Mendadak Kawin-Harus Bisa-Bab 32

15 January 2026

Sandra tertegun. Di balik tingkah konyol dan kekanak-kanakan ini... Bisma sebenarnya sedang berusaha menghormati privasinya? Bisma memberinya "rumah" di dalam rumahnya. “Dan satu lagi,” tambah Bisma, menunjuk pintu kamar utamanya di ujung lorong Wilayah Komodo. “Pintu itu haram hukumnya lu buka. Itu gua pertapaan gue. Kalau lu masuk ke sana tanpa izin, gue anggap lu naksir berat sama gue.” Sandra mendengus, menyembunyikan senyum tipis yang memaksa terbit di bibirnya. “Najis. Siapa juga yang mau masuk kandang bau naga.” “Oke. Deal?” Bisma mengulurkan tangan di atas garis lakban. Sandra menatap tangan itu. Tangan yang tadi mengangkatnya dari keterpurukan. Sandra menjabat tangan Bisma. “Deal, Komodo.” “Bagus. Sekarang masuk kamar. Kunci pintunya. Gue mau tidur. Tangan gue sakit lagi abis nonjok bodyguard Mama tadi sore.” Bisma memijat buku jari kanannya yang memar dan sedikit bengkak. Sandra menatap tangan itu. Dia ingat bagaimana Bisma menghajar orang demi dia. Rasa bersalah menyusup ke hatinya. “Bis...” “Apa lagi? Mau cium pipi goodnight? Nggak usah, gue mahal.” “Obatin tangan lu,” potong Sandra. “Kotak P3K di mana?” Bisma tertegun. Dia menatap tangannya, lalu menatap Sandra. “Di laci dapur bawah wastafel. Wilayah lu.” Tanpa menunggu perintah, Sandra meletakkan sepatu dan tasnya. Dia berjalan ke dapur, mengambil kotak P3K, lalu kembali ke garis batas. Dia menarik sebuah kursi bar dan meletakkannya tepat di garis lakban. “Duduk,” perintah Sandra. “Gue bisa sendiri.” “Duduk atau gue injek kaki lu pake heels ini,” ancam Sandra, mengangkat sepatunya. Bisma menurut, duduk di kursi itu. Sandra berdiri di hadapannya, membersihkan luka di tangan Bisma dengan alkohol dan kapas. “Sshtt... perih, bego,” ringis Bisma. “Tahan. Katanya aktor laga. Kena alkohol doang cengeng,” ledek Sandra, tapi dia meniup luka itu dengan lembut. Sangat lembut. Bisma menatap wajah Sandra yang serius mengurus lukanya. Dia melihat sisa makeup yang mulai luntur. Dia melihat lebam di pipi Sandra yang mulai membiru. Hatinya sakit. Lebih sakit daripada tangannya. “Sakit nggak?” tanya Bisma tiba-tiba, suaranya melembut. “Apanya? Tangan lu?” “Pipi lu,” koreksi Bisma. Tangannya yang bebas terangkat, ingin menyentuh pipi Sandra, tapi berhenti di udara. “Bekas tamparan Mama.” Tangan Sandra berhenti bergerak sejenak. Dia tidak mendongak. “Lumayan. Tangan Ibu lu... berat. Pantesan dia jadi Ratu,” jawab Sandra dengan tawa getir. “Tapi tangan lu lebih berat pas nonjok orang tadi.” “Gue minta maaf,” bisik Bisma. “Gue minta maaf keluarga gue bikin lu luka.” Sandra mendongak. Mata mereka bertemu. Jarak wajah mereka hanya sejengkal. “Bukan salah lu, Bis. Ini... resiko perang,” Sandra tersenyum tipis. Dia menempelkan plester terakhir. “Udah. Selesai.” Sandra mundur selangkah, masuk sepenuhnya ke Wilayah Keong. “Sana tidur. Muka lu jelek kalau kurang tidur.” Bisma tertawa kecil, melihat tangannya yang diperban rapi. “Lu juga. Mata lu kayak panda.” “Bodo amat.” Sandra mengambil barang-barangnya dan masuk ke kamar tamu. “San,” panggil Bisma sebelum pintu tertutup. Sandra menoleh. “Kunci pintunya,” ulang Bisma tegas. “Bukan karena gue bakal masuk. Tapi biar lu ngerasa aman. Di sini nggak ada Regina. Nggak ada Nadine. Cuma ada gue.” Sandra mengangguk. “Makasih, Bis. Buat... semuanya.” Pintu tertutup. Klik. Bisma menghela napas panjang di ruang tengah yang sunyi. Dia melihat garis lakban hitam di lantai. Garis yang memisahkan mereka, tapi anehnya... justru membuat mereka terasa lebih dekat.


