Om CEO, Lepaskan Aku!-Sentuhan Manis Ada Maunya-Bab 32

13 January 2026

“Hallo Faris, kamu nggak lagi di kantor, Nak? Tadi Papa ke ruang kerjamu tapi sepi.”

“Ahh iya, Pa. Ini aku lagi cari makan dan kopi untuk teman lembur.”

“Kan kamu bisa minta tolong pada satpam kalau lagi sibuk kerja. Suaramu serak, apa kamu sakit?”

“Ohh nggak, Pa. Aku hanya sedikit capek saja. Makanya aku sengaja keluar cari makan sendiri sekalian cari udara segar.”

“Ohh begitu, ya oke kalau begitu. Nanti kamu lembur sama siapa?”

“Ada anak buahku kok, Pa. Nanti mereka menyusul. Tenang saja, Pa.”

“Hemm ya sudah. Papa pulang kalau begitu, ya.”

“Iya, Pa.”

Sambungan telepon ditutup. Krishna tampak berdiri dari kursi kerjanya. Dengan sigap, Dewangga, tangan kanan sekaligus bodyguard Krishna datang mendekat dan menyerahkan tongkat pada sang CEO. Dewangga pula yang membawakan tas kerja Krishna.

Ya, Krishna hanya mempercayakan tas kerja yang berisi banyak dokumen penting itu hanya pada Dewangga, bahkan Faris pun belum pernah menyentuhnya.

Sementara itu Faris telah bernapas lega karena Krishna tidak terlalu banyak bertanya. Biasanya akan jauh lebih detail dari ini.

“Huft! Orangtua itu bikin jantungan aja! Sebaiknya dia cepa kusingkirkan!" desisnya sambil kembali menyandarkan punggung.

Tok tok.

“Ahh!” Sontak Faris bangkit kembali menegakkan punggung. Dia kaget sekali karena masih terbawa suasana tadi. Dia menoleh cepat ke arah kaca jendela. Terlihat Donna sedang melambaikan tangan sambil tersenyum manis.

Seketika itu juga Faris menarik napas lega. Segera dia menurunkan kaca jendela. “Ohh Sayang, kukira siapa tadi.”

“Hemm maaf ya kalau aku mengagetkanmu. Kamu ketiduran ya?”

Faris tersenyum. “Ya, sedikit. Ayo masuk! Sudah selesai, kan?”

Donna mengangguk lalu mengitari setengah mobil. Segera Faris membukakan pintu penumpang depan. Aroma manis dari parfum Donna langsung menguar ketika wanita cantik itu telah duduk di samping Faris.

Aroma yang sangat Faris suka sejak mereka bertemu kemarin.

“Ya ampun Faris, kalau memang pekerjaanmu lagi padat padahal kamu tinggal bilang loh, nggak jadi jemput aku. Serius aku nggak apa-apa kok. Kamu kelihatan capek banget.” Donna merapikan rambut Faris dengan lembut.

Disentuh seperti itu, meskipun Faris sedang dalam keadaan benar-benar capek, dia tetap akan memilih menjemput Donna. Dia langsung tersenyum seraya menggeleng pelan. “Nggak apa-apa, Sayang. Aku kangen banget sama kamu. Meskipun capek tapi aku nggak bisa nahan untuk ketemu kamu. Nih lihat disentuh kamu bikin mata aku langsung segar, kan?” Faris membulatkan kedua netranya.

Donna tergelak sambil terus membelai kepala Faris. “Ah kamu nih, bisa aja deh. Oh ya Sayang, kamu sudah makan malam belum?”

“Nah! Kebetulan aku lapar banget nih, aku belum makan. Yuk kita makan dulu!”

Donna mengangguk. “Ayo, kita makan dulu baru pulang.”

Faris langsung tersedak salivanya sendiri saat mendengar kata ‘pulang’ dari bibir seksi Donna. Dia terbatuk beberapa kali.

“Loh! Kamu kenapa, Faris? Mau minum?”

Faris langsung tersenyum kembali setelah mengusap tenggorokannya. “Aku nggak apa-apa kok. Yuk kita cari restoran dekat sini. Kebetulan aku tahu restoran menu masakan barat yang terkenal di dekat sini. Kamu mau kan?”

“Hemm boleh. Ayo!”

Mobil pun melaju meninggalkan lokasi pemotretan. Daerah Puncak memang tidak asing bagi Faris. Dari kantornya sendiri seringkali mengadakan meeting di daerah ini. Maka dia sudah cukup hapal untuk restoran dan juga hotel di daerah ini.

