“Sandra! Sini sebentar! Buruan! Darurat!” Teriakan Bisma yang panik menggema dari arah lorong kamar utama—wilayah Forbidden City yang seharusnya terlarang bagi Sandra. Sandra, yang sedang duduk bersila di karpet ruang tengah sambil menghitung sisa uang tunai recehan di dompetnya, menghela napas panjang. Dia melirik jam dinding digital yang angkanya berpendar merah. Pukul 07.00 pagi. Baru satu jam sejak mereka bangun, dan "Tuan Muda" ini sudah membuat keributan. “Apa lagi sih, Komodo? Ada kecoa lagi? Atau lu lupa cara pake sikat gigi?” sahut Sandra tanpa beranjak. “Bukan! Ini lebih parah! Masuk sini cepetan! Izin diplomatik gue kasih!” Mendengar nada suara Bisma yang benar-benar terdengar putus asa, Sandra akhirnya bangkit. Dia melangkah melewati garis lakban hitam, menyusuri lorong menuju kamar utama. Pintu yang biasanya tertutup rapat itu kini terbuka lebar. Sandra melongok ke dalam. Kamar Bisma luas, maskulin, dan berantakan. Tapi Bisma tidak ada di kasur. Suara gemericik air terdengar dari arah walk-in closet yang menyambung ke laundry room pribadi. Sandra masuk ke sana dan langsung disuguhi pemandangan yang membuatnya ingin tertawa sekaligus menangis. Bisma berdiri di depan mesin cuci canggih seharga motor sport itu dengan wajah pucat pasi. Lantai di sekitarnya banjir oleh busa sabun yang meluap-luap keluar dari pintu mesin cuci seperti lahar gunung berapi. Busa putih itu sudah mencapai mata kaki Bisma. “Lu... lu ngapain?” tanya Sandra, matanya membelalak. Bisma menoleh, wajahnya memelas. “Gue mau nyuci. Sesuai perintah lu. Gue nggak mau jadi beban. Tapi mesin sialan ini malah muntah!” Sandra memijat pelipisnya. “Lu pake sabun apa?” Bisma menunjuk botol besar di atas mesin. “Itu. Sabun cuci.” Sandra mengambil botol itu. Membacanya. Lalu menatap Bisma dengan tatapan tak percaya. “Bisma... ini sabun cuci piring,” kata Sandra datar. “Sunlight.” “Ya kan sama-sama sabun! Sama-sama buat bersihin kotoran! Emang bedanya apa?!” bela Bisma defensif, sambil berusaha menendang gumpalan busa agar kembali masuk ke mesin, usaha yang sia-sia. “Bedanya, sabun cuci piring busanya banyak, Bego! Mesin cuci bukaan depan itu harus pake deterjen khusus yang minim busa! Lu masukin berapa banyak?” “Se... setengah botol? Biar wangi lemon,” cicit Bisma. Sandra mengerang. “Minggir.” Sandra menerobos lautan busa, mematikan mesin, dan menekan tombol drain darurat. Dia menyingsingkan lengan piyamanya, mengambil kain pel dari sudut ruangan. “Ini alesan kenapa orang kaya nggak boleh dimiskinin mendadak,” gumam Sandra sambil mulai mengepel. “Bisa ngerusak ekosistem.” Bisma berdiri kaku di pojokan, basah dan penuh busa, memandangi Sandra yang cekatan membereskan kekacauannya. Rasa malu merayap di wajahnya. Dia ingin mandiri. Dia ingin membuktikan pada Sandra—dan pada ibunya—bahwa dia bisa bertahan hidup tanpa pelayan. Tapi menyalakan mesin cuci saja dia gagal total. “Maaf,” gumam Bisma pelan. Sandra berhenti mengepel. Dia menatap Bisma. Pria itu terlihat seperti anak anjing yang baru saja dimarahi karena buang air sembarangan. Hati Sandra melunak. “Udah, nggak apa-apa,” kata Sandra, melempar kain pel kering ke arah Bisma. “Sekarang bantuin gue ngeringin lantenya. Abis ini, gue ajarin cara nyuci yang bener. Anggep aja ini workshop kehidupan.” Bisma menangkap kain pel itu. “Siap, Bu Guru.” Mereka menghabiskan satu jam berikutnya bergotong royong membersihkan banjir busa. Terpeleset, saling menertawakan kemeja Bisma yang kini berbau lemon menyengat, dan tanpa sadar... garis batas antara "Tuan dan Nyonya" semakin kabur di antara tumpukan busa sabun.
