Bab 7 - Vampir Atau Manusia Serigala

Penulis Itsme-R
16 January 2026

Lexie tertegun, "Ri-ribuan tahun?"

"Troya, saya pernah membaca dan menonton film tentangnya. Apa maksud Anda dengan itu sebenarnya?" Lexie mencoba mendesak lagi.

Gavin tertawa kecil, "Hanya sampai sebatas itu dulu yang bisa aku katakan padamu, Alexandria."

"Jika kau ingin tahu, cobalah mempelajari lebih lanjut semua mitologi dan folklore di sekitarmu. Siapa tahu kau akan menemukan bahwa duniamu sesungguhnya tak sesederhana ini." Ujarnya lagi sambil tersenyum.

Lexie menatapnya penuh antisipasi, "Serius, Anda benar-benar bukan Vampir, kan? Karena jika iya, saya perlu mengatakan bahwa darah saya tidak enak."

Gavin sontak tertawa keras, "Alexandria, aku bisa pastikan padamu bahwa aku jauh lebih luar biasa dibanding makhluk itu."

"Oke, jadi Anda bukan vampir tapi lebih baik dari mereka. Warewolf?" Tebak Lexie dengan ekspresi polosnya.

"Apa kau sedang mengikuti alur dalam buku tentang Vampir dan Warewolf yang saling bermusuhan?" Gavin bertanya disela tawanya yang kembali mengudara.

Lexie memberengut kesal, "Karena jika saya katakan Anda Nephilim atau Elf, sepertinya Anda masih kurang tampan dibanding mereka."

Gavin mendengus, "Aku tak tahu dari mana asal gagasan bahwa dua makhluk yang kau sebutkan tadi dikatakan memiliki penampilan menawan. Imajinasi kalian para Demos (merujuk pada orang biasa atau manusia biasa dalam bahasa yunani kuno) memang luar biasa."

"Demos?" Lexie menyahut tak mengerti.

"Ya, bersabarlah. Kau akan segera tahu."

Setelah mengatakan itu, Gavin menaikkan sebelah tangannya meminta tagihan meja mereka pada pelayan lalu mengeluarkan sebuah Black Card yang membuat Lexie mendelik padanya.

"Tuan Constantine, bukankah seharusnya saya yang membayar ini?" Lexie bertanya walaupun dalam hatinya bersorak gembira karena tak perlu membayar makanan mahal mereka.

"Jika aku membiarkanmu, kau akan kelaparan sampai hari gajian berikutnya dan itu akan merepotkanku jika kau sampai absen karena itu," ujar Gavin.

Lexie sontak cemberut dan membatin, "Pria menyebalkan! Untunglah dia masih cukup punya hati untuk membiarkan dompetku tetap aman."

"Terimakasih kembali, Alexandria." Gavin berujar dengan senyum penuh arti.

Lexie kembali melotot pada CEO tampannya itu, "Bisakah Anda berhenti membaca pikiran saya?"

"Sayangnya aku tak bisa melakukannya. Kau menyenangkan, Alexandria." Tukas Gavin sambil beranjak berdiri setelah pelayan mengembalikan kartunya.

"Ayo pergi, atau kau mau mencuci piring disini." Ujarnya lagi ketika Lexie tak kunjung bangkit dari duduknya.

Lexie mendengus sebelum bangkit dan mengikuti langkah pria itu menuju mobil mewahnya terparkir.

"Eum, tuan Constantine. Mungkin lebih baik bila saya kembali sendiri saja agar tak semakin banyak gosip yang keluar," usul Lexie.

Gavin menatapnya sejenak, "Baiklah,"

Setelah mengatakan itu, Gavin berjalan ke pintu pengemudi dan benar-benar meninggalkan Lexie yang menatap kepergiannya dengan ekspresi tak percaya.

"Shit! Kukira dia tak akan sungguh-sungguh menurutiku," rutuk Lexie.

"Tadi dia tak masalah pergi bersamaku dan sekarang dia malah menurutiku?! Apa-apaan itu?! Pria brengsek!" Lexie terus bersungut-sungut sambil melangkah ke pinggir jalan raya untuk mencegat taxi.

DIIIN ... DIIIN ...

Sebuah mobil mewah yang jelas sangat dikenali Lexie karena mobil itu lah yang membawanya ke restoran itu, berhenti tepat disisinya.

"Masuk." Gavin yang menurunkan kaca mobilnya, berkata tegas hingga Lexie merasa dia akan mati saat itu juga jika berani membantah.

Dengan cepat tanpa mengatakan apa pun, Lexie membuka pintu penumpang dan duduk di kursi sambil memasang sabuk pengamannya lalu menatap lurus ke depan. Dia sama sekali tak berani memandang ke arah Gavin.

"Aku mendengar umpatanmu, Alexandria." Gavin berkata tajam hingga membuat Lexie menelan ludahnya kasar.

"Mati kau, Lexie." rutuknya dalam hati.

"Oh, kau tak akan mati. Tidak sebelum aku tahu kau ini apa," tukas Gavin.

Vrooom ...

