Ajeng menolak panggilan itu. Lima detik kemudian, telepon kembali berdering. Ajeng kembali menolak. Begitu terus sampai sepuluh kali. Akhirnya, sebuah pesan masuk.
[Dodi]: Nggak usah sok suci, Jeng. Yusuf nggak bakal mau lagi sama bekas aku. Dia tahu kita udah ngapain aja. Kamu pikir dia sanggup bayangin kamu di bawah aku?
[Dodi]: Cuma aku yang mau terima kamu sekarang. Angkat teleponnya. Kita bicarakan soal pernikahan kita. Aku serius mau tanggung jawab sebelum orang-orang tahu kamu udah nggak perawan.
Tangan Ajeng gemetar. Ia ingin melempar ponsel itu ke dinding, Namun tiba tiba ia merasakan mual yang luar biasa.
Ia berlari ke kamar mandi, memuntahkan cairan bening karena perutnya kosong. Kata-kata Dodi seperti racun yang meresap ke pori-porinya.
Ponselnya berdering lagi. Nama Dodi terpampang jelas, dan kali ini Ajeng mengangkatnya. Bukan untuk bicara, tapi untuk mengakhiri kegilaan ini.
"Berhenti ganggu aku, iblis!" teriak Ajeng dengan sisa tenaganya.
Di seberang sana, terdengar tawa tenang Dodi. "Galak banget calon istriku. Kamu lupa betapa penurutnya kamu waktu di apartemen dulu? Kamu bahkan minta tambah kalau aku—"
"DIAM! AKU NGGAK PERNAH MAU ITU! KAMU PAKE GUNA-GUNA!"
"Di mata hukum, bukti fisik lebih bicara, Jeng. Siapa yang percaya soal guna-guna di zaman sekarang? Yang jelas, jejak aku ada di kamu. Yusuf tahu itu. Itu sebabnya dia nggak mau nemuin kamu lagi, kan? Dia jijik, Jeng."
Ajeng terisak hebat. "Pergi... aku mohon pergi-"
"Aku bakal jemput kamu besok. Kita ke rumah orang tuamu. Kita jelasin semuanya. Kalau kamu nolak, foto-foto kita waktu 'main' bakal aku sebar di grup angkatan kampus kamu. Pikirkan baik-baik, Jeng."
Klik. Sambungan diputus.
Ajeng merosot di lantai kamar mandi yang dingin. Dunia yang ia bangun dengan susah payah setelah siuman dari pengaruh pelet, kini runtuh berkeping-keping. Yusuf menghindar, dan Dodi datang untuk menghancurkan sisanya.
Ia menatap tangannya yang kurus. Cincin hijau lumut dari nenek keraton itu masih melingkar di sana. Namun, saat ini, ia merasa tidak ada keajaiban apa pun yang bisa menyelamatkannya dari kehancuran ini.
"Nia, kamu mikirin hal yang sama kan?" tanya Lia tiba-tiba. Saat mereka sedang berada di laboratorium elektronika, sore itu cukup tenang, hanya terdengar dengungan pelan dari power supply dan aroma khas timah solder yang terbakar. Lia meletakkan solder ke dudukannya, lalu menoleh ke arah Nia yang tampak tidak fokus dengan rangkaian mikrokontroler di depannya.
Nia menghela napas panjang, menjauhkan tangannya dari kabel jumper. "Tentang Ajeng dan Yusuf? Iya. Jelas banget, Li. Sejak Ajeng pingsan di depan gedung rektorat minggu lalu, semuanya jadi aneh."
"Anehnya itu lho yang nggak masuk akal," timpal Lia. "Yusuf yang biasanya sigap, yang paling panik pas Ajeng jatuh, sekarang malah kayak orang asing. Dia bahkan nggak jenguk Ajeng di RS setelah hari pertama."
"Bukan cuma nggak jenguk, Li. Kamu lihat tadi pagi di koridor? Mereka papasan, dan Yusuf cuma nunduk. Ajeng kelihatan mau nangis," kata Nia dengan nada gemas.
Lia mengetukkan jarinya ke meja. "Aku nggak tahan. Kita harus tahu apa yang terjadi. Yusuf itu sahabat kita juga, tapi sikapnya sekarang bikin aku pengen marah."
"Aku sudah kirim pesan ke dia," ujar Nia sambil menunjukkan layar ponselnya. "Aku bilang kita perlu bicara soal proyek akhir di kantin jam empat sore ini. Dia setuju."
"Bagus. Tapi kita butuh saksi," Lia tersenyum tipis, sebuah senyum yang penuh rencana. "Kita hubungi Kaesa. Dia harus tahu ini."
Nia mengerutkan kening. "Kaesa kan lagi di luar kota. Mana bisa dia ke sini?"
