Misteri Danau Begu

16 January 2026

095721962_misteri_danau_begu.webp

"Desa Poriaha, Kecamatan Tapian Nauli. Arahkan kendaraan menuju pertigaan, sepuluh meter dari sebuah jembatan kecil, arahkan kendaraan ke simpang sebelah kiri menuju PLTU Labuan Angin. Dari pertigaan itu, pacu kendaraan dengan kecepatan sedang, dan akan ada empat jembatan yang akan dilalui. Sekitar 15 meter dari jembatan terakhir, arahkan kendaraan masuk ke sebuah simpang di sebelah kanan jalan. Pacu kendaraan lebih perlahan, pasalnya jalan yang akan dilalui adalah jalan pasir dan berdebu." Mirna selesai membaca sebuah runtutan rute yang harus dilakukan, untuk menemukan danau Begu tersebut.Tapi nyatanya, mobil yang mereka tumpangi, hanya berputar-putar saja, tak menemukan persimpangan ataupun jembatan yang dimaksudkan. Sekeliling mereka hanyalah, hutan belantara saja."Inilah, mengapa kita harus berjalan kaki, Ayo! Semua turun!" seru Pamannya emosi. Mereka bertiga pun turun, ada Mirna, Bima, adik lelakinya, juga Paman, adik dari ayah mereka. Perjalanan panjang itu, bukannya tanpa maksud. Mereka hendak menjamas pusaka peninggalan milik keluarga, karena peninggalan tersebut dari leluhur yang terdahulu, meminta agar setiap kali menjamas atau mensucikan pusaka harus dari air Danau Begu, atau masyarakat setempat menamainya Danau Hantu.Yang menjadi masalah adalah Mirna, Bima, dan pamannya, mereka semua berasal dari Sragen dan harus meluncur ke daerah Tapanuli Tengah di mana Danau Begu ini berada."Ganti sepatumu dengan boot, Mirna. Kau akan terus tertinggal, bila sepatu berhak tinggi itu terus kau pakai!" bentak Pamannya. Memang Pamannya yang satu ini, walaupun masih keturunan Jawa halus, tapi bicaranya selalu bernada ketus."Iya, Paman, tunggulah sebentar, aku harus membawa beberapa perbekalan kita. Aku tak mau kelaparan di jalan." "Terserah kau sajalah, aku tunggu, jangan lama-lama, matahari akan segera tenggelam." Sembari menurunkan barang-barang yang dibutuhkan, Bima pun ikut membantu kakak perempuannya. Tak lupa benda yang akan dijamas selalu berada di tas cangklong milik Bima.Perjalanan dengan berjalan kaki pun dilakukan. Rona-rona penuh pengharapan baru tersirat pada wajah mereka. Untuk apa mereka melakukan ini? Tentu saja ada maksud tertentu yang   disembunyikan dalam hati mereka masing-masing.Perjalanan itu semakin panjang dan tak terarah.


Sepekan telah lalu. Mirna, Bima, dan paman mereka masih tetap di dalam hutan. Mereka bertiga betul-betul tersesat jauh ke dalam hutan. Keinginan mencari Danau Begu menjadi sebuah bencana pertengkaran hebat dari paman mereka. Berulang kali lelaki berkumis tebal ini selalu mengumpat penuh amarah.   Tiba-tiba, pria itu marah-marah pada sesuatu yang tak jelas, bicara sendiri sambil menunjuk-nunjuk sesuatu tempat kosong.   "Bajingan kau! Kau pikir aku tak keluar banyak uang, hah!" ucapnya kepada seseorang entah siapa. "Paman, jaga bicaramu! Kita masih di dalam hutan," nasehat Mirna yang mulai khawatir dengan keadaan pamannya. Namun, tampaknya saran keponakannya itu tidak mempan."Aku sudah lama membutuhkan uang itu. Kalau kali ini gagal, aku minta ganti rugi padamu!" makinya penuh amarah masih tidak jelas kepada siapa. Mirna hanya menggelengkan kepala, sedangkan Bima, mendekati Pamannya yang sedang marah itu, lalu menggandeng tangan sang paman untuk duduk sejenak. Rasa lelah, kecewa, dan bosan mulai melanda mereka. Paman mengusap wajahnya kasar, keringat membanjiri tubuhnya."Dengar, Bima! Senjata itu sudah akan Paman jual dan sudah ada pembelinya. Dia barusan datang untuk menanyakan benda itu."Bima menengok pamannya. Bima sudah paham sejak lama kalau Pamannya ini terlalu licik."Kemarikan senjata itu, Bima!" "Tidak, Paman! Ini tetap aku yang pegang."Mirna hanya menatap mereka. "Bima, Paman! Ayolah kita batalkan saja rencana menjamas benda pusaka ini. Sepertinya keberuntungan tidak berpihak pada kita."Sang paman memandang Bima yang tubuhnya lebih besar, lalu menciutlah nyalinya dan hanya bisa menuruti apa perkataan keponakannya itu. Bima membatin, hanya dirinya yang berhak untuk menjamah menjamass pusaka itu."Kita lanjutkan rencana awal, Mbak. Ayo!"Kejadian tersebut pun selesai, mereka bertiga melanjutkan perjalanan. Misi mereka hendak menjamas beberapa pusaka peninggalan keluarganya, yaitu Keris Kalimasada milik almarhum ayah Mirna dan Bima, Pecut Kuda Liar, serta sebuah wayang berwarna gelap. Peninggalan itu mempunyai kesaktian masing-masing. Keris Kalimasada akan memberi pemiliknya kekebalan tubuh. Pecut Kuda Liar, ini yang diincar Mirna agar suaminya bisa menurut padanya, karena suaminya kini jadi tukang selingkuh, berganti-ganti wanita. Kemudian yang terakhir sebuah wayang berwarna hitam legam yang menjadi incaran Bima. Sosok hitam yang disimbolkan dalam bentuk wayang inilah yang akan menjadi pelindung diri. Ketiga benda peninggalan tersebut ada di dalam tas Bima.Mirna ingin nasibnya berubah, sejak ditinggal suaminya selingkuh, hidupnya menjadi morat-marit, bisnisnya hancur, hingga rumah satu-satunya sudah terjual. Mirna jatuh miskin dan akhirnya pulang ke kampungnya. Lain lagi dengan Bima. Lelaki itu berambisi ingin menjadi seseorang yang digdaya seperti ayahnya, yang selalu dikagumi dan disegani.Sedangkan paman mereka saat ini penuh konflik dalam kehidupannya. Istrinya menuntut banyak hal padanya, baik rumah dan segala tetek bengek, hingga sang Paman memergoki istrinya bermain gila di hotel bersama lelaki asing.Hingga malam menghampiri, ketiganya sudah merasa bosan. Bima sudah menjadi mudah marah. Dia menyalahkan Mirna yang dia pikir sok tahu jalan, membuat mereka menjadi tersesat. Akhirnya mereka pun pergi sendiri-sendiri.


