Si Cantik Penembus Tirai Goib

Penulis amelmeila
16 January 2026

Bab 7 Luka yang Menguatkan

Masa lalu tak pernah benar-benar pergi. Ia tidak berteriak, tidak pula mengetuk pintu dengan kasar. Ia hanya muncul begitu saja, seperti bayangan tipis yang menyelinap di sela-sela cahaya. Kadang samar, nyaris tak terasa. Kadang hadir begitu tajam, menusuk tepat di dada, membuat napas tertahan tanpa sempat bersiap.

Bagi Nava, kenangan adalah ruang sunyi yang selalu ia bawa ke mana pun ia melangkah. Ia bisa menutup mata, menarik napas panjang, dan tersenyum di hadapan orang lain. Namun di dalam dirinya, ada bagian yang tak pernah benar-benar sembuh. Terutama satu masa yang paling ingin ia lupakan, sekaligus paling membentuk dirinya menjadi seperti sekarang. Masa itu adalah kelas tiga SD.

Hari itu sebenarnya biasa saja. Terlalu biasa, hingga tak ada yang menduga akan menjadi awal dari luka panjang yang menetap di hati seorang anak kecil. Matahari masuk melalui jendela kelas dengan cahaya pucat. Papan tulis masih bersih, kapur belum digoreskan. Beberapa bangku kosong karena guru belum datang. Suasana lengang, hanya diisi suara angin dan bisikan anak-anak yang belum sepenuhnya sadar bahwa hari sekolah baru saja dimulai.

Mila duduk di bangku paling belakang. Tubuhnya kecil, rambutnya dikepang dua, wajahnya menunduk seolah sedang mendengarkan sesuatu yang orang lain tak bisa dengar. Bibirnya bergerak pelan, hampir tak terdengar.

“Sari, jangan ke situ… nanti mereka lihat,” bisiknya lembut.

Tak ada siapa pun di sebelahnya. Bangku itu kosong. Namun bagi Mila, ruang kosong itu penuh. Ada kehadiran yang begitu nyata, begitu dekat, hingga ia tak merasa aneh sama sekali berbicara dengannya. Ia lupa satu hal penting yang belum ia pahami sepenuhnya saat itu. Dunia manusia tak pernah siap menerima apa yang tak kasat mata. Mereka hanya percaya pada apa yang bisa disentuh dan dilihat. Segala sesuatu di luar itu akan dianggap kesalahan, kegilaan, atau ancaman.

Erwin dan Arif berdiri di ambang pintu kelas. Mereka baru datang, tas masih tergantung di satu bahu. Langkah mereka terhenti bersamaan. Mata mereka tertuju pada Mila yang sedang berbicara sendiri, menoleh, tersenyum, lalu tertawa kecil pada ruang kosong di sampingnya.

Untuk beberapa detik, mereka hanya diam. Lalu tawa pecah, keras dan tanpa rasa bersalah.

“Kamu kesurupan, ya?” tanya Erwin sambil tertawa mengejek. Arif ikut menimpali, “Ngapain ngomong sendiri? Ada setannya?”

Mila menoleh cepat. Senyumnya lenyap. Wajahnya memucat. Ia ingin menjelaskan, ingin berkata bahwa ia tidak sendirian, bahwa ada Sari di sana, bahwa yang ia lihat bukanlah sesuatu yang menakutkan. Namun kata-kata itu terjebak di tenggorokannya. Ia tahu, meski belum sepenuhnya mengerti, bahwa apa pun yang ia katakan tak akan dipercaya.

Sejak hari itu, semuanya berubah.

Kabar menyebar lebih cepat daripada langkah kaki anak-anak di lorong sekolah. Dari satu mulut ke mulut lain, cerita itu berkembang, membesar, berubah bentuk. Mila yang awalnya hanya dianggap aneh, perlahan dicap kerasukan. Ada yang bilang ia sering berbicara dengan makhluk halus. Ada yang mengatakan ia berbahaya. Ada pula yang menakut-nakuti anak lain agar menjauhinya.

Mila dijauhi. Lebih buruk lagi, ia dijadikan sasaran.

Nanda dan gengnya menemukan hiburan baru. Setiap hari ada ejekan. Dorongan kecil yang sengaja dibuat seolah tak sengaja. Tawa keras setiap kali Mila lewat. Sepatu yang disembunyikan. Buku yang dipindahkan. Bisikan yang disengaja cukup keras agar terdengar.

