Bab 26 Ketika Doa Tak Lagi Sunyi
Hari-hari berikutnya berjalan terlalu tenang. Bukan tenang yang menenangkan, bukan pula damai yang menumbuhkan syukur. Melainkan tenang yang kaku, seperti permukaan air yang tidak bergelombang karena sesuatu menahan arus di bawahnya. Nava mengenali jenis ketenangan itu.
Ia pernah merasakannya di masa kecil, di malam-malam ketika makhluk-makhluk hanya menunggu, tidak menyerang, tidak menampakkan diri, tetapi menata posisi.
Dan Nava tahu, ketenangan semacam itu selalu pertanda.
Pagi tetap datang dengan cahaya yang wajar. Siang tetap berlalu dengan aktivitas biasa. Tetangga menyapa, kendaraan lewat, suara azan terdengar normal dari masjid. Tidak ada kejadian aneh yang bisa ditunjuk dengan jari dan disebut sebagai ancaman.
Namun di dalam rumah, udara sering terasa berbeda.
Mama Tatik mulai sering mengeluh sakit kepala. Bukan sakit yang membuatnya terbaring seharian, bukan pula yang memaksanya minum obat keras. Hanya pusing samar yang datang dan pergi, cukup untuk membuat wajahnya pucat dan langkahnya melambat. Kadang ia duduk lebih lama dari biasanya, menekan pelipisnya sambil memejamkan mata.
Dokter menyebutnya kelelahan.
Kurang istirahat.
Faktor usia.
Nava mengangguk setiap kali mendengar penjelasan itu. Ia tidak membantah. Ia tidak bertanya berlebihan. Namun di dalam dadanya, sesuatu mengeras.
Karena ia merasakan hal yang lain.
Setiap kali Mama Tatik mengeluh pusing, udara di rumah berubah. Tidak drastis. Tidak tiba-tiba. Melainkan perlahan, seperti suhu yang turun tanpa disadari hingga kulit mulai merinding. Seperti ada yang mengintip dari balik dinding. Seperti napas asing yang terlalu dekat, terlalu pelan, terlalu sabar.
Nava tidak membuka mata batinnya.
Ia sengaja tidak melakukannya.
Karena yang ia rasakan bukan sekadar keberadaan makhluk, melainkan sesuatu yang lebih licik. Sesuatu yang tidak ingin terlihat.
Suatu malam, saat hujan turun ringan dan rumah sudah terlelap, suara benda pecah membangunkan Nava. Suara kaca beradu dengan lantai, diikuti getaran kecil yang merambat ke dinding.
Nava terbangun seketika.
“Mama,” gumamnya sambil bangkit dan berlari ke dapur.
Lampu dapur menyala redup. Pecahan gelas berserakan di lantai. Air mengalir membentuk genangan kecil. Mama Tatik berdiri gemetar, satu tangannya memegang meja, seolah meja itu satu-satunya hal yang menjaga tubuhnya tetap berdiri.
Matanya kosong.
Menatap lurus ke arah sudut gelap rumah, tempat lemari tua berdiri menempel dinding.
“Ma?” suara Nava tercekat. Ia mendekat perlahan, jantungnya berdentam keras.
Mama Tatik menoleh pelan. Gerakannya kaku, seperti seseorang yang baru saja terbangun dari mimpi yang terlalu nyata.
“Ada… orang berdiri di situ,” bisiknya. “Tapi wajahnya… mirip kamu.”
Darah Nava serasa berhenti mengalir.
Ia berdiri tepat di antara Mama Tatik dan sudut ruangan itu. Tidak melihat apa pun dengan mata biasa. Tidak membuka penglihatan batin. Namun tubuhnya merespons. Otot-ototnya menegang. Tulang punggungnya terasa dingin.
Ia menahan diri.
Tidak membaca ayat dengan suara keras.
Tidak memanggil Nama-Nya dengan lantang.
Ia hanya meraih Mama Tatik, mendekapnya erat, membimbingnya duduk di kursi dapur.
“Tidak apa-apa, Ma,” katanya lembut, meski dadanya sesak. “Itu cuma lelah. Mama kecapekan.”
Mama Tatik mengangguk pelan, meski wajahnya masih pucat. “Ibu cuma… ngerasa dia berdiri lama sekali.”
Nava tersenyum kecil, memaksakan ketenangan yang ia sendiri tidak sepenuhnya miliki.
Malam itu, Mama Tatik tertidur dengan bantuan doa pelan dan usapan di punggungnya.
Namun Nava tidak tidur.
Ia duduk bersila di kamar, lampu dimatikan. Tirai jendela ditutup rapat. Hanya suara detak jam dinding yang menemani. Detak yang biasanya menenangkan, kini terdengar seperti hitungan mundur.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Nava membuka kembali lapisan yang telah lama ia segel.
Bukan dengan kemarahan.
Bukan dengan ambisi.
Melainkan dengan kesadaran penuh akan risikonya.
Dan seketika, ia melihatnya.
Bukan makhluk.
Bukan bayangan.
Melainkan jejak.
Jejak halus, seperti bekas benang yang ditanam dalam ruang yang tidak seharusnya terhubung. Jalur yang sengaja ditautkan. Niat yang ditinggalkan, bukan untuk menyerang langsung, tetapi untuk menunggu.
