Lagu terakhir akhirnya berakhir dengan nada panjang yang fals, tapi penuh tawa, membuat Sienna terjatuh ke sofa sambil memegangi perutnya yang sakit karena terlalu banyak tertawa. Arden sendiri bersandar pada kursi rodanya, napasnya sedikit terengah, tetapi wajahnya dipenuhi kepuasan yang jarang ia tunjukkan.
Di meja, makanan tinggal sisa-sisa saja. Gelas mocktail kosong berjejer, kue tart tinggal seperempat, chicken wings hanya menyisakan tulang, dan es krim favorit Sienna bahkan sudah tinggal dua sendok terakhir yang ia santap dengan senyum puas.
“Ya Tuhan ….” Sienna melemparkan kepala ke belakang, kakinya masih gemetar karena terlalu bersemangat. “Aku … capek banget. Tapi … luar biasa puas.”
Arden tertawa pendek, suara rendahnya terdengar sedikit serak setelah hampir dua jam bernyanyi tanpa henti.
“Kau terlihat seperti habis maraton, bukan karaoke.”
Sienna menoleh padanya, masih mengatur napas. “Dan kau terdengar seperti habis konser keliling dunia.”
Arden menaikkan alis. “Kalau begitu, konser kita sukses besar.”
Sienna tertawa lagi, lalu menyandarkan kepala ke sandaran sofa. Wajahnya terlihat lelah, tetapi matanya berbinar, berbeda jauh dari tatapan berat yang ia pakai saat meninggalkan pesta tadi.
Arden memperhatikannya beberapa saat sebelum akhirnya bertanya dengan nada lembut.
“Jadi … sekarang kau sudah sangat senang?”
Sienna mengangguk mantap, bahkan tanpa berpikir. “Sangat. Astaga, aku nggak nyangka … karaoke bisa bikin puas begini.” Ia menatap langit-langit sambil tersenyum. “Rasanya seperti … membuang semua yang menekan dadaku.”
Arden mencondongkan tubuh sedikit. “Karena kamu nggak menahan apa pun malam ini. Kamu berteriak, tertawa, bernyanyi … dan nggak peduli siapa yang melihat.”
Sienna menatapnya, senyumnya lebih lembut kali ini. “Terima kasih, Arden. Serius. Kamu benar-benar tahu bagaimana membuat aku merasa hidup kembali.”
Arden mengangguk pelan, lalu berkata dengan nada yang jauh lebih tenang, “Kalau begitu, sudah waktunya kita pulang.”
Sienna mendesah lega sambil berdiri perlahan, merapikan gaunnya yang sudah sedikit kusut karena terlalu banyak bergerak.
“Ya. Pulang. Sebelum aku pingsan di sofa karaoke.”
Arden menekan tombol kecil di samping kursi rodanya, membuat sandaran dan posisi duduknya berubah sedikit lebih tegak. “Pulang sebelum kamu muntah karena makan terlalu banyak es krim, mungkin.”
Sienna memukul lengannya pelan. “Hei! Itu es krim terenak sedunia.”
Arden hanya mengangkat bahu seolah tidak bersalah.
Saat itu, pintu ruangan terbuka dan Lucas masuk dengan pakaian rapi seperti biasa. Ia tampak terhibur melihat ruangan yang hampir berantakan, dengan tawa Sienna yang masih tersisa di udara.
“Semuanya sudah siap, Tuan,” katanya sopan sambil mendekat.
Arden mengangguk. “Baik. Mari kita pergi.” Sienna mengambil tas kecilnya, sedangkan Lucas langsung bergerak untuk mendorong kursi roda Arden keluar dari ruangan. Sienna berjalan di samping mereka, sesekali menata rambutnya yang berantakan dan merapikan gaun yang kini tidak lagi seanggun saat ia memasuki pesta.
Koridor VIP terasa hening dan mewah, kontras dengan suara gaduh yang masih tersisa di ruangan tadi. Lampu-lampu kristal bergemerlap halus saat mereka melewati lorong panjang menuju lift private.
Saat pintu lift terbuka, Lucas mendorong Arden masuk terlebih dahulu, kemudian Sienna menyusul. Dalam kabin yang luas itu, Sienna memejamkan mata sebentar.
“Hari ini … melelahkan,” gumamnya. Arden menatapnya tanpa berkata apa-apa, hanya dengan ekspresi yang sulit ditebak, tenang, tetapi penuh makna, seolah ia puas melihat Sienna bisa mengakhiri hari panjang itu dengan senyuman, bukan air mata.
