Si Cantik Penembus Tirai Goib

Penulis amelmeila
16 January 2026

Bab 23 Ketika Cahaya Mulai Diperebutkan

Perubahan itu tidak datang dengan suara keras. Tidak ada tanda dari langit. Tidak ada mimpi aneh. Tidak ada firasat yang mengguncang dada. Justru sebaliknya, semuanya terasa terlalu tenang.

Dan ketenangan itulah yang pertama kali membuat Nava gelisah.

Hari-hari dakwahnya berjalan seperti biasa. Mushala kecil, aula kampus, rumah warga, pesantren sederhana. Ia datang, berbicara seperlunya, lalu pulang tanpa menoleh. Tidak pernah meminta dihormati. Tidak pernah menuntut diperlakukan istimewa. Ia tetap membawa tas kecilnya, mushaf saku, dan senyum yang sama.

Namun ada sesuatu yang berubah di mata orang-orang.

Tatapan yang dulu penuh harap kini bercampur takzim berlebihan. Sapaan yang dulu hangat mulai terdengar hati-hati. Ada jarak yang tercipta, bukan karena Nava meninggikan diri, melainkan karena orang lain meletakkannya terlalu tinggi.

“Ustazah, doakan saya ya, khusus,” pinta seseorang sambil menggenggam tangannya lebih lama dari perlu.

“Ustazah, kalau doa dari njenengan pasti cepat dikabulkan,” kata yang lain, setengah berbisik, setengah yakin.

Nava selalu menarik tangannya perlahan, tersenyum, lalu berkata kalimat yang sama, berulang kali.

“Kita berdoa bersama. Allah yang mengabulkan.”

Namun semakin ia merendah, semakin ada yang ingin mengangkatnya.

Nama Nava mulai dibicarakan bukan hanya sebagai pendakwah lembut, tapi sebagai sosok dengan “daya”. Ada yang menyebutnya wali muda. Ada yang menyebutnya orang pilihan. Ada pula yang mulai berbisik dengan nada berbeda.

“Dakwah kok pakai lagu.”

“Ceramah kok bikin orang nangis terus.”

“Bahaya, itu bisa bikin orang bergantung.”

Bisik-bisik itu tidak sampai ke telinga Nava secara langsung. Ia mendengarnya dari wajah orang-orang yang berubah sikap. Dari undangan yang tiba-tiba dibatalkan. Dari pesan singkat yang tak lagi dibalas. Dari senyum yang dipaksakan.

Guru Syamsi memanggilnya suatu sore.

Mereka duduk di serambi rumah beliau. Teh hangat mengepul. Angin sore membawa aroma tanah basah. Guru Syamsi menatap jauh ke halaman, lama, sebelum akhirnya bicara.

“Cahaya yang diterima banyak hati,” ujarnya pelan, “akan selalu mengundang dua hal. Harapan dan iri.”

Nava mengangguk. Ia sudah merasakannya.

“Yang satu datang untuk ditolong,” lanjut beliau, “yang lain datang untuk menguji.”

“Bagaimana membedakannya, Guru?” tanya Nava.

Guru Syamsi tersenyum tipis. “Tidak perlu dibedakan. Cukup jaga niatmu. Yang bukan dari Allah akan lelah sendiri.”

Namun malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Nava bermimpi.

Ia berdiri di sebuah lapangan luas, dipenuhi orang-orang. Mereka semua memandangnya. Sebagian tersenyum. Sebagian menangis. Sebagian berlutut. Di tangan mereka, cahaya kecil berkelip-kelip.

Lalu dari kejauhan, datang tangan-tangan lain. Gelap. Panjang. Meraih cahaya itu.

Nava berteriak, “Itu bukan milikmu!”

Namun suaranya tidak keluar.

Ia terbangun dengan dada sesak.

Sejak mimpi itu, tekanan terasa semakin nyata. Ada undangan dakwah yang datang dengan syarat. Ada permintaan doa dengan imbalan. Ada tawaran panggung besar yang dibungkus kata dakwah, tapi beraroma pamer.

Nava menolak pelan-pelan. Setiap penolakan membuat satu pintu tertutup, dan membuka pintu lain yang lebih sempit.

Di salah satu kajian, seorang lelaki berdiri di tengah acara.

“Ustazah,” katanya lantang, “kalau memang dakwah njenengan murni, kenapa banyak orang sembuh setelah bertemu njenengan?”

Ruangan mendadak sunyi. Semua mata tertuju pada Nava.

Ia tidak tersenyum. Ia tidak tersinggung. Ia hanya menarik napas.

“Karena mereka kembali berharap pada Allah,” jawabnya. “Bukan pada saya.”

“Lalu kenapa harus lewat sampeyan?” desak lelaki itu.

