"Itu namanya karma instan, Ni," sahut Lia puas. "Tapi aku salut sama Kaesa dan Kak Aric. Bisa-bisanya mereka bikin keluarga Danantaka bertekuk lutut sampai begini."
Tiba-tiba, kerumunan itu terbelah. Suara langkah sepatu yang ritmis terdengar mendekat. Ajeng berjalan melewati koridor itu. Dia tidak berhenti untuk membaca surat itu. Dia tidak menoleh ke arah teman-temannya yang melambai. Kepalanya tegak, pandangannya lurus ke depan.
"Ajeng!" panggil Nia pelan, sembari memberikan senyuman penyemangat.
Ajeng membalasnya juga dengan memberikan senyuman tipis, sangat tipis, lalu terus berjalan menuju lift.
"Dia hebat ya," gumam Lia. "Kalau aku jadi dia, mungkin aku sudah pindah kota karena malu. Tapi dia malah makin terlihat ... kuat."
Ajeng menarik napas panjang di depan pintu kayu bertuliskan Prof. Dr. Gita Amalia. Ini adalah panggilan resmi pertamanya setelah insiden itu. Ia mengetuk pintu tiga kali.
"Masuk," suara lembut Prof. Gita terdengar dari dalam.
Ajeng membuka pintu. Di dalam, Prof. Gita sedang merapikan beberapa berkas ke dalam kotak kardus. Perutnya yang membesar menunjukkan bahwa ia sedang hamil tua.
"Sore, Prof," sapa Ajeng sopan.
"Ah, Ajeng. Duduk, Nak. Duduk," Prof. Gita tersenyum hangat. "Bagaimana kabarmu? Saya dengar semuanya sudah selesai di luar sana?"
Ajeng mengangguk pelan saat duduk di kursi kayu di depan meja dosennya. "Sudah, Prof. Semua sudah jelas."
"Syukurlah. Saya minta maaf ya, di saat kamu sedang kesulitan kemarin, saya tidak bisa banyak membantu karena kondisi fisik saya," Prof. Gita mengelus perutnya. "Sebenarnya, saya memanggilmu karena ada hal penting terkait bimbingan tesis kamu."
"Soal apa, Prof?"
"Seperti yang kamu lihat, saya akan mengambil cuti melahirkan mulai minggu depan. Prediksinya cukup lama karena saya berencana mengambil cuti panjang di luar negeri bersama suami," jelas Prof. Gita. "Jadi, saya tidak mungkin melanjutkan bimbinganmu sampai selesai tahun depan."
Ajeng sedikit tersentak. Prof. Gita adalah dosen favoritnya. "Lalu, siapa yang akan menggantikan Prof?"
"Jangan khawatir. Saya sudah memilihkan pengganti yang sangat kompeten. Dia dosen muda, baru pulang dari Jerman, dan kebetulan fokus risetnya sangat cocok dengan judul tesis kamu."
Tepat saat itu, pintu ruangan diketuk.
"Ah, itu dia," kata Prof. Gita. "Masuk, Fazal!"
Pintu terbuka, dan seorang pria muda masuk. Dia mengenakan kemeja biru navy yang lengannya digulung hingga siku, celana chino berwarna khaki, dan kacamata berbingkai hitam tipis. Wajahnya terlihat jauh lebih muda daripada dosen-dosen pada umumnya, lebih mirip mahasiswa doktoral tingkat akhir.
"Sore, Prof. Maaf saya agak terlambat karena keasyikan di laboratorium," kata pria itu dengan suara berat namun santun.
"Tidak apa-apa, Fazal. Kenalkan, ini Ajeng, salah satu mahasiswa magister terbaik saya yang saya ceritakan kemarin," Prof. Gita memperkenalkan mereka. "Ajeng, ini Pak Fazal Mahesa. Mulai hari ini, dia adalah dosen pembimbing akademik dan dosen wali barumu."
Ajeng berdiri dan sedikit membungkuk. "Sore, Pak Fazal. Saya Ajeng."
