Pagi Panjang Sang Sopir Perempuan

Penulis BurungBiru
14 January 2026

Rina membuka mata saat alarm di ponsel berbunyi. Lampu kamar masih redup, hanya menembus tirai tipis. Anak perempuannya, yang baru berusia enam tahun, sudah tidur di sampingnya, napas pelan dan damai. Rina menahan senyum. Ia selalu merasa bersyukur bisa melihatnya tidur dengan tenang sebelum memulai hari panjangnya.

Dengan gerakan pelan, ia bangkit dari tempat tidur. Tangannya merapikan selimut anaknya. “Mama harus berangkat, sayang. Tunggu mama pulang ya, kamu sama nenek dulu.” ucapnya lembut. Anak itu mengangguk setengah terpejam.

Rina bergerak ke dapur kecil, menyiapkan sarapan sederhana. Roti bakar, telur, dan secangkir teh hangat. Ia menyiapkan juga kotak bekal untuk anaknya. Kebiasaan pagi yang sama setiap hari: cepat, efisien, tapi tetap hangat.

Setelah selesai, ia menatap jam. Pukul tiga pagi. Waktu absen sudah dekat. Ia mengambil tas kecil berisi dokumen, ponsel, dan botol minum. Menyalakan sepeda motornya, helm terpasang rapi, ia melaju ke pool taksi beberapa kilometer dari rumah. Jalanan sepi, lampu jalanan kadang mati, tapi Rina sudah terbiasa dengan ritme Jakarta pagi hari.

Di pool, beberapa sopir laki-laki sudah mulai menyalakan mesin mobil. Ada beberapa sopir perempuan juga, tetapi jumlahnya tidak banyak. Rina menarik napas panjang, memeriksa mobilnya sekali lagi. Mesin menyala, lampu semua berfungsi, wiper siap digunakan jika hujan. Ia menempelkan ponsel di dudukan dashboard. Sedikit bersiul, memulai live TikTok singkat.

“Selamat pagi teman-teman! Hari ini Rina siap narik. Semoga dapat penumpang yang ramah ya. Jangan lupa sarapan dulu, biar kuat,” ucapnya sambil tersenyum. Beberapa komentar masuk, lucu dan ringan, membuatnya tersenyum. “Halo juga! Eh jangan lupa kasih jempol ya,” katanya sambil melambaikan tangan ke kamera.

Order pertama masuk. Lokasi penjemputan tidak jauh, di sebuah perumahan pinggir jalan raya. Rina menekan tombol terima, menyiapkan diri. Ia tahu, pagi hari biasanya pelanggan orang kantoran, atau ibu-ibu yang ingin belanja dulu sebelum bekerja.

Di lokasi, seorang pria paruh baya keluar dari rumahnya. Rambutnya sedikit berantakan, jaket tipis menutupi kemeja kerja. Ia menatap Rina sebentar sebelum masuk ke mobil.

“Selamat pagi, Bu. Ke kantor pusat, ya?” tanyanya sambil menempatkan tas di kursi belakang.

“Iya, Pak. Kita berangkat,” jawab Rina sambil menyalakan mesin.

Perjalanan pagi di Jakarta selalu punya tantangan. Jalanan mulai padat, motor menyalip di sisi kiri dan kanan, beberapa mobil mengerem tiba-tiba. Rina tetap tenang, mengikuti arus. Napasnya teratur, tangan mantap di setir. Mata mengikuti setiap gerakan kendaraan di depan.

Di tengah perjalanan, pria itu membuka percakapan ringan. “Bu, biasanya sopir perempuan lebih sabar ya? Kalau saya sering lihat sopir laki-laki pagi-pagi suka emosi.”

Rina tersenyum. “Ya, Pak. Kita belajar sabar sejak pertama kali naik mobil sendiri. Kalau buru-buru, nanti malah capek sendiri.”

Pria itu tertawa kecil. “Betul juga. Santai aja ya, Bu. Saya ikut nyaman kalau sopirnya santai.”

Perjalanan terasa lebih ringan. Rina menyalakan musik lirih dari ponsel. Suara klasik mengalun pelan, membuat perjalanan pagi terasa lebih damai. Sesekali ia menoleh ke spion, memastikan penumpang nyaman.

Setelah beberapa kilometer, mobil menepi sebentar di sebuah minimarket. Penumpang meminta singgah sebentar. “Bu, saya mau beli kopi. Nggak lama kok,” katanya.

Rina mengangguk. Ia menunggu di dalam mobil sambil membuka kamera live TikTok. “Teman-teman, pagi ini ada order yang minta berhenti sebentar. Sabar ya, kita tunggu sebentar,” ucapnya sambil tersenyum. Beberapa komentar masuk, ada yang lucu, ada yang memberi saran agar tetap fokus di jalan.

Beberapa menit kemudian, penumpang kembali dengan kopi di tangan. Ia menaruhnya di cup holder dengan hati-hati. “Makasih, Bu,” katanya sambil tersenyum.

“Silakan, Pak. Hati-hati panasnya,” kata Rina sambil menyalakan kembali argo.