Seseorang atau sesuatu telah menautkan jalurnya dengan Mama Tatik.
Bukan sebagai target utama.
Melainkan sebagai tuas.
“Pengecut,” gumam Nava lirih. “Menyerang lewat ibu.”
Suara itu muncul tanpa wujud. Tidak dari sudut ruangan. Tidak dari langit-langit. Suara itu muncul di dalam ruang antara pikiran dan dada.
“Kamu yang membuka pintu.”
Nava menutup mata. Menarik napas dalam-dalam. Ia tidak menjawab dengan amarah. Ia tidak memaki. Ia tidak menantang.
Ia menjawab dengan doa.
Namun doa malam itu terasa berat. Tidak mengalir seperti biasa. Setiap kalimat terasa seperti mendorong beban besar ke atas bukit yang licin. Seperti ada tangan tak kasat mata yang menahan, menekan, menyaring, agar doa itu tidak sepenuhnya naik.
Bukan ditolak.
Ditahan.
Pagi harinya, Guru Syamsi datang tanpa kabar.
Kedatangannya selalu seperti itu. Tidak terjadwal, tidak diumumkan. Seolah langkahnya mengikuti arus yang tidak kasat mata.
Begitu melihat wajah Nava, Guru Syamsi menghela napas panjang.
“Kamu terlambat merasakan,” katanya.
Nava menatapnya, wajahnya lelah. “Merasakan apa, Guru?”
“Bahwa mereka tidak menginginkan kamu,” jawabnya pelan. “Mereka menginginkan jalurmu.”
Kalimat itu menusuk lebih dalam daripada ancaman mana pun.
Nava menatap lantai. “Mama saya mulai terdampak.”
Guru Syamsi mengangguk. “Maka waktumu hampir habis.”
“Untuk apa?” suara Nava nyaris berbisik.
“Untuk memilih.”
Kata itu menggantung di udara seperti bilah pisau yang tidak langsung jatuh, tetapi cukup tajam untuk membuat siapa pun menahan napas.
“Mereka akan berhenti,” lanjut Guru Syamsi, “jika kamu berhenti berdiri di tengah. Entah kamu menutup sepenuhnya… atau kamu melangkah ke depan.”
“Kalau saya menutup?” tanya Nava, meski ia sudah tahu jawabannya.
“Mereka akan mencari celah lain,” jawab Guru Syamsi tenang. “Lewat orang yang kamu cintai.”
“Kalau saya melangkah?”
Guru Syamsi menatap Nava lama sekali. Tatapan yang menimbang, bukan menghakimi.
“Kamu akan terlihat.”
Kata itu sederhana.
Namun Nava tahu artinya.
Terlihat berarti diakui.
Diakui berarti ditantang.
Ditantang berarti perang tidak lagi terjadi di balik tirai, melainkan di hadapan banyak mata.
Malam berikutnya, hujan turun deras. Petir menyambar berkali-kali, menerangi langit dengan kilat putih yang memecah kegelapan. Angin menggoyang pepohonan di luar rumah, membuat jendela bergetar pelan.
Mama Tatik tertidur lebih awal karena pusing yang tak kunjung hilang.
Nava duduk di samping ranjangnya.
Ia memandangi wajah ibunya yang tampak lebih tua malam itu. Garis-garis lelah di sekitar mata. Napas yang teratur namun berat.
“Ma,” bisiknya, meski tahu ibunya tidur. “Kalau suatu hari aku harus pergi sebentar… jangan takut.”
Mama Tatik bergerak dalam tidurnya. Alisnya berkerut.
Dan tepat saat itu, lampu kamar padam.
Udara berubah.
Dingin menusuk.
Bukan dingin malam.
Melainkan dingin ruang yang dimasuki sesuatu yang bukan miliknya.
Di sudut ruangan, sesuatu berdiri.
Tidak berwujud jelas. Tidak sepenuhnya gelap. Namun cukup nyata untuk membuat bulu kuduk Nava berdiri.
“Kamu keras kepala,” suara itu berlapis.
“Kami hanya ingin bekerja sama.”
Nava berdiri perlahan. Tidak terburu-buru. Ia memposisikan diri tepat di antara makhluk itu dan Mama Tatik.
“Aku tidak menjual jalanku,” ucapnya tegas. “Apalagi mamaku.”
Makhluk itu tertawa pelan. Getarannya membuat kaca jendela berdering halus.
“Kalau begitu,” katanya dingin, “kami ambil saja yang kamu lindungi.”
Mama Tatik mengerang kesakitan.
Nava menjerit dalam hati.
Bukan doa panjang.
Bukan ayat keras.
Hanya satu kalimat.
“Allah… sekarang.”
Dan untuk pertama kalinya sejak lama, sesuatu menjawab dengan keras.
Udara terbelah.
Tekanan itu lenyap seketika.
Makhluk itu terdorong mundur, terdistorsi, lalu hilang seperti asap diseret angin.
Lampu menyala kembali.
Mama Tatik tertidur tenang.
Nava terduduk lemas di lantai.
Ia menang.
Namun ia tahu.
Itu bukan akhir.
Di kejauhan, di lapisan dunia yang tak terlihat, seseorang mencatat namanya dengan tinta yang lebih gelap.
Jika Nava tidak mau membuka pintu, maka pintu akan didobrak.