Si Cantik Penembus Tirai Goib

Penulis amelmeila
16 January 2026

Bab 17 Sunyi yang Menyembuhkan

Hari-hari setelah Raka benar-benar berlalu terasa aneh bagi Nava. Bukan seperti kehilangan yang menjerit minta diakui, bukan pula luka yang membuatnya ingin berteriak. Yang datang justru kehampaan yang tenang, sunyi yang tidak gaduh, sunyi yang perlahan memaksa dirinya duduk berhadapan dengan bayangannya sendiri.

Ia tetap bangun pagi. Tetap mengenakan seragam sekolah. Tetap melangkah keluar rumah dengan tas di punggung dan wajah yang terlihat baik-baik saja.

Di sekolah, ia masih tersenyum saat disapa, masih menjawab pertanyaan guru dengan sopan, masih bercanda seperlunya dengan teman-teman. Tak ada yang benar-benar salah di permukaan. Namun malam-malamnya berubah.

Malam-malam Nava kini panjang dan hening. Ia sering duduk di tepi ranjang atau di dekat jendela, memandangi langit tanpa benar-benar mencari bentuk bintang.

Pikirannya berkelana, bukan ke masa depan, bukan pula ke orang tertentu, melainkan ke dalam dirinya sendiri. Ke ruang-ruang batin yang selama ini jarang ia kunjungi tanpa alasan tertentu.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Nava menutup mata batin dengan sengaja.

Bukan karena takut. Bukan karena kehilangan kemampuan. Melainkan karena ia ingin istirahat. Ia tak ingin melihat apa pun di balik tirai. Tak ingin mendengar bisikan apa pun dari dunia yang selama ini selalu menyapanya tanpa henti. Ia ingin menjadi manusia biasa, meski hanya sementara. Manusia yang merasakan, terluka, sembuh, tanpa harus membaca makna di balik setiap kejadian.

Mayang Sari memahami itu. Ia tidak memaksa hadir seperti dulu. Tidak mengingatkan. Tidak menasihati berlebihan. Ia hanya muncul sesekali, duduk diam di sudut kamar Nava, seperti bayangan yang setia namun tahu kapan harus memberi ruang.

“Kamu sedang belajar diam,” kata Sari suatu malam, suaranya lembut dan nyaris menyatu dengan udara.

Nava mengangguk pelan. Ia tidak membuka mata. Ia hanya menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Diam terasa asing, tetapi juga menenangkan.

Suatu malam Jumat, ketika rumah sudah sepi dan suara dunia terasa jauh, Nava duduk bersila sendirian di kamarnya. Ia tidak menyalakan lilin. Tidak menyiapkan bunga. Tidak melantunkan doa-doa yang biasa ia kenal. Ia hanya duduk, punggung tegak, tangan bertumpu di paha, bernapas panjang dan pelan.

Ia membiarkan ingatannya mengalir.

Satu per satu, wajah-wajah itu muncul. Lelaki-lelaki yang pernah singgah dalam hidupnya. Yang pernah ia dekati tanpa sungguh-sungguh tinggal. Yang pernah ia buat berharap, lalu ia tinggalkan dengan alasan samar. Yang pernah ia sentuh hatinya tanpa benar-benar berniat menjaga.

Tidak ada pembelaan dalam pikirannya malam itu. Tidak ada alasan. Tidak ada penyangkalan.

Dalam batin, Nava meminta maaf.

Maaf karena pernah bermain. Maaf karena pernah menjadikan perasaan sebagai alat. Maaf karena belum cukup dewasa saat itu.

Tak ada mantra. Tak ada saksi. Hanya kejujuran yang ia ucapkan pada dirinya sendiri dan pada semesta yang diam-diam mencatat segalanya. Dadanya terasa lebih ringan seiring napas yang kian teratur. Seolah ada beban lama yang akhirnya dilepas tanpa perlu diseret lagi.

Hari-hari di sekolah pun perlahan berubah.

Perubahan Nava terasa jelas, bahkan bagi mereka yang tak benar-benar dekat dengannya. Ia tidak lagi mencari perhatian. Tidak lagi menjadi pusat cerita. Ia tidak bermain kata-kata, tidak menggoda, tidak membiarkan kesalahpahaman tumbuh demi kesenangan sesaat.

Ia fokus belajar. Duduk tenang di kelas. Mencatat dengan rapi. Bertanya jika tidak paham. Ia membantu teman yang kesulitan tanpa berharap balasan atau pujian. Ia menjaga jarak yang sehat, sopan, dan jujur.