Siang harinya, tantangan kedua muncul: Kelaparan. Isi kulkas sudah diisi oleh Doni kemarin, tapi masalahnya adalah mengolahnya. Sandra memang bisa memasak, tapi stok bahan makanan yang dibeli Doni sangat terbatas pada karbohidrat instan. “Kita butuh sayur. Kita butuh protein yang bukan telor,” kata Sandra, menatap isi kulkas. “Duit sisa belanja kemarin masih ada 50 ribu.” “Gue mau daging,” rengek Bisma yang sedang duduk di meja makan, perutnya berbunyi. “Otot gue menyusut nih kalau makan mi instan terus.” “Daging 50 ribu dapetnya daging tikus, Bis,” kata Sandra sadis. “Kita ke pasar.” “Pasar?!” Bisma melotot. “Gue? Ke pasar becek? Muka gue ada di setiap baliho Jakarta, San! Kalau gue ke pasar, bisa terjadi kerusuhan massa!” “Makanya kita nyamar,” kata Sandra. Dia berjalan ke kamar Bisma (lagi-lagi melanggar batas wilayah tanpa protes dari pemiliknya), membongkar lemari pakaian Bisma. Sepuluh menit kemudian, transformasi selesai. Bisma mengenakan topi bucket lusuh (milik Sandra), kacamata hitam murahan, masker medis, dan jaket hoodie yang resletingnya dinaikkan sampai leher. Celananya diganti dengan celana pendek kolor yang biasa dia pakai tidur. Sandra mengenakan daster batik, masker, dan rambut dicepol asal. “Kita kelihatan kayak buronan narkoba,” komentar Bisma, melihat pantulan mereka di cermin foyer. “Bagus. Artinya nggak ada yang ngenalin. Ayo berangkat. Kita jalan kaki ke pasar tradisional di belakang komplek apartemen.” Perjalanan ke pasar adalah petualangan tersendiri. Bisma berjalan dengan kaku, paranoid setiap kali ada orang yang menatapnya. Dia menggenggam tangan Sandra erat-erat, seolah Sandra adalah bodyguard-nya. “Santai aja, Komodo. Jalan lu kayak robot,” bisik Sandra. Sampai di pasar, bau amis ikan, daging mentah, dan sayuran busuk menyerbu indra penciuman Bisma yang terbiasa dengan aromaterapi. Dia menahan napas. “Cari ayam,” perintah Sandra. Mereka berhenti di lapak ayam potong. “Ayam sekilo berapa, Bang?” tanya Sandra. “35 ribu, Neng.” “Mahal amat! 28 ribu ya? Kan udah siang,” tawar Sandra sadis. Bisma melongo. Dia belum pernah melihat orang menawar harga makanan. Baginya, harga adalah angka yang tertera di menu, titik. “Waduh, belum dapet, Neng. 32 deh.” “30. Kalau nggak mau saya ke lapak sebelah. Tuh, ayam sebelah lebih montok,” ancam Sandra, pura-pura hendak pergi. “Iya, iya! 30! Galak amat si Eneng,” tukang ayam menyerah, membungkus ayam itu. Bisma menatap Sandra dengan tatapan memuja. “Gila. Lu keren banget. Lu baru aja ngehemat 5 ribu perak dengan modal ngomel.” “Itu namanya skill survival, Tuan Muda. 5 ribu itu bisa buat beli tempe,” kata Sandra bangga, menerima bungkusan ayam. Saat mereka berjalan pulang, menenteng kantong kresek hitam berisi ayam, tempe, kangkung, dan cabai, Bisma merasa aneh. Tangannya yang satu membawa kresek, tangan yang lain menggenggam tangan Sandra yang berkeringat. Tidak ada kamera. Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada kemewahan. Tapi rasanya... nyata. “Berat nggak?” tanya Bisma, mengambil alih kantong belanjaan dari tangan Sandra. “Lumayan. Makasih.” “Nanti malem masak apa?” “Ayam kecap. Sama tumis kangkung. Kesukaan gue. Lu doyan nggak?” “Kalau lu yang masak, gue doyan. Racun tikus juga gue makan,” gombal Bisma. Sandra tertawa, menyikut pinggang Bisma. “Gombal lu bau pasar.” Mereka tertawa bersama di trotoar yang panas, di bawah langit Jakarta yang polusi, melangkah pulang ke istana mereka yang sedang krisis.
