Drama #crime #drama

Target di Ruko Kosong

Penulis sanzfy
14 January 2026

Aroma nasi goreng dari dapur menusuk indera penciuman Naufal. Bau harum itu, khas racikan rempah pilihan Adelia, berhasil membangunkannya dari lelap. Hari Selasa—hari yang selalu terasa berat bagi Naufal.

Bukan karena pekerjaan yang menumpuk di kantor, melainkan karena beban pikiran yang terus menghantuinya setiap awal pekan.

Namun, aroma nasi goreng itu sedikit meringankan beban tersebut. Setidaknya, ia akan mengisi perutnya dengan masakan lezat sebelum menghadapi hari yang panjang.

Ia bergegas ke kamar mandi, membersihkan diri, lalu mengenakan kemeja hitam bertuliskan namanya. Ia melirik jam dinding pukul 06.30. Masih ada waktu sebelum ia berangkat ke kantor.

Di meja makan, Akhzam, adiknya, sudah duduk rapi dengan seragam sekolah yang bersih. Wajahnya terlihat ceria saat Naufal menghampiri. Sebuah piring berisi nasi goreng yang hampir habis terletak di hadapannya.

"Abang," sapa Akhzam dengan senyum lebar, mulutnya masih mengunyah nasi goreng.

"Wah, adek sudah hampir selesai sarapan?" tanya Naufal sambil menarik kursi dan duduk di sampingnya.

"Iya. Nasi goreng Mama enak sekali!" jawab Akhzam sambil mengacungkan jempol.

Naufal tersenyum. Ia tahu betul kelezatan nasi goreng buatan ibunya. Aroma rempah yang khas, perpaduan rasa gurih dan sedikit manis, selalu membuatnya ketagihan.

Ia mengambil piring dan sendok, lalu mulai menyendok nasi goreng yang masih hangat. Suapan pertama langsung membangkitkan selera makannya.

"Nasi goreng Mama memang tak ada duanya!" puji Naufal.

"Alhamdulillah, kalau kalian berdua selalu suka," sahut Adelia.

"Bang, hari ini adek ada ulangan Matematika," kata Akhzam tiba-tiba, suaranya terdengar khawatir.

Sendok Naufal terhenti di udara. "Ulangan Matematika?"

"Iya, tentang penjumlahan dan pengurangan, Bang. Adek masih agak bingung soal cerita," jawab Akhzam, wajahnya tampak cemas.

Naufal meletakkan sendok. "Bagaimana kalau kita ulas sedikit sebelum kamu berangkat sekolah? Mungkin Abang bisa bantu," tawarnya.

Akhzam mengangguk antusias. "Benar, Bang? Makasih, Abang!"

Setelah menyelesaikan sarapan, Naufal dan Akhzam duduk di ruang tamu. Naufal mengambil buku pelajaran Matematika milik Akhzam dan mulai menjelaskan materi penjumlahan dan pengurangan dengan sabar. Ia menyampaikan dengan bahasa sederhana, yang ia yakin mudah dipahami oleh Akhzam.

"Terima kasih, Abang. Sekarang Adek sudah lebih paham," kata Akhzam, tersenyum lega.

"Sama-sama, Dek. Yang penting kamu berusaha dan jangan takut bertanya kalau belum paham," jawab Naufal sambil mengacak rambut adiknya dengan penuh kasih.

Pukul 07.00, Akhzam sudah siap berangkat ke sekolah.

"Biar abang yang antar, Ma. Sekalian ke kantor," ucap Naufal.

"Hati-hati," Adelia mengingatkan. "Nanti pulang ke rumah atau tidak?"

"Lihat nanti saja, Ma. Kami pergi dulu."

"Dah, Mama!" Akhzam melambaikan tangan sambil mengikuti Naufal keluar rumah.

Mereka bergegas menuju mobil. Naufal memasang sabuk pengaman, lalu ponselnya berdering—Aretha. Detak jantungnya berdegup kencang. Firasat buruk muncul. Ia melirik Akhzam sekilas, mencoba menyembunyikan kecemasannya.

"Halo, Retha?" sahut Naufal, berusaha terdengar tenang.

"Bang Naufal, kita dapat informasi penting! Dion, target utama kita, akan melakukan transaksi besar hari ini di ruko kosong bekas Fruity Mart! Kita butuh backup segera! Mereka bersenjata lengkap!" Suara Aretha panik dan terengah-engah.

Naufal mengerutkan dahi. "Retha, lokasi Fruity Mart itu di mana?" Jantungnya berdebar semakin kencang.

"Di Jalan Garuda Sakti, setelah perempatan lampu merah. Ada deretan ruko kosong, posisi bekas Fruity Mart ada tepat setelah empat ruko kosong," jawab Aretha, suaranya bergetar.

Jalan Garuda Sakti. Dekat sekali dengan sekolah Akhzam! Naufal merasakan hawa dingin menjalari punggungnya.

"Retha, itu sangat dekat dengan sekolah Akhzam! Kita harus bertindak cepat! Ini bukan hanya soal Dion, tapi juga keselamatan murid-murid sekolah itu! Bangunan sekolah bisa jadi tempat pelarian mereka!"

"Astaga, Bang! Mereka sudah siap! Saya sudah di lokasi, mengawasi dari kejauhan. Tapi mereka banyak, dan bersenjata lengkap!"

"Retha, kau di mana? Jelaskan posisimu!" desak Naufal, suaranya mulai meninggi.

"Di belakang bekas warung kecil dekat ruko, Bang! Yang hampir rubuh itu. Mereka ... mereka." Suara Aretha terputus.

