Hari yang Lebih Banyak Menunggu

Penulis BurungBiru
15 January 2026

Pukul lima pagi, langit masih abu-abu ketika Pak Hasan keluar dari rumah kontrakannya. Jalan kecil di depan rumah masih sepi. Hanya suara ayam dari kejauhan dan langkah kakinya sendiri yang terdengar. Ia mengunci pintu, menyalakan motor, lalu melaju pelan menuju pool.

Di sana, beberapa mobil sudah berjajar. Ada yang mesinnya sudah menyala, ada yang sopirnya masih duduk sambil ngopi. Pak Hasan mengambil kunci mobilnya, mengecek kondisi sekilas, lalu masuk ke dalam taksi. Kursi masih dingin. Ia mengatur spion, menyalakan mesin, dan menarik napas panjang.

Hari baru dimulai.

Keluar dari pool, jalanan belum ramai. Lampu-lampu jalan masih menyala, wiper sesekali bergerak menghapus embun tipis. Pak Hasan menyalakan aplikasi, memastikan semuanya aktif. Biasanya jam segini order mulai masuk satu per satu. Tapi hari ini, layar tetap kosong.

Ia melaju ke arah perkantoran lama. Biasanya ada pegawai yang berangkat pagi. Ia parkir di pinggir jalan, mesin tetap menyala. Lima menit berlalu. Sepuluh menit. Tidak ada bunyi notifikasi.

Pak Hasan tidak heran. Ada hari-hari seperti ini. Ia sudah terbiasa. Tapi tetap saja, setiap menit menunggu terasa lebih panjang ketika argo belum berjalan.

Sekitar pukul enam lewat, barulah satu order masuk. Lokasi penjemputan tidak jauh, di gang kecil belakang ruko. Pak Hasan langsung bergerak. Sampai di lokasi, ia berhenti dan menunggu.

Pintu ruko tidak terbuka. Gang masih sepi.

Ia menunggu sambil menatap spion. Satu menit. Dua menit. Lima menit. Ia mengirim pesan singkat, sopan. Tidak ada balasan. Telepon ia coba, tapi tidak diangkat.

Beberapa menit kemudian, order batal otomatis.

Pak Hasan menghela napas pelan. Bukan kesal. Lebih ke kosong. Ia memutar setir, kembali ke jalan utama.

Jam tujuh lewat. Jalanan mulai ramai. Motor berseliweran, bus kota berhenti mendadak, klakson mulai saling bersahutan. Tapi order tetap sepi. Ia berpindah lokasi. Ke stasiun kecil. Ke depan pusat belanja. Ke pinggir pasar pagi.

Semua sama. Menunggu.

Ia memarkir mobil di bawah pohon besar. Mesin dimatikan. Ia mengambil air minum dari tas kecil, meneguk perlahan. Pikirannya melayang ke rumah. Istrinya pasti sedang menyiapkan anak-anak berangkat sekolah. Ia teringat pesan singkat pagi tadi, mengingatkan agar hati-hati dan jangan lupa makan.

Kadang, hal sederhana seperti itu yang bikin bertahan.

Sekitar pukul delapan, order masuk lagi. Lokasi di sebuah kos-kosan. Kali ini benar. Seorang pria muda keluar sambil membawa tas ransel.

“Ke kantor di Kuningan, Pak,” katanya singkat.

Pak Hasan mengangguk. Mobil bergerak. Jalanan padat, tapi masih bisa mengalir. Penumpang sibuk dengan ponselnya. Tidak banyak bicara. Pak Hasan juga tidak memulai percakapan. Ia fokus menyetir.

Perjalanan hampir satu jam. Sampai tujuan, penumpang turun, membayar pas, lalu pergi. Tidak ada obrolan, tidak ada senyum. Tapi argo berjalan cukup jauh.

Pak Hasan merasa sedikit lega.

Setelah itu, order kembali sepi.

Jam sembilan lewat. Matahari mulai terasa panas. Pak Hasan membuka kaca sedikit. Ia parkir di dekat minimarket, membeli kopi sachet dan roti kecil. Duduk di dalam mobil, menyeruput kopi hangat sambil menatap jalan.

Di seberang, beberapa sopir lain juga menunggu. Ada yang tiduran di kursi, ada yang merokok, ada yang sibuk dengan ponsel. Mereka tidak saling menyapa, tapi sama-sama paham. Hari ini bukan hari yang ramah.

Menjelang siang, barulah order masuk lagi. Seorang ibu dari pasar. Membawa dua kantong belanja besar.

“Ke rumah sakit, Pak. Saya mau jenguk saudara,” katanya sambil duduk pelan.

Pak Hasan membantu memasukkan kantong belanja ke bagasi. Perjalanan kali ini terasa lebih hidup. Ibu itu bercerita tentang panasnya pasar, harga bahan pokok, cucunya yang dititipkan tetangga. Pak Hasan menanggapi seperlunya. Mengangguk, tersenyum kecil.

Macet tidak terhindarkan. Tapi ibu itu tidak mengeluh. Hanya duduk sambil mengipas-ngipas wajah.

Sampai di rumah sakit, ia membayar dan mengucapkan terima kasih. Pak Hasan mengangguk, merasa sedikit hangat.

Jam menunjukkan pukul dua belas siang.

Biasanya, di jam segini, ada sopir yang memilih istirahat. Tapi Pak Hasan tidak. Ia masih butuh narik. Setoran belum aman. Ia melanjutkan perjalanan.

