Si Cantik Penembus Tirai Goib

Penulis amelmeila
16 January 2026

Bab 24 Malam Ketika Langit Menutup Pintu

Langit malam itu tidak gelap seperti biasanya. Ia tidak hitam, tidak pula bertabur bintang sebagaimana malam-malam lain yang pernah disaksikan Nava. Langit itu kelabu, seolah cahaya bulan diperas melalui lapisan tak kasat mata, disaring hingga hanya tersisa sinar pucat yang terasa dingin di kulit. Cahaya itu tidak menenangkan. Ia seperti tatapan kosong yang menggantung terlalu lama.

Nava berdiri di pelataran pesantren kecil tempat ia mengisi kajian selama tiga hari terakhir. Bangunan itu sederhana, dikelilingi kebun pisang dan pohon mangga tua yang batangnya berlumut. Biasanya, tempat itu hidup oleh suara jangkrik dan desir daun yang bergesekan pelan. Namun malam ini, sunyi terasa terlalu rapi. Terlalu bersih. Seolah alam sedang menahan napas.

Angin berembus tak wajar, berputar-putar tanpa arah. Kadang menyapu dari timur, lalu mendadak berhenti, kemudian datang dari barat dengan kekuatan yang tidak konsisten. Angin itu membawa bau tanah basah, namun di baliknya ada aroma lain, lebih tua, lebih dalam, seperti besi yang lama terpendam dan air sumur yang tidak pernah tersentuh cahaya.

Nava menarik napas perlahan. Dada kirinya terasa berat, bukan karena lelah, melainkan karena firasat yang mengental sejak sore. Ia sudah terbiasa dengan firasat, tetapi yang satu ini berbeda. Bukan sekadar peringatan. Lebih seperti tanda bahwa sesuatu telah diputuskan jauh sebelum ia tiba di tempat ini.

“Ustazah, mobilnya sudah siap.”

Suara santri putri itu terdengar ragu, seolah ia sendiri tidak yakin apakah pantas memanggil di tengah suasana yang ganjil. Gadis itu berdiri beberapa langkah di belakang, tangannya saling menggenggam, matanya berkali-kali melirik ke arah kebun.

Nava mengangguk. Senyum kecil ia berikan, senyum yang dilatih selama bertahun-tahun untuk menenangkan orang lain, meski dadanya sendiri bergemuruh. Namun kakinya tak bergerak. Seakan tanah di bawah telapak kakinya menahan, mengikat dengan beban tak terlihat.

Sejak sore, perasaannya tidak tenang. Bukan karena kajian yang menguras tenaga. Bukan pula karena perjalanan panjang yang menanti. Melainkan karena keheningan yang terasa dibuat-buat. Tidak ada serangga malam yang biasanya bersahut-sahutan. Tidak ada burung yang terkejut oleh langkah manusia. Bahkan dedaunan di pepohonan tampak membeku, meski angin jelas terasa di kulit.

“Ya Allah,” bisiknya nyaris tak terdengar, bibirnya bergerak tanpa suara. “Jika ini peringatan, tunjukkan caranya.”

Ia melangkah menuju mobil. Baru dua langkah, tanah di bawah kakinya bergetar halus. Bukan gempa. Getaran itu teratur, seperti denyut nadi raksasa yang tersembunyi di perut bumi. Denyut yang terasa hidup.

Nava berhenti. Jantungnya berdetak lebih cepat. Ia menunduk, telapak tangannya menempel di dada, berusaha meredam getaran yang kini terasa hingga tulang rusuknya.

Lalu azan Isya terdengar.

Bukan dari masjid.

Suara itu datang dari arah kebun belakang, tempat yang ia tahu betul tidak memiliki bangunan, apalagi pengeras suara. Azan itu pelan, nyaris lembut, tetapi salah. Nada naiknya meleset, seolah dipaksakan oleh tenggorokan yang tidak terbiasa menyebut Nama-Nya. Makharij hurufnya pincang, huruf-ha tercekik, huruf-shad terdengar seperti desahan panjang yang menyakitkan.

