Bab 29 Harga dari Sebuah Cahaya
Retakan di langit itu tidak melebar, ia menggantung. Bukan seperti luka yang hendak menganga, melainkan seperti mata yang dibuka setengah cukup untuk mengawasi, namun belum cukup untuk menjatuhkan keputusan.
Cahaya yang merembes dari celah itu tetap tenang, tidak menekan, namun kehadirannya membuat seluruh malam terasa berubah arah.
Masjid kecil itu kini bukan sekadar bangunan di atas tanah. Ia menjadi poros. Titik di mana lapisan-lapisan dunia saling bersentuhan tanpa benar-benar menyatu. Dan di tengah poros itu, Nava masih berlutut.
Napasnya pendek-pendek. Dada terasa ditekan oleh sesuatu yang tidak terlihat. Cahaya hangat di dadanya yang tadi menjadi penopang kini berubah menjadi beban yang hidup, seolah menyimpan keputusan yang belum diucapkan namun sudah menuntut jawaban.
Makhluk-makhluk gelap yang sejak tadi mengelilingi masjid bergerak serempak.
Bukan menyerang. Bukan mendekat.
Mereka mundur.
Gerakan itu terlalu teratur untuk disebut kebetulan. Seperti barisan yang diperintahkan untuk membuka jalan. Beberapa dari mereka menunduk. Beberapa lain memudar begitu saja, seolah keberadaan mereka tidak lagi diizinkan berada sedekat itu dengan batas.
Tanah bergetar halus. Bukan gempa, melainkan resonansi. Seperti ketika sesuatu yang sangat tua bergerak dari posisi diamnya.
Udara menekan dada Nava lebih kuat. Lututnya hampir menyentuh lantai sepenuhnya. Tangannya gemetar menahan tubuh agar tidak roboh. Namun ia tidak lari. Tidak menutup mata. Tidak memanggil apa pun.
Ia menunggu.
Dan saat itulah suara itu terdengar.
Bukan dari depan. Bukan dari belakang.
Melainkan dari segala arah sekaligus.
“Kau memanggil tanpa sadar.”
Suara itu tidak keras. Tidak pula menggelegar. Namun setiap suku katanya terasa masuk langsung ke tulang, bukan ke telinga. Nava terengah, kepalanya mendongak sedikit, meski matanya belum benar-benar berani mencari sumber suara itu.
Di hadapannya, kehadiran itu muncul.
Ia tidak turun dari langit. Tidak pula menembus dinding. Ia ada begitu saja, seolah memang selalu berada di sana dan baru sekarang diperbolehkan untuk disadari.
Bukan manusia. Bukan makhluk.
Ia tidak memiliki bentuk yang bisa digenggam oleh bahasa. Yang ada hanyalah kesadaran bahwa sesuatu sedang berdiri di hadapannya, sesuatu yang lebih tua dari jalur, lebih sunyi dari doa, dan lebih berat dari semua makhluk yang tadi berkumpul.
“Siapa Engkau?” bisik Nava, suaranya nyaris hilang di tenggorokan.
“Aku penjaga batas,” jawab suara itu tenang. “Dan kau berdiri tepat di atasnya.”
Kalimat itu jatuh seperti vonis, namun tanpa ancaman. Justru itulah yang membuatnya lebih menakutkan. Makhluk-makhluk gelap yang tersisa berlutut. Beberapa bahkan tidak sempat menundukkan diri, langsung lenyap seperti bayangan yang tersapu senja.
“Dia memutus jalur,” salah satu dari mereka berani bersuara, suaranya bergetar.
“Dia mengeringkan aliran lama,” sahut yang lain, lebih lirih.
“Karena aliran itu merusak,” jawab sang Penjaga tanpa emosi. “Dan manusia ini memilih tunduk, bukan berkuasa.”
Nava menunduk sepenuhnya. Dahinya hampir menyentuh sajadah. Air mata jatuh satu per satu, membasahi kain yang sejak tadi menjadi saksi.
“Aku tidak ingin istimewa,” ucapnya lirih, suaranya pecah.
“Aku tidak ingin terlihat. Aku tidak ingin disebut. Aku hanya ingin ibuku hidup tenang.”
Hening menyelimuti masjid. Bahkan detak jantung Nava terasa terlalu keras di telinganya sendiri.
Lalu suara itu kembali terdengar, kali ini terasa lebih dekat. Bukan mendekat secara jarak, melainkan secara makna.
“Setiap cahaya yang kau bawa,” katanya, “meminta ruang. Dan setiap ruang… menuntut harga.”
