Drama #Humor #Baper

BELUM SAH UDAH VIRAL

14 January 2026

Pagi itu, Harlia duduk di motor memboncengkan ibunya. Bukan motor matic yang halus, melainkan motor tua milik ayahnya yang kalau distarter harus sambil dibujuk.

“Bismillah… ayo sayang, jangan bikin malu di depan calon mantu orang,” gumam ibu Harlia sambil memutar gas.

Motor batuk dua kali.

“Hidup!” teriak ibu Harlia bangga.

Harlia cuma bisa pasrah.

Di tas ibunya, terselip puluhan amplop undangan lamaran. Bukan undangan mewah, cuma kertas tebal dicetak rapi.

Tapi dampaknya?

Selevel bom gosip.

Rumah pertama yang mereka datangi adalah rumah Bibi Sumarni.

Begitu pintu dibuka.

“LHO?!”

Bibi Sumarni membelalak.

“Harlia?! Kamu?!”

Ibu Harlia tersenyum ramah tapi matanya siaga.

“Iya, Bi. Mau ngundang lamaran.”

“LAMARAN?” suara Bibi Sumarni naik satu oktaf. “SERIOUS?”

Harlia tersenyum kaku.

“Iya, Bi.”

Bibi Sumarni langsung menepuk dada.

“Ya Allah… kirain udah pensiun dari nikah.”

Ibu Harlia terkekeh.

“Doanya bagus, Bi.”

Bibi Sumarni membaca undangan.

“Mahar tiga miliar…”

Ia menatap Harlia dari ujung rambut sampai ujung kaki.

“Serius nanya,” katanya blak-blakan, “ini beneran atau borongan?”

Ibu Harlia menyengir.

“Harian,” sahut ibu Harlia ngejokes. “Beneran, Bi. Saya nggak bakal segiat ini buat iseng.”

Bibi Sumarni tertawa canggung.

“Ya… selamat ya, Har.”

Nada suaranya seperti orang mengucapkan belasungkawa.

Rumah kedua. Rumah Om Jajang dan Tante Rosi. Begitu dengar kata lamaran, Tante Rosi langsung terharu.

“MasyaAllah… akhirnya!” Ia memeluk Harlia. “Tante tuh yakin kamu pasti laku, Har.”

“Yakin dari kapan, Tan?” tanya Harlia.

“Dari sekarang,” jawab Tante Rosi cepat.

Om Jajang mengangguk-angguk.

“Yang penting niatnya baik.” Lalu menurunkan suara. “Kerjanya apa calonmu?”

Ibu Harlia menjawab diplomatis.

“Pengusaha.”

“Ohhh…” Om Jajang manggut-manggut. “Pantes berani segitu.”

Nadanya naif tapi kagum.

Rumah ketiga lebih brutal. Rumah Tante Wati. Begitu mendengar kabar, Tante Wati tertawa lepas.

“HAHAHAHA—”

Ibu Harlia menyipitkan mata.

“Ada yang lucu?”

Tante Wati mengibaskan tangan.

“Enggak, enggak. Kaget aja.”

“Kaget kenapa?” tanya Harlia pelan.

“Kaget aja,” ulang Tante Wati, “kirain kamu mau fokus karier dulu.”

Ibu Harlia langsung nyamber.

“Karier anak saya bukan penghalang jodoh, Wat.”

Tante Wati nyengir.

“Ya iya, iya. Selamat ya.”

Nada munafiknya kebauan.

Rumah keempat bikin Harlia pengen teleport. Rumah sepupu jauhnya, Lina.

Begitu undangan dibaca. “Hah?!!” Lina mendongak. “Lamaran?”

“Iya,” jawab Harlia.

Lina mengerutkan dahi.

“Maaf ya, bukan apa-apa…”

Harlia sudah siap.

“Tapi kok mahal banget?” Lina lanjut, polos.

“Tiga miliar itu kan bisa beli rumah, mobil, tanah…”

Ibu Harlia menjawab ringan, “Rezeki orang beda-beda.”

Lina manggut-manggut.

“Oh… ya juga, sih.” Lalu nyeletuk, “Semoga beneran, ya.”

Itu bukan doa. Itu disclaimer.

Selesai mengunjungi kerabat terakhir, ibu dan anak itu pulang.

Di motor, ibu Harlia tiba-tiba nyeletuk, “Har…”

“Iya, Bu?”

“Jordi itu diundang nggak?”

Harlia hampir jatuh dari motor.

“BU!”

Ibu Harlia tertawa.

“Ya ampun, santai. Maksud ibu, kan dia bayarin bakso.”

Harlia menggeleng cepat.

“Jangan.”

“Kenapa?”

“Diundang nikahan aja cukup,” jawab Harlia tegas. “Lamaran itu keluarga inti.”