Saat lift berhenti, Lucas membawa mereka keluar menuju area parkir bawah tanah. Mobil mewah hitam mereka sudah menunggu, mengilap di bawah cahaya lampu.
Lucas membuka pintu penumpang untuk Sienna. Gadis itu masuk sambil meraih ujung gaunnya agar tidak tersangkut. Setelah itu, Lucas kembali membantu Arden, mengangkat kursi roda dan melipatnya dengan cekatan sebelum memasukkannya ke bagasi.
Pintu ditutup, mesin mobil menyala, dan dengan suara halus, kendaraan itu mulai bergerak.
Sienna menyandarkan kepala ke jendela, tersenyum kecil pada bayangannya sendiri.
Rumah mereka terasa jauh lebih sunyi dibandingkan hiruk-pikuk pesta maupun kebisingan ruang karaoke tempat mereka menghabiskan malam. Begitu mobil berhenti, Lucas membantu Arden turun lebih dulu, lalu Sienna menyusul sambil memegang gaunnya yang kini sudah tidak lagi rapi.
Mereka memasuki rumah, lalu naik lift pribadi menuju lantai kedua tempat kamar mereka berada. Lift bergerak perlahan, sementara Sienna bersandar pada dinding lift dengan mata setengah tertutup. Beban di bahunya seolah perlahan rontok bersama setiap lantai yang terlewati.
Begitu pintu lift terbuka, mereka masuk ke kamar besar yang luas dan elegan. Lampu-lampu otomatis menyala redup, memberikan suasana hangat yang membuat mereka sama-sama ingin segera rebahan. Sienna berjalan lambat menuju lemari pakaian, mengambil piyama sutra berwarna lembut yang sangat nyaman dipakai.
Arden hanya memperhatikannya sebentar sebelum bergerak ke arah meja kecil di sudut ruangan, membuka lemari tempat ia menyimpan pakaian tidurnya.
Sienna selesai mandi lebih dulu, wajahnya bersih tanpa riasan dan rambutnya diikat seadanya. Ia terlihat jauh lebih muda, jauh lebih lembut dibanding saat menghadapi keluarga di pesta tadi. Ia mendekat ke ranjang sambil berkata dengan suara mengantuk.
“Aku benar-benar nggak kuat lagi.”
Arden tersenyum tipis. “Tidurlah duluan. Aku menyusul.”
Sienna menggumamkan sesuatu yang tidak begitu jelas, lalu menarik selimut dan merebahkan diri perlahan. Begitu kepalanya menyentuh bantal, tubuhnya langsung rileks. Dada yang tadi penuh sesak kini terasa ringan. Udara kamar yang sejuk dan wangi lavender membuat matanya semakin berat.
Arden masuk ke kamar mandi dan berganti pakaian setelahnya, mengenakan kaus longgar dan celana tidur. Ia kemudian duduk di sisi ranjang, mengambil ponsel, dan membuka game favoritnya hanya untuk sekadar menghabiskan lima belas menit sebelum tidur, kebiasaan kecil yang selalu ia lakukan. Beberapa saat kemudian, ketika ia berniat menoleh sekadar memastikan Sienna sudah tertidur, ia justru terkejut.
Sienna tertidur sangat nyenyak. Terlalu nyenyak.
Napasnya teratur, wajahnya terlihat damai, pipinya masih sedikit memerah karena aktivitas karaoke yang terlalu heboh. Bahkan rambutnya yang berantakan pun tidak mengurangi betapa tenangnya dia terlihat. Selimut tersampir sempurna di tubuhnya, dan satu tangan kecilnya terkulai pelan di sisi tubuh Arden.
Arden menatapnya lama, matanya melembut, begitu lembut hingga sulit percaya bahwa pria itu biasanya berbicara dengan nada penuh tantangan dan keyakinan kuat.
“Cepat sekali kau tidur,” gumamnya pelan. Tidak ada jawaban, tentu saja. Sienna sudah hilang jauh dalam mimpinya.
Arden akhirnya mematikan ponsel, meletakkannya di meja samping, lalu memiringkan tubuhnya sedikit agar lebih dekat dengan istrinya. Ia menarik selimut hingga menutupi mereka berdua, memastikan Sienna tetap hangat.
Sebelum memejamkan mata, ia menatap wajah Sienna sekali lagi, wajah yang penuh emosi tadi malam, kini hanya menyisakan kedamaian murni.
“Selamat malam … Sienna,” bisiknya. Setelah hari yang panjang dan melelahkan, Arden juga membiarkan dirinya tertidur dengan senyum kecil yang tak pernah ia sadari muncul di ujung bibirnya.