Drama #Romance

Bab 8 MISI MENGHABISKAN HARTA CALON SUAMI

14 January 2026

"Lalu?" tanya Nindy setelah Arga mengatakan banyak hal. Akhirnya lelaki itu hanya bisa menghela nafasnya dalam-dalam kemudian menghembuskannya.

Arga merasa kesal, tapi dia tidak bisa untuk menyanggah apa yang Zoya katakan. Gadis itu terlalu kedua orang tuanya manjakan. Arga lalu melajukan kembali mobilnya meninggalkan tempat.

"Hanya begini saja? nggak jadi bahas apa-apa?" tanya Zoya, tapi Arga hanya mengabaikannya saja. Zoya pun segera fokus kembali pada ponselnya. Perasaan ingin membalas pesan Asistennya untuk membahas perusahaan Arga lebih menyenangkan daripada Arga itu sendiri.

Hingga mobil yang mereka kendarai tiba di depan salah satu butik ternama di pusat Kota.

"Lah, ini kan butik langganan mama aku Ga," ucap Zoya saat sudah tiba di area parkir, dengan mobil yang menghadap tepat ke arah butik tersebut.

Meskioun Arga sedikit terkejut karena butik pilihan mama Zoya seleranya sama dengan pikihannya. Tidak membuat Arga merasa senang sama sekali.

Lelaki itu lalu turun dari mobil di susul Zoya yang ikut turun juga. Keduanya lalu masuk ke dalam tanpa percakapan apapun.

"Silahkan tuan Arga, Madam sudah menanti kedatangan anda," ucap si Karyawan sembari mempersilahkan tamunya untuk masuk ke dalam.

Arga pun segera menuju ke tempat di mana si Karyawan itu tunjuk. Sedangkan Zoya, hanya mengekori ke mana Arga pergi. Hingga tanpa Zoya sadari jika saat itu Arga menghentikan langkah kakinya yang seketika itu membuat Zoya membenturkan keningnya pada punggung Arga yang berhenti dadakan.

"Ugh, kenapa berhenti mendadak sih?" tanya Zoya.

"Kamu yang sedari tadi nggak fokus. Kamu main ponsel terus! bilang sama lelaki itu jika kamu masih ada urusan!" ucapnya.

"Lelaki siapa sih yang kamu maksud itu? dia itu cewek!" sahut Zoya dengan bibir monyongnya.

Hingga terlihat seseorang yang berpawakan lumayan berisi, seorang lelaki dengan wajah yang bisa dibilang kemayu, keluar dari dalam ruangan dan langsung menyambut Arga serta Zoya di sana.

"Halo CEO ganteng, gimana jadinya? mau gaun pesta seperti apa?" tanya orang yang disebut Madam itu.

"Ini orangnya, biar dia sendiri yang pilih," balas Arga sembari menoleh dan menatap ke arah Zoya berada seolah Arga sedang memperkenalkan wanita itu pada lelaki yang disebut Madam tersebut.

"Ouh, cantik, elegan, sedikit glamor," ucap Madam tersebut sembari menghampiri nindi dan mulai mengitari tubuh Zoya hingga beberapa kali.

"Ayo ikut aku cantik," ucap Madam tersebut lagi yang langsung meraih salah satu lengan tangan Zoya dan menarik tubuh wanita itu agar ikut bersama dengannya.

Sedangkan Arga. Dia hanya memilih duduk di sofa sembari memainkan pinselnya di sana di banding dia harus ikut kemana Madam membawa Zoya pergi.

"Oh ya sayang, gaun yang seperti apa yang kamu inginkan?" tanya Madam saat membawa Zoya menuju ke deretan gaun yang warnanya lebih lembut dibanding deretan gaun yang warnanya lebih terang.

"Aku memang suka warna pastel. Madam tahu saja," balas Zoya.

"Baiklah, kalau begitu boleh dong tahu namanya siapa?" tanya Madam lagi.

"Zoya Aditama, panggil sesuka Madam saja," balas Zoya. Tapi ternyata ekspresi wajah Madam saat itu tidak bisa di tutupi. Terlihat Madam membelalakkan kedua matanya dengan bibir yang nyaris terbuka. Tanda wanita itu terkejut.

"Ada apa Madam? Madam kenala saya? atau nama belakang saya?" tanya Zoya kemudian.

