Mendadak Kawin-Hiduplah Bersamaku-Bab 31

15 January 2026

Keheningan di dalam kabin mobil Limosin hitam itu terasa jauh lebih berat daripada kebisingan ratusan kamera di Gala Premiere tadi. Sandra duduk bersandar di jok kulit yang dingin, menatap kosong ke luar jendela yang menampilkan gemerlap lampu kota Jakarta yang seolah mengejeknya. Tangannya masih gemetar sisa adrenalin. Gaun merah darah yang tadi membuatnya merasa seperti Ratu yang tak terkalahkan di atas panggung, kini terasa sesak dan berat, seolah mencekik napasnya sendiri. Di sampingnya, Bisma melonggarkan dasi kupu-kupunya dengan kasar, membiarkannya menggantung berantakan di leher. Kancing teratas kemejanya sudah dibuka, memperlihatkan sedikit dadanya yang naik turun teratur mengatur napas. Dia tidak menatap Sandra, pandangannya lurus ke depan menembus partisi supir. Namun, tangannya yang besar masih menggenggam tangan Sandra di atas jok tengah. Erat. Posesif. Seolah takut jika dia melepaskannya barang sedetik saja, Sandra akan melompat keluar dari mobil yang sedang melaju kencang itu dan menghilang lagi. “Kita... gila,” bisik Sandra, memecah kesunyian yang mencekam. Suaranya serak, habis dipakai untuk menahan tangis dan berpidato. “Kita bener-bener gila, Bis. Kita baru aja nyari mati.” Bisma menoleh pelan. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum miring yang lelah namun puas—senyum khas yang selalu membuat Sandra ingin memukul sekaligus memeluknya. “Koreksi. Kita jenius,” ralat Bisma. “Lu liat muka Mama tadi? Merah padam kayak kepiting rebus saus Padang. Kalau bukan karena botox di jidatnya, gue yakin udah ada seribu liputan kerutan di sana.” Sandra tertawa kecil, tawa yang terdengar hampa dan lelah. “Terus sekarang apa? Kita udah deklarasi perang terbuka, Bisma. Besok pagi, hidup kita nggak bakal tenang. Wartawan bakal kemah di depan kosan gue, di depan apartemen lu... Nadine bakal nyebar fitnah lagi...” “Nggak,” potong Bisma tegas. Jempolnya mengusap punggung tangan Sandra, memberikan sensasi hangat yang menjalar ke lengan. “Apanya yang nggak?” “Wartawan nggak bakal kemah di depan kosan lu.” Bisma menatap Sandra intens, sorot matanya tidak menerima bantahan. “Karena mulai malam ini, lu nggak balik ke kosan.” Sandra terlonjak, menatap Bisma horor. Dia mencoba menarik tangannya, tapi Bisma menahannya. “Maksud lu?” “Lu pikir gue bakal biarin lu sendirian di kosan sempit itu setelah kita bikin satu Indonesia heboh? Nadine pasti udah nyebar alamat lu ke media gosip, atau lebih parah, ke preman bayaran kayak kemarin. Kalau lu balik ke sana, lu bakal dimakan hidup-hidup.” “Terus gue harus tidur di mana? Di kolong jembatan?!” “Di Penthouse gue,” jawab Bisma santai, seolah dia baru saja menawarkan permen karet. “Kandang Komodo. Tempat paling aman, security 24 jam, akses lift pribadi, dan anti-Nadine.” “Gila! Gue nggak mau tinggal serumah sama lu! Kita ini nikah paksa, Bis, bukan pengantin baru beneran!” tolak Sandra panik. Wajahnya memanas membayangkan harus berbagi atap dengan pria yang baru saja menciumnya di depan ratusan orang. Bisma mendekatkan wajahnya, menantang. “Status kita di KTP dan di mata hukum agama itu sah, Sandra Gunawan. Dan di mata publik sekarang, kita adalah Power Couple yang saling cinta mati, yang rela berkorban demi satu sama lain. Lu mau ngerusak skenario yang udah kita bangun susah payah dengan ketauan tinggal pisah? Itu sama aja ngasih peluru gratis buat Regina.” Sandra terdiam. Logika Bisma—meskipun menyebalkan—benar adanya. Jika media menangkap basah mereka pulang ke rumah masing-masing setelah adegan ciuman di panggung tadi, seluruh narasi "Cinta Melawan Tirani" akan hancur dan dianggap settingan. “Cuma sementara,” lanjut Bisma, melihat keraguan di mata Sandra. Suaranya melembut. “Sampai badai reda. Sampai film kita tayang dan sukses. Abis itu... terserah lu. Lu mau pergi, gue anter. Tapi sekarang, tolong... biarin gue pastiin lu aman.” Sandra menatap mata hitam Bisma. Ada kejujuran di sana. Ada ketakutan kehilangan yang nyata. Sandra menghela napas panjang, menyerah pada nasib. “Oke. Tapi inget, Bis. Ini cuma survival mode. Jangan harap gue bakal masakin lu tiap pagi atau nyiapin air anget buat mandi kayak istri beneran.” “Dih, siapa yang ngarep? Gue punya maid,” cibir Bisma, kembali ke mode arogannya.


