatapan itu dalam, menilai, seperti menimbang sebuah keputusan yang sebenarnya sudah jelas jawabannya sejak awal. Tanpa bertanya lebih jauh, tanpa perlu detail.

“Tidak.”

Jawaban itu singkat. Tegas. Mutlak.

Ada kilatan kecewa di wajah Noa, hanya sepersekian detik. Ia berusaha mempertahankan senyum, meski tidak sepenuhnya berhasil. Kepalanya mengangguk kecil, tanda menerima.

“Iya, Tuan.”

Setiap ucapan Ezra adalah perintah. Tidak perlu dipertanyakan. Tidak perlu ditawar.

Ezra mengancingkan kemejanya, lalu melanjutkan, seolah itu sekadar informasi tambahan. “Kau ikut denganku. Aku ada perjalanan bisnis ke Singapura. Mungkin seminggu.”

Noa berkedip. Sekali. Dua kali.

Untuk pertama kalinya sejak hubungan mereka yang tak pernah diberi nama itu, Ezra mengajaknya pergi bersama. Bukan panggilan mendadak. Bukan pertemuan singkat di sela jadwal. Tapi ikut, sejak awal.

Matanya membesar sedikit, lalu senyumnya merekah tanpa bisa ia sembunyikan. Ada kegembiraan polos di sana, seperti anak kecil yang diajak pergi ke tempat baru.

“Benarkah?” tanyanya spontan, lalu segera menahan diri. “Maksudku… iya, Tuan.”

Ezra mengangguk singkat. “Malam ini kau tidur di hotel saja. Biar apartemenmu dirapikan.”

Noa kembali mengangguk. Tidak ada bantahan. Tidak ada permintaan tambahan.

“Iya.”

Ezra mengambil barang-barangnya, memasukkan semuanya ke dalam saku dengan gerakan cepat. Setelah itu, ia berjalan menuju pintu. Tidak ada kata perpisahan, atau terimakasih setidaknya.

Pintu tertutup di belakangnya.

**

Ezra tiba di kantornya tepat ketika jarum jam belum lama melewati angka delapan.

Gedung itu berdiri seperti benteng kaca dan baja, dingin, tinggi, dan tak pernah benar-benar tidur. Begitu pintu lift terbuka di lantai teratas, suasana langsung berubah. Udara terasa lebih tegang, lebih terkontrol. Orang-orang yang berpapasan menunduk singkat, salam cepat, langkah mereka otomatis rapi. Nama Ezra tidak perlu disebut keras-keras, kehadirannya saja sudah cukup menjadi perintah.

Pintu ruang kerjanya terbuka.

Nael sudah menunggu di dalam, berdiri di sisi meja dengan tablet di tangan. Pria itu tampak tenang, tapi bahunya sedikit tegang, bukan karena takut, melainkan karena ia tahu hari ini tidak akan sederhana. Ezra berjalan masuk tanpa menoleh, jasnya masih rapi, langkahnya mantap.

Ia duduk di kursinya.

Bukan sekadar duduk. Cara Ezra menyandarkan tubuh, meletakkan satu lengan di sandaran, dagu terangkat sedikit, itu bukan posisi orang yang datang bekerja. Itu posisi seseorang yang memegang tahta dan siap memimpin perang.

Nael langsung mulai berbicara.

“Jadwal hari ini cukup padat. Pukul sembilan rapat dengan dewan regional, lalu presentasi merger jam sebelas. Setelah makan siang, ada dua meeting dengan investor asing, dan—”

Ezra mendengarkan. Atau setidaknya, terlihat seperti mendengarkan. Wajahnya datar, mata menatap lurus ke depan, seolah menembus dinding kaca menuju kota di bawah sana. Nael melanjutkan, menjelaskan agenda perusahaan, laporan keuangan, potensi risiko, peluang ekspansi. Kata-kata itu mengalir rapi, terstruktur, tanpa celah.

Sampai akhirnya ia berhenti. Bukan karena kehabisan bahan, tapi karena Ezra mengangkat satu tangan.

“Apa yang dilakukan Seira di Milan?” tanya Ezra.

