Bab 6 - Pria Immortal

Penulis Itsme-R
16 January 2026

Gavin tersenyum simpul mendengar pertanyaan yang diajukan Lexie. Dia lalu menunjuk sofa besar di ruangan itu.

"Duduklah, Alexandria," titahnya.

"Anda tak lagi memanggil saya Nona Greco," ujar Lexie.

"Untuk apa? Jika kau mendatangiku dan mengajukan pertanyaan mengenai asal usulku, bukankah itu membuktikan kecurigaanku bahwa kau bukanlah pemilik tubuh itu?" sahut Gavin.

"Itu berarti satu-satunya yang adalah milikmu mungkin adalah nama depanmu, apa aku salah?"

Lexie terhenyak, untuk sesaat tubuhnya membeku dan lidahnya kelu. Dia tahu benar semua yang dikatakan pria muda itu adalah kebenaran. Tubuh ini memang bukan miliknya, identitas dan semua yang melekat, bukanlah miliknya. Hanya nama depan mereka yang sama tapi bahkan untuk sekedar mengakui itu miliknya pun Lexie tak berani.

"Anda benar" tukas Lexie pada akhirnya.

Gavin tersenyum sebelum akhirnya bangkit dari posisinya dan membawa Lexie yang masih terpaku untuk duduk di sofa bersamanya.

"Sekarang ceritakan padaku siapa dirimu?" titah Gavin.

Lexie menghela nafas dalam. Untuk beberapa saat dia terdiam sebelum mulai menceritakan semua yang di alaminya. Tentang kematiannya, jiwanya yang terbangun di tubuh wanita lain.

Siklus kematian yang berulang hampir 4 musim lamanya dan kehidupan kembali dalam rentang sekitar 5 tahun. Siklus reinkarnasi yang tak bisa membuatnya berdamai dan menjalani hidup dengan normal.

"Saya memiliki tatto di punggung yang sepertinya adalah penanda kapan hidup saya ditiap tubuh baru itu akan berakhir," Lexie mengakhiri ceritanya.

"Tatto? Seperti apa bentuknya? Bisa kau gambarkan?" tanya Gavin.

Lexie mengangguk, "Ya, Tuan Constantine."

Gavin lalu beranjak dan mengambil sebuah kertas kosong beserta pensil yang diberikannya pada Lexie. Wanita muda itu mulai menggambar bentuk tatto di tubuhnya dengan akurat.

Gavin yang memperhatikan itu, mengerutkan keningnya. Dia sama sekali tak mengenali bentuk tatto yang nampaknya cukup rumit itu.

"Seperti apa cara kerjanya?" tanyanya penasaran ketika Lexie selesai menggambar.

"Saat saya terbangun di tubuh baru, tatto ini muncul dalam warna yang pudar bahkan nyaris tak terlihat. Seiring berjalannya waktu, warna itu akan semakin jelas dan ketika bentuknya sudah sempurna, saat itu lah saya akan mati," jelas Lexie dengan santai seakan semua itu tak lagi mengganggunya.

"Sejak kapan ini terjadi?" tanya Gavin.

"Saya meninggal untuk pertama kalinya di tahun 1940 dan terbangun 5 tahun kemudian di Den Haag sebagai Hera Visser," tukas Lexie.

Gavin menaikkan sebelah alisnya, dia merasa tak asing dengan nama itu. Lalu ketika Lexie melanjutkan kata-katanya lagi, dia langsung mengingatnya. Sosok wanita muda yang kematiannya disaksikan sendiri olehnya waktu itu.

"Anda ada disana, Den Haag tahun 1945 sebagai dokter Constantine di rumah sakit tempat saya bekerja sebagai perawat. Dengan penampilan Anda yang masih sama persis seperti sekarang."

"Saya sendiri sejak awal merasa tak asing dengan sosok Anda tapi tak bisa mengingatnya dan baru semalam saya akhirnya bisa mengingat memori itu. Bukan hanya di Den Haag, tahun 1975 di Provo, Salt Lake City, Bringham Young University. Saya pernah melihat Anda di salah satu bar disana," lanjut Lexie lagi.

"Ah," Gavin mengangguk, dia memang ada di dua tempat itu dan di tahun yang disebutkan Lexie dengan tepat.

"Jadi kau sudah penasaran sejak semalam dan memutuskan mengkonfrontasiku sekarang?" simpulnya.

"Ya, Tuan Constantine," ujar Lexie tanpa ragu.

"Jadi tolong beritahu saya, Anda ini apa?"

Gavin tersenyum simpul, "Aku tak bisa memberimu jawaban itu sekarang. Seperti yang kau lakukan padaku sekarang, aku perlu mencari tahu dulu, kau ini apa?"