Pria bernama Fazal itu menatap Ajeng. Tatapannya sangat intens, namun bersih dari rasa kasihan atau penghakiman yang biasa Ajeng lihat di mata orang lain hari ini.
"Fazal saja kalau di luar jam bimbingan formal, tapi di kampus panggil Pak juga boleh," katanya singkat sambil menjabat tangan Ajeng dengan mantap.
"Saya sudah baca draf bab satu kamu. Menarik, tapi terlalu banyak asumsi di bagian metodologi."
Ajeng agak terkejut dengan kritik langsungnya. "Eh, iya Pak. Saya memang masih meragukan bagian itu."
"Kita akan perbaiki itu minggu depan. Saya bukan tipe dosen yang suka basa-basi, Ajeng. Prof Gita bilang kamu sedang punya 'masalah luar', tapi bagi saya, begitu kamu masuk ke laboratorium saya, kamu adalah peneliti. Paham?"
Ajeng merasa ada sesuatu yang baru. Ketegasan Fazal justru membuatnya merasa tenang. Fazal tidak menanyakan soal Dodi, tidak menanyakan soal pingsannya, dia hanya peduli pada risetnya.
"Paham, Pak," jawab Ajeng mantap.
"Bagus. Prof, saya izin membawa Ajeng ke ruangan saya sebentar untuk menyerahkan jadwal bimbingan baru?" tanya Fazal pada Prof. Gita.
"Silakan, Fazal. Jaga Ajeng baik-baik ya, dia aset fakultas kita," pesan Prof. Gita dengan kedipan mata.
Ruangan Fazal jauh lebih minimalis. Hanya ada meja kerja dengan dua monitor besar, tumpukan buku bahasa Inggris dan Jerman, serta sebuah papan tulis putih yang penuh dengan rumus-rumus kompleks.
"Duduk, Ajeng," kata Fazal sambil menyalakan komputernya.
Ajeng duduk, memperhatikan sekeliling. "Pak Fazal baru berapa lama di sini?"
"Baru dua bulan. Saya pindahan dari Belanda," jawabnya tanpa menoleh. "Kenapa? Kamu ragu bimbingan sama dosen baru?"
"Bukan begitu, Pak. Cuma... saya pikir pengganti Prof Gita akan dosen yang lebih senior."
Fazal memutar kursinya, menatap Ajeng. "Senioritas tidak menjamin tesis kamu selesai tepat waktu. Kerja keras kamu yang menjaminnya. Saya dengar kamu baru saja melalui minggu yang sangat berat. Kamu butuh istirahat atau mau langsung lari?"
Ajeng terdiam sejenak. "Saya mau lari, Pak. Saya mau mengubur semua masalah kemarin dengan prestasi."
Fazal tersenyum kecil. Itu adalah senyuman pertama yang Ajeng lihat dari dosen mudanya itu. "Jawaban yang bagus. Ini daftar jurnal yang harus kamu baca dan ringkas sebelum pertemuan kita hari Selasa depan. Ada sepuluh jurnal internasional."
Ajeng melongo melihat tumpukan kertas yang disodorkan Fazal. "Sepuluh, Pak? Dalam empat hari?"
"Kurang? Mau ditambah?"
"Eh, tidak Pak! Cukup!" tolak Ajeng dengan cepat.
"Ya sudah. Sekarang kamu boleh keluar. Dan satu lagi, Ajeng..."
Ajeng yang sudah sampai di pintu menoleh. "Iya, Pak?"
"Surat di papan pengumuman itu... saya yang membantu Aric memverifikasi jejak digitalnya kemarin malam. Jadi, jangan merasa orang-orang di sini hanya melihatmu sebagai korban. Ada banyak yang bekerja di belakang layar untuk memastikan kamu tetap bisa berdiri tegak."
Ajeng terpaku. "Pak Fazal kenal Kak Aric?"
"Dia teman main basket saya dulu di Jakarta. Dunia ini sempit, Ajeng. Berhentilah menunduk seolah kamu melakukan kesalahan. Yang salah sudah dibuang ke luar negeri."