Ibu Harlia mengangguk.

“Yaudah. Terserah kamu.”

Nada ibu Harlia tidak menghakimi. Malah menghormati.

Belum sampai magrib, gosip sudah menyebar. Ibu-ibu kompleks mulai bergerak. Di warung, di teras, di grup WA.

“Eh denger-denger Harlia mau dilamar.”

“Yang badannya gede itu?”

“Iya.”

“Maharnya tiga miliar katanya.”

“HAH?”

“Serius?”

“Pasti bohongan.”

“Atau calonnya bandar.”

“Jangan-jangan pesugihan.”

“Ah, masa sih…”

Rumah Harlia mendadak jadi objek penelitian sosial. Ibu Harlia mendengar dari tetangga, cuma mengibaskan tangan.

“Biarkan.”

Ayah Harlia tersenyum.

“Kalau orang lain sibuk ngomongin kita, berarti hidup kita lagi seru.”

Harlia duduk di kamar. Mendengar sayup-sayup bisik tetangga. Ada yang meragukan. Ada yang iri. Ada yang nyinyir. Ada yang pura-pura senang.

Ia memeluk bantal. Bukan sedih. Bukan senang. Tapi campur aduk.

Ibunya masuk kamar.

“Capek?”

Harlia mengangguk. Ibunya duduk di sampingnya.

“Biarkan orang bergosip. Kita fokus aja sama acara.”

Harlia tersenyum kecil.

“Bu…”

“Hm?”

“Kalau nanti ternyata…”

Ibunya menepuk tangan Harlia.

“Kita hadapi bareng.”

Di luar, gosip makin liar. Di dalam rumah kecil itu ada ibu, ada anak yang saling menguatkan. Lalu ada lamaran yang belum terjadi, tapi sudah bikin satu kampung panas.

Hari ini berakhir dengan satu kalimat tetangga yang paling nyaring terdengar dari balik pagar.

“AH, KITA LIHAT AJA NANTI!”

Rumah Harlia malam itu seperti markas besar menjelang perang. Bukan perang fisik, tapi perang mental untuk acara lamaran besok.

Kursi sudah ditata. Taplak sudah disetrika. Piring-piring cantik sudah dicuci ulang meski belum dipakai. Kue sudah dipesan. Tikar sudah digelar dan digulung ulang karena kata ibu Harlia, “Ini kayaknya miring satu senti.”

Harlia duduk di kamar, memandangi semua itu dengan perasaan aneh.

Bukan senang. Bukan takut. Lebih ke… kosong tapi ribut di kepala.

Ponselnya bergetar.

Arin.

Nama itu muncul di layar, rapi, bersih, seperti pemiliknya. Harlia menelan ludah. Telepon berdering cukup lama sebelum akhirnya ia angkat.

“Halo, Rin?”

“Halo, Har,” suara Arin lembut. “Kamu lagi sibuk?”

“Sedikit,” jawab Harlia jujur.

“Aku boleh ketemu sebentar nggak?” Arin bertanya dengan nada santai. “Cuma pengen ngobrol. Sebelum besok.”

Kata sebelum besok jatuh seperti sendok ke lantai.

Harlia ragu.

Tapi entah kenapa mulutnya lebih cepat dari pikirannya.

“Boleh.”

Setelah menutup telepon, Harlia keluar kamar.

“Ibu,” katanya pelan.

Ibunya yang sedang melipat kain langsung menoleh.

“Mau ke mana?”

“Mau ketemu teman.”

Ibu Harlia menyipitkan mata.

“Teman yang mana?”

“Arin.”

Alis ibu Harlia naik.

“Temannya Topan?”

“Iya.”

Ibunya menghela napas panjang, versi orang tua yang sudah siap ceramah. Harlia ragu. Tapi entah kenapa mulutnya lebih cepat dari pikirannya.

“Boleh?”

“Dengerin, ya,” kata ibunya sambil menunjuk udara. “Jangan mudah kebawa omongan orang. Jangan curhat kebablasan. Jangan percaya kata-kata manis. Dan jangan pulang kemaleman.”

Harlia mengangguk patuh.

“Iya, Bu.”

Ibunya melunak sedikit.

“Pulang cepat. Besok hari besar.”

“Iya.”

“Dan satu lagi,” ibu Harlia menatapnya serius,

“Kalau ada yang bikin kamu ragu… kamu ingat siapa yang selama ini nemenin kamu.”

Harlia terdiam.

“Ibu,” lanjut ibunya, “bukan orang yang cuma pinter ngomong.”

Harlia mengangguk lagi, lalu pergi.

Ia tiba di sebuah kafe yang tenang. Terlalu tenang untuk pikiran Harlia yang ribut. Begitu masuk, ia langsung melihat Arin.

Duduk rapi. Baju sederhana tapi jatuhnya pas.

