Reno Gutama

Penulis Levanter
14 January 2026

"Sarah…"

Langkah Sarah terhenti mendadak.

Suara itu pelan, nyaris menyatu dengan desir angin yang menggesek daun-daun kering di tanah. Tapi Sarah yakin itu bukan suara angin. Karena suara itu mirip dengan... Ken.

Mia yang berjalan di depan langsung menoleh. "Kenapa berhenti, Sar?"

Sarah menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering. "Mi… Lo dengar sesuatu?"

Mia menggeleng cepat. "Enggak. Cuma ada suara angin, kan?"

Sarah menghela napas berat. Ia lalu memaksakan diri melangkah lagi, meski jantungnya berdetak tidak beraturan. Kata-kata Wira kembali terngiang jelas di kepalanya.

Jangan menjawab jika ada suara yang memanggil kalian.

Sarah dan Mia baru saja meninggalkan batas desa. Tanah di bawah kaki berubah menjadi lebih lembap dan gelap. Pohon-pohon berdiri rapat, batangnya besar dan menjulang tinggi, menutup sebagian besar cahaya matahari. Hutan larangan terasa seperti dunia lain. Hening, seolah ada sesuatu yang mengamati dari balik semak-semak.

"Sarah…"

Kali ini suara yang memanggil itu terdengar lebih jelas.

Napas Sarah tercekat. Suara itu terdengar persis seperti terakhir kali ia mendengar Ken berbicara. Nada bercandanya, cara ia memanggil nama Sarah dengan ringan, seakan tidak pernah terjadi apa-apa.

Tangannya bergetar.

Mia menyadari perubahan sikap Sarah. Ia pun langsung meraih pergelangan tangannya. "Hei. Fokus ke gue, Sar. Jangan dengar apa pun selain suara gue, ya?"

Sarah mengangguk kaku.

"Sejak masuk ke sini, gue ngerasa… ada yang gak beres," bisik Mia.

"Itu Ken," gumam Sarah tanpa sadar.

Mia membeku. "Apa?"

Sarah memejamkan mata. "Ken manggil gue."

Mia langsung menggenggam tangan Sarah lebih erat. "Jangan jawab, Sar. Ingat pesan pak Wira."

Sarah menarik napas panjang, sebelum akhirnya mengangguk pelan.

Namun, suara bisikan itu tidak berhenti. Ia mengikuti langkah Sarah. Kadang terdengar dari belakang, kadang dari samping, dan kadang seolah tepat di dekat telinganya.

"Sarah… gue sakit…"

"Tolong gue…"

Kaki Sarah terasa berat. Setiap kata seperti menarik kenangan yang ingin ia kubur dalam-dalam. Rasa bersalah, ketakutan, penyesalan... semuanya bercampur menjadi satu.

"Berhenti," bisik Sarah lirih, entah pada suara itu atau pada dirinya sendiri.

Mia menariknya. "Ayo. Kita hampir masuk."

Hutan berubah semakin gelap, udara terasa lebih dingin, dan bau tanah basah bercampur sesuatu yang samar seperti bunga layu. Di hadapan mereka, pepohonan membentuk semacam celah, jalur sempit yang terlihat seperti pintu masuk alami.

Begitu mereka melewatinya, bisikan itu mendadak berhenti.

Namun, kesunyian yang menyusul justru terasa lebih menekan.

"Sarah," kata Mia pelan, "kalau lo kenapa-kenapa, bilang ya. Jangan dipendem."

Sarah mengangguk, meski pikirannya masih kacau. Di dadanya, kalung jimat terasa hangat, berdenyut pelan.

Di tengah hutan itu, mereka melihat sebuah pondok kecil dari kayu tua, tersembunyi di antara batang pohon besar. Di sekitarnya, tanah dipenuhi simbol-simbol yang digoreskan kasar, sebagian hampir pudar. Atapnya ditutupi daun kering dan lumut, dan terlihat asap tipis mengepul dari sampingnya.

Mia menahan napas. "Itu…?"

"Akhirnya datang juga," ucap seseorang tiba-tiba.

Sarah dan Mia tersentak.

Seorang pria berdiri di bawah pohon besar, setengah tersembunyi bayangan. Rambutnya sedikit panjang dan berantakan, wajahnya tampak pucat, matanya cekung seolah kurang tidur berhari-hari. Namun tatapannya tajam dan terlihat sadar.

"Kalian lama sekali," katanya datar.

Mia refleks mundur setengah langkah. "Kamu… Reno Gutama?"

Pria itu mengangguk pelan, tatapannya langsung beralih ke Sarah. "Dan kamu Sarah."

Sarah membeku. "Kamu tahu nama saya?"

Reno menatapnya tanpa ekspresi. "Aku sudah tahu kalian akan datang. Sejak cermin itu berpindah tangan."

Ia kemudian duduk di atas bangku kayu rendah. "Ceritakan semuanya," katanya.

