Bab 27 Mereka yang Menagih Jalan
Setelah malam itu, rumah tak lagi sepenuhnya sunyi. Bukan karena suara. Tidak ada bisikan jelas, tidak ada langkah kaki yang terdengar, tidak ada benda yang jatuh atau pintu yang terbuka sendiri.
Namun ketegangan menetap seperti lapisan tipis yang menyelimuti setiap sudut. Seperti udara yang tampak biasa, tetapi terasa berat saat dihirup terlalu dalam.
Mama Tatik membaik.
Itulah yang paling mengusik Nava.
Ibunya tidak lagi mengeluh pusing. Tidurnya nyenyak. Nafsu makannya kembali. Bahkan senyumnya lebih sering muncul, lebih ringan, seolah beban yang tak terlihat telah diangkat dari pundaknya. Tubuh Mama Tatik bergerak dengan wajar, suaranya kembali stabil, dan matanya tidak lagi terlihat kosong.
Namun justru di sanalah kegelisahan Nava berakar.
Karena Nava tahu, serangan yang berhenti terlalu tiba-tiba bukanlah tanda kekalahan. Ia adalah perubahan strategi. Musuh yang cerdas tidak menghabiskan tenaga untuk sesuatu yang sudah dipetakan. Mereka menunggu. Mereka memutar arah. Mereka menanam kesabaran.
Dan Nava mulai merasakan tatapan di mana-mana.
Bukan tatapan manusia.
Di masjid kampus, saat ia duduk di saf depan dan menunduk dalam doa, ia merasakan kehadiran di saf belakang. Bukan suara gerakan, bukan bau tubuh, melainkan tekanan halus yang membuat kulit tengkuknya merinding. Namun setiap kali ia menoleh, tempat itu kosong. Karpet terhampar rapi. Tidak ada siapa pun.
Di jalan, saat berjalan sendirian di trotoar, bayangannya kadang bergerak lebih lambat dari tubuhnya. Seolah bayangan itu harus berpikir terlebih dahulu sebelum mengikuti langkahnya. Sesaat terlambat. Sesaat salah arah.
Dan setiap kali ia menyebut nama Allah dalam hati, selalu ada jeda singkat.
Bukan karena ia ragu.
Bukan karena ia lupa.
Melainkan seolah ada sesuatu yang menahan udara di antara niat dan suara batinnya. Jeda sepersekian detik itu nyaris tak disadari manusia biasa. Namun bagi Nava, jeda itu terasa seperti tangan yang mengukur, menimbang, lalu memutuskan apakah doa itu akan dibiarkan lewat atau dipantulkan kembali.
Guru Syamsi memanggilnya pada suatu sore.
Mereka bertemu di serambi pesantren kecil yang sudah tua. Kayu-kayunya menghitam dimakan usia. Setiap kali angin berembus, lantainya berderit pelan, seolah bangunan itu bernapas bersama waktu.
Tidak ada santri lain di sana. Tidak ada suara riuh. Hanya mereka berdua dan bayangan senja yang memanjang.
“Kamu sudah masuk daftar,” kata Guru Syamsi tanpa basa-basi.
Nava mengangkat wajahnya. Tidak terkejut. Hanya lelah. “Daftar apa?”
“Penjaga jalur,” jawab Guru Syamsi. “Dan perusak jalur.”
Kata-kata itu jatuh berat, seperti dua batu besar yang diletakkan bersamaan di dada Nava.
Ia menghela napas panjang. “Saya tidak memilih ini.”
Guru Syamsi menatapnya dengan tatapan yang tidak menghakimi, tidak pula menghibur. “Tak ada yang memilih dilahirkan,” balasnya tenang. “Tapi semua memilih bagaimana hidupnya.”
Ia merogoh tas kecil yang selalu dibawanya. Dari dalam, ia mengeluarkan kain kecil yang tampak sangat lusuh. Kain itu penuh lipatan, warnanya tidak lagi jelas, seolah telah menyerap terlalu banyak waktu. Saat dibuka perlahan, di dalamnya tergeletak sebuah gelang benang tua. Benangnya kasar, warnanya hampir pudar, namun masih utuh.
Nava menatap benda itu. Jantungnya berdetak lebih cepat, seakan mengenali sebelum pikirannya sempat memproses.
“Ini milik seseorang yang seharusnya mendampingimu,” ucap Guru Syamsi pelan.
Napas Nava tercekat. “Mayang Sari?” suaranya nyaris tak terdengar.
Guru Syamsi mengangguk.
“Dia tidak pergi,” lanjutnya. “Dia ditarik.”
Udara di sekitar Nava terasa runtuh. Seolah ruang menyempit beberapa inci, menekan tulang rusuknya dari segala arah.
“Siapa?” tanya Nava, meski di dalam dirinya jawaban itu sudah mengendap.
“Mereka yang merasa dirugikan oleh pilihanmu untuk tunduk,” jawab Guru Syamsi. “Ketaatanmu memutus aliran yang selama ini mereka gunakan.”
