Bab 8 - Damn! He's Hot

Penulis Itsme-R
16 January 2026

"Mereka? Vampir? Anda tidak sedang bercanda, kan?" cecar Lexie yang sangat sulit percaya pada Gavin, wanita itu bahkan tak mempercayai matanya sendiri.

"Kau punya penjelasan lebih bagus makhluk apa itu?" sindir Gavin.

Lexie terdiam, "Iblis mungkin?"

"Imajinasimu memang luar biasa, Alexandria. Sayangnya bahkan dalam ribuan tahun hidupku, aku tak pernah menemui iblis," tukas Gavin.

"Pegangan!" titah Gavin.

Lexie tak perlu diberitahu dua kali. Dia langsung mengencangkan pegangannya ke kursi dan menegakkan tubuhnya. Gavin benar-benar mengemudi seperti orang kesetanan demi menjauh dari ketiga monster itu.

"Tuan, kita akan kemana?" tanya Lexie.

"Mencari tempat yang cukup sepi untuk menghancurkan mereka. Akan merepotkan jika polisi terlibat, aku benci berurusan dengan anak-anak Themis (dewi keadilan dalam mitologi Yunani)," ujar Gavin.

"Themis?" Lexie pernah membacanya, nama salah satu dewi Yunani itu.

"Sudah kubilang duniamu tak sesederhana itu, Alexandria," tukas Gavin.

"Sial! Yang besar ikut bergabung." Umpat Gavin saat mengecek ke arah spion.

Lexie ikut menatap ke arah belakang dan matanya kembali terbelalak lebar saat mendapati satu monster lagi yang sama persis dengan tiga yang lain, hanya saja dia memiliki tubuh dua kali lipat lebih besar.

"Apa lagi itu?" tanyanya.

"Kau bisa sebut mereka semacam Caporegime (para ketua kelompok di dalam organisasi mafia yang menguasai wilayah tertentu) dan para prajuritnya," ujar Gavin.

"Anda menggambarkan mereka dengan struktur dalam dunia mafia," protes Lexie.

"Memang seperti itu yang paling mudah untuk menggambarkan mereka. Lagi pula mereka memang para mafia itu," tutur Gavin.

"APA?!" Lexie memekik tak percaya.

"Bisa pelankan suaramu? Aku sedang berusaha membuat kita berdua tetap hidup," sindir Gavin tajam.

Lexie sontak mengatupkan bibirnya rapat. Dia tahu tak boleh lagi mengusik Gavin yang sedang mengemudi. Pria itu terus mengarahkan kendaraannya menuju area luar kota sampai wilayah dengan pepohonan di kanan kiri jalan raya.

Ckiit .. Vrooom ..

Gavin mengerem sedikit lalu membanting setir dan mengarahkannya masuk ke dalam area pepohonan itu sampai menemukan semacam tanah lapang dan menghentikan mobilnya disana. Pria itu lalu membuka kompartemen di depan Lexie dan mengeluarkan dua buah senjata yang sudah terisi penuh peluru.

"Kau bisa menembak?" tanya Gavin.

Lexie terkesiap, "Saya bisa tapi bukan dengan tubuh ini"

Dirinya pernah terbangun di tubuh seorang wanita yang merupakan salah satu agen intelijen dan memiliki kemampuan beladiri serta menembak yang sangat bagus.

"Cobalah, tubuhmu sekarang mungkin tak melakukannya, tapi otakmu mengingatnya." Tukas Gavin sambil memberikannya salah satu senjata itu.

"Aku harus menggiring mereka dan mengatasi terutama yang besar. Jika ada satu yang lolos dan mengincarmu, pakai ini untuk mempertahankan dirimu, kau mengerti?" desak Gavin, dia tahu mereka tak punya banyak waktu.

Lexie mengangguk, "Baik, Tuan."

Gavin tersenyum mendengarnya, "Usahakan untuk tetap hidup sampai aku kembali, Alexandria."

Setelah mengatakan itu, Gavin keluar dari mobilnya dan berjalan pergi masuk ke area hutan kecil di dekat mereka sampai Lexie tak bisa lagi melihat sosoknya.

Dia menggenggam erat senjatanya di depan dada sambil menajamkan semua inderanya untuk mendeteksi gerakan atau suara sekecil apa pun.

BRUK ..

Graahh ...

