Si Cantik Penembus Tirai Goib

Penulis amelmeila
16 January 2026

Bab 9 Iri yang Menjadi Duri

Perundungan itu tak pernah benar-benar tentang kesalahan. Nava menyadarinya perlahan, bukan dalam satu kejadian besar, melainkan dari serpihan-serpihan kecil yang berulang setiap hari. Tatapan yang terlalu lama. Bisikan yang sengaja dipelankan tapi tetap ingin terdengar. Senyum miring yang muncul saat ia lewat. Semua itu membentuk pola, dan pola itu akhirnya menunjukkan wajah aslinya.

Awalnya Nava mengira Lilin dan gengnya, juga Narnik dan gengnya, hanya mencari sasaran empuk. Anak pendiam, penyendiri, berbeda, itu sudah cukup untuk dijadikan bahan permainan. Dunia sekolah memang sering kejam pada mereka yang tak pandai berbaur. Namun lama-kelamaan, Nava mulai menangkap sesuatu yang lain, sesuatu yang lebih pahit, lebih tajam.

Di lorong sekolah yang panjang dan sempit, di antara derap langkah siswa dan suara loker dibuka-tutup, bisikan-bisikan itu sampai ke telinganya.

“Pantes sok kuat…”

“Pernah pacaran sama Riski.”

“Dan Kiki juga…”

Nama-nama itu bergaung di kepala Nava seperti gema dari masa lalu yang tak pernah ia panggil kembali. Riski dan Kiki. Dua nama yang dulu pernah mengisi ruang kecil dalam hidupnya, bukan dengan keributan, bukan dengan janji berlebihan, melainkan dengan kebersamaan yang sederhana. Mereka pernah duduk bersama, tertawa tentang hal-hal sepele, saling menguatkan di masa-masa tertentu. Tidak lebih. Tidak kurang.

Tak ada kisah besar yang layak dijadikan legenda. Tak ada drama putus cinta yang membuat orang lain bersorak. Semua berjalan singkat, tulus, lalu selesai dengan tenang, seolah masing-masing paham bahwa hidup mereka akan bergerak ke arah yang berbeda.

Namun bagi sebagian orang, itu sudah cukup untuk menyalakan api iri.

Riski dan Kiki adalah tipe lelaki yang mudah menarik perhatian. Wajah rupawan, sikap ramah, prestasi yang cukup, nama mereka dikenal hampir di seluruh sekolah. Dan kenyataan bahwa mereka pernah dekat dengan Nava, seorang gadis pendiam yang sering sendirian, terasa seperti ketidakadilan bagi mereka yang merasa lebih pantas.

Lilin dan gengnya tak menyukai kenyataan itu. Begitu pula Narnik dan gengnya. Mereka tidak pernah mengatakannya secara langsung, namun sikap mereka berbicara lebih keras daripada kata-kata.

“Anak aneh kok bisa dapet mereka,” ejek seseorang suatu hari, cukup keras untuk didengar.

“Pakai apa?” sambung yang lain, disertai tawa yang merendahkan, tawa yang bukan sekadar bercanda, melainkan ingin melukai.

Nava mendengarnya. Ia selalu mendengar. Namun ia memilih tak berhenti. Kakinya terus melangkah, wajahnya tetap datar. Ia tahu, iri sering menyamar menjadi kebencian. Dan kebencian yang lahir dari iri jarang mau mengakui alasan sebenarnya.

Ia tidak pernah membanggakan masa lalunya. Tidak pernah menceritakan kedekatannya dengan Riski atau Kiki. Bahkan pada Sari, ia hanya menyebut mereka sebagai bagian kecil dari hidup yang telah berlalu. Justru karena itulah, iri itu tumbuh semakin liar. Karena sesuatu yang tak dipamerkan sering kali terasa lebih menyakitkan bagi mereka yang ingin memilikinya.

Riski dan Kiki sendiri tak pernah ikut memperkeruh keadaan. Mereka bukan tipe yang menikmati sorotan. Mereka melihat apa yang terjadi pada Nava, mendengar bisikan-bisikan itu, dan memilih menjaga jarak. Bukan karena malu, bukan karena takut reputasi mereka tercemar, melainkan karena mereka tahu satu hal. Kedekatan apa pun dengan Nava, meski tulus, hanya akan memperpanjang penderitaannya.

Namun justru sikap itu yang membuat para pembuli semakin panas.

Bagi Lilin dan Narnik, jarak itu bukan tanda kepedulian. Jarak itu mereka artikan sebagai kesombongan. Sebuah bukti bahwa Nava merasa terlalu istimewa untuk didekati siapa pun.

“Merasa spesial,” kata Lilin sinis suatu sore, menghadang Nava di lorong yang sepi.

Langkah Nava terhenti. Ia mengangkat wajahnya, menatap Lilin tanpa ekspresi berlebihan. Tidak takut, tidak pula menantang.

“Padahal sendirian terus,” lanjut Lilin, senyumnya dingin.

Nava menatapnya tenang, terlalu tenang hingga membuat suasana justru terasa berat.

“Aku sendirian karena aku memilih,” jawabnya pelan, suaranya stabil.

“Bukan karena aku ditinggalkan.”