Nava mengepalkan tangan. Kukunya menekan telapak, menahan emosi yang naik seperti gelombang pasang. “Kenapa Sari?”
Guru Syamsi menatap gelang itu lama sebelum menjawab. “Karena dia jembatan,” katanya akhirnya. “Dan jembatan selalu dihancurkan lebih dulu.”
Malam itu, Nava bermimpi.
Ia berdiri di tempat yang sangat ia kenali. Gerbang besar dengan tirai berkilau yang dulu memisahkan dua dunia. Namun kini tirai itu robek. Bukan terbelah rapi, melainkan koyak kasar, seperti dicabik dengan tangan yang tidak sabar.
Di baliknya, dunia bergerak tidak wajar.
Langit berputar perlahan, seperti pusaran yang lupa berhenti. Tanah bernapas, naik turun seolah dada makhluk raksasa. Suara-suara bergema tanpa sumber, bukan jeritan, bukan bisikan, melainkan dengung panjang yang membuat kepala berdenyut.
Di tengah kekacauan itu, Mayang Sari berdiri.
Wajahnya pucat. Matanya tidak lagi tenang seperti yang selalu Nava ingat. Ada bayangan kelelahan di sana, juga kesadaran yang menyakitkan.
“Nava,” suaranya bergetar. “Aku tidak bisa lama.”
Nava berlari mendekat. Setiap langkah terasa berat, seolah lantai menarik kakinya ke bawah. “Apa yang mereka lakukan padamu?” tanyanya, napasnya memburu.
Sari tersenyum lemah. Senyum yang tidak menyembunyikan apa pun. “Mereka ingin kamu marah.”
“Aku marah,” jawab Nava tanpa ragu.
“Jangan,” Sari menggeleng pelan. “Marah akan membawamu kembali ke jalur lama.”
Air mata menggenang di mata Nava. “Aku lelah,” ucapnya jujur. “Aku lelah melindungi semua orang.”
Sari menatapnya dalam-dalam. Tatapan yang bukan permintaan, melainkan penyerahan. “Kalau begitu… lindungi satu saja.”
“Siapa?”
“Dirimu.”
Sebelum Nava sempat menjawab, tangan-tangan hitam muncul dari balik tirai robek itu. Kasar. Cepat. Tidak ragu. Mereka mencengkeram tubuh Sari dan menariknya ke belakang.
“NAVA!” teriak Sari.
Teriakan itu terpotong oleh kegelapan.
Nava terbangun dengan jeritan tertahan di tenggorokannya. Napasnya terengah. Dadanya terasa nyeri.
Subuh itu, untuk pertama kalinya, Nava mengambil keputusan tanpa meminta tanda.
Tanpa istikharah panjang.
Tanpa menunggu mimpi berikutnya.
Ia mendatangi Guru Syamsi dengan wajah mantap, meski matanya menyimpan kelelahan yang dalam.
“Saya siap terlihat,” ucapnya. “Tapi bukan untuk melawan. Untuk menutup jalur.”
Wajah Guru Syamsi mengeras. Bukan marah. Bukan takut. Melainkan sadar sepenuhnya akan konsekuensi.
“Kamu tahu artinya?” tanyanya.
“Mereka akan datang.”
“Bukan satu dua,” kata Guru Syamsi berat. “Tapi semua yang selama ini bersembunyi.”
Nava mengangguk. Tidak ada keraguan di sana. “Maka lakukan sekarang,” lanjut Guru Syamsi. “Sebelum mereka mendahului.”
Malam itu, Nava duduk bersila di masjid yang kosong.
Tidak ada lampu berlebihan. Tidak ada lilin. Tidak ada simbol aneh. Tidak ada ritual yang bisa disalahartikan sebagai pemanggilan.
Hanya dirinya.
Dan kejujuran.
Ia tidak membuka mata batin.
Ia tidak mencari apa pun.
Ia menyerahkan diri sepenuhnya.
“Ya Allah,” ucapnya lirih, suaranya hampir menyatu dengan sunyi. “Jika jalur ini bukan milikku, ambillah. Tapi jika Engkau menitipkannya… jangan biarkan aku berjalan sendiri.”
Udara bergetar.
Bukan dingin.
Bukan panas.
Melainkan tekanan yang hidup, seperti ruang yang sadar akan keputusan yang baru saja diucapkan.
Dan satu per satu, mereka datang.
Tidak menyerang.
Tidak berteriak.
Tidak menampakkan wujud penuh.
Mereka hanya berdiri.
Mengelilingi.
Menunggu.
Di kejauhan, Mama Tatik terbangun dari tidurnya. Dadanya sesak tanpa sebab. Ia duduk, memegang dada, matanya basah oleh firasat yang tidak bisa ia jelaskan.
“Nava…” bisiknya pelan. “Pulang.”
Dan di masjid itu, Nava membuka mata.
Bukan mata batin.
Melainkan mata keputusan.
Ia tahu, setelah malam ini, tidak semua akan selamat.
Dan tidak semua akan kembali.