Bab 33 Danantaka takluk

Penulis JanaIndria
14 January 2026

Aric keluar dari mobil, diikuti Pak Suryo yang langsung menatap orang tua Dodi dengan nyalang, dan Kaesa yang juga memasang wajah dingin.

"Selamat siang, Pak Danantaka. Saya Iptu Aric. Kami datang terkait putra Anda, Dodi, atas dugaan pengancaman, pemerasan, dan..." Aric sengaja menggantung kalimatnya, "...tindakan yang jauh lebih serius yang bisa menghancurkan reputasi keluarga Anda dalam hitungan detik."

Nyonya Danantaka maju selangkah, menatap jijik. "Ancaman apa? Dodi itu anak dari keluarga baik-baik! Jangan sembarangan menuduh. Kalian tahu siapa kami?"

"Justru karena kami tahu siapa Anda, kami datang baik-baik sebelum ini jadi konsumsi media," potong Kaesa tajam. Ia mengeluarkan sebuah bungkusan plastik kecil dari tasnya. Di dalamnya, ada sebuah cincin sederhana dengan batu.

Mata Dodi terbelalak melihat benda itu. Kakinya lemas seketika.

"Dodi, kamu kenal benda ini, kan?" tanya Kaesa, mengangkat bungkusan itu tinggi-tinggi.

"Itu... itu..." Dodi tergagap, keringat dingin mengucur deras. Bagaimana mungkin bukti yang di simpan dosennya, kini ada kembali ada di tangan Kaesa.

"Apa itu? Cuma cincin murah," cemooh Nyonya Danantaka.

"Oh, ini bukan cincin murah, Nyonya," sela Aric. Ia menatap lurus ke arah Dodi.

"Ini cincin yang kamu berikan pada Ajeng untuk menipunya, kan? Cincin yang menurut 'orang pintar' sewaanmu, sudah diisi 'sesuatu' agar Ajeng menjadi penurut, linglung, dan hidup seperti orang yang tidak punya akal sehat di depanmu?"

Keheningan yang mencekam menyelimuti teras megah itu. Pak Suryo terkejut bukan main mendengar fakta baru ini.

"Apa maksudmu, Nak Aric? Guna-guna?" tanya Pak Suryo, suaranya bergetar karena marah dan ngeri.

"Omong kosong! Dodi, bilang itu bohong!" teriak ayahnya.

Tapi Dodi justru ambruk berlutut di lantai marmer teras. "Ma... maaf, Pa. Maaf..."

"Anak anda akhirnya mengaku, bukan?!" bentak Aric, dengan lantang dan tak mau kalah.

Dodi di bawah tatapan sang ayah. mengangguk cepat sambil terisak. "Iya... iya, itu cincin 'isian'. Aku cuma mau Ajeng nurut sama aku. Aku kesal karena dia pintar dan susah diatur. Aku mau terlihat lebih pintar dari dia. Aku mau dia seperti boneka-"

"Kurang ajar kamu!" Pak Suryo nyaris maju untuk memukul Dodi, tapi ditahan oleh Aric.

"Lalu soal ancaman foto dan video? Soal kamu bilang sudah tidur dengan Ajeng, bagaimana? Masa iya anak dari keluarga baik baik, melakukan Zina?! Yang benar aja!!" cecar Kaesa, sekalian bikin Susana semakin panas.

"Bohong! Itu semua bohong!" teriak Dodi panik. "Aku nggak punya foto apa-apa. Kami nggak pernah ngapa-ngapain. Aku cuma cemburu buta lihat dia dekat sama Yusuf. Aku cuma mau nakut-nakutin Yusuf biar dia mundur. Sumpah, Pa, Ma, aku nggak punya buktinya karena memang nggak ada!"

Wajah Tuan dan Nyonya Danantaka berubah dari merah padam menjadi putih pucat. Mereka bukan takut pada polisi, mereka hanya takut pada skandalnya.

"Kamu... kamu main dukun? Hal klenik kampungan begitu?" Nyonya Danantaka tampak seperti mau pingsan. "Kalau ini sampai bocor ke media... kalau investor tahu anak bungsu Danantaka seorang pengecut yang main guna-guna-"

"Saham perusahaan kita bisa anjlok besok pagi," Tuan Danantaka menyelesaikan kalimat istrinya dengan suara horor. Ia menatap anaknya dengan tatapan jijik yang luar biasa.

Kaesa melihat celah ini. Ia maju selangkah, mengambil peran sebagai negosiator.

"Nah, Tuan dan Nyonya Danantaka yang terhormat," Kaesa memulai dengan nada bisnis yang dingin.

"Kita punya dua pilihan sekarang. Pilihan A adalah Pak Aric memproses semua ini secara hukum. Bukti ancaman digital ada, bukti cincin ada, pengakuan Dodi barusan juga sudah terekam di kamera tubuh Pak Aric. Besok pagi, 'Skandal Klenik Pewaris Danantaka' jadi headline nasional."

