Bab 29

Penulis JanaIndria
14 January 2026

Ajeng tertegun.

"Ayah tahu kamu ada masalah besar di sana. Ayah tahu kamu bukan kamu yang dulu. Dan Ayah takut 'Ajeng' Ayah nggak akan pernah kembali."

"Tapi kamu kembali," lanjut Ayah. "Kamu selamat. Kamu berjuang. Kamu bahkan bantu Eyangmu sembuh. Itu sudah lebih dari cukup buat Ayah."

"Soal dosen," kata Ayah. "Dosen juga manusia, Jeng. Dia punya hati. Nanti jelaskan baik-baik. Jujur. Bilang kamu ada musibah keluarga. Kalaupun kamu harus ngulang semester..."

"Ayah..."

"Ayah nggak masalah," kata Ayah tegas. "Uang bisa dicari. Tapi kesehatan mental kamu, kebahagiaan kamu, itu nggak bisa dibeli. Kamu hadapi Prof. Gita. Tegakkan kepalamu. Kamu nggak salah."

Air mata Ajeng menetes. "Makasih, Yah."

"Ayah bangga sama kamu. Kamu bisa hadapi Eyang kritis, kamu hadapi masalah Dodi, kamu pasti bisa hadapi satu dosen ini."

Mobil berhenti di lobi stasiun.

"Sudah sampai," kata Ayah. Beliau turun, membukakan pintu untuk Ajeng dan menurunkan koper.

"Ini," Ayah memberikan sebuah amplop. "Buat pegangan. Jangan nolak."

"Ayah, Ajeng masih-"

"Simpan saja. Buat beli kopi atau apa," kata Ayah.

Ajeng memeluk Ayahnya erat. "Makasih banyak, Yah. Maaf, Ajeng nggak bisa lama-lama di rumah."

"Keluarga ngerti. Selesaikan urusanmu," Ayah mengusap kepala putrinya. "Kami tunggu kabar baiknya. Langsung kabari kalau sudah sampai. Pastikan Yusuf jemput."

"Iya, Yah. Pasti."

"Hati-hati, Nak."

"Dah, Yah."

Ajeng berbalik, menyeret kopernya masuk ke stasiun.


Perjalanan kereta lima jam itu terasa menyiksa. Ajeng mencoba tidur, tapi otaknya tidak mau berhenti bekerja. Dia membuka laptop, mencoba membaca lagi Bab 3-nya. Tapi kepalanya pusing. Akhirnya dia pasrah.

Pukul sebelas siang, kereta berhenti di Stasiun Gambir, Jakarta.

Udara panas dan bisingnya ibu kota langsung menyambutnya. Berbeda sekali dengan udara sejuk di rumah Bunda.

Ajeng turun dari kereta, lelah, pusing, dan cemas. Dia menyeret kopernya, matanya yang lelah mencari-cari di kerumunan.

"Yusuf di mana? Jangan-jangan dia lupa... atau ketiduran..."

Dia berjalan menuju pintu keluar.

Dan di sanalah dia.

Yusuf berdiri di dekat tiang, di antara kerumunan penjemput. Dia tidak sedang main HP. Dia menatap lurus ke arah pintu kedatangan, mencari.

Saat mata mereka bertemu, Yusuf tersenyum lebar. Senyum yang tulus dan menenangkan. Dia melambai.

Dia mengenakan kemeja flanel favoritnya, dan di tangannya, dia memegang sebotol air mineral dingin dan sebungkus Pocky cokelat.

"Hei," sapa Yusuf saat Ajeng sampai di depannya.

"Suf-" Ajeng tidak bisa menahannya lagi. Rasa lelah, stres, dan lega bercampur aduk. Matanya panas.

Yusuf tidak banyak bicara. Dia langsung mengambil alih koper Ajeng. "Capek banget, ya? Mukamu pucat."

"Aku... aku belum tidur," kata Ajeng lirih.

"Ssst. Kita bahas itu nanti," kata Yusuf. Dia membuka tutup botol air dan memberikannya pada Ajeng. "Minum dulu."

Ajeng minum. Air dingin itu terasa segar di tenggorokannya yang kering.

"Makasih, Suf. Makasih udah jemput."

"Tugas pacar," kata Yusuf sambil mengedipkan mata, lalu menyerahkan Pocky itu. "Ini, buat ganjel perut."

"Kamu tahu aja aku suka ini."

"Aku tahu semua tentang kamu," kata Yusuf. "Lagian, aku kangen."

"Aku juga," bisik Ajeng.

"Ayo," Yusuf mulai mendorong koper. "Kita ke kos kamu dulu. Kamu tidur. Dua jam. Cukup."

"Tidur? Nggak bisa, Suf! Besok jam 10!"

