Dodi menyeringai, sebuah seringai yang membuat Ajeng ingin muntah. "Kamu ingat malam Jumat Kliwon dua bulan lalu? Waktu aku bilang kamu harus 'patuh' sepenuhnya kalau mau 'selamat'?"
Ajeng menggeleng pelan. Ingatannya tentang masa itu seperti potongan-potongan film yang terbakar. Rusak dan tidak utuh.
"Tidak, aku tidak ingat, kalau saja aku ingat tentu kamu sudah habbis," bisik Ajeng ragu, tapi tegas.
"Tidak usah emosi dulu, Jeng," suara Dodi merendah, terdengar menjijikkan. "Saat itu kita udah ngelakuin semuanya. Berkali-kali. Di apartemenku, di mobil... kamu nggak sadar karena kamu memang 'kubuat' nggak sadar. Tapi secara fisik? Kamu udah jadi milikku seutuhnya."
Dunia Ajeng mendadak gelap, kelelahan yang dia tahan dan keterkejutan menerima ujaran dari Dodi membuat Ajeng tak mampu lagi menahan dunianya.
"BOHONG!" teriak Yusuf. Ia mencengkeram kerah baju Dodi. "Kamu cuma mau ngerusak mental dia lagi! Ngaku kamu!"
Dodi tidak melawan, ia malah tertawa terbahak-bahak. "Tanya aja sama dia, Yusuf. Tanya kenapa dia sering ngerasa mual di pagi hari bulan lalu. Tanya kenapa ada bekas-bekas merah di pundaknya yang selalu dia tutupin pakai syal. Dia mungkin nggak ingat secara sadar, tapi badannya nggak bisa bohong."
Ajeng mundur satu langkah, tangannya meraba bangku beton untuk mencari pegangan. Kepalanya berdenyut hebat. Potongan-potongan ingatan seperti yang dikatakan Dodi, apakah itu benar? Tapi kenapa tak pernah muncul selama ini.
"Nggak mungkin..." bisik Ajeng. "Nggak... kamu bohong!!"
"Aku punya fotonya kalau kamu butuh bukti buat pengadilan," bisik Dodi sengaja agar Yusuf makin emosi.
"Jeng, kamu udah kotor. Siapa yang mau sama kamu selain aku? Yusuf? Kamu pikir dia bakal terima kamu setelah tahu kamu udah 'dipakai' orang lain berbulan-bulan?"
"DIAM!" Yusuf yang sangat emosi, tak pelak langsung melayangkan pukulan ke wajah Dodi.
Dodi tersungkur, tapi ia terus tertawa. "Pukul aja! Tapi itu nggak ngerubah kenyataan kalau Ajeng itu calon istriku karena keadaan. Aku mau tanggung jawab, Jeng. Ayo kita nikah baik-baik sebelum perutmu makin besar."
Ajeng merasa oksigen di sekitarnya menghilang. Ucapan Dodi barusan—tentang hubungan terlarang yang dilakukan saat dirinya tidak berdaya—terasa seperti palu godam yang menghantam kepalanya.
Ia melihat Yusuf yang sedang dilerai oleh beberapa mahasiswa yang lewat. Ia melihat Dodi yang bangkit sambil mengusap darah di bibirnya dengan tatapan kemenangan.
Rasa jijik yang luar biasa memenuhi tenggorokan Ajeng. Rasa hina, kotor, dan hancur berkumpul menjadi satu.
"Ajeng!" Yusuf berteriak, mencoba mendekat ke arahnya.
Tapi suara Yusuf terdengar sangat jauh. Pandangan Ajeng mulai mengabur. Pohon besar di atasnya seolah berputar. Bangku beton yang ia pegang terasa dingin, sedingin kenyataan yang baru saja ia dengar.
"Aku ... aku hina -" bisik Ajeng.
Wajah Bunda, wajah Eyang, dan senyum Yusuf berkelebat di pikirannya. Ia merasa tidak layak lagi berada di dekat mereka.
Lantai semen taman kampus itu seolah bergerak mendekat ke wajahnya.
Bruk.
Ajeng ambruk di samping bangku beton. Kesadarannya hilang sepenuhnya sebelum tubuhnya menyentuh tanah.
"AJENG!" teriak Yusuf histeris, meninggalkan Dodi dan langsung memburu tubuh Ajeng yang sudah tak bernyawa.
Dodi hanya berdiri diam, menatap Ajeng dengan tatapan dingin.
"Pilihanmu cuma satu, Jeng. Balik ke aku, atau hancur selamanya," desisnya sembari melangkah pergi, tak lagi peduli.
Aroma minyak kayu putih dan pengapnya udara kamar kost menyambut kesadaran Ajeng. Matanya terasa berat, bengkak, dan perih. Hal pertama yang ia lihat adalah langit-langit kamar yang catnya mulai mengelupas di sudut kanan.