"Jika aku sudah menemukan jawabannya, aku janji akan kuceritakan semua padamu tentang siapa aku, Alexandria."

"Sampai saat itu bersabarlah dan tolong tetaplah hidup."


"Dasar menyebalkan!" Lexie mengumpat kesal ketika dia kembali ke ruangannya dengan rasa penasaran yang semakin membuncah.

Dia sungguh merasa seakan sedang dipermainkan sekarang, Gavin sama sekali tak mau memberitahunya siapa sesungguhnya dia itu. Padahal Lexie sudah menceritakan panjang lebar tentang apa yang terjadi pada dirinya.

"Sialan!"

"Dasar pria brengsek!"

Lexie terus memaki tanpa menyadari bahwa pria yang dimakinya telah memperhatikannya dari ambang pintu sejak beberapa saat lalu.

"Ehem!"

Suara dehaman itu sontak mengagetkan Lexie yang langsung memutar tubuhnya ke arah pintu. Wajahnya memucat saat mendapati Gavin ada di sana.

"Tu-Tuan Constantine," ujar Lexie dengan terbata.

Gavin tersenyum kecil, "Aku yakin umpatan itu untukku."

"Ah! Tidak, Tuan Constantine. Saya baru saja mengumpati seorang teman. Ya, seorang teman," Lexie berkata cepat berusaha meyakinkannya.

"Aku yakin kau aktris yang sangat baik, Alexandria. Apa lagi dengan puluhan pengalamanmu sebagai wanita lain," tukas Gavin setengah mengejeknya.

Lexie memutuskan untuk mengunci mulutnya sebelum pria itu semakin jauh mengorek kelemahannya.

"Ikut aku, kau berhutang makan siang padaku." Tukas Gavin sambil berbalik.

"Makan siang?!" Lexie berujar tak percaya.

Gavin menghentikan gerakannya dan menelengkan kepala ke arah Lexie yang bergeming di tempatnya.

"Tentu saja, kau berhutang banyak untuk malam itu, Alexandria. Makan siang adalah satu cara untuk membayarnya, sisanya akan kupikirkan nanti." Tukas Gavin yang lalu melanjutkan lagi langkahnya keluar.

Lexie masih terpaku sejenak sebelum kembali merutuk dirinya yang tak bisa melawan dan Gavin yang terlalu menggoda untuk ditolak.

"Sial! Kau memang lemah terhadap pesona pria muda tampan dan kaya raya, Lexie,"

Wanita muda itu lalu bergegas menyusul sang CEO yang sudah berada di depan lift, menunggunya.

"Tuan Constantine, Anda bisa sebutkan restoran yang Anda inginkan dan saya akan menyusul kesana," usul Lexie.

Dia sungguh tak ingin terlihat berjalan bersama Gavin di area perusahaan itu. Menjelaskan kejadiannya pada para penggosip akan sangat merepotkan.

"Pertemuan bisnis dengan salah satu investor. Katakan itu pada mereka yang bertanya padamu. Sisanya kurasa kau cukup pintar untuk mengarang cerita," sahut Gavin dengan santainya.

Lexie menghela nafas kasar, pria ini sungguh sangat sulit ditaklukkan. Dia akhirnya memutuskan untuk menyerah dan patuh pada apa pun yang diinginkannya agar urusan ini segera selesai.

"Baiklah, Tuan Constantine."

"Sekarang aku menyesali keputusanku menceritakan semuanya padanya tadi. Jika tahu begini lebih baik aku dipecat saja," lanjutnya dalam hati.

"Aku tak akan memecatmu sekalipun kau tak menceritakan soal tadi padaku, Alexandria. Sebagai pegawai kau cukup kompeten, akan merepotkan mencari penggantimu," Gavin berujar seakan bisa membaca pikiran wanita itu.

Lexie terbelalak, "Bagaimana Anda ..."

"Hanya pastikan saja, jika tatto itu mulai jelas yang menunjukkan kematianmu semakin dekat, delegasikan pekerjaanmu pada yang lain agar kami tidak repot nantinya," titah Gavin tanpa peduli Lexie yang langsung merasa ingin mencekiknya sekarang.

Dengan tarikan nafas panjang karena tahu mencekik Gavin Constantine hanya akan mempercepat kematiannya, Lexie menjawab dengan geraman kesal.

"Saya mengerti, tuan Constantine."


Gavin membawa Lexie ke sebuah restoran mewah yang cukup terkenal di kota itu. Saat tahu pria itu membawanya kemana, Lexie sontak mencengkeram erat tas yang berisi dompetnya.

"Tabunganku ... Uangku ...," rutuknya dalam hati.

