Bab 25 Retakan di Dalam Diri
Pagi datang seperti tidak pernah terjadi apa-apa.
Matahari naik perlahan dari balik pepohonan pesantren, memantulkan cahaya ke dedaunan yang masih basah oleh embun. Burung-burung kembali berkicau, suaranya riang, ringan, seolah dunia tidak pernah terguncang semalam.
Santri-santri keluar dari asrama dengan sapu dan ember, menyiram tanaman, menyapu halaman, bercanda kecil sambil menguap. Kehidupan berjalan sebagaimana mestinya.
Namun bagi Nava, dunia telah sedikit bergeser.
Ia duduk sendirian di serambi masjid, punggungnya bersandar pada tiang kayu tua yang permukaannya dingin. Di tangannya, sebuah cangkir teh hangat yang sudah lama kehilangan uapnya. Cairan di dalamnya berwarna cokelat pucat, nyaris tak beraroma lagi. Sejak tadi ia tidak menyentuhnya. Jemarinya hanya melingkar di gagang cangkir, gemetar halus, hampir tak terlihat oleh mata biasa.
Gemeter itu bukan karena takut.
Bukan pula karena dingin pagi.
Melainkan karena kesadaran yang perlahan tapi pasti merayap di dalam dirinya bahwa sesuatu telah berubah.
Bukan kekuatan.
Bukan karomah.
Bukan kemampuan yang meningkat atau terbuka.
Melainkan retakan.
Retakan halus, nyaris tak terasa, namun cukup untuk membuat cahaya dan bayangan mulai saling menyusup.
Nava menatap halaman pesantren yang kini kembali hidup. Ia mengingat dengan jelas bagaimana halaman itu semalam menjadi gelap, berdenyut, dan terasa asing. Bagaimana tanahnya retak, bagaimana udara menekan dada, bagaimana suara itu memanggil namanya bukan dari luar, melainkan dari dalam dirinya sendiri.
Ia menarik napas panjang.
Dalam perjalanan hidupnya, Nava telah berkali-kali berada di persimpangan antara dunia yang kasat mata dan yang tidak. Ia sudah belajar menundukkan diri, belajar membatasi, belajar berkata tidak. Namun semalam, ia menyadari sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada makhluk mana pun.
Bahwa pintu itu tidak hanya ada di luar.
Ia juga ada di dalam dirinya.
Langkah kaki terdengar pelan mendekat. Tidak tergesa, tidak berat. Langkah yang dikenal tubuhnya bahkan sebelum matanya menoleh.
Guru Syamsi tiba menjelang zuhur.
Lelaki tua itu mengenakan jubah sederhana berwarna krem kusam. Jenggotnya putih, rapi, dan matanya teduh seperti air sumur yang dalam. Tidak ada salam keras. Tidak ada tanya panjang. Ia hanya duduk di samping Nava, di serambi yang sama, menghadap halaman yang masih lembap oleh embun pagi yang belum sepenuhnya menguap.
Beberapa saat mereka diam.
Diam yang tidak canggung.
Diam yang penuh makna.
“Kamu bertemu mereka,” kata Guru Syamsi akhirnya.
Bukan pertanyaan.
Nava mengangguk pelan. Tenggorokannya terasa kering, meski udara pagi masih sejuk.
“Mereka menagih janji,” lanjut Guru Syamsi, suaranya datar, seolah membicarakan sesuatu yang sudah lama ia ketahui. “Dan kamu menolak.”
Nava menunduk. Jemarinya mencengkeram gagang cangkir lebih erat.
“Saya tidak merasa kuat, Guru,” ucapnya jujur. “Justru… kosong.”
Ia mengangkat wajahnya perlahan, matanya sedikit berkaca. “Seperti ada bagian dari saya yang… terkelupas.”
Guru Syamsi tersenyum tipis. Senyum yang tidak penuh kebanggaan, tidak pula kekhawatiran. Hanya penerimaan.
“Itu tandanya kamu tidak diambil.”
Nava mengernyit. “Diambil?”
“Dijadikan milik,” jawab Guru Syamsi singkat.
Kata itu jatuh berat di dada Nava.
Diambil.
Dijadikan milik.
Ia teringat tatapan lubang hitam makhluk itu. Teringat kata-kata tentang warisan. Tentang jalan yang ditawarkan bukan sebagai pilihan, melainkan klaim.
“Mereka akan datang lagi?” tanya Nava pelan.
Guru Syamsi tidak langsung menjawab. Ia menunduk, mengambil segenggam pasir dari tanah di dekat kakinya. Pasir itu lembap, halus. Ia membiarkannya jatuh perlahan dari sela-sela jarinya, satu per satu, membentuk garis kecil di tanah.
“Air yang tenang justru paling sering dilempari batu,” katanya akhirnya.
Nava memahami maksud itu dengan cara yang membuat dadanya semakin sesak.
Sejak kejadian malam itu, sesuatu memang berubah.
Bukan hanya di dalam dirinya.
Melainkan juga dalam cara orang-orang memandangnya.
Di setiap tempat dakwah yang ia datangi, di masjid kampus, di majelis kecil ibu-ibu, di forum mahasiswa yang biasanya riuh, selalu ada satu atau dua orang yang memperhatikannya terlalu lama. Tatapan mereka tidak tajam. Tidak mengancam. Namun kosong, seolah jiwa mereka sedang tidak sepenuhnya berada di sana.
Namun mata mereka hidup.
Seperti menunggu momen.
Nava merasakannya bukan dengan mata batin. Ia tidak melihat bayangan. Tidak mendengar bisikan. Tidak menangkap aura yang mencolok.