Suara benda jatuh dan geraman terdengar tak jauh darinya. Mata Lexie terbelalak ketika mendapati salah satu monster yang mengejar mereka mendarat sekitar 100 meter dari tempatnya berada sekarang. Sebisa mungkin dia menetralkan nafas dan degupan jantungnya yang menggila karena rasa takut luar biasa.

"Sial! Sial!" batinnya.

KRAAAK ... BRAKK ...

Suara retakan dan robohnya sebuah pohon yang berjarak tak jauh di depannya tepat dimana Gavin meninggalkannya tadi, terdengar.

Lexie tak bisa melihat dengan jelas di kegelapan malam, tapi dia yakin melihat sesosok hitam besar sempat mendarat di sana sebelum tiba-tiba menghilang entah bagaimana.

"Sudah dua, dimana dua lagi?" batinnya bertanya-tanya.

Dia lalu menoleh ke arah makhluk yang pertama dilihatnya dan ternyata sudah tak ada lagi di tempatnya semula.

"Kemana dia?" bisiknya tak tenang.

Srakk .. Srakk ..

Lexie tak bisa melihat apa pun di kegelapan tapi dia yakin mendengar suara seperti kepakan sayap yang mengelilingi udara di atas mobil itu. Lalu dia melihat mereka, tiga monster yang lebih kecil yang disebut Gavin sebagai prajurit, mendarat beberapa meter dari area pepohonan.

Nafas Lexie sontak tertahan ketika lagi-lagi pemandangan tak masuk akal dilihatnya. Di depannya ketiga monster itu berubah menjadi tiga sosok pria berpakaian hitam dengan tatto. Mereka adalah tiga pria yang menyerang apartemennya tadi.

"Jadi, Tuan Constantine benar. Mereka adalah para mafia itu?!" lirihnya.

"Shit! Mati kau, Lexie" umpatnya ketika salah satu dari tiga pria itu menatap tepat ke arahnya dan mulai melangkah menghampirinya.

Lexie menyiagakan senjatanya, teringat pesan Gavin bahwa dia harus bertahan sampai pria itu kembali. Dirinya sedikit mengumpati bosnya itu karena meninggalkannya sendiri bersama monster entah apa itu.

Jarak pria itu semakin dekat dengan mobilnya dan Lexie dapat melihatnya menyeringai sementara dua lainnya tiba-tiba kembali menjadi sosok monster itu lagi dan mulai terbang ke arahnya dengan cepat.

SLASHHH.. CRASSS ...

Suara ayunan sebuah pedang atau sesuatu yang tajam terdengar cukup keras membelah sunyinya malam. Dengan dua matanya yang bersinar ketakutan, Lexie melihat Gavin tiba-tiba menerjang entah dari mana ke arah dua makhluk itu dan memotong tubuh mereka jadi dua.

Pria itu lalu mendarat dengan satu kaki berlutut, tangannya mencengkeram sebilah pedang yang nampak tajam. Dia lalu bangkit dan berdiri tegak menghadap sisa satu makhluk lagi yang telah kembali ke bentuk aslinya.

GRAH ...

Makhluk itu menerjang ke arahnya dan Gavin dengan sigap menghindarinya. Gerakannya begitu cepat, namun Lexie masih bisa mengikutinya.

"Damn! He's so hot" batinnya ketika melihat sosok Gavin yang begitu serius meladeni perlawanan makhluk itu.

"Sial! Apa yang baru saja kupikirkan?!"

"Kau bodoh, Lexie! Bisa-bisanya berpikir begitu di tengah situasi hidup dan mati?!"

Lexie malah bermonolog sendiri hingga tak memperhatikan bahwa Gavin telah menebas kepala monster itu dan mengibaskan pedangnya agar bersih dari darah mereka.

Dia bahkan juga tak tahu ketika pedang itu menghilang begitu saja dari tangan Gavin saat pria itu mulai melangkah menuju mobilnya.

BRAK ..

"Oh, Astaga! Anda mengagetkanku, Tuan Constantine!" Lexie berjengit karena terkejut dengan Gavin yang sudah masuk ke dalam mobil.

Wanita cantik itu lalu menatap ke depan dan mendapati ketiga makhluk yang tadi menyerang mereka telah dikalahkan dan tubuh mereka seperti berubah menjadi abu yang kemudian diterbangkan angin.

"Sudah selesai?" gumamnya lirih.

Gavin mendengus, "Lain kali kau harus lebih memperhatikan situasinya, Alexandria."