Dan di akhir kalimat, ada jeda yang terlalu panjang. Terlalu sunyi. Seperti ada sesuatu yang menunggu jawaban.

Nava berhenti total. Santri-santri lain yang bersiap pulang ikut membeku. Beberapa saling berpandangan, wajah mereka pucat.

“Ustazah… itu azan siapa?” salah satu bertanya, suaranya bergetar.

Nava menutup mata. Ia tidak membuka mata batin. Ia tidak memanggil apa pun. Namun tubuhnya tahu. Darahnya tahu. Tulangnya mengenali getaran itu.

“Itu bukan panggilan,” ucapnya pelan namun jelas. “Itu undangan.”

Udara tiba-tiba membeku. Napas terasa berat, seolah oksigen di sekitar mereka menipis. Lampu-lampu pesantren berkedip. Sekali. Dua kali. Lalu satu per satu padam, menyisakan cahaya darurat berwarna merah pucat yang membuat bayangan terlihat aneh dan memanjang.

Dari kebun belakang, terdengar langkah kaki.

Bukan satu. Banyak.

Langkah itu tidak tergesa, tidak pula ragu. Setiap pijakan terdengar berat, namun anehnya tidak memunculkan bayangan. Tanah tidak berdebu. Rumput tidak bergoyang. Seolah yang melangkah bukan bagian dari dunia yang sama.

Nava mundur selangkah, lalu dua. Dalam hatinya, doa yang telah menemaninya sejak lama mengalir begitu saja. Doa yang dulu diajarkan Guru Syamsi dengan suara berat dan mata yang selalu menatap tanah, seolah tak berani menantang langit.

“Jika Engkau hendak menutupku dari makhluk-Mu, maka bukalah aku hanya untuk-Mu.”

Langkah-langkah itu berhenti.

Lalu terdengar suara. Perempuan.

“Na…va…”

Bukan teriakan. Bukan bisikan. Panggilan itu terasa seperti diucapkan dari dalam tulangnya sendiri, dari rongga dada yang paling dalam. Suara itu menggetarkan kenangan, menarik sesuatu yang lama terkubur.

Santri-santri mulai menangis. Ada yang jatuh terduduk, lututnya lemas. Ada yang memeluk tiang masjid sambil membaca istigfar terbata-bata. Ada pula yang memejamkan mata, menutup telinga, seolah suara itu bisa dihalau dengan menolak mendengarnya.

Nava menegakkan tubuh.

“Jangan lari,” katanya tegas, suaranya memotong kepanikan. “Masuk masjid. Tutup pintu. Baca ayat kursi bersama. Jangan berhenti.”

“Ustazah ikut?” tanya seorang santri, air mata mengalir di pipinya.

Nava menatap ke arah kebun.

Di sana, kini ada siluet.

Tinggi. Terlalu tinggi untuk manusia. Kepalanya hampir menyentuh cabang pohon tertinggi. Tubuhnya diselimuti kain hitam yang tidak berkibar meski angin berputar liar. Kain itu seperti menempel pada kehampaan. Wajahnya kosong. Bukan tanpa mata, tetapi matanya seperti lubang yang menghisap cahaya. Tidak memantulkan apa pun.

“Aku menyusul,” jawab Nava.

Pintu masjid ditutup. Suara kunci berderak. Bacaan ayat kursi mulai terdengar, gemetar, tidak serempak, namun hidup.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Nava berdiri sendiri. Tanpa Sari. Tanpa Guru Syamsi. Tanpa siapa pun.

Makhluk itu melangkah maju. Setiap langkahnya membuat tanah menghitam, seperti terbakar tanpa api. Rumput layu seketika, mengerut seperti abu.