Rambut masih basah sedikit, seolah benar-benar habis mandi. Wajah segar tanpa lelah. Arin tersenyum begitu melihat Harlia.

“Har,” katanya hangat. “Duduk.”

Harlia duduk perlahan.

“Aku pesenin minum, ya,” Arin berdiri. “Kamu masih suka cokelat panas, kan?”

Harlia mengangguk kecil. Dalam hati, “Kok dia tahu?”

Arin kembali dengan dua gelas. Mereka duduk berhadapan. Tidak ada keheningan canggung. Arin terlalu pandai mengisi ruang.

“Kamu kelihatan capek,” kata Arin ringan. “Persiapan lamaran?”

“Iya,” jawab Harlia.

“Pasti melelahkan,” Arin tersenyum simpati. “Aku aja lihatnya ikut deg-degan.”

Harlia tertawa kecil, gugup. 

Arin menatapnya sejenak, lalu berkata pelan, “Aku mau ngomong sesuatu, tapi kamu jangan salah paham.”

Kalimat itu selalu berbahaya.

“Apa?” tanya Harlia.

“Aku ngomong ini bukan sebagai orang yang iri,” Arin menyilangkan jari di atas meja. “Bukan juga karena aku dekat sama Topan.”

Harlia menunggu.

“Aku ngomong sebagai perempuan,” lanjut Arin lembut, “yang nggak mau lihat perempuan lain salah langkah.”

Nada suaranya tenang. Terlalu tenang.

“Topan itu…” Arin berhenti sebentar, seolah memilih kata. “Orangnya rumit.”

Harlia menegang.

“Dia baik,” sambung Arin cepat, “aku nggak bilang dia jahat.”

“Tapi?”

“Tapi dia juga penuh rahasia,” Arin menatap mata Harlia. “Dan kamu… terlalu tulus buat itu.”

Harlia tertawa kecil, defensif.

“Semua orang punya rahasia.”

“Iya,” Arin mengangguk. “Tapi nggak semua orang menyembunyikannya dari calon istrinya.”

Kalimat itu menampar tanpa suara. Harlia mengaduk minumnya.

“Aku tahu kamu sayang dia,” kata Arin lagi. “Dan aku tahu kamu lagi berharap besar.”

Arin tersenyum tipis.

“Justru karena itu aku takut kamu kecewa,” katanya lagi.

Harlia mengangkat kepala.

“Maksud kamu?”

“Lamaran itu bukan akhir,” Arin berkata pelan. “Itu awal dari hidup panjang.”

Arin menyandarkan punggung.

“Kalau dari sekarang kamu sudah sering cemas, nanti bagaimana?”

Harlia terdiam.

“Aku cuma takut,” Arin melanjutkan, “kamu nerima lamaran bukan karena kamu siap… tapi karena kamu takut kehilangan.”

Itu tepat sasaran. Terlalu tepat. Harlia menghela napas.

“Aku cinta Topan.”

“Aku tahu,” jawab Arin cepat. “Aku bisa lihat.”

Lalu Arin tersenyum sedih.

“Makanya aku kasihan.”

Kasihan. Kata itu menusuk.

“Aku nggak nyuruh kamu putus,” Arin berkata lagi. “Cuma… pikir ulang. Lamaran bisa ditolak,” lanjutnya, “tanpa harus mengakhiri semuanya.”

Harlia mengangkat alis.

“Menolak… tapi tetap bersama?”

“Kalau dia benar,” kata Arin kalem, “dia akan bertahan. Tapi kalau tidak...?”

Arin tidak mengucapkannya. Tapi Harlia bisa menebak.

“Kamu layak bahagia, Har,” Arin menatapnya tulus. “Bukan sekadar menikah.”

Harlia menggigit bibir.

“Aku ngomong ini karena aku peduli,” Arin menyentuh punggung tangan Harlia sebentar, lalu menariknya lagi. “Bukan karena apa-apa.”

Harlia tersenyum tipis. Dalam hatinya, ada sesuatu yang mulai goyah. Bukan runtuh. Tapi retak kecil.

Arin berdiri.

“Pikirkan baik-baik, ya.” Ia tersenyum lagi. “Sebelum besok.”

Harlia pulang dengan kepala penuh.

Di rumah, ibunya bertanya, “Gimana?”

“Biasa,” jawab Harlia cepat.

Ia masuk kamar. Menatap kalender. Besok lamaran.

Di cermin, ia melihat dirinya sendiri.

Dan untuk pertama kalinya, ia bertanya pelan pada bayangannya, “Kalau aku bilang tidakapa aku pengecut…? Atau justru penyelamat diriku sendiri?”

Bab ini berakhir dengan senyum Arin yang terlalu rapi dan satu benih ragu yang berhasil ia tanam tanpa darah, tanpa suara.