Beberapa orang mulai heran.

“Kenapa Nava sekarang beda?” bisik mereka di sudut-sudut koridor.

“Dulu rame, sekarang kalem.”

“Kayak orang lain.”

Nava mendengar itu semua, tetapi ia tidak terganggu. Ia hanya tersenyum kecil. Ia tahu, diam adalah bahasa paling jujur yang pernah ia pelajari. Diam yang tidak kosong, melainkan penuh kesadaran.

Suatu sore, ketika matahari condong ke barat dan lapangan sekolah masih ramai oleh siswa yang belum pulang, sebuah keributan kecil terjadi. Seorang siswi kelas bawah tiba-tiba pingsan. Tubuhnya terkulai di rerumputan. Orang-orang berteriak panik. Beberapa siswa berlari memanggil guru. Guru olahraga segera meminta bantuan UKS.

Nava berdiri tak jauh dari sana. Ia tidak berlari. Tidak panik. Namun pandangannya menembus lebih dalam. Bukan dengan mata batin yang terbuka lebar, melainkan dengan kepekaan yang kini lebih halus.

Ia melihat bukan sakit fisik.

Yang ia rasakan adalah ketakutan yang menumpuk. Beban emosi yang terlalu lama dipendam. Kecemasan yang tidak pernah mendapat ruang untuk dilepaskan.

Nava mendekat. Ia berlutut di samping siswi itu, memegang tangannya dengan lembut.

“Tenang,” bisik Nava pelan, nyaris tak terdengar. “Kamu aman.”

Tak ada energi yang ia lepaskan. Tak ada ilmu yang ia alirkan. Ia tidak membuka tirai, tidak memanggil apa pun. Ia hanya hadir sepenuhnya, dengan niat yang bersih dan napas yang stabil.

Perlahan, siswi itu bergerak. Kelopak matanya bergetar. Napasnya menjadi lebih teratur. Beberapa detik kemudian, ia membuka mata, tampak bingung namun sadar.

Guru-guru datang, membantu membawanya ke UKS. Orang-orang menghela napas lega. Tidak ada yang benar-benar menyadari peran Nava di sana, kecuali satu.

Mayang Sari berdiri di kejauhan, wajahnya lembut, matanya berbinar tenang.

“Kamu menolong tanpa membuka tirai,” katanya saat mereka kembali sendiri.

“Itu yang aku mau,” jawab Nava pelan.

Malam itu, Nava bermimpi lagi.

Ia berada di sebuah persimpangan jalan yang luas. Angin berembus pelan, membawa aroma laut dan tanah basah. Di satu sisi, jalan tampak berkilau. Cahaya tajam memantul di permukaannya. Jalan itu terasa cepat, kuat, menggoda. Kekuatan instan. Pengaruh. Kendali.

Di sisi lain, ada jalan sunyi yang panjang. Tidak berkilau. Tidak menjanjikan apa-apa secara instan. Jalannya sederhana, sedikit berkelok, namun memancarkan kehangatan yang menenangkan.

Dari kejauhan, sosok perempuan bermahkota laut kembali hadir. Ratu Kidul berdiri anggun, auranya tenang namun agung.

“Kekuatanmu tidak diambil,” ujar Ratu Kidul, suaranya bergema lembut. “Hanya dimurnikan.”

Nava menunduk hormat. Tidak ada rasa takut. Tidak ada kebingungan.

“Aku siap menjaga,” katanya mantap.

Saat terbangun, tak ada air mata. Tak ada sesak. Tak ada kegelisahan. Yang tersisa hanya ketenangan yang utuh, tenang yang tidak rapuh. Ia tahu kini, luka itu perlu. Kehilangan itu perlu. Karma itu perlu.

Semua itu hadir agar ia berhenti menyakiti. Terutama berhenti menyakiti dirinya sendiri.

Dan di sanalah Nava berdiri sekarang.

Bukan sebagai playgirl yang bermain rasa. Bukan sebagai korban yang larut dalam luka.

Melainkan sebagai perempuan yang telah berdamai. Dengan masa lalu. Dengan kekuatannya. Dengan dirinya sendiri.

Namun sunyi bukan akhir dari perjalanan. Sunyi hanyalah jeda. Sebuah ruang untuk bernapas sebelum tirai kembali bergerak, membawa Nava pada ujian berikutnya ujian yang tidak lagi datang dari luar, melainkan dari kedalaman yang belum sepenuhnya terjamah.