Bab 32 Yusuf Menyerah, kami tidak!

Penulis JanaIndria
14 January 2026

Yusuf menunduk. "Aku sudah coba melawan, Ni. Tapi aku ini siapa? Aku cuma mahasiswa biasa. Dodi punya koneksi, punya uang. Dia bilang, kalau aku masih berani mendekati Ajeng, dia bakal bikin Ajeng kehilangan segalanya. Aku nggak mau Ajeng menderita lebih jauh lagi."

"Jadi itu alasan kamu bersikap seolah kalian nggak punya hubungan apa-apa lagi?" Lia memastikan.

Yusuf mengangguk lemah. "Mungkin memang kita nggak punya harapan lagi. Hubungan yang diawali dengan ancaman dan ketakutan nggak akan pernah sehat. Aku lebih baik melihat dia benci sama aku tapi dia aman, daripada dia bahagia sama aku tapi hidupnya hancur."

Nia merasa dadanya sesak. "Tapi Yusuf, Ajeng mencintai kamu. Dia nggak peduli soal itu semua."

"Tapi aku peduli!" suara Yusuf meninggi, membuat beberapa orang di meja sebelah menoleh. Ia segera merendahkan suaranya lagi. "Aku peduli karena aku sayang sama dia. Dan itulah kenapa aku memutuskan untuk berhenti. Aku sudah selesai. Hubunganku sama Ajeng sudah tak ada harapan. Tolong, sampaikan ke dia buat lupain aku."

Suasana meja itu menjadi sangat berat. Lia dan Nia saling berpandangan. Rasa kesal meluap di dada mereka, tapi di sisi lain, mereka sadar bahwa Yusuf sedang berada di posisi yang sangat sulit. Dia bukan tidak mencintai Ajeng, dia justru terlalu mencintainya sampai rela dianggap pengecut.

Lia menarik napas panjang, matanya berkaca-kaca. Ia meraih ponselnya yang masih terhubung dengan Kaesa.

"Terima kasih atas kejujuran kamu, Suf," kata Lia dengan nada suara yang campur aduk antara sedih dan marah. "Meskipun aku benci banget dengar kamu menyerah kayak gini."

"Aku juga kecewa sama keputusan kamu, Suf," tambah Nia sambil mengusap air mata yang jatuh ke pipinya.

"Tapi kita nggak bisa paksa kamu. Kamu berhak memilih siapa yang kamu cintai dan bagaimana cara kamu menjaganya, meskipun menurut kita cara kamu salah besar."

Yusuf hanya diam. Wajahnya datar, namun tangannya yang gemetar tidak bisa berbohong.

"Terima kasih sudah datang," kata Lia lagi, dingin. "Kita pergi dulu."

Tanpa menunggu jawaban Yusuf, Lia dan Nia bangkit dari kursi mereka dan meninggalkan kantin dengan langkah cepat. Yusuf tetap duduk di sana, terpaku menatap meja kosong.

Begitu sampai di taman kampus yang sepi, Lia segera mendekatkan ponselnya ke telinga.

"Kaesa? Kamu dengar semuanya kan?" tanya Lia setengah berteriak.

"Aku dengar. Semuanya. Jelas banget," suara Kaesa di seberang telepon terdengar sangat tenang, namun ada nada kemarahan yang membeku di sana.

"Gila si Dodi itu, Kae! Dia benar-benar keterlaluan," Nia mengomel di samping Lia. "Yusuf sampai putus asa gitu. Kita harus gimana?"

"Kalian tenang dulu," kata Kaesa. "Aku nggak akan biarkan bajingan itu menang. Dia pikir dia siapa bisa ngancam orang pakai fitnah?"

"Tapi Yusuf bilang Dodi punya bukti yang bisa hancurin Ajeng," Lia mengingatkan dengan cemas.

"Biarkan dia mencoba," sahut Kaesa tegas. "Kebetulan, Aric lagi sama aku sekarang. Dia baru saja dengar semua pembicaraan kalian lewat speaker ponselku."

Lia dan Nia terdiam. Aric adalah kekasih Kaesa yang bekerja sebagai perwira polisi muda di satuan reserse kriminal.

"Halo, Lia, Nia," suara berat Aric terdengar menggantikan suara Kaesa. "Kalian nggak usah khawatir lagi. Apa yang dilakukan Dodi itu sudah masuk kategori pengancaman dan pemerasan. Apalagi kalau dia sampai menyebarkan fitnah atau dokumen palsu, itu kena UU ITE."

"Terus apa yang mau Kak Aric lakukan?" tanya Nia penuh harap.

"Aku sudah punya Riwayat hidup Dodi. Sekarang juga aku akan menghubungi orang tua Ajeng untuk menjelaskan situasinya. Kita butuh kerja sama mereka untuk menempuh jalur hukum. Kita akan kumpulkan semua bukti ancaman yang diterima Yusuf," jelas Aric dengan nada profesional.

"Benar, Kak? Kalian serius kan?!" Lia merasa ada secercah harapan.

"Iya. Kita nggak bisa biarkan orang-orang seperti Dodi merasa di atas hukum hanya karena punya uang atau koneksi. Aku akan pastikan dia dipanggil ke kantor polisi minggu ini untuk pemeriksaan awal. Kalau dia terbukti melakukan intimidasi, dia nggak bakal bisa lolos," tegas Aric.

Kaesa kembali mengambil alih telepon. "Kalian sekarang temeni Ajeng, aja deh, bilang aja kalau dia hanya harus tenaang. Karena semua sedang ditangani, dia tidak sendiri.”