Perjalanan berlanjut. Jalan mulai lebih ramai. Beberapa kendaraan menerobos lampu merah. Rina tetap sabar, mengatur jarak aman, dan memberikan tanda dengan klakson singkat jika perlu. Ia sudah terbiasa menghadapi situasi ini.

Order berikutnya muncul di dekat stasiun. Seorang ibu muda dengan dua anak kecil menunggu di trotoar. Anak-anak itu rewel, minta duduk di kursi yang salah, dan terus berteriak.

Rina menghela napas panjang tapi tersenyum. “Halo, Bu. Mau ke mana?” tanyanya sambil membuka pintu belakang.

“Ke sekolah Pelita Harapan, Bu. Tapi tolong jangan lama ya, soalnya buru-buru.” jawab ibu itu sambil mengatur anak-anak yang berlari masuk ke mobil.

Rina menyalakan mesin. Anak-anak mulai menatap ke luar jendela, masih rewel, tapi sedikit lebih tenang. Ia memberikan minum dan snack ringan yang selalu ia simpan di mobil untuk situasi seperti ini.

“Tenang ya, kita sebentar lagi sampai. Jangan ribut dulu,” kata Rina sambil tersenyum. Anak-anak menatapnya sejenak, lalu tertawa kecil.

Ibu itu tersenyum lega. “Terima kasih, Bu. Biasanya ribet kalau anak-anak rewel di mobil,” katanya sambil menatap Rina.

Rina menahan tawa kecil. Sudah terbiasa menghadapi penumpang macam ini. “Ah, nggak masalah, Bu. Justru seru,” katanya sambil mengatur musik agar terdengar merdu tapi tidak terlalu keras.

Perjalanan terasa lancar. Jalan mulai lebih padat, beberapa kendaraan mencoba menyerobot. Rina tetap fokus. Ia tahu, menjadi sopir perempuan di pagi hari berarti harus ekstra sabar dan sigap.

Beberapa kilometer kemudian, mereka sampai di sekolah anak-anak. Ibu itu menurunkan anak-anak, membayar Rina, dan tersenyum. “Terima kasih ya, Bu. Anak-anak senang hari ini,” katanya.

Rina tersenyum, membungkuk sedikit. “Sama-sama, Bu. Semoga harinya menyenangkan.”

Setelah itu, Rina kembali ke mobil. Jam menunjukkan pukul sembilan pagi. Pagi masih panjang, beberapa order muncul, tapi ia tahu tubuhnya sudah mulai lelah. Ia menepi sebentar di warung kecil, membeli air mineral dan sepotong roti. Duduk di kursi samping, menyesap air, menatap jalanan Jakarta yang padat.

“Kadang, pekerjaan ini capek, tapi menyenangkan juga,” gumamnya sambil tersenyum tipis. Ia membuka ponsel, melihat komentar dari live TikTok sebelumnya. Banyak yang menulis pujian ringan, beberapa bercanda, tapi semuanya membuatnya merasa terhubung.

Order berikutnya muncul. Kali ini seorang pria muda, terburu-buru ke kantor. Ia masuk ke mobil, memberikan alamat, dan mulai menatap ponsel. Rina menyalakan mesin dan melajukan mobil.

Perjalanan kali ini cukup menegangkan. Jalan macet, motor bersliweran, beberapa mobil berhenti mendadak. Rina tetap tenang, menyesuaikan kecepatan, memberi jarak aman. Sesekali ia berbicara ringan agar penumpang tidak tegang.

“Pak, jalanan pagi memang macet. Santai saja, kita sampai aman,” katanya.

Pria itu tersenyum. “Iya, Bu. Biasa ya kalau jam segini.”

Setelah beberapa menit, mereka tiba di kantor. Penumpang membayar, tersenyum, turun dengan tergesa. Rina tersenyum, menyalakan argo lagi.

Jam menunjukkan hampir pukul dua belas. Waktu absen hampir habis. Ia menepi di pool, menutup pintu mobil, memeriksa dokumen, dan menaruh tas kecil di bahu. Hari ini panjang, tapi penuh cerita.

Ia menunggui ojek langganannya yang menjemput untuk pulang ke rumah. Sepanjang perjalanan, ia menatap jalanan yang kini mulai sedikit lengang, mengingat setiap penumpang yang ia antar, setiap senyum, tawa, dan permintaan kecil yang membuat pekerjaan ini terasa hidup.

Sampai di rumah, anaknya menyambut. “Mama pulang!”

Rina memeluknya erat. “Iya, sayang. Mama pulang. Hari ini capek, tapi seru ya.”

Anaknya tertawa kecil, dan Rina duduk sebentar, menarik napas panjang. Tubuh lelah, tapi hatinya lega. Pagi panjang itu telah mengajarkan satu hal: menjadi sopir perempuan berarti menghadapi jalan, penumpang, dan kehidupan sendiri, tetapi tetap harus sabar, sigap, dan tersenyum.

Ia masuk kamar, berbaring di samping anaknya, menutup mata perlahan. Matahari mulai tinggi. Jakarta berdenyut di luar sana, tapi di rumah kecil ini, Rina menemukan ketenangan. Satu cerita panjang pagi ini selesai, tapi besok, mobil itu akan kembali melaju, membawa kisah baru dari penumpang yang berbeda.

Dan bagi Rina, itu sudah cukup.