Sepulang dari warung bakso, suasana di mobil Harlia terasa… aneh.
Biasanya ibunya akan cerewet sepanjang jalan tentang harga daging, tentang tukang bakso yang jutek, tentang dunia yang makin kejam pada dompet ibu-ibu. Tapi kali ini, ibunya diam. Terlalu diam.
Harlia menyetir sambil melirik lewat kaca spion.
“Ibu kenapa?” tanya Harlia akhirnya.
Ibunya menghela napas.
“Mas Jordi itu orangnya baik, ya.”
Harlia tercekat.
“Ibu…”
“Nomor HP-nya udah dicatat, kan?”
“Hah? Udah, Bu. Buat apa sih, Bu?
“Biar gampang share lokasi pernikahan nanti.”
Harlia hampir banting setir.
“BU!”
“Kenapa?”
“Ngapain share ke Jordi?”
Ibunya mendengus.
“Dia kan nolong kita. Masa nggak diundang?”
Harlia menggigit bibir.
“Bukan gitu…”
Harlia terpaksa menuruti meminta nomor telepon pas di tempat tukang bakso tadi. Tangannya gemetar saat menyimpan nomor Jordi – Sopir Box.
Ironisnya, begitu sampai rumah, Harlia sadar satu hal. Hubungannya dengan Jordi mendadak jadi canggung.
Tidak ada lagi sapaan santai.
Tidak ada lagi apel tanpa banyak tanya.
Semua terasa seperti dibatasi garis tak kasatmata bernama akan menikah.
Malam itu, Harlia rebahan sambil menatap langit-langit.
Ponselnya bergetar.
Jordi: Malam, Har. Maaf ganggu.
Aku cuma mau ngucapin selamat, ya. Bentar lagi mau menikah.
Harlia menatap layar lama. Harusnya senang dan bangga. Tapi yang muncul justru rasa sesak, seperti ada kursi kosong yang ditarik pelan dari hidupnya.
Ia membalas: Makasih, Mas.
Titik.
Tidak ada emoji.
Tidak ada tambahan.
Ponsel diletakkan.
Dan untuk pertama kalinya, Harlia merasa kehilangan seseorang yang bahkan belum sempat ia miliki.
Keesokan harinya di kantor, neraka versi AC kembali dibuka.
Gosip sudah naik level. Bukan lagi bisik-bisik. Tapi stand-up comedy kolektif.
“Harlia jadi nikah beneran nggak, sih?”
“Calonnya mana? Kok, nggak pernah kelihatan?”
“Jangan-jangan kabur.”
“HAHAHA.”
Arin duduk sambil menyeduh kopi, senyum tipis.
“Ah, mungkin sibuk ngitung duit.”
Staf lain menyahut, “Ngitung lipatan kain kebaya.”
“Lebarnya sekabupaten.”
“Pakai drone buat foto prewedding.”
“Pengantinnya makan jatah tamu.”
“HAHAHAHA!”
Mereka tertawa. Seperti biasa dan seperti biasa pula mereka menyebutnya bercanda.
Harlia duduk di mejanya.
Diam.
Mengetik tapi tidak tahu apa yang diketik. Tangannya dingin, dadanya panas.
Rina melirik dari seberang.
“Har…”
Harlia berdiri tiba-tiba. Mengambil tas tanpa kata. Ia berjalan cepat keluar gedung. Begitu pintu kaca tertutup, air mata langsung jatuh.
“Jahat,” gumamnya lirih sambil terisak. “Kenapa sih orang-orang segitu bencinya sama badan gue?”
Ia berjalan tanpa arah, sampai....
“Har?”
Suara itu.
Harlia mengangkat kepala. Jordi berdiri dengan jaket yang sama, wajah bingung.
“Kamu kenapa?”
Harlia membuka mulut. Tidak ada kata keluar. Air matanya malah makin deras.
Jordi panik.
“Eh—eh—jangan nangis!”
Ia refleks merogoh saku jaket.
“Hari ini aku nggak bawa apel.”
Harlia tertawa di sela tangis. Tertawa yang patah.
“Bukan karena apel,” katanya terisak.
