“Aku mau kamu, Sayang.”
Faris terus mengangkat tubuh Donna lalu membaringkannya di ranjang, dengan begitu lembut dan tanpa mengalihkan pandangan dari wajah cantik Donna. Tidak dia sangka sama sekali, kecantikan Donna yang dulu hanya bisa dia kagumi saja karena Arion yang memilikinya. Kini dialah yang memiliki Donna. Maka Faris bertekad tidak akan pernah melepaskan kekasihnya ini. Apapun yang terjadi.
Cup. Faris mendaratkan ciuman manis di bibir Donna. Lalu dia mengusap lembut setiap lekuk wajah cantik Donna. Terpesona dengan pahatan wajah yang menurutnya demikian sempurna. Saat ini Faris sama sekali tidak ingat akan istrinya. Bahkan wajah Astrid sedikitpun tidak terbayang di kepalanya. Semua hanya diisi oleh Donna dan Donna.
“Sayang, kamu jangan kelewatan. Aku nggak bawa pengaman loh, kan aku sudah bilang nggak mau punya anak.” Kedua bola mata indah Donna mengerjap. Wanita itu tahu sang pria sudah terlalu tinggi dan mustahil untuk menolak. Tapi dia tidak mau hamil! Tidak akan pernah mau!
Faris mengulum senyum lalu dia bangkit dari atas tubuh Donna. Berdiri sebentar kemudian mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. “Kalau begitu, aku yang bawa.” Dia menunjukkan sesuatu di tangannya.
Kedua alis Donna langsung terangkat. “Astaga! Ternyata kamu ya memang sudah merencanakan semuanya dengan matang.”
Faris tergelak, dia kembali merebahkan diri di ranjang, sekarang di samping Donna, dengan satu tangan memeluk perutnya. “Habisnya aku nggak boleh masuk ke apartementmu sih. Jadi terpaksa aku giring kamu ke hotel!” Faris menjawil ujung hidung mancung Donna.
Jawaban Faris membuat Donna tersenyum seraya menaikkan kedua alisnya. “Yaa habis mau bagaimana lagi, aku nggak mau karirku rusak, Ris. Aku harap kamu mengerti. Aku sudah merintis ini dari nol hingga sekarang bisa sampai berhasil begini. Itu bukan perkara mudah, Ris.”
“Tenang Sayang, aku mengerti kok. Jangan samakan aku dengan Arion. Aku nggak akan pernah memaksa, tapi aku akan mencari jalan supaya keinginanmu dan keinginanku bisa terwujud. Jadi tenang saja Donna, bersamaku kamu akan aman.”
Kata-kata pamungkas dari mulut seorang buaya darat memang tidak pernah gagal. Tentu saja Faris akan menuruti kemauan Donna. Selain karena dia tidak ingin Donna lepas dari kungkungannya, Faris juga harus menjaga rahasia ini. Bukan hanya Donna yang takut kehilangan karir, tapi dirinya juga. Ditambah lagi takut kehilangan harta dan fasilitas yang selama ini diberikan oleh Krishna untuknya.
“Ohh Sayang, akhirnya aku menemukan kekasih yang benar-benar bisa mengerti aku.” Donna membelai pipi Faris. Yang dengan cepat langsung menyulut gairah di dalam tubuh Faris.
“Donna, kamu nggak aku belikan unit apartement lain? Yang letaknya sangat tersembunyi dan aman. Atau rumah mungkin? Supaya kita bisa tinggal dengan bebas berdua. Maksudnya kalau aku mau menginap tidak perlu repot selalu ke hotel begini. Hemm? Mau, ya?”
Donna tampak berpikir sebentar, keningnya mengernyit dengan kedua bola mata memicing. Lebih tepatnya pura-pura berpikir keras. Detik kemudian dia mengangguk perlahan.
“Yes!” Faris langsung mendaratkan kecupan sekilas di kening Donna. “Nanti akan aku carikan yang bagusss sekali, pokoknya kamu pasti suka. Asalkan ....”
“Hem? Asalkan apa hayo?”
“Asalkan kamu puaskan dulu aku malam ini, Sayang.”
Kedua bola mata Donna membulat ketika tangan Faris merayap ke atas sedangkan tangan satunya telah menyusup ke balik pinggang Donna. Sehingga wanita itu terkurung dalam dekapan erat Faris.
Tangan Faris yang merayap ke atas telah mencapai dua gundukan padat dan sedang meremas di sana. Bergantian meremas kedua aset kembar yang menggemaskan itu. Sedangkan tangan satunya lagi di bawah tubuh Donna juga telah merayap ke bagian bokong.
