Pukul 21.00 WIB. Kegelapan telah sepenuhnya menyelimuti malam. Mobil hitam yang dikendarai Ipda Naufal Hasbi berhenti di halaman sebuah rumah bercat putih.
Rumah itu, meskipun tidak terlalu besar, memiliki halaman cukup luas yang dihiasi taman bunga tertata rapi dan kolam ikan hias dengan air berkilauan di bawah cahaya lampu taman.
Setelah seharian memimpin operasi penangkapan Ricky yang menegangkan, suasana tenang di halaman tersebut terasa menenteramkan—kontras dengan adrenalin yang masih bergelora dalam dirinya.
Kelelahan yang luar biasa menusuk tulang, dan rasa syukur dan kepuasan atas keberhasilan operasi membangkitkan semangatnya. Aroma mawar dan melati samar-samar tercium, berpadu dengan bau tanah basah sisa hujan sore tadi.
Naufal turun dari mobil, matanya menyapu sekeliling. Rumah itu ditempati ibunya, Adelia, bersama adik bungsunya, Akhzam, selama satu tahun terakhir. Ia tersenyum melihat taman yang terawat baik.
Lampu taman menerangi bunga-bunga yang bermekaran, menciptakan suasana damai. Ibunya memang selalu telaten merawat bunga, kegiatan yang menjadi terapi pascapensiunnya dari pekerjaan di maskapai penerbangan.
Ia melangkah ke pintu, langkahnya berat karena lelah, tetapi hatinya penuh sukacita. Ia membayangkan wajah ibunya, senyum ramah yang selalu menyambutnya, dan aroma kopi robusta yang biasa tersedia.
Aroma itu mengingatkannya pada masa-masa penuh kasih dan dukungan. Namun, malam ini, bukan kopi yang menantinya, melainkan aroma masakan ibunya—aroma yang membuatnya merasa pulang, nyaman, dan dicintai.
Suara langkahnya menggema di halaman yang sunyi. Ia mengetuk pintu, pelan. Beberapa saat kemudian, pintu terbuka, menampakkan wajah ibunya yang tampak terkejut sebelum berubah menjadi senyum lebar. Adelia memeluk Naufal erat, tangannya menyentuh kemeja putih Naufal yang sedikit kusut.
“Naufal! Kamu pulang?” ucap Adelia, suaranya penuh kelegaan. “Mama kira kamu tidak jadi datang. Operasi penangkapan itu cukup berbahaya, kan? Mama sangat khawatir.”
“Maaf, Ma. Operasinya lebih lama dari perkiraan,” jawab Naufal sambil membalas pelukan ibunya. Ia merasakan kehangatan dan kasih sayang yang selalu menjadi sumber kekuatannya. “Tapi semuanya berjalan lancar, Ma. Tersangka berhasil ditangkap tanpa perlawanan berarti. Tim bekerja sangat profesional. Alhamdulillah, semua sesuai rencana.”
“Alhamdulillah,” ucap Adelia, mengusap punggung Naufal. Sejak Naufal bekerja di satuan Resnarkoba, Adslia jarang sekali bertemu dengan putranya. “Mama selalu mendoakan keselamatanmu. Setiap kali mendengar berita kejahatan, Mama langsung teringat kamu.”
“Sudah makan malam?” tanya Adelia, melepaskan pelukan. “Mama sudah siapkan makanan kesukaanmu.”
“Belum, Ma. Aku langsung pulang setelah selesai. Laporannya sudah aku serahkan ke atasan. Besok pagi baru aku bisa istirahat lebih lama. Aku butuh tidur yang nyenyak.”
“Mama sudah siapkan makan malam. Ayo masuk. Kamu pasti sangat lapar. Mama masak ayam goreng kesukaanmu, lengkap dengan sayur urap dan sambal hijau.”
“Iya, Ma,” jawab Naufal. Ia melepaskan pelukan ibunya, lalu matanya mencari Akhzam. Ia rindu pada adik bungsunya itu. Sejak bertugas di daerah yang berjarak 3 jam perjalanan dari kota tempat ibunya tinggal, Naufal memang kadang tak pulang ke rumah ibunya.
Adelia paham. Ia menunjuk ke arah kamar Akhzam. “Azam sudah tidur. Sepertinya capek sekali hari ini. Sepulang sekolah langsung istirahat, lalu sorenya latihan karate di Sasana Garuda. Setelah Magrib mengaji dan menyelesaikan tugas sekolah. Anak itu sangat rajin. Dia sering menanyakan kapan kamu pulang.”
Naufal mengikuti ibunya masuk ke dalam rumah. Rumah itu terasa hangat dan nyaman, dipenuhi aroma masakan rumahan yang familiar. Di meja makan, Adelia segera menghidangkan nasi putih hangat, ayam goreng, sayur urap, dan sambal hijau menu kesukaan Naufal.
Cahaya lampu meja makan menambah kesan kekeluargaan yang nyaman. Tanpa menunggu lama, ia duduk bersama ibunya dan mulai menyantap makanan.
“Rasanya masih sama seperti dulu, Ma. Enak sekali,” puji Naufal di sela-sela makan. “Tangan Mama memang ajaib.”
“Alhamdulillah kalau kamu suka,” jawab Adelia sambil tersenyum. “Mama selalu berusaha memasak yang terbaik untuk anak-anak Mama. Ini semua untuk kalian.”