Jordi menggaruk kepala.
“Terus kenapa?”
Harlia menutup wajahnya.
“Aku capek, Mas.”
Jordi terdiam. Tidak memotong. Tidak menggurui.
“Aku capek dibilang bercanda padahal sakit,” lanjut Harlia. “Aku capek jadi badut buat orang lain.”
Jordi menghela napas pelan.
“Kamu bukan badut,” katanya. “Mereka aja yang kejam.”
Harlia menangis makin kencang. Jordi merasa canggung lalu menggeser kaki. Lalu berkata pelan, “Kalau kamu mau nangis… nangis aja. Aku nggak ke mana-mana.”
Harlia menatapnya.
“Meskipun aku mau nikah?”
Jordi tersenyum tipis.
“Apa bedanya?”
Dan di situ, di trotoar depan kantor, tanpa apel, tanpa gombalan, tanpa janji. Harlia menangis sejadi-jadinya.
Sementara dunia tetap kejam. Dan komedi tetap berjalan. Tapi setidaknya, ada satu orang yang tidak ikut tertawa.
Tangis Harlia belum sempat kering. Matanya masih basah. Hidungnya merah. Napasnya masih naik turun seperti orang baru selesai lomba lari dari perasaan sendiri.
Jordi berdiri di depannya, kikuk tapi tenang.
“Kamu mau aku temenin sampai agak mendingan?” tanyanya pelan.
Harlia menggeleng.
“Nanti aku dikira kabur lagi.”
Jordi tersenyum tipis.
“Kalau gitu… minum dulu.”
Ia menyodorkan botol air mineral. Harlia menerimanya.
Baru satu teguk—
“TOK!”
Suara pintu mobil dibanting.
Keras.
Dramatis.
Seperti adegan sinetron jam prime time.
Harlia menoleh. Ada Topan datang. Dengan kacamata hitam, jam tangan besar, sepatu mengkilap, dan aura aku-ini-pusat-semesta.
“Harlia.”
Suaranya datar tapi penuh kepemilikan. Topan melangkah cepat, menarik pergelangan tangan Harlia.
“Eh—Pan—”
Topan berhenti tepat di depan Jordi. Menatap dari ujung rambut sampai ujung sepatu. Lalu senyum miring.
“Kamu.”
Jordi berdiri tegak.
“Iya, Mas.”
Topan tertawa kecil.
“Tau diri, ya!”
Harlia terbelalak.
“Topan!”
Topan tidak menoleh.
“Kamu sopir, kan?”
Jordi mengangguk pelan.
“Iya.”
“Bagus,” kata Topan santai. “Berarti tau posisi.”
Harlia menarik tangannya.
“Pan, jangan gitu!”
Topan akhirnya menoleh.
“Kamu ini bentar lagi jadi istri aku.” Ia kembali menatap Jordi. “Jaga jarak.”
Jordi menghela napas. Tidak marah. Tidak naik nada.
“Mas,” katanya tenang, “saya cuma lagi ngobrol.”
Topan terkekeh.
“Ngobrol sama calon istri orang?”
Harlia mau bicara, Topan langsung menariknya lagi.
“Udah. Kita pergi.”
Jordi berkata pelan, “Har, jaga diri.”
Topan berhenti sejenak. Menoleh tajam.
“Tolong, ya,” katanya dingin, “jangan sok pahlawan.”
Jordi tersenyum kecil.
“Saya cuma sopir. Tapi sopir juga manusia.”
Topan mendengus. Ia membuka pintu mobil mewahnya.
“Harlia. Masuk!”
Harlia menoleh ke Jordi. Ada rasa bersalah. Ada rasa kehilangan. Ada rasa… yang tidak boleh punya nama.
Ia masuk mobil. Pintu ditutup. Mobil melaju. Di kaca spion, Jordi mengecil.
Dan Topan berkata ringan, “Kamu nggak perlu temenan sama orang sembarangan.”
Harlia menatap lurus ke depan, tidak menjawab dan tidak bereaksi apapun. Sampai kemudian....
Mereka sampai di sebuah butik. Butik pertama berdiri megah. Lampu terang. Kaca besar. Tulisan LUXE BRIDE & FORMAL terpampang angkuh.