Nava menatapnya lurus. “Karena Allah berhak memilih jalan-Nya sendiri.”

Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada sorak. Hanya sunyi yang tebal. Dan sejak hari itu, berita tentang Nava mulai beredar dengan dua wajah.

Sebagian menganggapnya tulus. Sebagian mulai menyebutnya berbahaya.

Yang paling berat bukan itu.

Yang paling berat adalah ketika orang-orang mulai datang bukan untuk belajar, melainkan untuk menuntut.

“Ustazah, kenapa doa saya belum terkabul?”

“Ustazah, saya sudah ikut kajian, tapi hidup saya tetap susah.”

“Ustazah, kalau njenengan dekat dengan Allah, seharusnya bisa membantu lebih.”

Kalimat-kalimat itu menusuk pelan, bukan karena menyakitkan, tapi karena berpotensi menumbuhkan sesuatu yang Nava takuti.

Rasa bertanggung jawab yang keliru. Rasa memiliki atas hasil doa orang lain.

Setiap malam, Nava sujud lebih lama. Ia merasa ada sesuatu yang mulai ditarik darinya. Bukan kemampuan. Bukan keberanian. Melainkan rasa aman.

Mayang Sari tetap tidak muncul. Tidak ada bisikan. Tidak ada tanda. Dunia batin Nava terasa sunyi. Terlalu sunyi.

Seolah seseorang sengaja menarik tabir pelindung.

Suatu malam, setelah pulang dari kajian yang melelahkan, Nava duduk sendiri di kamar. Lampu redup. Angin masuk lewat jendela. Ia membuka mushaf, namun matanya tidak fokus.

“Apa aku salah jalan?” bisiknya.

Untuk pertama kalinya, pertanyaan itu muncul tanpa jawaban cepat.

Ia teringat ucapan Guru Syamsi. Cahaya akan diperebutkan dan ia mulai mengerti, perebutan itu bukan selalu datang dalam bentuk serangan. Kadang datang dalam bentuk pujian. Dalam bentuk tuntutan. Dalam bentuk pengakuan yang berlebihan.

Dan semakin ia menolak semua itu, semakin sesuatu di balik tirai terasa bergerak.

Di kejauhan, tanpa ia sadari, garis yang selama ini menjaga jarak antara dirinya dan dunia lain mulai menipis.

Bukan karena ia membukanya. Melainkan karena ada yang mulai mengetuknya dari luar.

Dan ketukan itu akan segera berubah menjadi panggilan.

Berikutnya bukan lagi tentang dakwah. Bukan tentang niat. Bukan tentang penerimaan manusia.

Melainkan tentang harga dari sebuah pilihan lama yang akhirnya ditagih.

Dan Nava belum tahu, bahwa malam itu, di sebuah pesantren kecil, langit sedang bersiap menutup pintu.

Sejak malam mimpi itu, Nava mulai menyadari satu hal yang tidak pernah ia sadari sebelumnya. Sunyi tidak selalu berarti damai. Ada sunyi yang menenangkan, dan ada sunyi yang menunggu.

Ia merasakannya ketika berjalan sendirian sepulang kajian. Jalan kampus yang biasanya ramai terasa terlalu lapang. Lampu-lampu menyala dengan warna kekuningan, namun cahayanya seperti teredam, seolah tidak benar-benar ingin menerangi.

Langkahnya tetap tenang. Zikir pelan mengalir di dadanya. Namun tubuhnya memberi sinyal lain. Bulu kuduknya kerap meremang tanpa sebab. Napasnya terkadang terasa berat, bukan karena lelah, melainkan seperti ada udara yang enggan masuk sepenuhnya.

“Aku tidak boleh takut,” gumamnya. “Takut hanya membuka pintu.”

Ia tahu itu. Ia mengerti. Namun memahami tidak selalu berarti kebal.

Hari demi hari, tekanan tidak hanya datang dari dunia tak kasat mata. Dunia manusia jauh lebih rumit. Ada pihak-pihak yang mulai merasa terancam oleh cara dakwah Nava yang dianggap terlalu lembut.

“Orang jadi meremehkan hukum,” ujar seorang penceramah senior dalam sebuah forum tertutup. “Islam itu tegas, bukan cuma soal menenangkan hati.”

Nama Nava tidak disebut. Namun semua orang tahu arah pembicaraan itu ke mana.

Undangan ceramah mulai disertai syarat-syarat yang tak pernah Nava minta. Ada yang ingin ia berbicara soal tertentu. Ada yang meminta ia tidak menyebut kisah pribadinya. Ada pula yang memintanya berhenti menyanyikan lagu religi.

Nava menerima sebagian. Menolak sebagian lain. Setiap penolakan membuat satu simpul tak terlihat mengencang di sekitarnya.

Suatu sore, seorang perempuan muda mendatanginya dengan mata merah dan tangan gemetar.

