Bab 19 Lampu Panggung dan Bayang-Bayang Iri
Kelulusan bukan akhir bagi Nava. Ia justru menjadi awal yang sesungguhnya. Setelah malam perpisahan itu, setelah sorot lampu memeluknya dan tepuk tangan mengalir tanpa henti, hidup Nava bergerak ke arah yang tak pernah ia rencanakan dengan detail, namun selalu ia rasakan panggilannya sejak lama.
Undangan mulai datang satu per satu.
Awalnya kecil. Acara desa. Hajatan pernikahan. Pentas tujuh belasan. Panggung bambu dengan sound seadanya. Namun dari panggung-panggung sederhana itulah nama Nava mulai bergema. Dari mulut ke mulut.
Dari video pendek yang dibagikan sembarangan namun ditonton berkali-kali. Dari komentar-komentar yang terdengar jujur.
“Dia kalau nyanyi kayak ngena ke hati.”
“Bukan cuma suara, tapi rasanya.”
“Kalau dia nyanyi, merinding.”
Nava menerima semua itu dengan sikap yang tetap sama. Ia tidak mabuk pujian. Tidak pula merendahkan diri secara berlebihan. Ia berdiri di panggung bukan sebagai pelarian dari luka lama, melainkan sebagai rumah baru tempat ia berdamai dengan dirinya sendiri.
Lampu sorot menyilaukan. Musik mengalun. Sorak penonton menjadi irama yang menguatkannya. Di atas panggung, Nava merasa utuh. Tubuh, suara, dan jiwa menyatu dalam satu garis yang jujur. Ia tidak berpura-pura menjadi siapa pun. Ia hanya menjadi dirinya sendiri.
Namun dunia hiburan, bahkan dalam skala lokal, tidak hanya menyimpan gemerlap. Ia juga menyimpan bayang-bayang yang bergerak pelan, mengintai dari sudut-sudut gelap yang jarang disadari orang.
Awalnya hanya bisik-bisik.
“Katanya dia pakai penglaris.”
“Cepat banget naiknya, pasti ada yang dipakai.”
“Cantik-cantik gitu, pasti ada mainan.”
Kalimat-kalimat itu terdengar samar. Kadang sampai ke telinganya secara tak sengaja. Kadang melalui pesan yang dikirim orang lain dengan nada setengah bercanda. Nava mendengarnya. Ia mencatatnya dalam hati. Namun ia memilih diam.
Ia tahu, diam tidak selalu memadamkan api. Namun ia juga tahu, membalas hanya akan memperbesar bara.
Ia terus bernyanyi.
Undangan berikutnya lebih besar. Panggung rakyat. Festival lokal. Event kecamatan. Sound system lebih kuat. Lampu lebih terang. Penonton lebih banyak. Di sanalah Nava mulai merasakan perubahan yang tidak kasat mata.
Bukan di tubuhnya. Bukan di suaranya.
Melainkan di udara.
Ada sesuatu yang kadang terasa berat sebelum ia naik panggung. Ada rasa hangat aneh di tengkuk. Ada getaran halus di telapak kakinya. Namun semua itu masih samar. Masih bisa ia abaikan.
Hingga suatu malam, setelah tampil di panggung besar pertamanya.
Ia pulang dengan tubuh lelah, suara sedikit serak karena intensitas, namun hati puas. Senyumnya masih tersisa saat ia merebahkan diri. Namun sebelum matanya terpejam sepenuhnya, udara kamar berubah.
Mayang Sari muncul di sudut ruangan dengan wajah yang tidak biasa. Tatapannya waspada. Bahunya tegang.
“Ada yang mengirimkan rasa panas,” katanya pelan. “Bukan kuat. Tapi niatnya buruk.”
Nava membuka mata perlahan. Tidak terkejut. Tidak pula panik. Ia sudah terlalu lama hidup berdampingan dengan hal-hal semacam itu.
“Seberapa jauh?” tanyanya tenang.
“Masih di pinggir,” jawab Mayang. “Seperti orang melempar batu kecil ke kolam. Tidak untuk membunuh. Hanya ingin mengganggu.”
Nava tersenyum tipis. Senyum yang bukan meremehkan, tetapi memahami.
“Dunia panggung memang begitu.”
Ia bangkit, membersihkan diri dengan sederhana. Air mengalir di telapak tangannya. Niat terucap lirih. Doa yang tidak panjang, namun jujur. Tidak ada perlawanan. Tidak ada balasan. Ia tidak memanggil kuasa apa pun. Ia hanya menguatkan batas.