Nada suaranya tenang. Terlalu tenang.

Nael menghela napas pelan, hampir tak terdengar. Ia sudah tahu pertanyaan itu akan datang. Bahkan sebelum Ezra membuka mulutnya tadi, Nael sudah menyiapkan jawaban. Jawaban yang valid dan bisa dipertanggungjawabkan.

“Ada fashion show di sana,” katanya akhirnya. “Brand besar. Internasional. Seira di-hire untuk memeragakan salah satu koleksi utama mereka.”

Ezra mengangguk.

Bukan anggukan orang yang baru paham, tapi anggukan seseorang yang sedang menyusun kepingan terakhir dari rencana yang sudah lama berputar di kepalanya. Tatapannya mengeras sedikit, sudut bibirnya bergerak nyaris tak terlihat.

“Menarik,” ucapnya.

Nael berdiri diam, menunggu. Ia mengenal ekspresi itu. Mengenal jeda itu. Saat Ezra terlalu tenang, terlalu yakin, biasanya berarti ada sesuatu yang akan jatuh—dan bukan jatuh kecil.

“Dia bermain-main denganku,” lanjut Ezra, suaranya rendah. “Kita lihat kapan dia akan datang… menyeret kakinya ke hadapanku.”

Kalimat itu diucapkan tanpa emosi berlebih. Justru di sanalah bahayanya. Tidak ada kemarahan meledak-ledak, tidak ada teriakan. Hanya kepastian.

Nael menelan ludah kecil. “Apa yang ingin kau lakukan?”

Ezra menyandarkan tubuhnya lebih dalam ke kursi. Ia tersenyum. Bukan senyum ramah. Bukan senyum senang.

Itu senyum sinis, tajam, seperti seseorang yang sudah tahu hasil akhir permainan dan hanya menunggu waktu untuk menutup papan catur.

“Kita lihat nanti.”

Dua kata itu menggantung di udara, berat, penuh kemungkinan. Nael tidak bertanya lagi. Ia tahu lebih baik daripada mendorong batas di saat seperti ini. Ada hal-hal yang lebih aman tidak diketahui terlalu cepat.

Ia mengalihkan pembicaraan dengan profesionalisme yang sudah terlatih bertahun-tahun. “Rapat pertama akan dimulai lima belas menit lagi. Garin sudah siap menggantikanmu untuk rapat besok, sesuai instruksi.”

Ezra mengangguk singkat. “Bagus.”

Nael melanjutkan, mengingatkan detail jadwal, menyesuaikan beberapa agenda karena perjalanan bisnis ke Singapura. Ezra mendengarkan kali ini, sesekali memberi persetujuan, sesekali memberi koreksi singkat. Semua berjalan efisien, tanpa drama.

Namun di balik wajah datarnya, pikiran Ezra sudah jauh. Milan. Fashion show. Nama Seira melintas di benaknya seperti duri yang disengaja ditinggalkan. Ia tidak marah karena Seira bekerja. Ia marah karena ia pergi tanpa izin, tanpa menunggu, tanpa tunduk.

Itu bukan soal perasaan. Itu soal kendali.

Dan Ezra tidak pernah suka kehilangan kendali.

“Pastikan semua dokumen untuk Singapura siap malam ini,” katanya tiba-tiba. “Aku tidak mau ada kejutan.”

“Sudah diurus,” jawab Nael cepat. “Hotel, penerbangan, jadwal meeting di sana. Semuanya sesuai standar.”

Ezra berdiri. Sekali lagi, aura ruangan berubah. Seolah keputusan final baru saja dibuat, dan dunia harus menyesuaikan. “Kalau begitu, kita mulai hari ini,” katanya.

Nael membuka pintu, memberi jalan. Saat Ezra melangkah keluar menuju ruang rapat, wajahnya kembali datar, profesional, tak terbaca. Tidak ada yang akan tahu bahwa di balik ketenangan itu, sebuah permainan sedang disusun. Ezra berjalan lurus ke depan.

Seorang raja tidak mengejar. Dia menunggu lawannya datang menyerahkan diri.