Tuan Danantaka menelan ludah dengan susah payah. "Pilihan B?"

"Jalur damai, dengan syarat mutlak dari kami," kata Kaesa tegas. Ia menoleh pada Pak Suryo, meminta persetujuan lewat tatapan mata. Pak Suryo mengangguk kaku.

"Sebutkan syaratnya," kata Tuan Danantaka lemah.

Kaesa mengangkat jari telunjuknya. "Satu. Dodi harus membuat surat permintaan maaf terbuka, mengakui semua kebohongannya tentang Ajeng, tentang fitnah hubungan badan itu. Surat itu harus ditempel di papan pengumuman utama universitas selama satu bulan penuh."

"Dua," Kaesa mengangkat jari kedua. "Dodi harus angkat kaki dari Indonesia. Terserah mau kalian buang ke kutub utara atau mana, yang jelas dia tidak boleh satu kota, bahkan satu negara dengan Ajeng lagi."

Nyonya Danantaka hendak protes, tapi suaminya mengangkat tangan, menyuruhnya diam. "Lanjut."

"Tiga," lanjut Kaesa. "Sebagai kompensasi atas trauma psikologis, teror mental, dan percobaan perusakan akal sehat yang dialami Ajeng, serta kerugian immateriil keluarga Pak Suryo, kami menuntut kompensasi sebesar dua puluh milyar rupiah. Tunai. Ditransfer ke rekening Pak Suryo hari ini juga."

Mata Tuan Danantaka membelalak. "Dua puluh milyar?! Itu pemerasan!"

"Itu harga yang murah untuk menyelamatkan triliunan rupiah nilai saham Bapak yang akan hangus kalau berita ini keluar," balas Aric tenang sambil menepuk kap mobil polisinya pelan. "Dan harga yang murah untuk kebebasan anak Bapak."

Ruangan terbuka itu hening lagi. Hanya terdengar isak tangis Dodi yang menyedihkan. Tuan Danantaka menatap istri, anak, lalu polisi di depannya. Ia pebisnis. Ia tahu kapan ia kalah telak.

"Baik. Saya setuju," kata Tuan Danantaka dengan gigi terkatup rapat. "Tapi dengan catatan, semua bukti ini harus musnah setelah transfer berhasil."

"Tentu tidak," sela Aric cepat. "Bukti ini akan saya simpan sebagai jaminan. Catatan terakhir dalam perjanjian damai ini: Jika Dodi, atau siapa pun suruhan Anda, berani mendekati Ajeng, Yusuf, atau keluarganya lagi, walau hanya satu pesan singkat... maka detik itu juga, perjanjian batal dan semua bukti ini langsung naik ke meja hijau. Tanpa negosiasi lagi."

Tuan Danantaka menatap Aric dengan penuh kebencian, tapi ia tak punya pilihan. Ia mengangguk kaku. "Deal."

Pak Suryo menghela napas panjang yang tertahan sejak tadi. Ia menatap Dodi yang masih berlutut dengan tatapan dingin.

"Uangmu tidak akan bisa menyembuhkan luka anak saya," kata Pak Suryo pelan namun tajam. "Tapi setidaknya, ini memastikan kamu tidak akan bisa menyakiti orang lain lagi dengan uang dan kekuasaan bapakmu. Camkan itu."


KORIDOR KAMPUS Papan pengumuman utama di lobi Fakultas Teknik hari itu tampak seperti magnet. Ratusan mahasiswa berkerumun, namun anehnya, suasana sangat sunyi. Tidak ada tawa, tidak ada candaan keras. Hanya ada suara bisik-bisik yang tertahan dan suara gesekan sepatu di atas lantai marmer.

Di tengah papan itu, tertempel selembar kertas segel dengan kop surat bermaterai. Isinya singkat, padat, namun menghancurkan:

“Saya, Dodi Danantaka, dengan ini menyatakan bahwa seluruh ucapan saya mengenai saudari Ajeng Putri adalah bohong dan fitnah. Tidak pernah terjadi hubungan asmara maupun fisik di antara kami. Segala ancaman yang saya tujukan kepada orang-orang di sekitar Ajeng adalah bentuk ketidakstabilan emosi saya. Saya memohon maaf sebesar-besarnya kepada Ajeng, keluarganya, dan pihak universitas. Saya menyatakan mengundurkan diri dari universitas ini.”

Lia dan Nia berdiri tak jauh dari kerumunan itu, mengawasi reaksi orang-orang.

"Lihat muka mereka, Li," bisik Nia. "Kemarin mereka yang paling kencang ngegosip pas Ajeng pingsan. Sekarang pada bungkam."