"Siap, Kae! Makasih banyak ya, sampaikan makasih juga ke Kak Aric," ucap Lia lega.

"Sama-sama. Jaga Ajeng baik-baik. Aku tutup dulu, mau ke kantor bareng Aric."

Panggilan berakhir.

Lia dan Nia saling berpelukan di tengah taman. Beban berat yang tadi menggelayuti pundak mereka seolah terangkat sedikit demi sedikit.

"Nia, ayo kita pulang," ajak Lia penuh semangat.

"Ayo! Aaah …. Aku nggak sabar lihat muka Dodi pas polisi datang ke rumahnya," Nia tersenyum puas, meski matanya masih sembab.


Sementara itu, di sebuah sudut kota, Aric sedang menyalakan mesin mobilnya. Ia menoleh ke arah Kaesa yang duduk di sampingnya.

"Kamu yakin mau terlibat sejauh ini?" tanya Aric lembut.

Kaesa menatap ke depan dengan pandangan tajam. "Ajeng itu teman baikku, Ric. Dan aku paling nggak tahan lihat orang ditindas. Lagipula, kamu polisi, kan? Dan mama pernah di selamatkan Ajeng, jadi ini tugasmu untuk membalas kebaikannya."

Aric tersenyum kecil, lalu mengacak rambut Kaesa pelan. "Baiklah, Nyonya Pengacara. Mari kita selesaikan urusan si Dodi ini."

Mobil itu pun meluncur membelah jalanan kota, membawa misi untuk mengakhiri teror yang selama ini menghantui hubungan Yusuf dan Ajeng. Di balik kesedihan dan kemarahan Lia dan Nia tadi, sebuah rencana besar telah bergerak. Dan Dodi, yang merasa dirinya tak tersentuh, tidak pernah tahu bahwa dunianya akan segera runtuh


Tiga jam kemudian, sebuah SUV hitam berpelat dinas kepolisian melaju kencang membelah jalan tol menuju Jakarta. Di dalamnya, atmosfer terasa sangat tegang dan sunyi. Aric menyetir dengan fokus penuh, seragam dinasnya masih melekat rapi. Di kursi penumpang depan, duduk seorang pria paruh baya dengan wajah merah padam menahan amarah—Pak Suryo, ayah Ajeng. Sementara di kursi belakang, Kaesa duduk dengan tangan bersidekap, matanya menatap tajam ke jalanan di depan.

"Pak Polisi, apa kita benar-benar akan langsung ke rumahnya?" tanya Pak Suryo, suaranya berat dan bergetar. Ia baru saja dijemput mendadak dari kantornya oleh Aric dan Kaesa, dan setelah mendengar penjelasan singkat soal ancaman terhadap putrinya, seketika emosinya meledak.

"Benar, Pak Suryo. Kita sudah meminta rekan saya untuk memproses prosedur pemanggilan biasa. Tapi sebelumnya, anak ini, Dodi, harus tahu rasanya digertak langsung di kandangnya," jawab Aric tenang namun tegas.

"Saya tidak terima anak saya diinjak-injak seperti ini. Apa lagi sampai menerornya," Pak Suryo mengepalkan tangannya.

"Tenang, Om," Kaesa mencondongkan tubuh ke depan. "Kita akan pastikan Dodi jera hari ini juga. Dan kita biarkan Ajeng untuk fokus pemulihan."

Mobil berbelok memasuki kawasan Menteng, area perumahan elit di Jakarta Pusat. Mereka berhenti di depan sebuah gerbang besi tempa yang menjulang tinggi. Rumah di baliknya lebih mirip istana daripada tempat tinggal biasa.

"Ini rumah keluarga Danantaka," gumam Kaesa sinis. "Sarang uang."

Aric tidak membuang waktu. Ia membunyikan sirine mobilnya—hanya dua detik, tiiiit tiiiit—tapi cukup keras untuk memecah keheningan lingkungan elit itu dan membuat satpam penjaga gerbang tergopoh-gopoh keluar.

"Ada apa ini, Pak? Kenapa ada mobil polisi?" tanya satpam itu panik melihat seragam Aric.

"Buka gerbangnya. Darurat kepolisian. Kami mencari Dodi Danantaka," perintah Aric dengan suara baritonnya yang mengintimidasi.

Satpam itu ragu-ragu. "Tapi Pak, Tuan dan Nyonya besar baru saja mendarat dari Eropa sejam yang lalu, mereka sedang istirahat..."

"Saya tidak peduli mereka baru mendarat dari Mars sekalipun. Buka, atau saya tabrak gerbang ini atas tuduhan menghalangi tugas kepolisian," ancam Aric. Wajah Pak Suryo yang terlihat siap menerkam siapa saja di samping Aric menambah nyali satpam itu ciut.

Gerbang terbuka.

Mobil masuk dan berhenti tepat di depan pintu utama yang megah. Kegaduhan sirine tadi rupanya sudah memancing pemilik rumah keluar. Sepasang suami istri paruh baya, berpakaian sangat modis namun dengan wajah lelah akibat jet lag, berdiri di teras dengan ekspresi tersinggung. Di belakang mereka, Dodi mengintip dengan wajah pucat pasi, tidak menyangka ancaman Aric di telepon tadi nyata.

"Apa-apan ini ribut-ribut di rumah saya?!" bentak Tuan Danantaka, ayah Dodi. "Siapa kalian? Berani sekali masuk tanpa izin!"