Malam itu berlalu tanpa gangguan lebih lanjut.
Namun iri jarang datang sekali lalu pergi.
Serangan berikutnya lebih halus. Lebih licik.
Di salah satu panggung berikutnya, di tengah lagu kedua, Nava merasakan sesuatu yang aneh. Tenggorokannya tiba-tiba kering. Bukan kering karena haus. Ada sensasi seperti benang halus yang melilit pita suaranya. Suaranya nyaris pecah di nada tinggi.
Penonton tidak menyadari. Musik tetap berjalan. Lampu tetap menari.
Namun Nava tahu.
Ini bukan sakit biasa.
Ini bukan kelelahan.
Ada niat yang diselipkan dalam senyap.
Dalam hitungan detik, ia mengambil keputusan. Ia menutup mata sejenak sebelum masuk ke bagian reff. Ia menarik napas panjang, bukan sekadar napas fisik, tetapi napas batin. Ia menurunkan egonya. Ia menurunkan keinginannya untuk sempurna.
Dan entah bagaimana, suaranya kembali stabil.
Nada berikutnya mengalir lebih dalam dari sebelumnya. Penonton bersorak. Tepuk tangan terdengar bahkan sebelum lagu selesai. Energi itu terpental. Rasa panas yang melilit tenggorokannya memudar seperti asap tertiup angin.
Di balik panggung, seseorang membuang muka.
Tak semua rekan sesama penyanyi menyambutnya dengan ramah. Ada yang tersenyum di depan, memeluk, memberi pujian, namun menyimpan tatapan dingin di belakang. Ada yang mulai menyebarkan gosip, ada yang mengharapkan Nava terpeleset di nada tinggi, ada pula yang diam-diam mencoba menyainginya dengan cara-cara yang tidak bersih.
Nava melihat semua itu. Ia merasakannya bahkan sebelum kata-kata itu sampai ke telinganya.
Suatu sore, seorang senior panggung menghampirinya. Wajahnya lelah, namun matanya jujur.
“Popularitas itu ujian,” katanya pelan. “Yang kuat bukan yang paling bersinar, tapi yang paling tahan.”
Nava mengangguk. Ia memahami itu lebih dalam daripada yang senior itu kira. Ia tahu, ujian ini jauh lebih berat daripada dunia gaib yang selama ini ia hadapi. Dunia manusia memiliki cara menyakiti yang lebih rumit.
Malam-malam Nava kini sering diisi renungan.
Ia duduk diam, menatap langit, merasakan getaran di antara dua dunia. Dunia batin yang ia pahami, dengan hukum-hukum halus yang jelas, dan dunia hiburan yang penuh kepura-puraan, pujian palsu, dan iri yang disembunyikan di balik senyum.
Ia berdiri di persimpangan.
Dan di sanalah, Ratu Kidul kembali hadir dalam mimpinya.
Suasana laut membentang luas. Angin membawa aroma asin. Ombak bergulung dengan irama yang agung. Sosok itu berdiri anggun, matanya tajam namun tenang.
“Cahayamu terlihat,” ujar sang Ratu. Suaranya mengalun seperti ombak yang tak pernah lelah. “Dan cahaya selalu mengundang bayangan.”
Nava menunduk sejenak. “Apa aku harus redup?” tanyanya lirih.
Jawaban itu datang tanpa ragu.
“Tidak,” kata Ratu Kidul tegas. “Belajarlah bersinar tanpa membakar.”
Nava terbangun dengan napas yang teratur namun dada yang penuh kesadaran. Ia mengerti. Ia tidak perlu melawan iri dengan kuasa. Tidak perlu membalas dengki dengan gelap. Ia tidak perlu membuktikan apa pun.
Ia hanya perlu tetap jujur.
Jujur pada suara. Jujur pada bakat. Jujur pada niatnya.
Karena dunia hiburan akan terus menguji segalanya. Dan Nava, si cantik penembus tirai goib, sedang diuji bukan untuk menjadi makhluk yang lebih kuat, melainkan untuk tetap manusia di tengah sorotan.
Namun ia belum tahu satu hal.
Bahwa iri yang paling berbahaya bukan datang dari mereka yang terlihat.
Melainkan dari bayangan yang mulai merasa terganggu oleh cahaya yang tak bisa mereka sentuh.
Dan di suatu tempat, jauh dari panggung, tirai itu kembali bergetar.
Lebih kuat dari sebelumnya.