Gavin langsung menjalankan lagi mobilnya setelah mengatakan itu. Dia mengemudi dengan kecepatan sedang menuju gedung perusahaannya. Lexie baru merasa lega saat mereka akhirnya berhenti di pelataran parkir gedung itu.

"Kau bisa turun disini, Alexandria," ujar Gavin.

Tak perlu diminta dua kali, Lexie langsung melepas sabuk pengaman dan membuka pintu mobil itu. Sebelah kakinya sudah keluar menapak lantai parkiran ketika suara Gavin menghentikannya.

"Datanglah ke mansionku 3 hari lagi. Akan kukirim supir ke apartemenmu. Aku tak menerima penolakan atau kau benar-benar kupecat kali ini!"

"Baik, Tuan Constantine," tahu dia tak punya pilihan, Lexie memutuskan untuk pasrah dan menuruti apa pun keinginan pria itu saat ini.

Setelah memastikan Gavin benar-benar pergi, barulah Lexie melanjutkan langkahnya menuju lift yang membawanya ke ruangannya.

BRAK ..

Lexie membanting pintu di belakangnya begitu sampai. Dia merasa sangat kesal sekaligus penasaran. Kesal karena merasa Gavin seakan mempermainkannya tapi juga penasaran pada semua misteri tentangnya yang begitu menarik Lexie.

"I hate him!" Lexie nyaris meneriakkan kalimat itu jika tak mengingat dia berada di kantor bukannya di apartemennya.

Wanita muda itu lalu duduk di kursi dan mulai mengambil nafas perlahan, menenangkan dirinya. Setelah tenang, Lexie mulai kembali bekerja hingga saat jam pulang tiba, ponselnya berdering.

"Halo?" sapanya saat dia tak mengenali nomor ponsel siapa yang menghubunginya.

"Alexandria," suara Gavin lah yang terdengar kemudian hingga membuat Lexie terpaku.

"Tuan Constantine, Anda memerlukan sesuatu?" Lexie mencoba tetap bersikap tenang dan ramah.

"Jika kau sudah selesai, turunlah. Aku menunggumu di bawah," tukas Gavin yang langsung mengakhiri panggilan itu.

"Ap-apa? Tuan .."

Lexie tak bisa menyelesaikan kalimatnya karena panggilan telah diakhiri sepihak. Dia kembali mengumpati pria itu sebelum beranjak membereskan barang-barangnya sambil terus mengumpat dan keluar dari ruangan itu.

"Lama sekali," komentar Gavin saat Lexie akhirnya masuk ke dalam mobil.

"Maafkan saya, tuan Constantine. Saya tak tahu Anda akan meminta saya ikut dengan Anda jadi saya perlu waktu untuk membereskan barang," jelas Lexie seramah mungkin meski rasanya ingin sekali meneriaki pria yang ekspresinya tetap datar itu.

Gavin tak menjawab dan hanya mengangguk lalu mulai melajukan mobilnya keluar dari area gedung.

"Aku hanya akan mengantarmu pulang. Mulai sekarang aku akan mengantar dan menjemputmu. Jika aku tak bisa melakukannya, supirku yang akan melakukannya," tukas Gavin.

Lexie menatapnya heran, "Anda tak perlu melakukan itu, Tuan."

"Memang, tapi mereka sudah tahu siapa wanita yang ada di tempat kejadian dan mendengar suara tembakan itu. Kau tahu artinya?" tanya Gavin.

Wajah Lexie sontak memucat, "Mereka mengincar saya."

"Ya, aku masih belum mendapatkan jawaban tentangmu jadi aku tak bisa membiarkanmu mati di tangan mereka untuk saat ini, Alexandria," ujar Gavin.

"Itu seakan Anda akan membiarkan saya mati jika Anda sudah tak lagi membutuhkan saya," Lexie berkata dengan ngeri.

"Itu terdengar mengerikan, tapi aku akan membuat mereka mundur dan tak mengusikmu, walau aku tak yakin itu akan bertahan lama. Setidaknya kau punya cukup waktu untuk hidup," sahut Gavin.

"Itu sama sekali tidak membantu, Tuan" keluh Lexie.

Ekspresi wanita muda itu suram sekarang. Dia mulai merasa lelah dengan semua repetisi hidup dan mati ini.

"Aku tak pernah mencoba mengakhiri hidupku sendiri sebelumnya. Apa yang terjadi jika aku melakukannya sebelum batas waktu di tatto itu berakhir?" Lexie bermonolog dalam hati.

"Jangan coba-coba apalagi memikirkannya lagi, Alexandria. Atau aku akan menghukummu!" Gavin menyentaknya hingga membuat Lexie terkejut dengan nada tak biasa pria itu.

"Kau baru saja berpikir untuk mencoba mengakhiri hidupmu, bukan? Pernahkah kau berpikir bahwa kau beruntung masih tetap hidup sekalipun di tubuh orang lain?" Gavin berkata lagi mendesaknya kali ini.

Lexie tersenyum kecil, "Ya, saya pernah memikirkannya. Tapi hidup yang Anda maksud ini bukan milik saya, dari mana letak beruntungnya?"