“Jangan dekat-dekat, nanti ikut kesurupan,” kata mereka pada anak lain. “Awas, nanti kamu ketempelan.”

Dan Mila hanya diam.

Bukan karena ia lemah. Melainkan karena ia sudah terlalu lelah menjelaskan sesuatu yang tak akan pernah dipahami.

Ia belajar menunduk. Belajar menelan air mata sebelum jatuh. Belajar duduk sendiri saat istirahat. Belajar pulang dengan langkah cepat agar ejekan tak sempat menyusul. Setiap hari, ia merasa semakin kecil, seolah keberadaannya perlahan terhapus dari dunia yang seharusnya melindungi anak-anak.

Namun di balik semua itu, ada satu hal yang terus tumbuh tanpa disadari. Ketahanan. Luka demi luka membentuk lapisan pelindung di dalam dirinya. Ia mungkin menangis di malam hari, namun setiap pagi ia tetap bangun dan pergi ke sekolah. Ia mungkin gemetar saat namanya disebut dengan nada mengejek, namun ia tak pernah benar-benar lari.

Kenangan itu kembali begitu saja, seperti kilasan cahaya yang menyambar, saat Nava duduk di pinggir lapangan SMP. Angin sore menyapu wajahnya. Seragam olahraganya sedikit basah oleh keringat. Di hadapannya, latihan pencak silat baru saja dimulai. Tubuh-tubuh bergerak serempak. Kuda-kuda ditanamkan kuat ke tanah. Teriakan pendek memecah udara.

Nava menatap lurus. Di dadanya, ada sesuatu yang bergetar pelan.

“Aku tak ingin diinjak lagi,” batinnya.

Bukan untuk balas dendam. Bukan untuk pamer kekuatan. Ia hanya ingin punya pagar.

Ia ingin ruang di mana dirinya aman. Tempat di mana ia bisa berdiri tanpa harus terus-menerus bersiap diserang. Luka masa lalu telah mengajarkannya satu hal penting. Dunia tak selalu ramah. Dan berharap semua orang mengerti hanyalah cara lain untuk terluka lebih dalam.

Di SMP, perundungan tak benar-benar berhenti. Ia hanya berubah wujud. Tak lagi terang-terangan seperti di masa kecil. Kini lebih halus, lebih licik, namun tetap menyakitkan.

Ada Lilin dan gengnya, kakak kelas yang senang mengintimidasi. Tatapan mereka tajam, langkah mereka sengaja menghalangi. Ada Narnik dan gengnya yang suka mengancam dengan senyum palsu. Kata-kata mereka terdengar seperti candaan, namun sarat makna.

Mereka tak perlu alasan. Nava berbeda, dan itu sudah cukup.

Setiap hari, tatapan sinis menyambutnya. Bisikan menyusul di lorong. Kadang ancaman kecil dilemparkan begitu saja, seolah hanya angin lalu.

“Kalau ada yang dekat sama kamu, ikut kena.”

Akibatnya, bangku di sebelah Nava selalu kosong. Tak ada yang berani duduk terlalu lama. Bukan karena Nava menakutkan, melainkan karena orang-orang takut ikut terseret.

Namun yang mereka tak tahu, Nava bukan anak biasa.

Ia sudah berteman dengan ketakutan sejak kecil. Dibanding makhluk yang mengejarnya dalam mimpi, yang berdiri di sudut gelap kamar, yang berbisik di antara sadar dan tidur, ejekan manusia terasa kecil. Menyakitkan, ya. Namun tidak melumpuhkan.

Suatu siang, saat matahari tepat di atas kepala dan lapangan sekolah terasa lengang, Sari duduk di sampingnya. Tak terlihat oleh siapa pun selain Nava. Rambutnya tergerai, wajahnya teduh seperti biasa.

“Biarkan,” kata Nava pelan, menatap ke depan. “Aku tidak hidup untuk diterima semua orang.”

Sari tersenyum. Senyum yang tak pernah mengejek, tak pernah mengasihani. “Luka membuatmu tahu batas,” katanya lembut. “Dan batas membuatmu kuat.”

Kata-kata itu menempel di hati Nava. Ia mengulanginya dalam diam, seperti mantra yang menenangkan.