Hanya butuh waktu lima belas menit, mobil telah memasuki halaman parkir sebuah restoran mewah. Faris memilih meja agak di pojokan. Meskipun suasana restoran tidak ramai, bukan karena hari telah malam, tapi karena ini bukanlah hari libur. Hanya terlihat beberapa meja saja yang terisi. Itu cukup membuat Faris bisa menarik napas lega. Begitupun sebenarnya dengan Donna yang seorang model terkenal, dia tidak terlalu suka tempat terbuka karena memberi peluang adanya wartawan yang haus berita.

Seorang pelayan mendekati meja mereka lalu meletakkan dua buku menu di atas meja.

“Kamu mau apa, Sayang?” tanya Faris memberikan perhatian. Membuat Donna senyum-senyum dan bertingkah seperti wanita pada umumnya, sulit menentukan pilihan menu.

“Ah, begini saja. Bagaimana kalau kita pesan menu favorit di restoran ini? Mau?”

Donna tersenyum sumringah lalu mengangguk. “Oke, itu saja.”

Faris langsung memesan dua porsi menu favorit di restoran ini, baik makanan maupun minumannya. Sebenarnya dia tidak sabar menunggu Donna menentukan pilihan menu. Dia ingin cepat-cepat menyelesaikan makan malam ini. Karena setelahnya ... Faris punya rencana yang sejak tadi membuatnya menghalu setinggi langit.

Tidak terlalu lama menunggu, pelayan yang tadi telah kembali datang dan meletakkan piring-piring putih berisi menu istimewa di atas meja. Seporsi markette soasted chicken yang menggugah selera, ada juga organic roast chicken. Dan yang paling menarik bagi Donna adalah steak salad dan juga seafood linguine, sebab menu itu baginya tidak terlalu banyak mengandung lemak. Maklumlah, sebagai seorang model Donna tentu sangat menjaga bentuk tubuhnya.

Mereka mulai menikmati makan malam yang terlambat dengan sesekali bersenda gurau. Berulang kali Faris memberi sentuhan-sentuhan kecil pada Donna. Seperti mengusap punggung tangan atau membersihkan sisa saus pada bibir Donna langsung dengan tangannya.

Sentuhan-sentuhan itu juga berhasil menyentuh hati Donna, yang memang sedang butuh kasih sayang seorang pria, sebagai pengganti Arion.

Faris bahkan membantu membawakan tas selempang Donna dan sebelah tangan lagi menggandengnya hingga ke mobil. Faris membukakan pintu mobil, mempersilakan Donna masuk dengan gestur yang sangat sopan. Perlakuan manis itu kembali membuat Donna tersentuh.

Saat mereka sudah duduk berdua di mobil, Faris menggeser sedikit posisi duduknya sehingga mereka berdua hampir berhadapan. Ditatapnya Donna lekat-lekat dengan sorot mata sayu.

Membuat Donna jadi salah tingkah. Dia memiringkan sedikit kepalanya dan tersenyum manis. “Hemm? Kenapa Faris?”

“Rasa-rasanya aku ingin menatap wajahmu terus. Nggak mau berhenti.”

Wajah Donna langsung bersemu merah muda, andai saja lampu dalam mobil dinyalakan sudah pasti akan terlihat jelas. Wanita cantik itu tampak malu-malu. “Ahh kamu nih, kenapa jadi jago ngegombal sih!” Donna mencubit pinggang Faris tapi dengan cepat Faris menangkap tangan putih mulus itu.

Donna terpana saat Faris dengan lembut mengusap tangannya lalu menciumnya beberapa kali. Namun tiba-tiba Faris melepaskan tangan Donna.

“Aduh!” Faris memegang kepalanya dengan wajah meringis kesakitan.

Donna tentu saja sangat terkejut. “Faris ada apa? Kamu kenapa?” Kedua netra Donna membulat dan dia langsung memegangi kedua lengan Faris. “Kamu sakit?!” Donna terlihat begitu khawatir. Bagaimana tidak? Tadi Faris terlihat baik-baik saja, lalu kenapa sekarang tiba-tiba mengeluh sakit? Mendadak sekali. Yang lebih membuatnya khawatir adalah, sekarang mereka sedang jauh dari pusat kota. Dan belum tentu juga Faris akan cocok dengan dokter di rumah sakit daerah sini.

Perlahan Donna mengusap lengan Faris, seakan ingin membuatnya lebih nyaman. Barangkali itu dapat membantu jika memang Faris merasa kurang enak badan. “Faris, kamu sakit?” tanyanya lagi.