“Uhh Faris ....”
“Sebut namaku terus, Sayang. Kamu suka, kan? Akan kubuat malam ini kamu ketagihan sampai memintaku jangan berhenti. Lihat saja!”
Sebelah tangan Donna mencengkeram ujung bantal, sedangkan tangan satunya lagi meremas lengan kekar Faris. Ketika sensasi luar biasa dirasakannya saat tangan Faris mulai merayap ke dalam mini dress hijau Donna. Meraba dengan lembut tapi intens di sana hingga membuat tubuh Donna meremang lalu bergetar tanpa bisa terkontrol.
Faris tersenyum. Dia tahu Donna telah terangsang hebat karena ulahnya. Sambil mulutnya terus menciumi wajah Donna, kedua tangan Faris mulai bekerja melucuti pakaian Donna, hingga terjatuh begitu saja ke lantai. Kini hanya ada tubuh polos Donna yang terasa hangat dan begerak lembut kesana-kemari mengikuti pergerakan tangan Faris.
“Jangan lupa pakai pengamannya, Sayang,” bisik Donna di telinga Faris. Dia anggap itu sebagai kode keras.
Segera Faris melucuti pakaiannya sendiri lalu memakai pengaman yang sejak tadi tidak luput dari perhatian Donna. Ya, Donna sangat waspada kalau-kalau Faris akan lupa memakai itu. Dia cukup waras untuk tidak terlena lalu menyesalkan semuanya di kemudian hari.
Setelah Faris memakainya, maka sudah tidak ada lagi pemanasan, dia akan langsung ke permainan inti. Sesuatu yang tegak di bawah sana sudah sangat tidak sabar.
Detik kemudian keduanya telah berpacu dengan hingga keringat membasahi punggung mereka. Sampai akhirnya keduanya terkulai lemas di atas ranjang yang menjadi telah saksi mereka melebur hasrat bercinta.
“Ohh Sayang, tadi itu nikmat sekali. Sungguh tak ada tandingannya. Terima kasih, Donna,” gumam Faris sambil memejamkan mata. Dadanya tampak naik turun masih berusaha mengatur napas yang begitu memburu.
Donna tersenyum mendengar itu. Dia memiringkan tubuh menghadap Faris. Keduanya masih dalam keadaan polos tanpa kain sehelaipun. “Ah masa’ sih aku nggak ada tandingannya? Lalu ... bagaimana dengan istrimu? Apa rasanya masih kalah denganku?” Begitulah wanita, merasa tersaingi padahal dirinya sendiri yang membuat perkara.
Faris membuka mata. Lalu tersenyum dan melirik ke arah Donna. “Beda, Sayang ... rasanya.”
“Hem? Bedanya bagaimana?” Donna menuntut jawaban. Rupanya dia mulai bermain hati sekaligus bermain api. Donna merasakan cemburu pada Faris.
“Ya jelas beda dong. Astrid itu istriku, yang sudah kunikahi hampir tiga tahun ini. Tentu saja aku mulai bosan padanya. Rasanya yaa begitu-begitu saja. Tapi dengan kamu, bagaikan sesuatu yang baru, yang membuat hasrat ini bangkit dari rasa jenuhnya. Kamu itu candu bagiku, Sayang.” Faris menaikkan kepalanya sedikit lalu mengecup lembut bibir Donna yang sudah tidak berlipstik.
Dan jawaban Faris berhasil membingkai senyuman di bibir Donna. Dia bangkit memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai. Membalik badan dan sempat tersenyum pada Faris. “Ingat loh ya, apartement baru untukku. Kalau tidak, kamu akan sulit mencuri waktuku, Faris. Aku ini cukup mahal loh!” Lalu Donna terkekeh dengan lirikan yang menggoda Faris.
Wanita berkaki jenjeng itu melangkah menuju kamar mandi. Faris tersenyum melihat punggung putih mulus Donna yang berjalan menjauh, lalu turun ke pinggulnya yang sontak membuat pria itu menelan salivanya tanpa sadar.
Tanpa pikir panjang, Faris segera turun dari ranjang lalu berjalan menyusul Donna ke kamar mandi.
“Loh! Kamu mau apa? Aku kan mau mandi, Ris.”
“Ini sudah sangat malam, Don. Aku bantu mandinya ya biar cepat, biar kamu nggak masuk angin.”