Mata Ajeng berkaca-kaca, tapi kali ini bukan karena sedih. "Terima kasih, Pak."
Sore itu, Ajeng kembali ke kantin. Tempat di mana semua kekacauan ini bermula. Di sana, sudah ada Lia, Nia, dan ternyata... Yusuf.
Yusuf duduk dengan kepala tertunduk. Begitu melihat Ajeng datang, dia langsung berdiri. Wajahnya penuh penyesalan.
"Ajeng..." suara Yusuf tercekat.
Lia dan Nia sengaja menjauh ke meja sebelah, memberikan ruang.
"Mau apa, Suf?" tanya Ajeng tenang.
"Aku... aku minta maaf. Aku pengecut. Aku percaya ancaman Dodi dan aku malah ninggalin kamu pas kamu paling butuh aku. Aku pikir dengan menjauh, aku ngelindungin kamu, tapi ternyata aku cuma nyelamatin diri sendiri dari rasa takut," Yusuf bicara dengan cepat, air matanya hampir jatuh.
Ajeng menatap Yusuf lama. Pria yang dulu sangat ia cintai, namun ternyata goyah saat badai datang.
"Suf, dengar," kata Ajeng lembut. "Aku sudah memaafkan kamu. Aku tahu posisi kamu sulit. Siapa pun pasti takut kalau keluarganya diancam."
"Berarti kita..."
"Tapi," potong Ajeng. "Rasa percaya itu ibarat gelas, Suf. Kemarin Dodi yang melempar gelas itu, tapi kamu yang membiarkannya pecah berantakan. Aku butuh waktu. Mungkin selamanya, untuk bisa melihat kamu dengan cara yang sama lagi."
"Ajeng, tolong kasih aku kesempatan..."
"Nggak sekarang, Suf. Aku punya sepuluh jurnal yang harus diringkas untuk dosen wali baruku yang super galak," Ajeng mencoba bercanda untuk mencairkan suasana. "Aku mau fokus ke diriku sendiri dulu. Aku mau jadi Ajeng yang hebat, bukan Ajeng yang harus dilindungi terus."
Yusuf terdiam, lalu mengangguk lemah. "Aku mengerti. Aku bakal nunggu, kalau kamu butuh bantuan apa pun soal riset, panggil aku ya?"
"Pasti. Kita tetap teman, Suf."
Ajeng meninggalkan Yusuf dan bergabung dengan Lia dan Nia. Mereka bertiga kemudian tertawa, mengobrolkan tentang betapa gantengnya dosen baru bernama Fazal itu, meskipun Lia mengeluh karena Fazal terlihat sangat dingin.
"Eh, dengar-dengar ya," Nia berbisik heboh. "Uang 20 milyar dari keluarga Danantaka itu sudah masuk ke rekening Bapakmu, Jeng?"
Ajeng mengangguk. "Ayah bilang uang itu nggak akan disentuh buat kebutuhan sehari-hari. Sebagian besar akan didonasikan ke yayasan perlindungan perempuan dan sisanya buat beasiswa mahasiswa kurang mampu di kampus kita. Ayah nggak mau makan uang dari hasil air mata anaknya, katanya."
"Bapakmu keren banget, Jeng!" seru Lia kagum.
Tiba-tiba ponsel Ajeng bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.
“Draf ringkasan jurnal jangan lupa dikirim via email sebelum jam 8 malam hari Senin. Jangan telat. - Fazal M.”
Ajeng tersenyum melihat pesan itu. Hidupnya mungkin sempat berantakan, tapi sekarang, dia punya tujuan baru. Dia punya dukungan dari sahabat-sahabatnya, keadilan dari Kaesa dan Aric, serta tantangan baru dari dosen wali yang sepertinya akan membuatnya sangat sibuk.
Di kejauhan, di lantai atas gedung dekanat, Fazal Mahesa berdiri di balkon memperhatikan ketiga mahasiswi itu tertawa di kantin. Dia menyesap kopinya, lalu kembali masuk ke ruangannya yang penuh buku.