Dia jelas tahu tempat itu tak murah dan sekalipun tabungan dari gaji yang disimpan oleh Alexandria Greco sebelumnya, cukup banyak. Tetap saja ini akan menguras dalam rekeningnya.

Ketika melihat menu yang dipilih Gavin untuk mereka, Lexie sekuat tenaga berusaha untuk tak memicingkan mata pada pria itu. Bayangkan saja, pria itu memilih menu favorit dengan set lengkap dan jelas merupakan yang termahal di sana.

"Aku harus mengencangkan ikat pinggangku mulai besok." Batin Lexie yang sudah sangat ingin menangis meratapi isi dompetnya sekarang.

"Tak perlu sampai begitu, Alexandria." Gavin tiba-tiba berkata saat pelayan sudah pergi meninggalkan mereka setelah mencatat pesanan.

Lexie lagi-lagi terheran karena pria di depannya itu seakan selalu bisa mengetahui apa yang dipikirkannya. Ekspresinya menunjukkan itu dengan jelas hingga Gavin sedikit tertawa melihatnya.

"Bagaimana bisa Anda selalu tahu?" Lexie akhirnya melepas pertanyaannya.

Gavin hanya tersenyum penuh arti yang membuat Lexie mendengus kesal melihatnya.

"Lupakan saja, tolong anggap saya tak pernah menanyakan itu." Tukasnya sambil memberengut kesal.

Tak lama kemudian pelayan kembali dan membawakan pesanan mereka. Begitu semua tersaji, Lexie memilih meraih wine mahal yang harus dibayarnya nanti dan menyesapnya.

"Setidaknya sekali selama hidupku aku bisa merasakan minuman mahal," batinnya.

"Aku memiliki banyak wine yang lebih mahal dari ini jika kau mau, Alexandria." Gavin berujar sambil tersenyum jahil yang lagi-lagi membuat Lexie terdiam.

"Sungguh, tuan Constantine. Anda penyihir, cenayang atau semacamnya? Atau mungkin Anda seperti Edward Cullen? Vampir tampan yang bisa membaca pikiran?" cecar Lexie.

Gavin terkekeh mendengarnya, "Imajinasimu luar biasa, sayangnya semua itu tak ada yang benar. Mendekati pun tidak."

Lexie mengerutkan keningnya, "Anda masih tetap tak mau memberitahu saya sekarang."

Gavin tersenyum sambil mengangsurkan piring berisi daging steak yang telah dipotong-potong olehnya dan menukarnya dengan piring di depan Lexie.

"Makanlah, Alexandria." Ujarnya dengan senyum penuh arti.

Lexie tertegun, perlakuan sederhana itu baru pertama di dapatnya. Ada gelenyar perasaan aneh saat mendapatkannya, apa lagi dari seorang pria yang begitu ditakuti dan terkenal tak tersentuh itu.

Dengan patuh Lexie memulai acara makannya dan tak lagi bicara apa pun. Jika ada satu hal yang dipelajarinya dari pria muda di depannya itu, Gavin tak suka bicara saat makan.

Ketika makanan mereka telah tandas dan hanya tinggal menghabiskan wine mereka, Gavin mulai bicara lagi dengannya. "Berapa usiamu, Alexandria?" tanyanya.

"27 tahun," jawab Lexie.

Gavin mengangguk, "Secara resmi, dokumen identitasku saat ini menunjukkan usiaku 33 tahun."

Lexie mengerutkan dahinya tak mengerti, "Secara resmi? Itu berarti bukan usia Anda yang asli, kan?"

"Jadi berapa usia Anda sebenarnya?"

Ketika Gavin tak kunjung menjawab dan hanya tersenyum kecil. Lexie sontak merasa kesal karena pria itu selalu membangkitkan rasa penasarannya, lalu menggantungnya tanpa jawaban begitu saja.

Kemudian entah keberanian dari mana, Lexie berujar ketus pada CEO itu, "Anda tetap tak mau menjawabnya, bukan? Tolong berhenti membuat saya penasaran jika Anda tak mau menjawab pertanyaan saya."

"Sampai sejauh mana pengetahuanmu tentang mitologi, Alexandria?" tanya Gavin, mengabaikan perkataan Lexie barusan.

"Saya tak mengerti maksud Anda, tapi jika harus menjawab, tak terlalu banyak yang saya tahu soal mitologi sekalipun saya cukup sering membaca beberapa kisahnya dari internet." Tukas Lexie masih dengan tatapan heran.

Senyum tipis kembali muncul di wajah bos tampannya itu saat menimpali setelahnya, "Usiaku yang sesungguhnya, aku tak pernah benar-benar menghitung, mungkin usiaku sudah ribuan tahun sekarang."

"Aku lahir di masa perang Troya sekitar abad ke 12 atau 13 sebelum masehi."