Siang sampai sore berjalan lambat. Order masuk satu dua, jarak dekat. Ada yang hanya ke warung. Ada yang ke kantor pos. Tidak ada yang jauh. Tidak ada yang istimewa.

Tubuh mulai terasa lelah. Pinggang pegal. Mata perih. Tapi ia tetap bertahan. Menjelang magrib, hujan turun sebentar. Jalanan licin, lampu kendaraan memantul di aspal basah.

Order kembali sepi.

Pak Hasan menepi di pinggir jalan, mematikan mesin sebentar. Ia menghela napas panjang. Hari ini lebih banyak menunggu daripada berjalan. Tapi ia tahu, menyerah di tengah jalan bukan pilihan.

Setelah magrib, ia kembali menyalakan mesin. Jalanan mulai ramai lagi. Orang pulang kerja, toko-toko mulai tutup. Sekitar pukul delapan malam, order masuk dari seorang pria yang baru selesai lembur.

“Sesuai alamat tujuan ya, Pak,” katanya sambil duduk.

Perjalanan tidak jauh, tapi cukup panjang karena macet. Penumpang tidak banyak bicara. Hanya duduk diam, menatap keluar jendela.

Sampai tujuan, ia membayar dan turun.

Jam sembilan lewat.

Pak Hasan menatap layar ponsel. Masih berharap ada satu order lagi. Ia tidak mau pulang terlalu cepat. Ia berkeliling sebentar, melewati jalan-jalan yang mulai lengang.

Sekitar pukul sebelas malam, akhirnya order terakhir masuk. Tidak jauh. Seorang penumpang dari tempat makan yang hampir tutup.

Perjalanan singkat. Tanpa cerita. Tapi cukup untuk menutup hari.

Setelah penumpang turun, Pak Hasan langsung mengarah ke pool. Jam di dashboard menunjukkan hampir pukul dua belas malam. Badannya pegal, tapi hatinya lebih tenang. Setidaknya hari ini tidak kosong.

Mobil diparkir. Mesin dimatikan. Ia duduk sebentar di balik setir. Sunyi. Hanya suara mesin mobil lain yang datang dan pergi.

Setelah semua urusan selesai, Pak Hasan pulang naik angkot terakhir. Duduk di bangku belakang, menatap jalanan yang kini jauh lebih sepi. Lampu-lampu kota redup. Jakarta seperti menarik napas panjang.

Di dalam angkot, Pak Hasan duduk diam sambil memegang tas kecilnya. Penumpang lain hanya dua orang. Seorang ibu yang tertidur dengan kepala bersandar ke kaca, dan seorang pemuda yang sibuk dengan ponselnya. Angkot melaju pelan, berhenti di beberapa titik, lalu berjalan lagi.

Pak Hasan menatap keluar jendela. Spanduk toko yang sudah diturunkan. Warung kopi yang masih buka, tapi pengunjungnya tinggal satu dua orang. Jakarta malam tidak sepenuhnya tidur, hanya melambat.

Ia memijat ringan tangannya sendiri. Jari-jari yang seharian memegang setir terasa kaku. Ia tersenyum kecil, mengingat berapa kali hari ini ia hanya duduk menunggu, berharap layar ponsel berbunyi. Pekerjaan ini memang begitu. Kadang berlari, kadang diam terlalu lama.

Angkot berhenti di dekat rumahnya. Pak Hasan turun, berjalan kaki melewati gang sempit. Lampu rumah tetangga sebagian sudah mati. Beberapa masih menyala, menandakan ada orang yang juga baru pulang seperti dirinya.

Sampai di rumah, ia membuka pintu pelan. Bau nasi hangat menyambut. Istrinya muncul dari dapur dengan wajah lelah tapi tersenyum.

“Aku panasin makanan ya,” katanya.

“Iya,” jawab Pak Hasan singkat.

Ia duduk di kursi kayu, membuka sepatu, merenggangkan kaki. Tidak banyak bicara. Tidak perlu. Keheningan di rumah justru terasa nyaman setelah seharian berada di jalan.

Sambil makan, ia bercerita sedikit. Tentang order yang batal, tentang menunggu lama, tentang penumpang pasar yang tidak banyak menuntut. Istrinya mendengarkan tanpa menyela. Sesekali mengangguk.

“Besok narik lagi?” tanya istrinya.

“Iya,” jawab Pak Hasan. “Mudah-mudahan besok lebih ramai.”

Istrinya tersenyum. “Kalau sepi juga, yang penting pulang.”

Kalimat itu sederhana, tapi membuat dada Pak Hasan terasa lebih ringan. Ia mengangguk pelan.

Malam semakin larut. Ia membersihkan diri, lalu merebahkan badan. Tubuhnya lelah, tapi pikirannya tenang. Hari ini bukan hari terbaik, tapi juga bukan hari terburuk. Ia sudah melakukan bagiannya. Datang pagi, bertahan sampai malam, dan pulang dengan selamat.

Di balik setir taksi, ada hari-hari yang penuh cerita. Ada juga hari-hari seperti ini. Sunyi, panjang, dan lebih banyak menunggu. Tapi semua tetap layak dijalani.

Pak Hasan memejamkan mata. Besok, ia akan kembali ke jalan. Kembali menunggu. Kembali berharap. Dan kembali menjadi bagian kecil dari kota yang tidak pernah benar-benar berhenti.

Bab ini pun selesai, dengan sunyi yang jujur, seperti hari yang ia lewati.