Malam harinya, suasana di penthouse berubah menjadi romantis secara tidak sengaja. Sandra sedang menumis bumbu di dapur. Aroma harum masakan memenuhi ruangan. Bisma sedang menata piring di meja makan (setelah diancam Sandra untuk berkontribusi). Tiba-tiba... PET! Semua lampu mati. Kegelapan total menyelimuti penthouse. Mesin penyedot asap di dapur mati. Suara dengungan kulkas berhenti. “AAAH!” Sandra menjerit kaget. “San?!” Bisma meraba-raba dalam gelap. “Jangan gerak! Gue cari HP!” Bisma menyalakan senter ponselnya. Cahaya putih menyorot wajah Sandra yang memegang spatula dengan waspada. “Kenapa mati? Konslet lagi?” tanya Sandra. Bisma mengecek panel listrik. Semua saklar dalam posisi ON. “Nggak anjlok,” kata Bisma. Wajahnya berubah muram. “Ini bukan konslet.” Dia berjalan ke jendela, melihat gedung apartemen tetangga. Lampu mereka menyala terang. Hanya unit penthouse ini yang gelap gulita. “Listriknya diputus,” kata Bisma pelan, suaranya berat. “Mama beneran nggak main-main. Tagihan listrik yang kemarin... jatuh temponya hari ini.” Sandra terdiam. Tanpa listrik di lantai 50, berarti tanpa AC. Tanpa air panas. Tanpa kompor listrik (untungnya kompor mereka gas, tapi pemantiknya butuh listrik). Tanpa lift pribadi (meski ada genset darurat untuk lift, biasanya dibatasi). Mereka benar-benar terisolasi dalam kegelapan. “Ya udah,” kata Sandra, memecah kesunyian yang menyedihkan itu. “Untung masakan gue udah mateng. Kita makan gelap-gelapan aja.” “San, panas banget nanti...” “Kita buka jendela. Angin di lantai 50 kenceng kok.” Sandra mengambil beberapa lilin aromaterapi mahal milik Bisma yang selama ini cuma jadi pajangan. Dia menyalakannya dan menaruhnya di meja makan. Cahaya lilin yang temaram menciptakan suasana yang... intim. Mereka duduk berhadapan. Bayangan api lilin menari-nari di wajah mereka. Di atas meja, tersaji ayam kecap, nasi putih hangat, dan tempe goreng. Makanan sederhana yang dimasak dengan perjuangan. Bisma menatap Sandra. Wanita itu berkeringat karena AC mati, rambutnya diikat asal, wajahnya tanpa makeup. Tapi di bawah cahaya lilin, dia terlihat begitu cantik. Dan kuat. “Maafin gue,” kata Bisma, suaranya parau. “Gue bawa lu ke sini buat ngelindungin lu, tapi gue malah bikin lu hidup susah. Gelap-gelapan, kepanasan...” Sandra tersenyum, menyendokkan ayam ke piring Bisma. “Makan, Bis. Jangan melow.” “Gue serius, San. Lu nggak pantes dapet ini. Lu pantes dapet cowok yang bisa beliin lu sate tanpa mikir harga, yang rumahnya nggak diputus listriknya sama ibunya sendiri.” Sandra meletakkan sendoknya. Dia menatap mata Bisma di seberang lilin. “Lu tau nggak, Bis? Dulu, waktu Ayah gue dipecat... rumah kami juga pernah diputus listriknya. Berminggu-minggu.” Bisma terdiam, mendengarkan. “Waktu itu gue marah. Gue malu. Gue benci sama keadaan,” lanjut Sandra. “Tapi Ibu gue... dia malah ngajak kami main bayangan tangan pake lilin. Dia bilang, 'Gelap itu cuma sementara. Asal kita pegangan tangan, kita nggak bakal kesasar.'” Sandra mengulurkan tangannya di atas meja, melewati piring nasi. “Sekarang gue nggak sama Ibu gue. Tapi gue sama lu. Dan anehnya... gue nggak takut gelap.” Bisma menatap tangan Sandra. Tangan yang kasar