Faris mengangguk lemah, masih dengan memegangi kepalanya sambil menunduk.
Mendapat jawaban itu Donna semakin panik. Pikirnya, apa yang harus dia lakukan jika Faris benar-benar sakit? Membawanya ke rumah sakit? Berdua saja di jam segini? Apa yang akan dia katakan jika tiba-tiba ada wartawan bertanya?
“Don.” Sebelah tangan Faris memegang tangan Donna. “Tolong aku, Don.”
“Ohh ... apa, Ris? Kamu butuh apa? Kamu mau air putih? Atau mau tiduran dulu sebentar? Biar sandaran kursinya aku tidurin ya.”
Namun Faris menggeleng. “Aku memang butuh istirahat. Sepertinya aku kecapek’an. Tapi ... aku butuh tempat yang lebih luas, supaya ada udara segar.” Faris menatap Donna dengan sorot mata layu, kelopak matanya terlihat berat sekali.
“Oke. Kamu mau istirahat di mana dulu? Biar aku nyetir, ya? Kamu tenang saja, Ris. Ohh atau ... kamu mau kubawa berobat? Kita cari klinik terdekat atau rumah sakit, ya.” Meskipun Donna sangat berharap mereka berdua jangan sampai pergi ke tempat umum seperti itu, tapi mau bagaimana lagi, daripada Faris terus meringis kesakitan begini.
Namun Faris justru kembali menggeleng. “Donna, kalau bisa aku mau tidur saja, di hotel. Supaya aku bisa istirahat dengan nyaman. Kalau hanya tidur di mobil saja aku yakin kepalaku malah makin pusing nanti.”
“Ohh ... di hotel?” Donna tampak berpikir beberapa saat. Tetap saja yang ada dalam pikirannya adalah rasa takut bertemu dengan wartawan atau tiba-tiba ada netizen iseng yang mengambil fotonya diam-diam lalu mempostingnya di medsos.
Saat ini karir Donna sedang di puncak, dia tidak mau gosip-gosip miring tentangnya malah akan menggoncang karirnya.
“Donna please! Besok pagi-pagi sekali bahkan sebelum matahari terbit, aku janji akan langsung mengantarmu ke apartement. Yah? Sorot mata Faris begitu memelas.
Donna menghela napas dalam. Lalu mengangguk seraya mengusap lembut tangan Faris. “Oke, kita menginap di hotel malam ini, supaya kamu bisa istirahat. Aku akan carikan hotel yang bagus, kalau bisa bintang empat atau bintang lima.”
Senyuman langsung terukir di bibir Faris. Dia menggenggam kedua tangan Donna. “Terima kasih ya, Sayang. Kamu jangan khawatir Sayang, biar nanti aku yang urus check in kamarnya, kamu tinggal masuk aja menyusul nanti. Aku tau kamu pasti khawatir kalau ada wartawan yang lihat atau orang lain yang ambil foto sembarangan, kan?”
Donna langsung mengangguk. “Iya betul, Sayang. Aku nggak mau ada masalah gosip-gosip begitu. Waktu perceraianku dengan Arion saja ampun deh berita-beritanya di media sosial! Aku sampai nggak konsentrasi kerja. Pokoknya sangat mengganggu!”
Faris mengangguk mengerti. Dia mengusap rambut Donna dengan perlahan. Raut wajahnya masih dipasang memelas dan pergerakan tangannya juga masih terlihat lemah.
“Ya sudah, kita berangkat sekarang ya cari hotelnya. Biar aku yang menyetir, Ris.” Tanpa menunggu jawaban Faris, Donna keluar dari mobil lalu memutari bagian depan dan membuka pintu pengemudi. Faris bergeser tempat duduk ke kursi penumpang.
Sudah lewat jam sepuluh ketika mereka sampai di sebuah hotel yang cukup mewah. Donna sempat menarik napas lega karena dilihatnya suasana dari luar lobi begitu sepi. Selain karena memang sudah malam sekali, juga karena sekarang bukanlah hari libur, melainkan hari kerja.
Donna memarkir mobil tidak jauh dari pintu lobi. “Faris, jadi kan kamu yang urus kamarnya?”
Faris langsung mengangguk bersemangat, dia mengusap lembut punggung tangan Donna. “Sayang, tunggu di sini sebentar, ya. Biar aku urus kamarnya. Nanti kalau sudah siap aku telepon ya, kamu menyusul saja ke kamar.”
“Oke Sayang.”
Faris hampir lupa dengan drama sakitnya. Detik kemudian dia langsung kembali memasang wajah lesu. Faris juga membuka pintu mobil dan berjalan perlahan sekali menuju lobi. Padahal rasanya dia sudah sangat tidak sabar untuk bisa langsung berduaan dengan Donna di kamar.
