Astrid sangat bersemangat ketika melihat nama sang suami di layar handphone. Pikirnya, mungkin akan menawarkan mau dibawakan oleh-oleh apa. Kebetulan Astrid sedang malas makan malam hari ini dan ingin makan camilan saja.
“Hallo, Mas Faris?”
“Hallo Sayang. Lagi apa kamu?”
Nada suara Faris yang lembut langsung mengukir senyuman di bibir Astrid.
“Lagi nungguin kamu pulang, Mas. Apa sudah mau pulang dari kantor?”
Terdengar Faris menghela napas dalam. Astrid langsung menegakkan punggung, keningnya mengernyit.
“Ada apa, Mas?”
“Sayang, maaf ya, sepertinya aku nggak pulang malam ini.”
“Loh! Kenapa, Mas? Kamu lembur?”
“Iya, Astrid. Aku kan pegang proyek Surabaya. Nah deadlinenya itu sudah dekat, jadi ya aku harus ngebut nih. Mana masih banyak yang harus dipersiapkan.”
“Duhh emangnya anak buahmu kemana, Mas? Kan kamu tinggal minta bantuan mereka dong. Kamu kayak kerja sendiri aja deh.”
Astrid sudah duduk cemberut di sofa. Dia memang type rumahan, tapi malas juga kalau sepanjang hari hanya sendirian saja menghabiskan waktu. Kalau ada Faris maka dia ada teman ngobrol. Sebab Astrid malas mengobrol dengan pelayan, menurutnya tidak level.
“Astrid, Sayang, bukannya begitu. Anak buahku juga mereka semua sibuk. Aku sudah kasih tugas mereka masing-masing. Tapi kan sebagai penanggung jawab nggak bisa lepas tangan begitu saja dong, Sayang. Nanti ya setelah selesai proyek ini, setelah cabang Surabaya berjalan dengan lancar, maka aku akan cuti. Kita bisa jalan-jalan liburan, Sayang.”
Senyum Astrid langsung sumringah mendengar itu. Memang sudah agak laam juga dia tidak berlibur dengan Faris.
“Ahh benar ya, Mas? Janji ya?”
“Iya Sayang. Masa’ aku bohong sih. Kan aku juga capek lah kerja lembur terus, perlu refreshing berdua dengan kamu.”
“Ya sudah Mas kalau begitu, tapi besok kamu pulang, kan?”
“Yaa semoga kerjaanku cepat selesai ya, Sayang. Supaya besok aku nggak perlu nginap lagi di kantor. Hemm tap maaf Sayang, sepertinya nanti malam aku nggak telepon lagi, ya. Supaya aku fokus bekerja. Tapi besok janji pagi-pagi aku akan telepon kamu.”
“Hemm ya udah deh, Mas. Demi liburan berdua sama Mas Faris, aku rela tidur kesepian malam ini.”
Faris terkekeh kecil.
“Selamat istirahat Astrid Sayang. Doakan pekerjaan suamimu ini lancar dan cepat selesai ya. Dahh Astrid.”
“Dahh Mas Faris.”
Sambungan telepon ditutup.
Faris melihat jam di pergelangan tangan. “Hemm sudah hampir jam enam, sebaiknya aku berangkat sekarang saja.” Faris memutuskan tidak perlu bilang pada Krishna jika dia mau keluar kantor. Pikirnya, jikapun nanti Krishna mencarinya dan menelepon, dia akan bilang sedang mencari makan sambil membeli kopi untuk nanti malam teman lembur.
Tidak sampai jam delapan, Faris telah sampai di tempat pemotretan. Sepanjang dia melangkah dan melempar pandangan, dia melihat wanita-wanita cantik bertebaran. Tentu saja secantik itu, mereka adalah para model papan atas Indonesia yang bahkan beberapa di antaranya telah go international. Beberapa kali Faris yang berpenampilan bagaikan bos muda tersebut menebar senyum terkerennya.
Dan beberapa dari model itu membalas senyuman Faris. Itu cukup membuat hatinya senang meskipun beberapa lainnya memilik untuk cuek saja. Cih! Jangan sombong kalian! Aku keluarkan black card dari dalam dompet baru deh nanti pada nyamperin sendiri. Faris tersenyum miring, mencibir. Dia merasa posisinya saat ini yang seorang direktur sebuah perusahaan besar, apalagi di usia yang masih terbilang muda, 32 tahun, akan dengan mudah menggaet model-model cantik ini. Terbukti, Donna telah bertekuk lutut pada rayuannya.