“Kau sudah jauh dari jalan kami,” katanya. Suaranya bukan suara tunggal, melainkan gema dari banyak suara yang ditumpuk, laki-laki, perempuan, tua, muda, bercampur menjadi satu.

“Aku tak pernah berada di jalanmu,” jawab Nava, menjaga napasnya tetap teratur.

Makhluk itu tertawa. Tanpa mulut.

“Kau dibesarkan oleh kami. Dilihat oleh kami. Dijaga oleh salah satu dari kami.”

Jantung Nava berdetak keras. Nama itu muncul di benaknya sebelum ia sempat menolaknya.

Mayang Sari.

“Kau menolak warisan,” lanjut makhluk itu. “Dan memilih menjadi hamba. Itu penghinaan.”

Nava menggenggam tas kecil di tangannya. Di dalamnya ada mushaf saku yang selalu ia bawa, sudut-sudutnya sudah mulai kusam karena sering disentuh.

“Jika warisan itu membuatku merasa lebih tinggi dari Pencipta,” katanya, suaranya bergetar namun tidak goyah, “maka aku memilih dibakar daripada menerimanya.”

Langit menggelegar. Petir menyambar bukan dari atas, melainkan dari tanah ke langit, membelah udara. Cahaya putih menyilaukan sesaat, membuat bayangan makhluk itu terdistorsi.

Makhluk itu berhenti.

Untuk sesaat, ragu.

Namun kemudian sesuatu yang menyerupai senyum muncul. Dan senyum itu membuat perut Nava mual.

“Kami tidak datang untukmu,” katanya pelan. “Kami datang untuk menagih.”

“Menagih apa?”

“Janji lama. Yang dibuat sebelum kau bisa bicara.”

Tanah di belakang Nava retak. Dari celahnya muncul tangan-tangan hitam, merayap, mencakar udara, mencoba meraih apa pun yang hidup. Udara berbau busuk dan besi.

Nava mundur hingga punggungnya hampir menyentuh dinding masjid. Di dalam, bacaan ayat kursi terdengar semakin keras, bercampur tangis dan doa.

Makhluk itu mengangkat tangannya.

“Pilih,” katanya.

“Kau ikut kami… atau mereka yang kau lindungi akan ikut kami.”

Nava menutup mata.

Dalam gelap, kenangan mengalir seperti sungai yang jujur. Wajah Mama Tatik tersenyum sambil menyeduh teh. Anak kecil yang memanggil “Mama” untuk pertama kalinya. Jamaah yang menangis dalam sujud. Dirinya sendiri, kecil, sakit, ketakutan, namun bertahan.

“Aku tidak punya apa-apa selain Allah,” ucapnya.

“Dan itu cukup.”

Ia membuka mata dan melangkah maju.

Saat kakinya menyentuh tanah retak itu, cahaya putih menyembur dari dadanya. Bukan menyilaukan, melainkan tenang. Seperti fajar yang tidak tergesa. Tangan-tangan hitam itu terbakar bukan oleh api, melainkan oleh ketundukan. Mereka mengerang, menyusut, lalu lenyap.

Makhluk itu menjerit. Jeritan yang membuat kaca masjid retak, udara bergetar, dan bumi seolah menunduk.

“Kau akan menyesal!” teriaknya. “Perang belum selesai!”

Tubuhnya memudar, terhisap kembali ke dalam tanah, meninggalkan bau besi dan tanah basah.

Langit mendadak cerah. Lampu menyala. Suara serangga kembali, seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

Nava jatuh berlutut. Tangannya gemetar. Air matanya jatuh satu per satu ke tanah.

Pintu masjid dibuka. Santri-santri berhamburan keluar.

“Ustazah!”

Nava tersenyum lelah, tapi hidup.

Namun jauh di balik lapisan dunia, sesuatu membuka matanya.

Dan sebuah suara berbisik,

“Jika dia memilih cahaya, maka kita akan datang sebagai gelap yang sempurna.”

Perang baru saja dimulai.