Mirna terus berjalan, meskipun telapak kakinya sudah tersayat oleh tajamnya beberapa onak duri yang tumbuh liar dalam hutanWajahnya nampak lelah, napasnya sudah terengah-engah. Lagi-lagi Mirna terduduk di tanah. "Ini kapan sampainya? Aku tahu ... aku telah tersesat, tapi bila aku diam, aku takut akan ada binatang buas, dan akan memangsaku." Mirna mulai melantur, berbicara sendiri. Sudah lima hari dirinya hanya berputar-putar saja di tempat yang sama. Hutan rimba yang sedianya akan dia lalui dengan gampang, tak dinyana justru, ia kini tersesat di dalamnya.Sudah beberapa malam, Mirna hanya bisa terpejam beberapa jam saja. Persediaan makanan dalam tas ranselnya sudah habis   tandas tak bersisa, bahkan tasnya pun sudah tak berada di punggungnya lagi. Lelah, peluh, dan debu, membuat bajunya menempel dikulit tubuhnya. "Ya Allah, lindungi hambamu, ini. Bila aku melakukan kesalahan hamba mohon ampun, maafkan lah hamba , ya Allah," ucapnya dengan berderai air mata.


Mirna, kini duduk dalam keletihan yang teramat sangat, pikirannya sudah sangat berantakan. Rasa lapar dan haus pun menderanya.Matahari mulai menuju peraduannya, dalam langit senja Mirna terus berjalan pelan, sejauh mata memandang ada sebuah rimbunan yang asing. Karena berkali-kali melewati jalan yang sama, Mirna menjadi hafal jalan yang dilaluinya. Kini kerimbunan pohon tersebut disibaknya perlahan, mata Mirna menjadi terbelalak melihat sebuah danau yang dicarinya, Danau Begu! Danau yang jernih dan bersih! Mirna memandang dengan takjub tempat tersebut. Tak jauh dari danau tersebut tergeletak dua tubuh manusia. Ternyata Bima dan pamannya. Mereka sudah meninggal. Beberapa benda yang akan dijamas, sudah tergeletak tak jauh dari mereka, dalam keadaan berlumuran darah.Mirna tak tahu apa yang terjadi. Dirinya semakin dibuat tak berdaya dalam situasi di depan matanya. Lewat cerminan air jernih di danau tersebut, dirinya melihat penampakan yang menyeramkan. Tubuhnya tanpa kepala! Mirna mundur sesaat, dan tak tahu apa yang akan diperbuatnya. Memang Danau Begu yang berarti danau hantu ini adalah danau penuh misteri.Danau ini, bila sengaja dicari tidak akan ditemukan. Danau Begu akan ditemukan oleh orang yang tersesat. Bukan oleh orang yang sengaja berniat untuk mencuci senjata atau benda peninggalan keluarganya. Apalagi oleh orang-orang yang memiliki niat buruk serta serakah.Namun, jauh-jauh dari Jawa, mereka mencari danau misteri ini, tidak dinyana malah harus menerima kenyataan atas kematian Bima dan pamannya. Mirna masih tak percaya dengan pantulan dirinya pada permukaan air danau. Sekali lagi, Mirna mendekati danau tersebut, lagi-lagi terlihat dirinya yang tanpa kepala. Mirna masih saja terus dalam kebingungan, tak menyadari sebuah benda milik peninggalan keluarga berbentuk keris, bergerak sendiri.Senjata itu melayang ke udara, secepat kilat menebas kepala Mirna tanpa ampun. Benda berwarna hitam dan terlihat berkarat tersebut sudah memotong batang leher wanita tersebut. Darah menyembur deras dari lehernya, kepala Mirna jatuh tepat ke dalam danau, dan tenggelam.Kini, terlihat tiga mayat berada tak jauh dari danau Begu. Kemudian, tiba-tiba, ketiga benda pusaka itu lenyap secara gaib.