karena kerja keras, tapi selalu terbuka untuknya. Bisma menyambut tangan itu. Menggenggamnya erat. “Gue janji, San,” bisik Bisma. “Gue bakal balikin lampu di hidup lu. Gue bakal kerja keras. Gue bakal lawan Mama. Gue bakal bikin lu bahagia.” “Gue udah bahagia, Komodo,” jawab Sandra lembut. “Makanannya enak, lilinnya wangi, dan di depan gue ada cowok ganteng yang lagi belajar jadi dewasa. Apa lagi yang kurang?” Bisma tersenyum, air mata haru menggenang di sudut matanya. Dia mengangkat tangan Sandra, mencium punggung tangannya lama. “Selamat makan, Istriku.” “Selamat makan, Suamiku.” Malam itu, mereka makan dalam kegelapan yang diterangi cinta yang mulai tumbuh semakin kuat. Tanpa lakban pembatas. Tanpa kepalsuan. Di luar sana, Regina mungkin berpikir dia telah memenangkan pertempuran dengan mematikan listrik. Dia tidak tahu, dia justru baru saja menyalakan api yang tak akan bisa dia padamkan di antara mereka berdua.
Namun, kedamaian malam itu tidak berlangsung selamanya. Pukul 02.00 dini hari. Udara di dalam penthouse semakin panas dan pengap karena ventilasi mati. Sandra terbangun dengan napas tersengal. Dia bermimpi buruk lagi. Mimpi tentang dua preman yang membekapnya di parkiran studio. “Tolong... jangan...” racau Sandra. Dia duduk di tempat tidur, keringat dingin membasahi tubuhnya. Kamar tamu itu gelap gulita dan terasa seperti peti mati. Sandra panik. Dia butuh udara. Dia butuh cahaya. Dia meraba-raba pintu, berlari keluar kamar. Dia menabrak sesuatu yang keras di ruang tengah. “San?” Suara Bisma. Bisma sedang duduk di sofa, bertelanjang dada, mengipas-ngipas dirinya dengan majalah. Dia juga tidak bisa tidur karena panas. Sandra tidak menjawab. Dia langsung menghambur ke arah suara itu, menubruk tubuh Bisma. Dia memeluk Bisma erat-erat, gemetar. “Gelap... gue takut... mereka dateng lagi...” isak Sandra. Bisma langsung sadar. Trauma Sandra kambuh. Dia memeluk Sandra balik, mendekap kepala wanita itu ke dadanya yang berkeringat. “Sshh... nggak ada siapa-siapa. Cuma gue. Cuma Komodo,” bisik Bisma menenangkan. “Lu aman. Gue kuncinya gue pegang. Nggak ada yang bisa masuk.” Bisma merasakan detak jantung Sandra yang cepat menempel di kulitnya. Dia mengusap punggung Sandra yang basah oleh keringat. “Panas banget ya?” tanya Bisma lembut. Sandra mengangguk di dada Bisma. “Ayo ke balkon,” ajak Bisma. Bisma membimbing Sandra berjalan ke balkon luar. Dia membuka pintu kaca geser. Angin malam Jakarta di lantai 50 menerpa mereka. Dingin. Segar. Sandra menarik napas panjang, mengisi paru-parunya dengan oksigen. Mereka berdiri di pinggir balkon, melihat lampu-lampu kota di bawah. “Liat,” kata Bisma, menunjuk ke bawah. “Dunia masih nyala. Kita cuma lagi break sebentar.” Sandra menyandarkan kepalanya di bahu Bisma. “Jangan tinggalin gue, Bis.” “Nggak akan. Sampai listrik nyala lagi, sampai kiamat, gue di sini.” Bisma melingkarkan lengannya di pinggang Sandra. Mereka berdiri berpelukan di bawah sinar bulan, menikmati angin malam yang menjadi satu-satunya AC alami mereka. Di tengah kesulitan itu, di antara keringat dan kegelapan, Sandra menyadari satu hal: Dia tidak lagi ingin lari. Dia ingin bertahan. Di sini. Di samping Komodo-nya.