“Ustazah,” katanya terbata, “saya dengar njenengan bisa melihat.”

Nava terdiam. Kalimat itu seperti membuka pintu lama yang telah ia tutup rapat.

“Apa yang kamu dengar tidak selalu benar,” jawabnya pelan.

“Tapi mereka bilang, ustazah bisa menembus dunia lain.”

Nava menghela napas panjang. “Aku bisa mendengarkan ceritamu. Itu saja.”

Perempuan itu akhirnya menangis. Bercerita tentang gangguan, tentang suara-suara, tentang ketakutan. Nava mendengarkan, menuntunnya membaca doa, mengajaknya kembali pada shalat yang terjaga.

Namun ketika perempuan itu pergi, Nava duduk lama sendirian.

Ia sadar, semakin ia menutup pintu itu, semakin banyak orang ingin membukanya kembali.

Dan di balik semua itu, ada sesuatu yang lain bergerak.

Malam-malamnya kini sering diwarnai mimpi tanpa gambar. Hanya rasa. Rasa seperti berdiri di tepi jurang, tidak jatuh, tapi tahu suatu saat harus melangkah.

Dalam salah satu mimpi, ia mendengar suara, bukan suara yang asing, melainkan suara yang pernah menjadi bagian dari hidupnya.

“Kau semakin jauh.”

Nava terbangun dengan keringat dingin. Namanya terucap di udara kamar, pelan, nyaris penuh penyesalan.

Mayang Sari.

Namun sosok itu tidak muncul. Tidak ada bayangan. Tidak ada kehadiran. Hanya gema kenangan.

Guru Syamsi merasakan perubahan itu bahkan sebelum Nava menceritakannya.

“Kamu sedang diuji dengan cara yang lebih halus,” ujar beliau suatu pagi. “Dulu kamu diuji dengan kemampuan. Sekarang kamu diuji dengan ketidakhadiran.”

“Maksud Guru?” tanya Nava.

“Ketika perlindungan ditarik, bukan berarti kamu ditinggalkan. Itu tanda kamu dianggap cukup dewasa untuk berdiri sendiri.”

Kalimat itu menguatkan, sekaligus membuat Nava sadar akan satu hal lain. Dewasa berarti bertanggung jawab penuh atas pilihan, termasuk konsekuensinya.

Undangan dakwah ke pesantren kecil di pinggir kota datang tanpa banyak pertimbangan. Tiga hari. Kajian singkat. Jamaah terbatas. Tidak ada panggung besar. Tidak ada sorotan.

Nava menerima tanpa ragu.

Namun sejak ia mengiyakan undangan itu, udara di sekitarnya berubah. Tidak drastis. Tidak mencolok. Hanya seperti dunia menahan napas.

Dalam perjalanan menuju lokasi, ia melihat hal-hal kecil yang ganjil. Burung-burung yang terbang rendah lalu berbalik arah. Angin yang tiba-tiba berhenti di satu titik. Bayangan yang terasa lebih panjang dari seharusnya.

“Aku tidak membuka apa pun,” bisiknya dalam hati. “Aku hanya melangkah.”

Di pesantren itu, kajian berjalan lancar. Jamaah tenang. Tidak ada kejadian aneh. Tidak ada gangguan. Justru itulah yang membuat Nava semakin waspada.

Malam kedua, ia duduk sendiri di serambi. Langit cerah, tapi bintang-bintang terasa jauh. Tidak ada suara serangga. Tidak ada desir angin.

Kesunyian yang terlalu sempurna.

Ia membuka mushaf kecilnya, membaca ayat-ayat perlindungan. Hatinya mantap. Namun jauh di dalam, ada getaran yang terus berdenyut.

Seolah sesuatu sedang menghitung waktu.

Pada hari terakhir, sebelum matahari terbenam, Nava merasakan tekanan di dadanya. Bukan sakit. Bukan sesak. Melainkan perasaan seperti berdiri di ambang keputusan yang tak bisa ditarik kembali.

Ia teringat kembali mimpi-mimpinya. Teringat wajah-wajah yang pernah ia tolong. Teringat pilihan-pilihan yang ia buat, satu demi satu, menjauhkannya dari jalan lama.

“Aku tidak kembali,” bisiknya tegas. “Apa pun yang menunggu.”

Dan di saat itulah, tanpa ia sadari, di balik lapisan dunia yang tak terlihat, sesuatu bergerak mendekat.

Bukan untuk menggodanya. Bukan untuk mengajaknya.

Melainkan untuk menagih sesuatu yang telah lama disimpan.

Langit malam mulai berubah warna.

Dan tanpa Nava tahu, azan yang akan terdengar malam itu bukanlah panggilan suci, melainkan tiruan yang telah lama menunggu saatnya diperdengarkan.