Latihan pencak silat perlahan menjadi ruang aman baginya. Di sana, tubuh dan batinnya bertemu. Setiap gerakan mengajarkannya keseimbangan. Setiap napas mengajarkannya kendali. Saat ia menjejakkan kaki ke tanah, ia belajar tentang pijakan. Saat ia mengayunkan tangan, ia belajar tentang arah.

Gerakan demi gerakan membuat napasnya teratur. Pikirannya jernih. Aura di sekitarnya stabil, tenang, seolah membentuk lingkar pelindung yang tak kasat mata. Guru silat itu memperhatikannya dari jauh. Bukan karena gerakannya paling kuat. Bukan pula karena tendangannya paling tinggi. Melainkan karena ketenangannya.

Nava tak pernah menantang. Tak pernah memancing konflik. Ia datang, berlatih, pulang.

Namun entah kenapa, perlahan gangguan berkurang. Bukan karena para pembuli takut. Melainkan karena mereka tak lagi menemukan celah. Tak ada reaksi berlebihan. Tak ada ketakutan yang bisa dipelintir. Nava sudah berdiri tegak, meski sendirian.

Suatu sore, langit mulai berwarna jingga ketika Nava berjalan pulang. Tasnya tergantung di bahu, langkahnya mantap. Di persimpangan kecil dekat pagar sekolah, Lilin berdiri menghadangnya. Senyumnya miring, matanya menyipit menilai.

“Kamu nggak takut sendirian?” tanyanya sinis.

Nava berhenti. Ia menatap Lilin dengan tenang. Tak ada amarah. Tak ada tantangan. Hanya ketenangan yang membuat suasana sejenak hening.

“Aku sudah lama sendirian,” jawabnya datar. “Dan aku baik-baik saja.”

Untuk sesaat, Lilin terdiam. Bukan oleh kata-kata itu sendiri. Melainkan oleh tatapan Nava. Tatapan yang terlalu dalam untuk anak seusia mereka. Tatapan yang seolah berkata tanpa suara, aku sudah melewati neraka yang tak bisa kau bayangkan.

Lilin mendengus pelan, lalu melangkah pergi tanpa berkata apa pun. Sejak hari itu, ia tak lagi mengganggu Nava secara langsung.

Malam turun perlahan. Di kamar Nava, lampu temaram menyinari dinding. Angin malam menyusup melalui jendela yang sedikit terbuka. Sari berdiri di dekat jendela, menatap ke luar seolah mendengarkan sesuatu yang jauh.

“Kamu kuat,” katanya pelan.

Nava duduk di ranjang, memeluk lutut. “Bukan karena kemampuanmu,” lanjut Sari. “Tapi karena kamu memilih untuk tetap lembut.”

Nava memejamkan mata. Ia tahu jalan hidupnya tak akan pernah mudah. Ia tahu tirai goib yang ia lewati akan semakin tebal, semakin gelap. Namun selama ia bisa berdiri tanpa membenci dunia, selama ia bisa melangkah tanpa kehilangan dirinya sendiri, ia percaya, ia akan baik-baik saja.

Dan tirai goib itu akan terus ia lewati dengan kepala tegak.

Sejak malam itu, ada hal-hal kecil yang mulai berubah. Setiap kali namanya dipanggil, bukan hanya angin yang berhenti berembus. Ada jeda yang aneh. Seolah dunia menarik napasnya sendiri, menunggu reaksinya.

Di balik jeda itu, sesuatu mulai bergerak. Sesuatu yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Bukan bayangan yang familiar. Bukan pula suara lembut Mayang Sari. Ada getaran lain, lebih tua, lebih dalam.

Ia mendengar namanya disebut dengan cara yang bukan manusia dan bukan pula Mayang Sari.

Di saat yang sama, jauh dari sekolah dan rumahnya, di tempat yang tak terjangkau oleh peta biasa, seorang lelaki tua membuka mata dari semedi panjang. Napasnya berat, namun sorot matanya jernih. Ia menatap ke depan, seolah melihat sesuatu yang melintasi ruang dan waktu.

“Dia sudah memilih,” bisiknya pelan.

Dan Nava belum tahu bahwa sejak saat itu, langkahnya tak lagi bisa ditarik kembali. Luka yang pernah melemahkannya kini telah berubah menjadi akar. Dan akar itu mulai menembus batas dunia.