Di sampingnya, Lia duduk dengan wajah cemas yang luar biasa. Begitu melihat mata Ajeng terbuka, Lia langsung mencondongkan tubuhnya.
"Jeng? Kamu sudah sadar? Minum dulu, ya?" suara Lia bergetar.
Ajeng tidak menjawab. Ingatannya kembali ke taman kampus. Suara Dodi, seringai menjijikkannya, dan pengakuan tentang hubungan terlarang itu berputar seperti kaset rusak di kepalanya.
"Hhuuu... akhh..."
Bukan tangisan keras, melainkan raungan lirih yang keluar dari tenggorokan Ajeng. Ia merapat ke dinding, memeluk lututnya, dan menyembunyikan wajahnya di sana. Tubuhnya bergetar hebat.
"Jeng, dengerin aku," Lia memegang bahu Ajeng, tapi Ajeng langsung tersentak seolah tersengat listrik.
"Jangan sentuh... kotor... kotor..." bisik Ajeng di sela isakannya.
"Apa yang dibilang si brengsek itu, Jeng? Yusuf nggak mau cerita, dia cuma bilang kamu pingsan setelah Dodi datang. Apa yang dia lakukan?" tanya Lia mendesak.
Ajeng hanya menggelengkan kepala berkali-kali. Isakannya makin menjadi, namun ia tetap bungkam. Lidahnya terasa kelu untuk mengucapkan kehinaan yang ia rasakan. Bagaimana mungkin ia bercerita bahwa tubuhnya telah dinodai tanpa ia sadari? Bahwa selama enam bulan ia bukan hanya menjadi pembantu, tapi juga pemuas nafsu pria iblis itu?
"Ngomong, Jeng! Biar kita lapor polisi! Jangan diam begini!" seru Lia frustrasi.
Ajeng tetap membisu. Hanya suara napasnya yang tersengal dan tetesan air mata yang membasahi sprei kasurnya yang menjadi jawaban.
Tiga hari berlalu. Ajeng tidak keluar kamar. Ia tidak kuliah. Makan pun hanya beberapa suap yang dipaksakan oleh Lia atau Nia. Namun, luka terbesar bukanlah rasa lapar, melainkan keheningan dari satu orang yang paling ia harapkan: Yusuf.
Sore itu, Ajeng menatap ponselnya. Ada tiga pesan yang ia kirim ke Yusuf sejak kemarin. Semuanya hanya dibaca.
[Ajeng]: Suf, kamu di mana? Bisa ke kos? [Ajeng]: Suf, aku butuh kamu. [Ajeng]: Tolong jangan diam, Suf.
Tiba-tiba ponselnya bergetar. Jantung Ajeng berdegup kencang. Ia berharap itu Yusuf. Namun, yang muncul di layar adalah pesan singkat yang terasa seperti hantaman godam.
[Yusuf]: Maaf, Jeng. Aku lagi banyak tugas di lab. Mungkin minggu ini nggak bisa mampir. Kamu istirahat aja dulu.
Ajeng menatap layar itu dengan mata nanar. 'Tugas lab'. Yusuf tidak pernah membiarkan tugas lab menghalanginya jika Ajeng sedang sakit. Ini bukan soal tugas. Ini soal rasa jijik. Yusuf tahu. Meski Dodi mungkin berbohong, keraguan sudah tertanam di hati Yusuf.
Lia masuk ke kamar membawa bungkusan nasi. Ia melihat Ajeng yang sedang menatap ponsel dengan pandangan kosong.
"Yusuf lagi?" tanya Lia ketus.
Ajeng hanya diam.
"Tadi aku ketemu dia di depan kantin teknik," kata Lia tanpa tedeng aling-aling. "Dia nggak kelihatan sibuk. Dia lagi ngobrol sama temen-temennya. Pas aku samperin dan tanya kenapa nggak nengok kamu, dia cuma bilang 'titip salam buat Ajeng'."
Ajeng memejamkan mata. 'Titip salam'. Sejak kapan hubungan mereka berubah menjadi sekadar titipan salam?
"Dia itu laki-laki, Jeng. Mungkin dia shock, tapi kalau dia beneran sayang, dia harusnya ada di sini sekarang. Bukan malah menghindar," lanjut Lia sambil membuka bungkusan nasi.
"Mungkin dia sudah menganggap aku emang udah kotor, Li," bisik Ajeng sangat pelan.
"Jangan ngomong begitu, ah! Kamu itu korban!" bentak Lia, tanpa sadar.
"Dodi itu pelakunya! Jangan malah kamu yang merasa bersalah!"
Ajeng tidak menanggapi. Ia menarik selimut, menutupi seluruh tubuhnya, dan kembali tenggelam dalam keheningan yang menyesakkan.
Malamnya, ponsel Ajeng kembali berdering. Bukan Yusuf. Kali ini panggilan dari nomor yang sangat ia benci.
Dodi.