"Nggak perlu ke sini. Kita pakai ponsel. Aku bakal telepon Kaesa pas kita duduk sama Yusuf. Aku taruh ponselnya di meja, posisi mute tapi speaker aktif di sisi dia, atau cukup biarkan dia mendengarkan dari saku atau meja. Kaesa harus dengar langsung alasan Yusuf."
"Ide bagus. Kaesa paling nggak suka kalau ada yang nggak beres sama Ajeng," sahut Nia setuju.
Suasana kantin siang itu sangat riuh. Aroma soto ayam dan es jeruk bercampur dengan suara dentingan sendok dan tawa mahasiswa. Namun, di pojok kantin, di meja nomor dua belas, suasananya terasa kontras. Lia dan Nia duduk berhadapan dengan wajah tegang. Di tengah meja, sebuah ponsel diletakkan tertelungkup di atas tumpukan tisu, namun layarnya menunjukkan panggilan aktif yang sudah berjalan selama sepuluh menit.
Di seberang telepon, Kaesa mendengarkan dalam diam.
"Kamu yakin dia bakal datang?" bisik Nia sambil melirik jam tangannya.
"Yakin. Yusuf nggak pernah ingkar janji kalau soal makan siang, meskipun sekarang dia berubah jadi sedingin es," jawab Lia ketus.
"Aku masih nggak habis pikir, Li. Sejak Ajeng pingsan di koridor minggu lalu, Yusuf kayak orang asing. Padahal biasanya dia yang paling panik kalau Ajeng kenapa-napa."
Lia menghela napas panjang. "Itu dia yang mau kita cari tahu. Ssst, itu dia."
Sesosok pemuda dengan jaket denim kusam berjalan mendekat. Wajahnya terlihat lelah, ada lingkaran hitam di bawah matanya. Yusuf menarik kursi di depan mereka tanpa senyum yang biasanya ia pamerkan.
"Maaf telat," kata Yusuf singkat.
"Nggak apa-apa, Suf. Mau pesan makan dulu?" tanya Nia berusaha ramah.
"Nggak usah. Langsung aja. Ada apa kalian ajak ketemu? Tumben banget lewat pesan singkat kayak tadi, katanya penting."
Lia menatap Yusuf tajam. Ia menggeser sedikit posisi ponselnya agar suara Yusuf bisa tertangkap lebih jelas oleh Kaesa yang sedang mendengarkan di ujung sana.
"Kita mau tanya soal Ajeng," tembak Lia langsung.
Yusuf terdiam sebentar. Ia mengalihkan pandangan ke arah gerobak bakso di kejauhan. "Kenapa dengan Ajeng? Dia sudah masuk kuliah, kan?"
"Suf, jangan pura-pura bodoh," Nia menimpali, suaranya naik satu oktav.
"Ajeng pingsan di depan mata kamu minggu lalu. Dan sejak hari itu, kamu nggak pernah jenguk dia, nggak pernah balas chat dia, bahkan kalau papasan di kampus kamu buang muka. Ada apa sebenarnya?"
Yusuf menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya dengan kasar. "Nggak ada apa-apa. Aku cuma lagi sibuk sama tugas akhir."
"Bohong," potong Lia. "Kita tahu ini bukan soal tugas akhir. Ini soal apa yang terjadi sebelum dia pingsan. Kamu sama Ajeng habis bicara sama Dodi, kan?"
Mendengar nama Dodi, rahang Yusuf mengeras. Ia mengepalkan tangannya di atas meja.
"Suf, tolong jujur sama kita. Ajeng itu sahabat kita. Dia nangis tiap malam karena bingung kenapa kamu tiba-tiba berubah," Nia memohon, suaranya mulai bergetar karena sedih melihat kondisi sahabatnya.
Yusuf menatap Nia, lalu beralih ke Lia. Ada kepedihan di matanya yang coba ia sembunyikan di balik sikap dinginnya.
"Kadang, menjauh itu pilihan terbaik untuk tak saling menyakiti," kata Yusuf pelan, hampir seperti bisikan.
"Menyakiti? Apa maksudmu?" Lia bertanya dengan nada sinis. "Ada apa sebenarnya?"
"Kalian nggak tahu apa yang aku hadapi," balas Yusuf. "Dodi itu orang gila. Dia punya segalanya untuk menghancurkan hidup Ajeng kalau aku tetap ada di dekat dia. Dia mengancam akan menyebarkan keburukan tentang Ajeng. Dia punya bukti-bukti yang aku tidak tahu apakah itu benar atau palsu yang sudah dia siapkan."
Lia dan Nia terkesiap.
"Terus kamu menyerah gitu aja?" tanya Nia tidak percaya. "Kamu biarkan Dodi menang?"