Faris melihat di sana, beberapa meter di depannya, Donna sedang berlenggak-lenggok di antara pohon-pohon berbunga yang dihias lampu kecil kerlap-kerlip.
Senyum bulan sabit langsung terukir, Faris bahkan tak berkedip melihat Donna begitu cantiknya saat ini. Dengan memakai mini dress berwarna hijau dan juga mahkota bunga di kepalanya.
Dilihatnya Donna baru saja selesai. Sang fotografer mengacungkan kedua jempol tanda puas dengan hasil-hasil fotonya.
Faris tersenyum. Dia mengirim pesan pada Donna untuk memberitahu kalau dia sudah sampai di lokasi. Terlihat Donna membaca pesan itu karena dia baru saja mengambil handphone dari dalam tasnya.
Detik kemudian Donna terlihat celingukan sampai pandangannya bertemu dengan Faris. Segera dia melambaikan tangan yang langsung dibalas dengan Faris. Beberapa teman Donna sesama model terlihat menggodanya. Ada yang bertanya apakah yang datang adalah pacar baru Donna.
Dengan senyum malu-malu Donna berjalan cepat menghampiri Faris. “Hai, baru banget sampe atau dari tadi?”
Faris tersenyum lalu membelai lembut rambut terurai Donna. “Baru saja sampe. Belum lama kok. Umm kamu belum selesai?”
Raut wajah Donna yang tadinya sumringah sekarang langsung memberengut. “Hemm masih ada satu sesi lagi. Maaf ya Ris, jadi agak terlambat begini. Soalnya tadi siang agak terkendala cuaca mendung.”
“Ohh nggak apa-apa kok, Don. Aku akan tunggu di sini sampai kamu selesai. Kamu tenang saja, aku nggak akan kabur kemana-mana kok. Lagian malas ah, jauh kalau kaburnya musti balik lagi ke Jakarta,” seloroh Faris yang langsung membuat Donna tergelak.
Seseorang melambaikan tangan pada Donna. “Don! Ayo take lagi! Siapa tuh? Cowok lo? Tunggu di sini nggak apa-apa kok! Aman!” teriaknya lalu terdengar suara kekehan yang renyah.
“Iya! Sebentar gue kesana!” Donna membalas lambaian tangan wanita tadi. Kemudian dia beralih kembali pada Faris. “Itu agen aku, Ris. Orangnya asyik. Mau tunggu di sana?”
Faris tampak berpikir sebentar, kemudian dia menggeleng pelan. “Aku tunggu di mobil saja ya, Don. Aku mau beli minuman dulu lalu langsung ke mobil. Agak ngantuk nih, nggak apa-apa, kan?”
“Ohh oke oke. Kamu pasti capek banget ya pulang kerja langsung kesini. Ya sudah, nanti kalau aku sudah selesai langsung ke mobil, ya.”
Faris mengangguk lalu membalik badan dan berjalan perlahan menuju sebuah minimarket yang letaknya tidak terlalu jauh. Sebenarnya bukan karena alasan mengantuk maka dia tidak mau menunggu di sana. Melainkan dia sedang menjaga segala kemungkinan yang terjadi.
Sangat mungkin kan saat ini ada seorang wartawan di sini atau malah lebih. Bisa gawat kalau tiba-tiba fotonya masuk media sedang bermesraan dengan Donna. Selain Astrid, ada seseorang yang lebih ditakutinya jika nanti perselingkuhannya ketahuan, yaitu Krishna.
Omnya itu terkenal dengan jiwa disiplin yang tinggi. Jika sampai dia tahu Faris melenceng seperti itu, bisa-bisa dia akan langsung mencopot jabatan sang keponakan.
Setelah membeli minuman dingin, Faris masuk kembali ke mobil. Dia memilih duduk santai bersandar di kursi sambil mendengarkan musik.
Baru saja Faris menyandarkan punggung, tiba-tiba dia tersentak karena handphone yang dipegangnya bergetar. Terlebih nama ‘Papa Krishna’ yang tertera di layar.
Faris menggaruk kepala yang tak gatal, meskipun tadi dia telah menyiapkan jawaban tapi tetap saja sekarang terasa panik.
Segera Faris mematikan musik lalu berdeham pelan sebelum mengangkat telepon.
“Hallo, Pa.”
Suara Faris terdengar serak dan berat.