Kali ini Gavin yang tertegun, "Maaf, aku salah bicara. Kurasa aku sudah menyinggungmu, maafkan aku."

Lexie jelas terkejut saat mendengar pria itu tiba-tiba meminta maaf sampai dia gelagapan menjawabnya.

"Ti-tidak apa, Tuan Constantine."

Gavin tersenyum mendengar itu, "Turunlah, kita sudah sampai."

Lexie langsung melempar pandang ke luar jendela dan benar saja, mereka telah sampai di depan gedung apartemennya. Dia lalu melepas sabuk pengaman dan bersiap turun.

"Terimakasih sudah mengantar saya, Tuan." Ujarnya dengan senyum tulus.

"Tak masalah, masuklah," titah Gavin.

Lexie menurut dan turun dari mobil itu lalu melangkah masuk ke dalam apartemen. Begitu dia sudah berada di depan pintu gedungnya, dia baru mendengar mobil Gavin menjauh. Pria itu menunggu sampai dia aman baru pergi dari sana.

"Dia sangat berbahaya untuk kesehatan jantungku." Batin Lexie sambil melanjutkan langkahnya.


Simpan nomor ponselku. Jika kau mendapat teror atau apa pun itu, hubungi aku.

Lakukan dan jangan menolak atau mencoba mengumpatiku, aku masih bisa mendengar umpatanmu, Alexandria.

Gavin mengiriminya pesan tepat setelah dia sampai di unit apartemennya dan baru saja meletakkan tas serta melepas blazer yang dikenakannya.

"Pria gila." Ujar Lexie, walau jemarinya tetap bergerak menyimpan nomor pria itu dan membalas pesannya bahwa dia sudah melakukannya tanpa protes.

Setelah meletakkan ponselnya, Lexie masuk ke kamar tidur dan mulai membersihkan dirinya. Sekitar 20 menit kemudian, Lexie keluar dari kamar tidur dan menuju dapur bermaksud mulai memasak makan malam untuknya ketika suara bel menghentikannya.

Lexie menatap pintu unitnya sembari mengernyit, "Siapa yang datang malam-malam begini?"

Dia langsung memiliki firasat buruk, yang dikatakan Gavin soal para mafia itu mengincarnya benar-benar membuatnya takut. Lexie lalu beranjak mengambil ponsel dan tasnya juga memakai jaketnya sebelum mengintip dari lubang di pintu.

Benar saja, di luar pintunya ada 3 orang pria berbadan besar dengan jaket kulit dan tatto yang dikenali Lexie adalah lambang yang sama dengan yang ada pada para penyerangnya tempo lalu.

"Sial! Mereka sungguh mengincarku," batin Lexie.

Pikiran pertama yang terlintas di benaknya adalah kabur. Dia lalu teringat pesan Gavin dan mulai menghubungi pria itu sembari bergegas masuk kembali ke dalam kamarnya, mengunci pintunya dan memalangnya dengan lemari.

Setelah memastikan aman, dia bergegas menuju jendela dan keluar dari sana menuju balkon yang membawanya ke sebuah tangga besi yang bisa di tarik turun sebagai tangga darurat.

"Halo?" suara Gavin akhirnya terdengar setelah beberapa deringan yang rasanya sangat lama bagi Lexie.

"Tuan, mereka disini di depan pintu saya." Ujar Lexie dengan suara bergetar oleh rasa takut.

"Aku sudah dekat, keluarlah dari sana jika kau bisa," ujar Gavin.

Lexie melebarkan matanya tak menyangka pria itu sudah tahu lebih dulu, "Saya ada di balkon dan akan turun dengan ..."

BRAK .. BRAK .. BRAK ..

Kata-kata Lexie terputus ketika suara dobrakan pintu mulai terdengar. Ketiga pria itu mulai merangsek masuk ke kamarnya. Lexie mempercepat gerakannya menuruni tangga dan saat sampai di beberapa anak tangga terakhir, dia langsung melompat begitu saja.

"Uhk!"

Lexie sedikit mengaduh ketika pendaratannya tak mulus dan kakinya mungkin terkilir, tapi dia tak punya waktu untuk sekedar memeriksa. Wanita cantik itu lalu berlari menjauh dari lokasi gang di samping gedung apartemennya menuju area pinggir jalan raya.

CKIIT ..

Sebuah mobil mewah yang dia tahu adalah milik Gavin, berhenti tepat saat dia mencapai pinggir jalan itu.

"Masuk," titah Gavin.

Tak perlu diperintah lagi, Lexie langsung masuk dan Gavin pun langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.

"Ck! Vampir brengsek!" Gavin mengumpat saat melihat dari kaca spionnya.

Lexie mengerutkan keningnya tak mengerti, dia lalu mengikuti arah pandang Gavin dan seketika matanya melebar.

"I-itu, apa itu?" tanyanya ngeri saat matanya menangkap pemandangan tiga makhluk aneh dengan sesuatu yang besar di punggungnya yang bergerak begitu cepat seakan terbang.

"Itu adalah Vampir tampan yang kau katakan siang tadi, Alexandria."