Pintu lift pribadi terbuka dengan desingan halus, menampilkan ruang tamu Penthouse Bisma yang luasnya tidak masuk akal. Sandra melangkah keluar. Kakinya yang masih memakai heels merah 12 cm terasa sakit, tapi rasa takjub mengalahkan rasa sakitnya. Lantai marmer hitam mengkilap memantulkan bayangan mereka. Dinding kaca setinggi langit-langit membentang dari ujung ke ujung, menampilkan panorama lampu kota Jakarta yang tampak kecil di bawah sana. Furnitur minimalis berkelas mengisi ruangan, tapi entah kenapa... tempat ini terasa dingin. Sepi. Tidak ada foto keluarga. Tidak ada tanaman. Hanya kemewahan yang sunyi. “Masuk. Jangan bengong, nanti kesambet setan elit,” kata Bisma, melempar jas mahalnya sembarangan ke sofa kulit Italia seharga mobil itu. Sandra melangkah masuk, lalu tanpa sadar melepas sepatunya. Dia menenteng sepatu itu, telapak kakinya yang telanjang merasakan dinginnya lantai marmer. “Kamar lu di situ,” Bisma menunjuk sebuah pintu di lorong sebelah kanan. “Kamar tamu. Ada kamar mandi dalem. Gue nggak mau liat handuk basah lu di mana-mana.” “Siapa juga yang jorok?! Gue lebih rapi dari lu!” balas Sandra ketus. Dia berjalan menuju kamar itu, tapi langkahnya terhenti saat melihat koper bututnya—koper yang berisi kenangan masa lalu mereka—sudah ada di sana, berdiri rapi di samping lemari. “Doni udah ambilin barang-barang lu dari kosan pas kita lagi di bioskop. Gue yang suruh,” jelas Bisma, membaca kebingungan Sandra. Sandra menatap Bisma. Di balik sikap arogannya, pria ini memikirkan detail sekecil itu. Dia bahkan menyelamatkan barang-barang Sandra sebelum Regina bisa mengirim orang untuk menghancurkannya di kosan. “Makasih,” gumam Sandra pelan. “Jangan seneng dulu. Hidup sama gue itu penuh aturan,” kata Bisma sambil berjalan ke dapur bersih, membuka kulkas dua pintu raksasa, dan mengambil air mineral dingin. Dia meneguknya langsung dari botol, jakunnya bergerak naik turun. Sandra menelan ludah, buru-buru membuang muka. ‘Fokus, San. Dia Komodo. Jangan tergoda.’ “Aturan apa?” tanya Sandra defensif. Bisma meletakkan botol air, lalu berjalan ke laci meja konsol. Dia mengaduk-aduk isinya sebentar, lalu mengeluarkan sebuah benda yang membuat dahi Sandra berkerut dalam. Gulungan lakban hitam besar. “Ini,” kata Bisma, mengangkat lakban itu tinggi-tinggi. Tanpa banyak bicara, Bisma berjongkok di lantai ruang tamu. Dia menarik ujung lakban, menempelkannya ke lantai marmer yang mahal itu, lalu menariknya panjang membelah ruangan menjadi dua bagian yang nyaris simetris. Sreeeet! Suara lakban ditarik terdengar nyaring dan konyol di ruangan sunyi itu. Sandra melongo. Mulutnya terbuka. “Lu... lu ngapain?” Bisma berdiri, berkacak pinggang menatap garis hitam jelek yang kini membelah kemewahan Penthouse-nya. “Operasi Selotip,” kata Bisma bangga. “Gue bagi wilayah. Sebelah kanan—yang ada TV gede 80 inch, sofa utama, dan akses ke lorong kamar gue—itu Wilayah Komodo. Terlarang buat lu.” Dia menunjuk sisi kiri. “Sebelah kiri—yang deket dapur, meja makan, dan lorong kamar tamu—itu Wilayah Keong. Itu area lu.” “Keong?!” protes Sandra, suaranya melengking. “Kenapa gue Keong?! Lu pikir gue lambat?!” “Karena lu lelet kalau mikir. Dan lu suka sembunyi di cangkang kalau ada masalah,” jawab Bisma enteng. “Peraturannya simpel. Jangan nyebrang garis ini tanpa izin diplomatik atau visa kunjungan. Kalau lu melanggar, denda satu juta per langkah.” “Lu gila! Ini apartemen lu, kenapa lu bagi dua kayak anak TK rebutan meja?!” Sandra berkacak pinggang, masih memegang sepatunya. Bisma menatap Sandra. Wajahnya yang tadi tengil berubah sedikit serius. “Biar kita nggak bunuh-bunuhan, San,” katanya pelan. “Gue tau lu nggak nyaman di sini. Gue tau lu ngerasa terjebak. Dengan ginian... seenggaknya lu punya ruang sendiri. Lu nggak perlu ngerasa jadi tamu yang numpang. Itu wilayah lu. Lu mau ngapain kek di situ, salto kek, kayang kek, nulis novel sambil nangis kek, terserah.”