Pagi-pagi sekali, bahkan ini masih jam tiga dini hari, mobil Faris melaju meninggalkan hotel. Donna yang masih mengantuk ketiduran di mobil. Sesekali Faris mengusap lembut kepala Donna. Hingga satu setengah jam kemudian mobil memasuki kawasan apartement tempat tinggal Donna.

Dengan lembut diusapnya pipi mulus sang kekasih. “Donna, Sayang, bangun Don. Sudah sampai di apartementmu, Sayang.” Lembut sekali suara Faris di telinga Donna. Faris juga menciumi kening dan pipi Donna.

Menggeliat seraya mengerjapkan matanya beberapa kali, Donna memberengut malas. “Uhh aku masih mengantuk.”

“Iya Sayang. Tapi kan katanya kamu mau masuk ke apartement sebelum lobby ramai. Nah ini masih sepi, dan nanti kan kamu bisa lanjutin tidur di kamar. Aku juga mau sampai kantor sebelum orang-orang pada datang.”

Donna mengangguk malas. “Ya sudah.” Kemudian dia menegakkan punggung dan sekali lagi menggeliat. Tersenyum pada Faris yang juga sedang tersenyum padanya. “Sampai ketemu lagi ya, Sayang ... dia apartementku yang baru.”

Faris terkekeh. “Iya Sayang, secepatnya ya.”

“Aku tungguh loh.” Donna mengecup lembut bibir Faris, lalu turun dari mobil. Melambaikan tangan sebentar barulah masuk ke lobby apartement.

Faris melirik jam di pergelangan tangan, dengan cepat dia memacu mobil ke kantor. Masih jam lima lewat lima belas menit ketika dia sampai di parkiran kantor. Seorang satpam yang melihat kedatangan Faris segera membungkuk sedikit memberi hormat.

“Selamat pagi, Pak Faris.”

“Pagi,” jawab Faris tanpa menoleh sedikitpun. Namun baru dua langkah, dia berhenti lalu membalik badan.”

“Pak ....” Faris melihat name tag di seragam satpam. “Iskandar ... umm Pak, tolong jangan bilang pada siapapun kalau Bapak melihat saya datang jam segini. Terutama pada papa saya. Kalau misal papa saya tanya, jawab saja tidak tahu. Oke?” Faris menatap tajam pada satpam yang tampak kebingungan.

“Baik ... Pak.”

“Bagus. Kalau sampai papa saya tahu, saya datang ke kantor jam segini, itu berarti Pak Iskandar lah yang terlalu banyak omong. Siap-siap Bapak menerima gaji terakhir di perusahaan ini!”

Satpam itu terhenyak, dia menghela napas dalam. Membayangkan akan dipecat rasanya seram sekali. Kalau sampai tiba-tiba berhenti kerja, lalu bagaimana nasib istri dan anak-anak pikirnya?

“Ba—baik, Pak. Saya janji tidak akan bilang apapun, dan kepada siapapun, apalagi ke Pak Krishna.”

Faris tersenyum miring. “Saya pegang janji Pak Iskandar!” Lalu Faris beranjak dari sana. Memasuki lobby utama yang tentu saja masih sepi. Hanya ada beberapa cleaning service yang sedang sibuk membersihkan area lobby. Faris tidak peduli pada mereka. Dia terus berjalan dan masuk ke lift. Menuju ruangannya di lantai atas.

Faris yang masih memakai baju kantor kemarin, sengaja tidak langsung mandi. Dia justru beranjak ke ruang khusus untuk beristirahat, di pojokan ruang kerjanya yang cukup luas. Dengan tersenyum Faris berbaring di sana. Membayangkan kembali malam panasnya bersama Donna. Hingga kemudian terlelap karena memang dia kurang tidur semalaman. Benar-benar menghabiskan waktu dengan Donna hingga beberapa ronde dan hanya sempat terlelap satu jam saja.

“Faris! Faris bangun, Nak!” Krishna yang baru saja datang menggoyang-goyangkan pundak Faris.

Dengan kelopak mata yang masih berat sekali, Faris berusaha terbangun. Dia melihat Krishna setengah membungkuk di sampingnya. Wajah tua dengan rahang yang masih terlihat tegas itu tampak tersenyum lembut.

