Si Cantik Penembus Tirai Goib

Penulis amelmeila
15 January 2026

Bab 6: Menjadi Nava

Hari pertama masuk SMP terasa seperti berdiri di antara dua dunia yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, seragam putih biru yang baru disetrika rapi menempel di tubuh Nava dengan bau kain yang masih kaku dan asing. Di sisi lain, jiwanya masih membawa sisa-sisa masa lalu yang belum sepenuhnya luruh.

Duka, rasa bersalah, bayangan kematian, serta pengalaman yang tak mungkin diceritakan kepada siapa pun, semua berjejal di dalam dadanya.

Ia berdiri di depan cermin kamar cukup lama sebelum berangkat. Rambutnya diikat sederhana. Wajahnya masih sama, namun sorot matanya berbeda. Ada sesuatu yang berubah sejak kematian Kakek Jojo. Bukan sekadar kehilangan orang tercinta, melainkan kehilangan kepolosan. Kehilangan rasa aman bahwa dunia ini hanya berisi manusia.

Di atas meja belajarnya, kartu nama siswa sudah diletakkan sejak semalam. Ia menatap tulisan itu pelan. Amanda Nava Sari. Nama itu terasa asing namun sekaligus menenangkan. Mila Sari kini hanya tinggal gema yang samar, seperti suara yang datang dari lorong panjang dan tak ingin ia masuki lagi.

Ketika Mama Tatik memanggil dari dapur, Nava menjawab dengan suara yang lebih mantap dari biasanya. Ia mencium tangan ibunya sebelum melangkah keluar rumah. Di halaman, ia sempat berhenti sejenak, menatap tanah yang dulu pernah retak dan menyimpan tumbal.

Tanah itu kini tampak biasa saja, ditumbuhi rumput liar yang mulai tumbuh kembali. Namun bagi Nava, tanah itu tidak pernah benar-benar kosong. Ia hanya diam, menunduk sebentar, lalu melangkah pergi.

Sekolah itu besar, jauh lebih besar dari sekolah dasarnya dulu. Bangunannya tua, dindingnya menyimpan warna kusam yang tak mampu disembunyikan cat baru. Di bawah sinar matahari pagi, halaman sekolah tampak biasa saja bagi kebanyakan siswa. Tapi tidak bagi Nava.

Begitu kakinya melangkah melewati gerbang, hawa dingin merambat perlahan dari telapak kaki ke betisnya. Bukan dingin yang menusuk, melainkan dingin yang terasa seperti peringatan. Ia menahan napas, lalu menghembuskannya perlahan.

Mayang Sari berjalan di sampingnya. Wujudnya lebih samar dibandingkan biasanya, seolah menyesuaikan diri dengan keramaian dunia manusia.

“Tempat ini menyimpan banyak lapisan,” bisik Sari pelan. “Bukan semuanya gelap, tapi tak semuanya selesai.” Nava mengangguk tanpa menoleh. Ia sudah belajar berbicara tanpa suara. Ia melangkah mengikuti arus siswa lain, menuruti petunjuk guru piket, berusaha menampilkan wajah biasa. Namun batinnya siaga penuh.

Di beberapa sudut sekolah, ia merasakan tekanan yang berbeda. Tangga menuju lantai dua terasa lebih berat dari seharusnya. Lorong belakang aula menyimpan hawa lembap yang aneh meski cuaca cerah. Ada bangku tua di bawah pohon besar yang membuat dadanya sesak setiap kali ia melintas.

Namun Nava tidak berhenti. Ia tidak menoleh. Ia memilih untuk berjalan terus. Di kelas, ia duduk di bangku tengah. Posisi yang ia pilih dengan sengaja. Tidak terlalu depan, tidak terlalu belakang. Ia ingin cukup dekat untuk mendengar, cukup jauh untuk tidak diperhatikan. Saat guru wali kelas memanggil satu per satu nama murid, Nava menunggu dengan perasaan campur aduk.

“Amanda Nava Sari.” Suara itu terdengar jelas. Nava mengangkat tangan. “Hadir, Bu.”

Saat nama itu keluar dari mulut orang lain untuk pertama kalinya, ada sesuatu yang bergeser di dalam dadanya. Seperti pintu kecil yang terbuka, membiarkan udara segar masuk. Tidak ada rasa sesak seperti dulu ketika nama Mila dipanggil. Tidak ada tekanan yang membuat napasnya pendek. Nama Nava terasa lebih ringan, seolah selaras dengan denyut nadinya.

Namun dunia lain tak mengenal administrasi. Mereka tidak peduli pada perubahan nama di atas kertas. Beberapa hari pertama berlalu tanpa kejadian besar. Nava menjalani rutinitas sekolah seperti siswa lainnya. Mendengarkan pelajaran, mencatat, mengerjakan tugas. Ia tertawa secukupnya ketika teman-temannya bercanda, berbicara seperlunya saat diajak bicara. Ia belajar meniru cara manusia hidup tanpa beban yang tak kasat mata.