"Justru itu. Kamu nggak akan bisa mikir kalau otakmu kayak gini," kata Yusuf. "Kita ke kos. Kamu tidur. Aku tungguin di luar. Jam 2 siang aku bangunin. Nanti malam, kita kerjain bareng. Aku temani kamu begadang ngerjain Bab 3."

Ajeng berhenti berjalan. "Kamu... mau?"

"Dua kepala lebih baik dari satu, 'kan?" kata Yusuf. "Apalagi kepala kamu lagi penuh banget. Aku udah download beberapa jurnal semalam yang kayaknya nyambung sama topikmu."

"Yusuf..."

"Ayo. Kita hadapi Prof. Gita bareng-bareng."

Ajeng menatap Yusuf, dengan tatapan lekat. Sosok pria di depannya ini. Orang yang dulu pernah dia usir, pernah dia lempar pakai vas bunga, dan orang yang sama yang sabar menunggunya.


Udara kampus siang itu terasa cukup gerah, namun bagi Ajeng, rasanya jauh lebih ringan. Ia baru saja keluar dari ruangan Prof. Gita. Meskipun sang dosen sangat tegas dan sempat memberikan teguran keras, setidaknya revisi Bab 3 miliknya tidak ditolak mentah-mentah.

Ajeng dan Yusuf kini duduk di sebuah bangku beton di bawah pohon peneduh yang besar di taman pusat kampus.

"Gimana? Nggak seseram yang kamu bayangin, kan?" tanya Yusuf sambil menyodorkan sebotol minuman dingin yang sudah dia lepas segelnya.

"Tetap aja deg-degan, Suf. Prof. Gita itu kalau natap, kayak mau nembus sampai ke tulang. Tapi kamu bener, dia dengerin penjelasanku soal musibah keluargaku."

Ajeng menjawab sembari menarik napas panjang, lalu meminum air yang di berikan Yusuf tadi.

"Tuh, kan. Yang penting kamu jujur. Terus, revisinya banyak?"

"Lumayan. Tapi polanya sudah jelas. Berkat bantuan kamu semalam juga sih," Ajeng tersenyum tulus. "Makasih ya, Suf. Kalau nggak ada kamu, mungkin aku udah nyerah tadi di depan pintu."

Yusuf tertawa kecil, ia mengacak rambut Ajeng pelan. "Udah tugas aku. Sekarang yang penting kamu konsisten. Kita kerjain pelan-pelan sampai lulus."

"Bagus ya. Mesra-mesraan di kampus seolah nggak punya dosa."

Suara itu berat, dingin, dan sangat akrab di telinga Ajeng. Jantung Ajeng seolah berhenti berdetak. Ia mendongak dan melihat sosok pria berdiri dengan tangan bersedekap.

Dodi.

Yusuf langsung berdiri, posisinya menghalangi Dodi untuk mendekat ke arah Ajeng. "Ngapain kamu ke sini?"

Dodi tertawa sinis. Wajahnya terlihat lebih kusam dibanding terakhir kali Ajeng melihatnya, tapi tatapannya tetap penuh kebencian. "Ini tempat umum, Yusuf. Lagi pula aku punya urusan sama Ajeng, bukan sama kamu."

"Ajeng nggak punya urusan apa-apa lagi sama kamu," tegas Yusuf. "Pergi sekarang atau aku laporin ke satpam."

"Laporin aja," tantang Dodi. Ia melirik Ajeng yang masih terpaku di bangku beton dengan wajah pucat.

"Jeng, kamu pikir setelah cincin itu kamu bongkar bongkar, semua masalahnya selesai gitu aja? Kamu pikir kamu bisa balik ke pelukan pahlawan kesiangan ini tanpa beban?" ujar Dodi dengan tatapan merendahkan pada Yusuf.

Ajeng memberanikan diri berdiri, meski kakinya terasa lemas. "Apa lagi, Dod? Kamu udah hancurin hidupku, kuliahku. Kamu udah bikin aku jadi babu kamu. Kurang cukup?"

Dodi melangkah maju, menghiraukan Yusuf yang mencoba mendorongnya. "Aku ke sini buat tanggung jawab, Jeng."

"Tanggung jawab apa?!" seru Ajeng, setengah berteriak.

"Kita harus nikah," kata Dodi datar.

Yusuf tertawa saking tidak percayanya. "Kamu gila? Nikah? Setelah apa yang kamu lakuin lewat guna-guna itu? Kamu harusnya di penjara, bukan di pelaminan!"

"Kamu nggak tahu apa-apa, Yusuf," Dodi menatap tajam ke arah Yusuf, lalu kembali ke Ajeng.

"Jeng, kamu mungkin nggak ingat apa yang terjadi selama enam bulan itu. Kamu mungkin pikir kamu cuma nyelesaikan tugas kuliahku saja, cuma sekadar mencatat saja, tidak sesimple itu!!"

Perasaan tidak enak mulai menjalar di dada Ajeng. "Maksud kamu apa?"