Ia merasakannya dengan naluri.
Naluri yang dilatih oleh doa.
Naluri yang mengeras oleh pengalaman.
Naluri yang tahu kapan sesuatu mengamati dari balik tirai yang lebih tipis dari biasanya.
Ia mulai memperpendek waktu di tempat umum. Tidak lagi berlama-lama berbincang setelah kajian. Tidak menerima semua undangan tanpa istikharah panjang. Bahkan pada beberapa kesempatan, ia membatalkan jadwal tanpa alasan yang bisa ia jelaskan dengan kata-kata.
Tubuhnya seperti tahu sebelum pikirannya sempat menyusun logika.
Suatu sore, sepulang dari kajian mahasiswa, Nava membuka pintu rumah dengan perasaan yang tidak enak. Rumah itu sunyi. Terlalu sunyi. Biasanya Mama Tatik akan menyambutnya dengan suara dari dapur, entah itu suara panci atau gumaman zikir pelan.
Namun kali ini tidak ada.
“Mama?” panggil Nava.
Tidak ada jawaban.
Ia melangkah lebih cepat ke ruang tamu.
Mama Tatik duduk di sana, di kursi kayu favoritnya. Wajahnya pucat, lebih pucat dari biasanya. Di depannya tergeletak segelas air putih yang tidak disentuh, permukaannya sudah tidak lagi bergetar.
“Ma?” Nava segera mendekat, berjongkok di depan ibunya.
Mama Tatik tersenyum lemah. “Nggak apa-apa, Nak. Cuma mimpi aneh.”
Nava menghela napas sedikit lega, namun dadanya masih terasa sempit. “Mimpi apa?”
Mama Tatik terdiam sejenak. Tangannya meremas ujung bajunya.
“Ibu lihat kamu berdiri di tengah lapangan luas,” katanya pelan. “Banyak orang manggil namamu. Tapi tiap kamu melangkah ke satu arah… tanahnya runtuh.”
Kalimat itu menghantam Nava lebih keras daripada ancaman makhluk semalam.
Dada Nava mengencang. Napasnya tertahan sesaat.
Sejak kapan mimpi orang lain mulai menyentuh jalurnya?
Sejak kapan jejaknya tidak hanya berbekas di dunia tak kasat mata, tetapi juga merembes ke alam tidur orang-orang yang ia cintai?
Malam itu, Nava tidak langsung tidur.
Ia duduk lama di sajadah. Lampu kamar diredupkan. Dinding di depannya polos, namun matanya tidak benar-benar melihat apa pun. Tangannya terletak di pangkuan, terbuka, kosong.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia merasa takut kehilangan Mama Tatik.
Bukan karena sakit.
Bukan karena usia.
Melainkan karena dirinya sendiri.
Karena jalan yang ia tempuh.
Karena cahaya yang ia pilih.
Karena penolakan yang mungkin menimbulkan konsekuensi bukan hanya untuknya.
“Ya Allah,” bisiknya lirih, suaranya nyaris pecah. “Jika jalanku membahayakan orang yang Engkau titipkan… cabut aku darinya.”
Air mata jatuh tanpa suara, membasahi sajadah. Dadanya sesak menunggu ketenangan yang biasanya datang setelah doa-doa seperti itu.
Namun kali ini tidak.
Tidak ada ketenteraman yang langsung turun.
Tidak ada pelukan sunyi yang biasa ia rasakan.
Yang datang justru tidur yang berat.
Dan mimpi.
Dalam tidurnya, Nava berdiri di sebuah lorong panjang. Lorong itu sunyi, tanpa ujung yang terlihat. Dindingnya terbuat dari cermin, tinggi menjulang, memantulkan bayangan tanpa cela.
Di setiap pantulan, ia melihat versi dirinya yang berbeda.
Nava kecil yang sakit-sakitan, tubuhnya kurus, matanya besar, duduk di sudut kamar dengan selimut tebal.
Nava remaja yang dikelilingi bayangan, wajahnya pucat, matanya waspada, tangannya selalu menggenggam tasbih.
Nava dewasa yang berdiri di mimbar, suaranya tenang, matanya penuh keyakinan.
Lalu satu pantulan yang membuat langkahnya terhenti.
Versi dirinya dengan mata hitam legam.
Tidak putihnya.
Tidak cahaya di dalamnya.
Hanya hitam, pekat, dalam.
Versi itu tersenyum.
“Aku adalah jalan terpendek,” kata pantulan itu. Suaranya persis suara Nava sendiri.
“Dengan aku, mereka tidak akan berani menyentuhmu.”
Nava mundur selangkah. Jantungnya berdegup kencang.
“Siapa kamu?” tanyanya, suaranya gemetar.
Pantulan itu mendekat. Tangannya menempel di permukaan cermin, seolah bisa menembus kapan saja.
“Aku kamu,” jawabnya lembut. “Yang berhenti menolak.”
Nava terbangun dengan napas terengah.
Kamarnya gelap. Udara terasa berat, seolah ada sesuatu yang baru saja pergi… atau baru saja gagal masuk.
Di luar, azan subuh berkumandang.
Nava duduk lama di tepi ranjang, memegang dadanya. Ia tahu kini ujiannya bukan lagi melawan makhluk di luar sana.
Melainkan menjaga batas di dalam dirinya sendiri.
Dan jauh di kejauhan, pada lapisan dunia yang tak terlihat, sesuatu mencatat satu hal dengan pasti:
Jika Nava goyah sedikit saja, dia tidak akan ditarik dia akan membuka pintunya sendiri.