Naufal merasakan kecemasan meningkat. Ia harus bergerak cepat. Ia melirik Akhzam, mencoba tetap tenang. Ini bukan hanya soal menangkap Dion, tapi juga soal menyelamatkan Aretha dan mungkin juga siswa-siswa di sekolah yang tak jauh dari lokasi target penangkapan.

Secepat kilat, ia mengantarkan Akhzam sampai ke gerbang sekolah. Ia turun, menggandeng Akhzam hingga ke hadapan petugas keamanan sekolah.

"Pagi, Pak Diki," sapa Akhzam.

"Eh, Akhzam diantar Bang Naufal, ya?" Petugas yang dipanggil Pak Diki itu tersenyum ramah.

"Titip Azam ya, Pak. Saya harus buru-buru ke kantor," ucap Naufal.

"Siap, Bang."

Naufal segera masuk kembali ke mobil, lalu memacu kendaraannya menuju Jalan Garuda Sakti. Ia menghubungi tim bantuan melalui saluran khusus.

"Ruko bekas Fruity Mart, Jalan Garuda Sakti. Transaksi narkoba. Aretha sudah di lokasi, butuh backup segera! Mereka bersenjata!" Suaranya tegang, dan tetap terdengar profesional.

Sesampainya di lokasi, situasi sudah kacau. Tim backup sudah berada di sana, dan baku tembak sengit masih berlangsung. Suara tembakan dan teriakan menggema di antara ruko-ruko tua yang kumuh. Naufal memarkirkan mobil, lalu berlari menunduk menuju lokasi.

Di tengah baku tembak yang menegangkan, Naufal melihat Aretha tergeletak di balik puing bekas warung kecil. Ia segera berlari menghampiri dan melindungi Aretha dari tembakan. Aretha terluka di bahu, darah segar membasahi bajunya. Wajahnya pucat, tetapi matanya tetap menatap Naufal dengan harap.

"Retha!" teriak Naufal panik. Ia memberikan pertolongan pertama, menekan luka Aretha sambil tetap siaga.

Setelah pertempuran berakhir dan para pengedar narkoba berhasil dilumpuhkan termasuk Dion—Naufal menggendong Aretha menuju ambulans. Ia lega karena operasi berhasil, tetapi khawatir akan kondisi Aretha.

Dengan lembut ia berbisik di telinga Aretha, "Tenang, Retha, semuanya akan baik-baik saja."

Naufal menoleh ke arah Dimas, yang berdiri tak jauh dari ambulans. Di belakang mereka, Razak dan beberapa anggota tim masih memeriksa barang bukti.

Para pengedar dikumpulkan, duduk dengan tangan terborgol. Beberapa anggota unit bersenjata menjaga mereka dengan waspada. Suara sirene ambulans yang membawa Aretha menghilang di kejauhan.

"Biar kami yang awasi di sini, Pak," ucap Dimas, seakan memahami bahwa Naufal harus mengikuti ambulans untuk memastikan kondisi Aretha—satu-satunya anggota perempuan dalam tim mereka.

"Baik. Kabari saya setelah kalian sampai kantor. Ayo, Wisnu."

"Siap!" Pemuda bernama Wisnu, yang tampaknya baru berusia dua puluhan, segera mengikuti Naufal masuk ke mobil.

Hari ini kembali menjadi sebuah catatan tak terlupakan dalam hidup Naufal.

Di dalam mobil, suasana sempat hening, hanya terdengar deru mesin dan suara napas keduanya yang masih sedikit terburu-buru.

"Bang, Aretha akan baik-baik saja, kan?" tanya Wisnu pelan, memecah keheningan.

Naufal menarik napas dalam. Matanya menatap lurus ke depan, dan pikirannya tertinggal di belakang pada darah yang membasahi bahu Aretha.

"Kita sudah melakukan yang terbaik," jawabnya pelan. "Sekarang tinggal menunggu dokter menanganinya. Dia kuat."

Wisnu mengangguk, meski raut wajahnya masih menyimpan kekhawatiran.

"Dia satu-satunya yang berani masuk duluan, padahal tahu risikonya."

Naufal menggertakkan rahang. "Dia memang seperti itu. Tidak pernah setengah-setengah. Dan karena keberaniannya, kita bisa lumpuhkan Dion hari ini."

"Saya masih tak habis pikir ... sekolah Akhzam begitu dekat. Kalau tadi kita terlambat sedikit saja—"

"Jangan pikirkan 'kalau'," potong Naufal. "Kita datang tepat waktu. Kita cegah yang terburuk. Fokus ke itu."

Wisnu diam sejenak, lalu mengangguk mantap.

"Bang," katanya kemudian, "boleh jujur?"

"Hmm?"

"Tadi waktu lihat Bang Naufal gendong Kak Aretha ke ambulans saya sadar, saya punya banyak hal yang harus dipelajari. Tidak cuma soal taktik dan tembakan. Tapi soal keberanian, keputusan, dan kemanusiaan."

Naufal melirik sekilas, sudut bibirnya terangkat. "Kalau kamu sudah sampai pada kesadaran itu, berarti kamu sudah satu langkah lebih maju, Nu."

Mobil terus melaju menuju rumah sakit. Di kejauhan, suara sirene samar masih terdengar, seakan mengiringi perjalanan mereka bukan hanya menuju tempat Aretha dirawat, tapi juga menuju babak baru dalam kehidupan mereka sebagai penjaga negeri, dengan segala risikonya yang tak terduga.