“Capek sekali kayaknya, ya. Tadinya Papa nggak mau bangunin kamu, tapi teringat hari ini ada rapat direksi termasuk pembahasan proyek Surabaya. Jadi, kamu harus mandi sekarang, Faris.”

Kedua bola mata Faris melotot seketika. “Apa?! Rapat?!” Rasa kantuknya lenyap begitu saja, dia mengusap wajah dengan kasar. “Ya ampun, Pa! Aku lupa kalau hari ini ada rapat direksi. Aku harus siap-siap dulu!”

Krishna menepuk lembut bahu Paris. “Yaa bersiaplah. Nggak perlu terburu-buru, toh rapatnya masih jam sepuluh dan sekarang baru jam delapan. Kamu masih ada waktu bersiap. Lagipula kalau untuk materinya tinggal kamu jelaskan saja nanti, kan semalaman juga kamu habis kerjakan proyek itu bukan? Ya sudah, Papa ke ruangan dulu, ya.”

Setelah Krishna keluar dari ruang ‘Direktur Pemasaran’, segera Faris menyalakan laptop di atas meja kerja. Kemudian dia berlari meraih handuk dan pakaian ganti, lalu mandi dengan cepat.

Hanya lima belas menit, Faris telah duduk tegak di kursi kerjanya. Sibuk mencari-cari materi lengkap proyek Surabaya di laptop. Nanti di depan para jajaran direksi lainnya, dia tidak mau terlihat tidak menguasai materi sehingga tampak bodoh dan memalukan. Apalagi Faris sedang mempersiapkan diri untuk bisa naik ke kursi CEO.

Kurang istirahat ditambah panik karena tidak menguasai materi rapat nanti, membuat Faris cemas. Dia tidak bisa berpikir jernih. Berkali-kali membaca ulang file di layar laptop tapi tetap saja tidak bisa konsentrasi. Kepalanya mulai terasa nyeri, kedua mata Faris juga tidak bisa diajak kerja sama, perih karena dipaksa menatap layar laptop tanpa henti.

Frustasi. Faris memanggil wakil direktur ke ruangan.

“Pak Bayu, tolong gantikan saya rapat direksi nanti jam sepuluh. Pembahasan dari divisi pemasaran adalah tentang proyek Surabaya. Pastikan Pak Bayu menguasai materi itu, secara detail.” Faris menyandarkan punggung di kursi. Dia menatap sang wakil direktur yang sekarang tampak agak terkejut.

“Loh! Tapi Pak itu kan—“

“Ahh sudah! Tidak ada tapi. Saya capek habis lembur. Jadi kamu yang wakilkan saya. Ya sudah, sekarang bersiap saja sana.”

Bayu sang wakil direktu menghela napas dalam. Kemudian mengangguk perlahan. “Ya baik, Pak Faris.”

Faris kembali menyandarkan punggung di kursi kerjanya yang nyaman. Tersenyum santai lalu kembali memejamkan mata. Entah kenapa dia merasa lelah sekali lalu terlelap begitu saja.

Entah berapa lama Faris tertidur kembali sampai kemudian dia terbangun karena ada yang menggoyangkan tangannya. Faris tersentak saat membuka mata sudah ada Krishna di sampingnya dengan raut memberengut.

"Papa? Ohh maaf Pa, sepertinya aku kecapek’an karena lembur semalaman.” Faris tampak gugup tapi berusaha dia tutupi dengan berpura-pura menguap.

“Semalam sebenarnya dengan siapa kamu lembur di kantor, Faris?”

Kening Faris mengernyit, dia yang baru tidur tidak bisa berpikir panjang. “Yaa ... dengan anak buahku, Pa. Tim divisi pemasaran, siapa lagi?” jawabnya cepat. Tidak sempat berpikir tim lain, hanya divisi pemasaran yang terlintas di benaknya.

Kening Krishna mengernyit. Kedua bola matanya sedikit memicing. Usia yang tak lagi muda nyatanya tidak membuat otaknya lantas malas berpikir kritis. Krisha—mulai curiga. “Termasuk Bayu?”

Faris mengangguk beberapa kali. “Yaa tentu saja, dia kan wakilku. Yaa termasuk Bayu. Kenapa sih, Pa? Kok tiba-tiba tanya lagi. Kepalaku sedang agak pusing.” Faris memijat keningnya, di antara dua alis.

“Tapi kata Bayu dia tidak tahu kalau semalam ada lembur? Dia bilang dia tidak ikut lembur!”