"Aku tahu, aku menawan dan apa katamu tadi? Hot? Yes, I am." Lanjutnya dengan seringai jahil.

Lexie sontak melotot ke arahnya, "Saya tak mengatakan itu."

"Teruslah mengelak, Alexandria. Pikiranmu jauh lebih jujur darimu."


"Eung,"

Lexie menggeliat saat merasakan terpaan cahaya matahari di wajahnya pagi itu. Dia mengusap kedua matanya sebelum membukanya dan menyadari dia terbangun di tempat asing.

"Ah, benar. Semalam Tuan Constantine membawaku ke mansionnya lagi," batinnya.

Setelah ketegangan dengan monster-monster aneh yang baru pertama kali dilihatnya itu, Gavin membawanya ke mansionnya dan meminta Lexie untuk tinggal disana sampai dia selesai membereskan sisa kelompok mafia itu.

"Berapa lama, tuan Constantine? Saya tak mungkin disini terlalu lama." Tanya Lexie dengan cemberut karena pria itu selalu memutuskan sepihak.

"1 minggu, tinggallah disini selama 1 minggu lalu aku akan mengembalikanmu ke apartemenmu setelah semua selesai," tukas Gavin.

Lexie mengingat percakapan mereka semalam yang membuatnya menghela nafas pasrah. Dia menatap ke sekeliling dan dibuat takjub lagi oleh kemewahan kamar itu.

"Yah, setidaknya untuk 1 minggu kau akan hidup bak orang kaya. Di kamar ini," ujarnya riang berusaha meyakinkan dirinya bahwa semua akan baik-baik saja.

Lexie lalu turun dari ranjang dan mulai membersihkan dirinya. Saat dia selesai dan menuju walk-in closet, dirinya terheran ketika mendapati isi seluruh bagian luas itu penuh dengan pakaian, sepatu, tas dan berbagai pernak-perniknya.

Yang lebih mengherankan lagi, semua pakaian itu sesuai ukurannya. Mau tidak mau sebuah pemikiran timbul di benak Lexie.

"Sepertinya pria pemaksa itu sudah merencanakan untuk menahanku disini sejak lama."

"Aish! Aku pusing. Sudahlah, nikmati saja," Lexie kembali bermonolog sembari memilih pakaian yang akan dipakainya.

Ceklek ..

Sudah siap dengan setelan kerjanya dan riasan tipis terpoles, Lexie keluar dari kamar itu menuju ruang makan di lantai bawah. Ketika dia sampai, Gavin sudah ada di sana dengan surat kabar di tangan dan secangkir kopi di depannya.

"Selamat pagi, Tuan Constantine," sapanya.

"Ya, selamat pagi, Alexandria." Gavin menyapa balik tanpa mengalihkan atensinya.

Lexie tak ingin ambil pusing dengan sikap cuek pria itu, dia mendudukkan dirinya lalu mulai mengambil makanan tanpa menunggu tuan rumah hingga membuat Gavin mengulum senyum melihat tingkahnya.

"Anggap saja rumah sendiri, Alexandria," ujar Gavin.

"Tentu saja, Tuan Constantine. Terimakasih" tukas Lexie dengan entengnya.

Gavin terkekeh lalu mulai mengambil bagian sarapannya dan mereka pun menikmati hidangan itu dengan tenang.

"Kau memilih diantar supirku atau pergi bersamaku?" Gavin memberinya penawaran.

"Ah, boleh dengan supir Anda saja? Saya tak ingin ada berita macam-macam di kantor," ujar Lexie.

"Kau benar-benar tak mau terlibat skandal denganku, ya? Wanita lain malah menginginkannya kau tahu." Celetuk Gavin sambil menggeleng heran.

"Sepertinya saya sudah mengatakannya, tuan Constantine. Waktu hidup saya selama ini paling lama hanya mencapai empat musim dan itu bahkan seringkali tak genap 1 tahun, jadi sebisa mungkin saya harus meninggalkan kesan baik untuk tubuh ini," jelas Lexie.

"Sepertinya kau sudah sangat terbiasa dengan kondisi menyebalkan itu," komentar Gavin.

"Terpaksa, jika tidak saya mungkin sudah gila dan membunuh diri sendiri yang mana mungkin sama percumanya karena saya hanya akan terbangun lagi di tubuh orang lain. Jadi, nikmati saja," Lexie menyahutinya dengan enteng.

Gavin mengangguk, "Pertahankan itu, Alexandria."