Setiap kali pandangannya menangkap sesuatu yang tak seharusnya dilihat, ia memalingkan mata. Setiap kali bisikan samar menyentuh telinganya, ia menarik napas dan menutup diri. Tidak semua harus disambut. Tidak semua harus dijawab.

“Aku tidak ingin dikuasai,” katanya suatu malam kepada Sari, saat mereka duduk di tepi ranjang. “Kau belajar dengan cepat,” jawab Sari lembut. “Menjadi penembus tirai bukan soal seberapa banyak yang kau lihat. Tapi seberapa kuat kau menahan diri.”

Namun ujian tidak pernah datang dengan pengumuman. Ia selalu muncul di saat yang paling tak terduga. Siang itu, suasana sekolah mendadak ricuh. Seorang siswi menangis histeris di kelas kosong dekat perpustakaan. Tangisnya melengking, memecah keheningan jam istirahat. Beberapa siswa berdiri di ambang pintu, bingung dan ketakutan. Guru-guru datang tergesa, mencoba menenangkan, namun anak itu hanya gemetar, matanya terbelalak, jarinya menunjuk ke sudut ruangan.

Nava berdiri beberapa langkah dari pintu. Jantungnya berdegup keras. Ia tidak perlu masuk untuk tahu apa yang dilihat anak itu.

Di sudut ruangan, duduk seorang perempuan berambut panjang, wajahnya tertutup rambut kusut. Tubuhnya meringkuk, tangannya memeluk lutut. Tidak ada aura kejahatan. Tidak ada niat menyakiti. Hanya kesedihan yang menempel begitu tebal, seperti kabut yang enggan pergi.

Perempuan itu menoleh perlahan. Rambutnya bergeser, memperlihatkan mata kosong yang penuh tanya. Tatapannya hampir bertemu dengan mata Nava. Sari langsung menggenggam pergelangan tangan Nava.

“Jangan,” bisiknya tegas. “Kalau kau melangkah masuk, ia akan mengenalimu.” Nava menelan ludah. Tubuhnya gemetar, bukan karena takut, melainkan karena dorongan untuk membantu. Namun ia teringat kata-kata Mbah Simo. Semakin terang cahayanya, semakin banyak yang ingin memadamkan.

Ia memejamkan mata. Untuk pertama kalinya, ia menutup mata batinnya dengan sengaja. Ia menarik napas panjang, menahan, lalu menghembuskannya perlahan. Ia membayangkan tirai tipis yang menutup pandangannya, memisahkannya dari dunia itu.

Saat ia membuka mata, perempuan itu memudar. Tangisan di dalam kelas berangsur reda. Guru membawa siswi itu keluar, sementara kerumunan mulai bubar.

Nava melangkah pergi tanpa menoleh lagi. Di dadanya, ada rasa aneh yang bercampur antara lega dan perih. Ia tahu, ia baru saja menang. Kemenangan kecil yang tak terlihat, tapi sangat berarti. Di rumah, Mama Tatik memperhatikan perubahan itu. Nava lebih jarang mengeluh sakit. Wajahnya lebih tenang, meski matanya menyimpan kedalaman yang sulit dijelaskan.

“Kamu kelihatan lebih dewasa,” kata ibunya suatu sore. Nava tersenyum kecil. “Aku belajar memilih, Ma.”

Namun di balik ketenangan yang ia bangun dengan susah payah, ada satu perasaan yang terus menghantuinya. Kesepian. Ia dikelilingi teman, suara, tawa, namun tak satu pun yang benar-benar bisa ia ajak berbagi. Tak ada yang akan mengerti jika ia bercerita tentang bayangan, bisikan, dan dunia yang hidup berdampingan dengan dunia manusia.

Hanya Sari yang selalu ada. “Kesepian itu bagian dari jalanmu,” kata Sari suatu malam. “Tapi bukan berarti kau akan selalu sendiri.” Nava menatapnya lama. “Aku takut suatu hari aku harus memilih.” Sari tersenyum, namun ada kesedihan di matanya. “Pilihan itu akan datang. Dan kau akan tahu kapan waktunya.”

Malam itu, mimpi kembali mendatanginya. Nava berjalan di sebuah padepokan tua yang sunyi. Udara di sana bersih, penuh wibawa. Orang-orang duduk bersila dalam diam, napas mereka teratur, gerakan mereka selaras dengan alam. Di tengah padepokan, seorang lelaki tua berdiri menunggunya. Tatapannya tajam, namun penuh penerimaan.

“Kau sudah melangkah jauh,” ucapnya tanpa suara. Nava terbangun dengan jantung berdebar. Ada panas aneh di dadanya, bukan sakit, melainkan getaran yang hidup. Sejak malam itu, setiap kali namanya dipanggil, dunia seolah berhenti sejenak. Angin menahan embusannya. Bayangan menoleh. Sesuatu di balik tirai mulai bergerak.

Jauh dari sana, seorang lelaki tua membuka mata dari semedi panjangnya. “Dia sudah memilih,” bisiknya.

Dan Nava belum tahu bahwa sejak saat itu, hidupnya tak lagi berjalan lurus. Jalan di depannya bercabang, menuju cahaya, bahaya, dan kebenaran yang tak bisa dihindari.