Kata-kata itu sederhana, namun menusuk lebih dalam daripada teriakan atau makian. Lilin terdiam sesaat, tak menyangka Nava akan menjawab dengan cara seperti itu. Tidak ada pembelaan panjang. Tidak ada penjelasan. Hanya satu kalimat yang berdiri tegak, seperti dinding yang tak bisa didorong.

Nava melangkah pergi, meninggalkan Lilin dengan wajah yang mengeras. Ia tahu, setiap kali ia memilih tenang, bara itu justru membesar di dada mereka.

Hari-hari Nava berjalan dalam kesendirian yang terjaga. Tak ada teman duduk sebangku. Bangku di sebelahnya sering kosong, seolah ada garis tak kasat mata yang melarang siapa pun mendekat terlalu lama. Tak ada yang berani lama-lama berbincang dengannya. Siapa pun yang terlihat dekat, akan segera dipanggil, diancam, diperingatkan dengan berbagai cara.

Namun mental Nava tetap utuh.

Ia telah melewati hal-hal yang jauh lebih gelap daripada ini. Sejak kecil, ia sudah mengenal ketakutan yang tak bisa dijelaskan dengan logika. Makhluk tanpa wajah yang berdiri di sudut pandang, mimpi kejaran jin yang membuat napasnya tercekik saat terbangun, bayangan kematian yang terasa terlalu dekat, terlalu akrab. Semua itu telah membentuknya menjadi seseorang yang memahami satu hal penting.

Ketakutan terbesar bukan datang dari luar, melainkan dari dalam diri sendiri.

Dibanding semua itu, iri manusia terasa rapuh. Menyakitkan, ya. Menguras emosi, tentu. Namun tidak cukup kuat untuk mematahkan dirinya. Sari sering mengamatinya dari jauh, memperhatikan bagaimana Nava berjalan melewati hari-hari tanpa kehilangan keseimbangan.

“Mereka iri karena kamu tak perlu ramai untuk merasa utuh,” kata Sari suatu malam, saat mereka duduk di kamar Nava yang diterangi lampu redup.

Nava tersenyum tipis, senyum yang tak sepenuhnya bahagia, namun jujur.

“Aku tidak ingin diperebutkan,” jawabnya.

“Aku hanya ingin dihormati.”

Sari mengangguk pelan. Ia tahu, keinginan itu sederhana, namun dunia sering kali terlalu bising untuk memahaminya.

Di satu titik, Nava menyadari sesuatu yang lebih dalam. Iri itu hanyalah lapisan luar. Di baliknya, ada rasa takut yang tak pernah mereka akui.

Lilin dan Narnik, juga geng mereka, takut pada ketenangan yang tak bisa mereka patahkan. Takut pada keberanian yang tak meledak-ledak, yang tidak mencari panggung. Takut pada seseorang yang tak bisa mereka kendalikan dengan ejekan atau ancaman.

Ketakutan itu, karena tak dihadapi, berubah menjadi kekerasan kecil yang terus diulang. Dorongan di lorong. Buku yang dipindahkan. Tatapan merendahkan. Semua dilakukan bukan untuk menjatuhkan Nava, melainkan untuk menenangkan kegelisahan mereka sendiri.

Namun Nava memilih tetap berjalan.

Datang ke sekolah. Mengikuti pelajaran. Latihan pencak silat dengan disiplin. Pulang dengan kepala tegak.

Ia tak membalas. Tak melawan secara kasar. Bukan karena ia tak mampu, melainkan karena ia tahu, membalas dengan cara yang sama hanya akan menariknya ke dalam lingkaran yang sama kotor. Ia percaya, suatu hari, semua itu akan sampai pada batasnya sendiri.

Malam itu, setelah hari yang terasa lebih panjang dari biasanya, Nava berdiri di depan cermin kamarnya. Wajahnya tercermin jelas. Mata yang tenang, namun menyimpan banyak hal yang tak terucap.

“Aku nggak marah,” katanya pelan pada bayangannya sendiri.

“Tapi aku juga nggak akan terus diam.”

Kata-kata itu bukan ancaman. Bukan pula janji balas dendam. Itu pengakuan jujur pada dirinya sendiri, bahwa ada batas yang tak boleh dilewati siapa pun.

Sari berdiri di belakangnya, menatap dengan pandangan penuh makna.

“Bukan semua pertarungan harus dimenangkan dengan tangan,” ucapnya lembut.

“Kadang, cukup dengan bertahan sampai mereka lelah.”

Nava mengangguk perlahan. Ia mengerti. Bertahan bukan berarti menyerah. Bertahan adalah bentuk kekuatan yang paling sulit, karena membutuhkan kesabaran dan kepercayaan pada waktu.

Di luar, angin berhembus lebih kencang dari biasanya. Tirai goib bergetar lagi, lebih terasa kali ini, seperti kain tipis yang disentuh oleh sesuatu dari sisi lain. Nava merasakannya hingga ke tulang.

Ia tahu, langkah berikutnya bukan lagi soal dirinya semata. Bukan lagi tentang luka pribadi atau harga diri yang diinjak.

Melainkan tentang apa yang harus ia lindungi, dan apa yang harus ia lepaskan, sebelum dunia menuntutnya memilih dengan cara yang jauh lebih kejam.