Jantung Nava berdegup keras. Ia tahu, sejak retakan itu muncul, tidak ada jalan untuk tidak membayar apa pun.
“Harga apa?” tanyanya pelan, meski rasa takut sudah lebih dulu menjawab di dalam dadanya.
Udara di depannya bergetar. Cahaya di antara mereka mengental, membentuk siluet yang sangat ia kenal.
Mayang Sari berdiri di sana.
Tubuhnya lebih samar dari sebelumnya, seolah dunia tidak lagi sepenuhnya mengizinkannya memiliki wujud. Wajahnya pucat, namun matanya tetap lembut. Senyum kecil itu masih sama seperti dulu, senyum yang selalu muncul saat Nava berada di ambang kelelahan.
“Nava,” panggilnya pelan.
Air mata Nava pecah tanpa bisa ditahan. Tangannya terulur refleks, meski ia tahu jarak itu tidak bisa dijembatani begitu saja.
“Sari…”
“Aku tidak seharusnya lama,” kata Sari lembut. “Aku ditahan di antara.”
Nava bangkit setengah berdiri, tubuhnya gemetar hebat. “Aku bisa membawamu pulang,” katanya tergesa. “Aku akan mencari cara. Aku akan—”
“Tidak,” Sari menggeleng perlahan.
Gerakan kecil itu terasa lebih berat daripada penolakan mana pun yang pernah Nava terima.
“Kalau aku kembali,” lanjut Sari, “jalur akan terbuka lagi.”
Nava membeku.
Penjaga batas berbicara kembali, suaranya netral, seolah hanya menjelaskan hukum alam.
“Pilihanmu satu.”
Nava menelan ludah. Tenggorokannya kering.
“Biarkan sukma ini kembali,” lanjut suara itu, “dan jalur lama akan hidup. Kau akan dijaga. Kau akan dilindungi. Namun dunia di sekitarmu akan terus berdarah melalui celah-celah yang kau buka.”
“Atau?” suara Nava nyaris tak terdengar.
“Atau lepaskan dia,” jawab sang Penjaga. “Tutup jalur sepenuhnya. Dunia akan tenang. Ibumu akan selamat. Namun pendampingmu… pergi selamanya.”
Sari menatap Nava dalam-dalam. Tatapan itu penuh penerimaan, bukan kesedihan.
“Aku tidak diciptakan untuk tinggal,” katanya lembut. “Aku hanya jembatan.”
Tubuh Nava gemetar hebat. Seluruh dirinya menolak pilihan itu. Kenangan-kenangan berloncatan di kepalanya. Malam-malam sunyi yang hanya bisa ia lalui karena kehadiran Sari. Tawa kecil di sela ketakutan. Keheningan yang tidak terasa kosong karena ada yang berdiri bersamanya.
“Kau sahabatku,” isaknya.
Sari tersenyum. Air mata bening mengalir di pipinya.
“Dan karena itu,” katanya pelan, “kau harus hidup.”
Nava menutup mata.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia benar-benar melepaskan sesuatu yang ingin ia genggam dengan seluruh jiwanya.
“Aku relakan,” ucapnya tersendat. “Demi Allah.”
Cahaya di dadanya berdenyut, lalu meledak pelan. Bukan ledakan yang menghancurkan, melainkan gelombang hangat yang menyapu seluruh masjid, menembus dinding, tanah, dan udara.
Makhluk-makhluk gelap lenyap satu per satu. Seolah tidak pernah ada. Retakan di langit menutup perlahan, seperti mata yang akhirnya memutuskan untuk beristirahat.
Mayang Sari tersenyum untuk terakhir kalinya.
“Terima kasih,” bisiknya.
Lalu ia menghilang.
Tanpa jeritan. Tanpa sisa.
Nava jatuh tersungkur. Tangisnya sunyi. Dalam. Tuntas. Tangis yang tidak meminta apa pun kembali.
Pagi itu, azan subuh berkumandang seperti biasa. Mama Tatik terbangun dengan dada ringan. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tersenyum tanpa rasa cemas, tanpa beban yang tidak ia pahami.
Dan di masjid kecil itu, Nava terbaring kelelahan.
Bebas.
Namun sebelum kesadarannya benar-benar tenggelam, satu suara sangat lembut menyentuh batinnya.
“Cahayamu kini murni… tapi hidupmu belum selesai.”
Dan jauh di balik batas yang kini tertutup, sesuatu mencatat satu hal dengan pasti.
Perempuan ini telah membayar harga tertinggi.
Namun dunia belum selesai menagih konsekuensinya.