Sarah merasakan dingin tiba-tiba merayap di punggungnya. Ia lalu mengeluarkan cermin yang dibungkus dengan kain seperti yang selalu ia lakukan, dari dalam tasnya.

"Akhirnya sampai juga ke kamu," gumam Reno.

Saat Sarah mulai bercerita tentang toko Indah Mahkota Antik, tentang Ken, Dilla, Reza, dan yang lain, Reno hanya mendengarkan. Tidak ada perubahan raut wajah. Tidak ada keterkejutan. Seolah ia sudah tahu bahwa cermin itu akan melakukan tugasnya seperti biasa.

"Cermin ini… membunuh orang-orang di sekitar saya," kata Sarah, suaranya gemetar. "Tolong bilang, sebenarnya benda apa ini?"

Reno beranjak dan mendekat ke arah Sarah. Terlalu dekat hingga Sarah bisa melihat garis-garis kelelahan di wajahnya.

"Cermin itu bukan pembunuh," kata Reno akhirnya. "Namanya Cermin Jiwa Terbelenggu."

Mia mengerutkan kening. "Maksudnya?"

"Cermin itu tidak menciptakan kejahatan," jelas Reno, yang kemudian kembali duduk di atas bangku kayu tadi. "Ia hanya memantulkan apa yang sudah ada. Niat jahat, iri hati, dendam, karma buruk, semua yang disembunyikan manusia dari dirinya sendiri."

Sarah terdiam. Perlahan ia teringat satu per satu wajah teman-temannya yang telah mati.

"Kenji," lanjut Reno. "Kalian pikir dia korban acak?"

"Maksud—"

"Dia bukan korban acak. Ada seseorang yang ingin membunuhnya dengan racun. Cermin itu hanya mempercepat jalannya."

Napas Sarah tercekat.

"Reza," kata Reno lagi. "Diam-diam menyimpan kebencian pada Dilla. Perasaan itu tidak pernah diucapkan, tapi cukup kuat untuk meninggalkan bekas hingga cermin itu menangkapnya."

Mia menutup mulutnya dengan tangan.

"Nana," Reno menatap tanah. "Iri pada Tari sejak lama. Merasa selalu berada di bawah bayangannya."

Sarah menggigil. "Dan… bagaimana dengan teman-teman lama saya?"

Reno menatapnya tajam. "Kamu pernah bercermin sambil memikirkan masa lalu. Rasa sakit, marah, dan keinginan agar mereka merasakan hal yang sama. Kamu tidak sadar, tapi cermin itu mendengar."

Air mata menggenang di mata Sarah. "Jadi… ini salah saya?"

"Tidak sepenuhnya," jawab Reno cepat. "Cermin itu hanya mempercepat takdir. Mereka tetap memilih jalan mereka sendiri."

Hutan di sekitar mereka terasa semakin sunyi, seolah mendengarkan pengakuan itu.

"Lalu… apa cermin itu bisa dihentikan?" tanya Mia.

Reno terdiam. Lalu ia berjalan ke dalam pondok dan keluar membawa sebuah buku catatan tua, kertasnya menguning, sampulnya hampir terlepas.

"Ini milik ayahku," katanya. "Catatan terakhir sebelum dia mati."

Reno membuka halaman tertentu. Tulisan tangan memenuhi kertas, disertai simbol-simbol aneh yang tak bisa dipahami manusia awam.

Ia lalu menatap cermin yang masih terbungkus kain di tangan Sarah. "Cermin itu tidak bisa dihancurkan dengan cara biasa, tapi bisa ditenangkan."

Sarah mengernyitkan keningnya. "Ditenangkan? Bagaimana caranya?"

"Ritual pemurnian," jawab Reno. "Cermin harus dibakar di atas bara api selama satu hari satu malam. Tidak boleh padam. Tidak boleh ditinggalkan."

Sarah menelan ludah. "Dibakar?"

Reno mengangguk. "Dengan sepuluh kilo bunga melati," ucapnya. "Bunga segar. Melati menyerap energi yang tertinggal. Api memecah belenggu. Ritual ini tidak menghancurkan cermin… tapi memurnikan kutukannya."

Mia terbelalak. "Sepuluh kilo?!"

"Tidak kurang," kata Reno. "Dan ritual harus dilakukan di tempat terbuka, jauh dari cermin lain, jauh dari air. Atau kamu bisa melakukannya di tempat kamu pertama kali menemukan cermin itu."

"Indah Mahkota Antik..." gumam Sarah.

"Kalau ritual ini dilakukan dengan benar…" Reno menutup buku itu perlahan dan menatap Sarah. "…kutukan itu bisa dimurnikan."

Udara sekitar mendadak terasa lebih berat.

"Tapi, bagaimana kalau ritual itu gagal?" tanya Sarah pelan, hampir berbisik.

Reno tidak langsung menjawab.

Dan di balik pepohonan hutan larangan, sesuatu seolah bergerak, mendekat, menunggu kelanjutan kata-katanya.