"Supirku akan mengantar dan menjemputmu kemana pun. Sementara waktu sampai aku bilang situasinya sudah aman, jangan pergi tanpanya. Dia bisa mengawalmu dan membantumu tetap aman meski tanpaku."

"Kau mengerti?" Gavin bertanya serius.

Lexie mengangguk, dia sudah memahami situasinya memang cukup serius untuk nyawanya walaupun tidak masuk akal.

"Saya mengerti, Tuan."


Beberapa jam sebelumnya,

Seorang wanita muda berjalan keluar dari sebuah bar dengan langkah sempoyongan. Dia terlalu banyak minum malam itu hingga membuatnya nyaris kehilangan kesadaran.

Dengan sisa kesadarannya, dia menelpon saudaranya dan memintanya menjemput di depan bar itu. Usai menelpon, wanita itu mendudukkan dirinya di salah satu bangku yang ada di dekat sana.

Kepalanya tertunduk dengan mata terpejam. Pening mulai dirasakannya, tubuhnya juga mulai melemas. Kemudian, dia merasakan seseorang duduk di sebelahnya.

"Anda baik-baik saja, Nona?" tanya orang itu yang adalah seorang pria.

"Ah, ya saya baik-baik saja." Jawabnya sambil mengangkat wajahnya dan menatap pria yang sialnya sangat tampan itu.

"Siapa nama anda, Nona cantik?" tanya pria itu.

"Mencoba menggodaku, eh?" Wanita itu menjawab dengan senyum setengah sadar.

"Vivi, namaku Vivi," tukasnya.

Pria itu tersenyum, "Vivi, mau bersenang-senang denganku?"

"Aku ingin, kau sangat tampan tapi saudaraku akan segera datang." Tukas Vivi dengan nada merengek, dia sudah sangat mabuk dan tak lagi menyadari penuh situasinya.

"Ini tak akan lama, kau akan sangat menikmatinya, bagaimana?" ujar pria itu lagi.

"Hem? Benarkah? Baiklah, dimana?" Tanya Vivi dengan seringai menggoda.

"Ikut aku." Tukas pria itu sambil berdiri dan mengulurkan tangannya yang disambut oleh Vivi.

Pria itu membawanya ke sebuah gang sempit dan menghimpitnya ke tembok. Vivi yang sudah setengah sadar hanya memekik kecil sebelum mulai mendesah saat pria itu menjilati lehernya.

"Ahn!"

Yang dia tidak tahu, disela desahannya, pria itu berubah menjadi sosok mengerikan dengan taring di giginya. Tahu mangsanya sudah sangat terlena, dia mengambil ancang-ancang sebelum menancapkan taringnya di sana.

Crak ...

"Arrggh!"

Vivi yang menyadari sesuatu menghujam kulitnya dengan kuat diiringi sengatan rasa sakit dan panas luar biasa, mulai berteriak. Namun, mulutnya dibungkam oleh tangan besar pria itu. Matanya membelalak lebar merasakan darahnya tersedot, tubuhnya semakin lemas hingga akhirnya dia terkulai bak boneka kain.

Bruk ..

Pria itu melepas gigitannya dari tubuh Vivi dan mundur selangkah, "Nah, bangkitlah anakku. Bawakan aku wanita itu, wanita dengan aroma seharum dewi yang begitu memabukkan. Bawakan aku wanita yang dilindungi Gavin Constantine."


"Vivi?!"

Lexie setengah berteriak disisi temannya itu yang nampak kehilangan fokusnya hari ini. Seharian itu Vivi nampak linglung dan kulitnya pun begitu pucat.

"Ah, maafkan aku. Kau bicara sesuatu, Lexie?" tanyanya setelah sadar dari lamunannya.

"Tidak, aku hanya memanggilmu karena sejak tadi kau seperti tak ada di sini. Apa kau baik-baik saja? Pulanglah jika sakit," ujar Lexie.

Vivi menggeleng cepat, "Tidak, aku baik-baik saja. Aku hanya masih pusing karena terlalu banyak minum semalam."

Lexie mendengus kesal, "Hentikan kebiasaan minummu itu!"

"Sudahlah, konsentrasilah. Kita ada rapat setelah ini, sampai nanti." Lexie berujar sambil melangkah pergi dengan tangan melambai.

Vivi masih terpaku di tempatnya menatap kepergian Lexie, "Aromanya harum sekali."