Madam lalu menganggukkan kepalanya beberapa kali sebelum Madam menggelengkan kepalanya tanda dia tidak tahu atau dia berusaha untuk menutupi jika dia tahu.

"Semua orang di kota ini juga sudah tahu Madam, kalau keluarga Aditama dan keluarga Sanjaya itu bermusuhan. Tapi siapa juga yang bisa menebak endingnya jika keluarga yang sejak awal berseteru itu kini akan menjadi Bestie, karena mereka akan menikahkan Putra dan Putri mereka."

Zoya lalu beranjak pergi meninggalkan tempat meninggalkan Madam yang masih berdiri mematung di sana mungkin dengan ekspresi wajah yang masih sama, karena saat Zoya pergi meninggalkannya, Zoya tidak menoleh kembali ke arah Madam tersebut. Wanita itu lalu melihat-lihat beberapa gaun yang menyita perhatiannya sedari tadi.

"Wow, tidak bisa dibayangkan. Seorang Arga bisa tunduk aturan keluarga dan mau menjalin hubungan dengan anak keluarga Rivalnya," ucap gerutu Madam setelah Zoya pergi.

Terlihat Madam menuju ke arah Arga berada, tampak wanita itu tengah berbincang-bincang di sana.

"Kenapa Anda di sini? apakah dia tidak membutuhkan bantuan anda?" tanya Arga.

"Calon tunangan Anda itu sepertinya tidak membutuhkan bantuanku untuk memilih gaun. Jadi ya sudah daripada aku belum di sana dan melihat dia memilih pakaian bukankah lebih baik aku berada disini untuk menemani anda mengobrol dan menentukan kontrak selanjutnya?" ucap Madam sembari memberikan minuman pada Arga.

"Maaf, aku tidak membahas pekerjaan ketika berada di luar perusahaan," sahut Arga.

Dan tidak berselang lama, datanglah Zoya ke arah Arga dan Madam berada. Terlihat wanita itu membawa setumpuk gaun di tangan kanan dan kirinya. Arga cukup terkejut dengan kejutan yang ada di depannya. Begitu juga dengan Madam yang tidak kalah terkejutnya.

"Aku mau ini," ucap Zoya.

"Silahkan di coba dan ambil yang paling cocok menurutmu Nona," balas Madam.

"Aku nggak perlu mencobanya. Aku yakin semua sudah cocok menurutku," ucap Zoya lagi, sembari tangannya sibuk mencoba menahan pegangannya agar tidak jatuh. Dan setelah Zoya merasa kedua lengan tangannya pegal. Dengan segera wanita itu langsung menjatuhkan semua gaun tersebut ke atas pangkuan Arga.

"Dian diam saja tandanya dia setuju Madam," sahut Zoya lagi. Madam yang melihat apa yang Zoya lakukan tampak begitu berani dan juga tidak takut dengan Arga, hanya memberi tepuk tangan beberapa kali.

Bagi Madam, itu adalah kali pertamanya selama bertahun-tahun lamanya mereka menjalin kerja sama, dan baru saat itu ada seseorang yang berani berlaku demikian pada Arga.

"Cocok sekali kalian ini," tiba-tiba ucap Madam yang membuat Arga dan Zoya lalu menatap ke arah Madam berada. Dan saat Madam menyadari, orang tersebut langsung mencoba untuk mengalihkan perhatian mereka.

"Bagaimana Tuan Arga, jadi ambil semuanya?" tanya Madam kemudian.

"Kau, yang benar saja?" sahut Arga sembari menatap ke arah Zoya berada.

"Hal sepele seperti itu nggak mungkin buat kamu bangkrut kan?" balas Zoya kemudian. Tampak senyum Arga yang terpaksa ketika mendengar jawaban tersebut.

"Aku rasa sejak tadi sebelum berangkat, aku juga sudah bilang padamu kan? kalau misiku hari ini adalah untuk menghabiskan uangmu. Aku kira kau tahu itu? apa jangan-jangan kamu hanya mengira ucapanku itu omong kosong belaka ya? nggak serius aku lakukan? seriuslah."

Zoya laku melenggang meninggalkan Arga yang masih dengan tumoukan gaun di atas pangjuannya. Arga lalu memberi isyarat pada Madam untuk membantunya mengambil gaun-gaun tersebut.

"Emb... beli apa lagi ya nanti? emas? permata? berlian. Aha! berlian!" ucap Zoya dengan senyum yang tersungging di bibirnya.