Selesai makan malam, Naufal berdiri, hendak membantu ibunya mencuci piring.
“Letakkan saja di situ. Biar Mama yang mencuci,” ucap Adelia.
“Cuma ini saja, masa mau merepotkan Mama?” kata Naufal. “Biar aku bantu.”
“Istirahatlah, Nak. Besok kamu masih harus kembali bekerja. Jangan sampai kelelahanmu memengaruhi pekerjaan. Kesehatanmu lebih penting.”
“Iya, Mama sayang,” jawab Naufal. “Terima kasih ya, Ma. Untuk semuanya. Masakannya, doanya, semuanya.”
“Kamarmu sudah Mama rapikan. Tidurlah nyenyak, Nak.”
“Malam ini aku mau tidur di kamar Azam. Sudah seminggu tidak melihatnya. Aku rindu.”
“Ya, terserah kamu saja,” kata Adelia. “Baju gantimu sudah Mama taruh di kamarmu, ya?”
Naufal masuk ke kamar Akhzam. Kamar itu ditata dengan tema Batman, tokoh favorit adiknya. Ia mengusap kepala Akhzam dengan lembut. Enam tahun belakangan, bocah itu tak lagi merasakan kasih sayang seorang ayah.
Mungkin ia sudah lupa rasanya memiliki ayah. Sosok yang ia kenal hanyalah ibu dan kakak laki-lakinya yang selalu ada untuknya. Naufal merasa bertanggung jawab mengisi kekosongan itu.
Tiba-tiba, ponsel di sakunya bergetar. Sebuah panggilan masuk dari Sinta Kharisma, perempuan yang sedang dekat dengannya selama lima bulan terakhir. Ia sedikit terganggu, dan tetap mengangkat panggilan itu.
“Ya,” jawab Naufal sambil berjalan ke jendela, menjaga agar suaranya tidak membangunkan Akhzam.
“Halo, Sinta?”
“Sayang, kamu sudah sampai rumah?” tanya Sinta, suaranya terdengar sedikit manja.
“Iya, baru saja makan malam dengan Mama dan Azam. Ada apa?”
“Aku kesal. Minggu depan rencananya mau liburan ke Korea, tapi Papa tidak mengizinkan,” keluh Sinta. “Padahal semua sudah aku siapkan. Papa malah melarang. Katanya baru juga pulang dari Australia, sudah mau pergi lagi.”
“Turuti saja keinginan Papa, Sinta. Mungkin beliau ingin menghabiskan waktu bersamamu.”
“Atau, bagaimana kalau aku liburan minggu depan ke tempatmu saja?” tanya Sinta, terdengar ragu.
“Mungkin Papa memang ingin akhir pekan bersamamu. Besok kita lanjut bicara, ya? Aku sangat lelah malam ini.”
Sinta diam sejenak, lalu berkata, “Aku rindu, Naufal.” Suaranya lirih. “Tidak bisa bicara sebentar saja?”
“Aku juga rindu, Sinta. Tapi aku sangat lelah. Bisa besok? Aku janji.”
“Baiklah. Istirahat yang cukup, ya.” Nada suaranya terdengar sedikit kecewa, tapi Naufal tahu ada ketulusan dalam ucapannya.
“Selamat malam.” Naufal menutup teleponnya. Ia kembali menatap wajah adiknya yang tertidur pulas. Ia bersyukur atas keluarganya—atas ibunya yang selalu mendukung dan adiknya yang menjadi penyemangat hidupnya. Ia tahu, ia memiliki tanggung jawab besar untuk melindungi mereka. Ia pun berdoa agar selalu diberi kekuatan dan kesehatan untuk menjalani tugasnya sebagai seorang polisi sekaligus sebagai seorang kakak.
Naufal menatap layar ponsel sesaat setelah menutup telepon. Ia menghela napas panjang, lalu menyelipkan kembali ponselnya ke dalam saku celana.
Ia berbalik, memandang Akhzam yang tertidur lelap di ranjang kecilnya yang bersprei gambar Batman.
"Maaf ya, Azam. Abang jarang pulang belakangan ini. Tapi Abang nggak pernah lupa sama kamu."
Akhzam menggeliat pelan, tapi tetap terlelap.
Naufal tersenyum. Ia duduk di pinggir ranjang, kedua tangannya meremas jemarinya sendiri.
"Ya Allah terima kasih sudah jaga Mama dan Azam selama aku sibuk di luar sana."
Ia menunduk, kedua tangan didekapkan di depan dada.
"Berikan aku kekuatan, ya Allah untuk terus melindungi mereka. Untuk jadi anak yang bisa dibanggakan Mama. Untuk jadi kakak yang layak bagi Azam."
Hening sesaat. Hanya terdengar dengkuran lembut Akhzam dan detik jam di dinding.
"Kamu harus jadi anak hebat, Zam. Abang akan selalu ada buat kamu. Selalu."
Ia berdiri perlahan, menarik selimut lebih rapi ke tubuh adiknya.
"Selamat tidur, jagoan kecilku."
Cahaya malam dari jendela menerpa wajah Naufal yang tampak tenang. Ia melangkah keluar kamar dengan langkah pelan, menutup pintu dengan hati-hati, seolah ingin membiarkan kedamaian tetap tinggal di dalam ruangan itu.