Keesokan paginya. Sinar matahari menerobos masuk lewat dinding kaca, membangunkan Sandra. Dia menggeliat di kasur yang empuknya seperti awan. Dia keluar kamar dengan mata menyipit, masih mengenakan piyama beruangnya, rambutnya mekar seperti singa. Dia lupa kalau dia tidak sendirian. Sandra berjalan ke dapur (Wilayah Keong), berniat membuat kopi. Saat dia berbalik badan sambil memegang cangkir... “AAAAAA!” Sandra menjerit kaget. Di sofa (Wilayah Komodo), Bisma sedang duduk santai sambil minum kopi dan membaca berita di tablet. Masalahnya adalah... Bisma bertelanjang dada. Dia hanya memakai celana training abu-abu. Otot perut dan dadanya terpampang nyata, diterangi sinar matahari pagi. Rambutnya yang acak-acakan justru membuatnya terlihat sangat... berbahaya. Bisma menoleh kaget mendengar teriakan Sandra. Dia menatap Sandra dari ujung kaki ke ujung kepala. “Berisik, Keong! Pagi-pagi udah teriak kayak Tarzan!” omel Bisma. “Lu... lu pake baju kek!” teriak Sandra, menutup matanya dengan tangan, tapi mengintip sedikit dari celah jari. “Ini rumah gue! Suka-suka gue!” balas Bisma cuek. “Lagian ini Wilayah Komodo. Di wilayah gue, aturannya bebas. Kalau lu nggak suka liat, jangan nengok ke kanan.” “Gimana nggak nengok?! Lu segede gaban di situ!” “Bilang aja lu nikmatin pemandangan,” goda Bisma, menyeringai. Sandra berbalik membelakangi Bisma, wajahnya panas. “Dih! Pede! Badan kayak papan gilesan gitu!” Tiba-tiba, bel pintu berbunyi. Bisma dan Sandra saling pandang. Siapa yang datang pagi-pagi begini? Wartawan tidak bisa naik ke lantai ini. Bisma berdiri, menyambar kaos yang tergeletak di sofa dan memakainya dengan cepat. Dia berjalan ke monitor interkom. “Siapa?” bisik Sandra. “Asisten Mama,” jawab Bisma, wajahnya berubah tegang. “Mbak Yuni.” Bisma membuka pintu utama sedikit. Mbak Yuni berdiri di sana dengan wajah kaku, membawa amplop cokelat tebal. “Pagi, Den Bisma,” sapa wanita itu. “Ibu Regina titip ini.” “Apa ini?” tanya Bisma curiga. “Ibu pesan... fasilitas cleaning service, katering harian, dan pembayaran tagihan rutin Den Bisma mulai hari ini dihentikan. Ibu bilang, karena Den Bisma sudah memilih hidup mandiri dengan istri, silakan urus semuanya sendiri.” Rahang Bisma mengeras. “Bilang ke Mama, makasih,” kata Bisma dingin. Dia mengambil amplop itu dan membanting pintu. Bisma berjalan kembali ke ruang tengah, membuka amplop itu. Sandra mendekat perlahan. “Apa isinya?” tanya Sandra. Bisma menumpahkan isinya ke meja makan. Tagihan. Tumpukan tagihan. Tagihan listrik Penthouse, tagihan maintenance apartemen, tagihan asuransi mobil, tagihan kartu kredit... semuanya atas nama Bisma, tapi selama ini dibayar otomatis oleh manajemen keluarga. Totalnya... ratusan juta rupiah. Dan ada satu memo kecil dengan tulisan tangan Regina: “Selamat menempuh hidup baru yang mandiri, Sayang. Mama sudah bekukan akses auto-debet dan memblokir semua kontrak kerjamu dengan mitra perusahaan. Semoga cintamu cukup untuk membayar listrik. Love, Mama.” Bisma meremas kertas itu. Wajahnya pucat pasi. “Dia... dia beneran mutus aliran dana gue,” bisik Bisma. “Gue nggak punya cash sebanyak ini di rekening pribadi gue yang aktif. Sebagian besar duit gue diinvestasiin balik ke perusahaan.” “Jadi...” Sandra menelan ludah, menatap tagihan listrik yang angkanya bikin pusing. “Kita bangkrut?” “Secara teknis... kita kaya aset, tapi miskin tunai,” kata Bisma, menjatuhkan diri ke sofa. Dia mengusap wajahnya kasar. “Gue nggak bisa bayar ini semua bulan depan kalau kontrak gue nggak cair.” Sandra melihat keputusasaan di wajah Bisma. Pangeran yang kerajaannya baru saja digembok dari luar. Sandra melangkah. Dia melewati garis lakban hitam tanpa ragu. Dia masuk ke Wilayah Komodo. Dia duduk di samping Bisma. “Kita hemat,” kata Sandra tegas. Bisma menoleh. “Hah?” “Kita hemat. Kita cut semua pengeluaran nggak penting. Nggak ada lagi laundry mahal, gue yang nyuci. Nggak ada lagi delivery makanan bintang lima, gue yang masak. AC dimatiin kalau nggak dipake. Lampu yang nggak perlu dimatiin.” “San... gue nggak bisa minta lu jadi babu gue...” “Gue bukan babu. Gue partner survival lu,” potong Sandra. Dia mengambil tagihan-tagihan itu. “Mama lu mau liat kita hancur? Mau liat kita ngemis balik ke dia? Jangan harap.” Sandra menatap Bisma tajam. “Kita bakal bertahan, Bis. Pake cara gue. Cara anak kosan.” Bisma menatap wanita di depannya. Wanita yang memakai piyama beruang, rambut berantakan, tapi matanya menyala seperti pejuang. Di tengah ancaman kemiskinan mendadak ini, Bisma justru merasa... kaya. “Oke,” kata Bisma, senyum tipis muncul di bibirnya. “Cara anak kosan. Ajarin gue.” “Pelajaran pertama,” kata Sandra, berdiri dan berjalan ke arah saklar lampu kristal raksasa yang menyala di siang bolong. KLIK. Lampu mati. Ruangan jadi sedikit lebih redup, hanya diterangi sinar matahari. “Matiin lampu kalau matahari udah terbit, Tuan Muda,” kata Sandra sambil berkacak pinggang. Bisma tertawa. Tawa yang renyah di tengah kemelut. “Siap, Nyonya Besar.” Perang melawan Regina berlanjut. Tapi kali ini, medannya bukan karpet merah, melainkan tagihan listrik dan dapur. Dan garis lakban di lantai itu... sepertinya tidak akan bertahan lama.