“Kita beli gaun di sini,” kata Topan.
Harlia menelan ludah.
“Pan… ibuku udah jahitin.”
Topan mengibaskan tangan.
“Ah. Butik lebih niat.”
Seorang karyawati menyambut dengan senyum profesional.
“Selamat sore! Mencari gaun apa?”
“Lamaran,” jawab Topan cepat.
“Ukuran?”
Topan melirik Harlia.
“Yang besar.”
Harlia mengepalkan tangan. Karyawati mengangguk.
“Kami punya sampai XXL.”
Harlia mencoba gaun pertama. Namun tidak muat. Resleting mentok di punggung.
Gaun kedua. Bisa masuk, tapi napas susah dan terasa menyiksa. Kalau habis makan pasti tidak akan muat.
“Kayak dipeluk karung beras,” gumam Harlia.
Gaun ketiga. Tidak bisa lewat paha, sangat kecil untuk ukuran paus darat.
Karyawati mulai menatap beda.
“Oh,” katanya sambil tersenyum tipis, “ini sudah ukuran paling besar yang kami punya.”
Topan berdiri di depan cermin.
“Masa nggak ada yang muat?”
Karyawati mengangkat bahu.
“Postur Mbaknya memang… unik.”
Harlia tersenyum kaku.
Unik.
Kata sopan untuk mengatakan tidak sesuai standar.
Topan menghela napas.
“Kita ke butik lain.”
Di butik kedua, hasilnya sama.
Di butik ketiga, lebih parah.
Kemudian, tiba-tiba Topan menerima telepon dan keluar sebentar.
Karyawati mendekat ke Harlia. Nada suaranya turun, lebih jujur.
“Mbak, jujur aja ya…”
Harlia mengangkat kepala.
“Kalau untuk butik-butik seperti ini,” lanjutnya,
“biasanya kliennya… lebih ramping.”
Harlia menelan ludah.
“Gaun di sini itu mahal,” sambung karyawati,
“dan jujur aja… lebih bagus jatuhnya ke badan ideal.”
Harlia tersenyum pahit.
“Jadi saya nggak ideal?”
Karyawati tertawa kecil.
“Bukan gitu.”
“Tapi emang gitu, kan?” potong Harlia.
Karyawati melipat tangan.
“Mungkin Mbaknya bisa ke tempat khusus big size.”
Harlia mengangguk pelan.
“Terima kasih,” katanya.
Lalu berjalan keluar ketika Topan baru saja selesai menelepon.
“Udah?” tanyanya.
Harlia tidak menjawab. Ia melangkah cepat keluar butik. Topan menyusul.
“Har! Kenapa sih?”
Harlia berhenti, lalu berbalik. Matanya merah menahan untuk tidak menangis.
“Kamu tau nggak rasanya dicoba-cobain kayak barang yang salah rak?”
Topan terdiam.
“Aku udah bilang, bajuku dijahit,” lanjut Harlia.
“Tapi kamu maksa aku masuk ke tempat yang dari awal nggak nerima aku.”
Topan menghela napas.
“Aku cuma pengen kamu tampil maksimal.”
Harlia tertawa pendek.
“Maksimal versi siapa?”
Topan mengernyit.
“Ya… versi pantas.”
Itu.
Kata itu.
PANTAS.
Harlia mengangguk pelan.
“Pan,” katanya lirih, “aku capek disuruh muat ke dunia yang nggak pernah ngukur aku.”
Topan terdiam. Mobil mewah di belakang mereka berkilat. Butik-butik berjajar rapi kokoh tidak peduli. Dan di tengah semua itu, Harlia merasa minder. Bukan karena tubuhnya. Tapi karena dunia selalu meminta dia mengecil.
Ia melangkah pergi. Topan memanggil, “Harlia!”
Harlia berhenti sebentar, tetapi tidak menoleh.
“Bajuku mungkin nggak dibuat di butik,” katanya pelan, “tapi harga diriku juga nggak buat dihina.”
Lalu ia pergi meninggalkan Topan. Meninggalkan butik. Meninggalkan satir bernama standar.