Setelah selesai mengurus check in kamar, Faris naik lebih dulu ke lantai lima. Barulah dia menelepon Donna untuk menyusul naik. Faris masih menunggu di depan pintu kamarnya, sampai kemudian terlihat Donna keluar dari lift.
Faris melambaikan tangan dan Donna segera berjalan mendekat. “Ini kamarnya, Sayang?”
Faris mengangguk. “Ini type deluxe room, semoga kamu suka. Atau kalau kamu mau pindah ke kamar yang lebih bagus lagi, boleh. Bagaimana?”
“Ahh nggak perlu, Sayang. Ini juga cukup kok. Lagipula kan besok pagi-pagi sekali kita sudah check out lagi.”
Merasa tidak ada kendala, Faris semakin bersemangat. Dia langsung membuka pintu dan mengajak Donna masuk. Perhatian Faris langsung tertuju pada ranjang besar di tengah ruang kamar. Telah terbayangkan bagaimana nanti dirinya akan menikmati malam bersama Donna di ranjang itu. Senyumnya perlahan mengembang.
Sedangkan Donna justru tertarik pada view kamar. Dia berdiri menghadap kaca jendela besar, gorden dia singkap seluruhnya, sehingga terlihat pemandangan kota Puncak di malam hari yang bertabur lampu-lampu. “Indah sekali,” desisnya.
Faris berjalan mendekati Donna, dia berdiri di belakang Donna, lalu memeluknya perlahan. “Jauh lebih indah memandang kamu, Don.”
Donna langsung terkekeh sambil mencubit gemas tangan Faris. “Gombal ah kamu! Tuh lihat pemandangan malam, benar-benar indah, Ris. Lampu-lampunya kayak warna-warni gitu, Ris.”
Faris mengangguk perlahan, tapi kemudian dia mulai menunduk dan menyesap ke leher jenjang Donna. “Wangi aroma tubuhmu bikin candu, Don. Jadi jangan salahkan aku kalau maunya dekat-dekat terus.”
“Ya ampun Faris, padahal aku belum mandi loh. Dan aku pemotretan dari tadi siang.”
“Justru itu, kamu tuh sudah seharian di luar ruangan tetap saja wangi. Pengennya aku cium terus, Don.” Faris menghirup dalam-dalam di ceruk leher Donna sambil mengangkat rambut Donna dengan sebelah tangan.
Donna mulai merasakan geli, dia menggerak-gerakkan leher perlahan. Berusaha menghindar dari ciuman Faris. Tapi justru Faris menyangka kalau wanitanya ini telah mulai terangsang oleh sentuhannya. Faris semakin bergairah untuk melanjutkan aksinya.
Sekarang salah satu tangan Faris yang tadinya di perut, mulai naik hingga terhenti ketika menyentuh bagian bawah aset kembar milik Donna yang molek. Sebab tubuh Donna memang tinggi dan ramping, tapi pada bagian tertentu begitu bulat dan padat. Jangankan menyentuh bagian itu, melihatnya saja membuat Faris berdebar.
“Hemm mulai nakal deh.” Donna menurunkan tangan Faris hingga kembali ke perut. “Hayoo tadi katanya mau istirahat di tempat yang nyaman, tapi sekarang kok kelihatannya sehat-sehat saja nih?” Donna membalik badan, masih dalam pelukan Faris. Dia memicingkan kedua mata lalu mengangkat alis sebelah. “Hemm jangan-jangan ....”
Faris tergelak. “Jangan-jangan apa sih, Sayang?”
“Yaa jangan-jangan ini cuma akal-akalan kamu saja nih biar bisa menginap di hotel sama aku. Iya, kan?” Bibir Donna mengerucut. Wajah cantiknya berpura-pura memberengut. Tapi justru membuat Faris semakin gemas saja melihatnya.
Bukannya menjawab, Faris justru langsung mencium bibir ranum Donna. Kemudian tangan kanannya memegang dagu Donna dan mnegangkatnya lebih tinggi, hingga Faris bisa menciumnya semakin dalam. Sedangkan tangan kiri Faris tetap memeluk pinggang ramping Donna.
Donna yang ingin protes tidak bisa. Dia terlalu sibuk meladeni pagutan Faris yang menuntut. Hingga akhirnya Donna tidak lagi mengelak. Dia justru membalas ciuman Faris, membuat mereka semakin dalam.
Sengaja Faris memberi jeda sebentar untuk sang kekasih bisa menarik napas dalam-dalam. Faris tersenyum sambil mengusap bibir basah Donna. Detik kemudian dia langsung mengangkat tubuh ramping Donna.
“Ahh Faris! Kamu mau apa?!”