Lexie mengerutkan dahinya saat lagi-lagi sekretaris Gavin memintanya datang ke ruangan CEO. Dia sungguh tak menyukai itu, walaupun sekretaris pria itu cukup tahu diri untuk menjaga mulutnya, tetap saja pegawai lain akan bergosip di belakangnya.
"Anda memanggil saya, tuan?" tanya Lexie begitu dia sudah berada di dalam ruangan CEO dan mendapati Gavin sedang sibuk memeriksa berkas di mejanya.
"Ya, duduklah dulu." Tukas Gavin tanpa mengalihkan atensinya sedikit pun.
Lexie nyaris mengumpati pria itu lagi dalam hatinya jika dia tak langsung teringat bahwa Gavin entah bagaimana bisa tahu apa yang sedang dibatinnya. Tanpa banyak kata, Lexie melangkah menuju sofa dan duduk di sana dengan punggung tegak.
"Rileks, Alexandria. Kau bahkan boleh berbaring jika kau mau. Aku tak akan memecatmu karena itu," ujar Gavin.
Lexie sontak mendelik ke arahnya, "Tuan, jika Anda masih perlu waktu untuk menyelesaikan pekerjaan, bagaimana jika saya kembali lagi nanti? Akan ada rapat yang masih harus saya siapkan bahannya."
"5 menit. Jadilah anak baik dan tetap diam disana," titah Gavin.
Lexie langsung mengatupkan bibirnya erat, tangannya meremas ujung blazer yang dikenakannya. Wanita cantik itu sedang berusaha keras untuk tak mengumpat atau bermonolog dalam hati.
"Kau tak perlu menahan umpatanmu, Alexandria," Gavin berujar lagi.
"That's it!" batin Lexie tak tahan lagi.
"Tuan Constantine, pernahkah untuk sekali saja dalam ribuan tahun hidup Anda, ada seseorang yang mengatakan bahwa Anda amat sangat menyebalkan?!" ketus Lexie yang tak lagi peduli jika sang CEO akan memecatnya atau apa pun itu sekarang.
"Ada, 1 orang. Kau orangnya," sahut Gavin tanpa berpikir.
"Pria brengsek!" umpat Lexie dalam hati.
"Kau kemarin menyebutku menawan. Ah, lebih tepatnya, hot," sahut Gavin yang sama sekali tak terpengaruh umpatan Lexie untuknya.
Lexie menarik nafas dalam lalu mengeluarkannya perlahan-lahan berusaha untuk tak berteriak memaki pria itu.
"Baiklah, Tuan Constantine. Bisa kita segera selesaikan ini? Saya sungguh masih memiliki banyak pekerjaan." Lexie berusaha menampilkan raut memohonnya.
Gavin tak menjawab dan malah melepas kacamata yang dikenakannya lalu berdiri dan melangkah ke arah Lexie yang menatapnya tajam tanpa gentar.
"Kau mengenal sekretarisku?" tanya Gavin sambil mendudukkan dirinya di sofa seberang Lexie.
"Hanya sebatas mengenal dan tahu dia sekretaris anda. Apa konteks pertanyaan anda sebenarnya?" Lexie bertanya balik tak mengerti.
"Kau sempat menyinggung soal Warewolf, ingin kukenalkan pada salah satunya?" tawar Gavin yang tak menjawab pertanyaan Lexie.
Lexie melebarkan kedua matanya, "Tentu saja saya tak akan menolak!"
Lalu kesadaran menghantamnya hingga membuat antusiasmenya menghilang seketika, "Tunggu, jangan bilang kalau ...."
Dia tak melanjutkan kalimatnya dan terdiam saat Gavin lah yang menyambung perkataan itu dengan sesuatu yang sudah diduganya barusan.
"Ya, Alexandria. Sekretarisku, Jonas adalah apa yang kau sebut Warewolf walaupun itu juga tidak tepat karena dia adalah seorang Lycan,"
"Tapi kau boleh menyebutnya Warewolf jika kau mau, kata itu lebih umum dibanding Lycan yang tak banyak orang tahu kecuali kau penggemar mitologi. Lagi pula mereka sama saja bagiku," imbuh Gavin.
Lexie kehilangan kata-katanya untuk sesaat sebelum kemudian berujar, "Anda bermaksud memintanya menunjukkan sosok aslinya pada saya?"
"Jika kau menginginkannya. Tidak pun tak apa, kau hanya perlu tahu bahwa dia juga akan melindungimu selama kau di area perusahaan ini," tukas Gavin.
"Dan juga beberapa eksekutif serta pegawai di perusahaan ini juga adalah Lycan," lanjutnya.
"Tunggu sebentar." Lexie berkata sambil menggoyangkan kedua tangannya di depan mukanya sambil menggeleng.
Dia terdiam sejenak, "Melindungi saya dari apa?"
Gavin sontak mencondongkan tubuhnya ke depan dengan tatapan serius, "Mereka berhasil membuat setidaknya 3 orang manusia di gedung ini menjadi Vampir sekali pun belum sepenuhnya bangkit dan mereka mengincarmu, Alexandria."
Lexie terperangah dengan matanya yang berkedip lucu. Sungguh hidupnya semakin rumit saja setelah bertemu Gavin dan terlibat dengan mafia yang ternyata adalah sekelompok makhluk menyeramkan di malam gelap itu.
"Kenapa mereka mengincar saya?" tanyanya.
"Kau jelas tak tahu, Alexandria. Tapi bagi makhluk-makhluk itu tubuhmu atau lebih tepatnya jiwamu berbau harum," tukas Gavin.
"Harum?" tanya Lexie tak mengerti.
"Ya, sesuatu yang seharusnya hanya dimiliki oleh mereka yang sepertiku tapi tampaknya kau juga memilikinya karena jiwamu yang tak kunjung mati menjadikanmu secara tidak langsung immortal sepertiku," jelas Gavin.
Lexie menangkup kedua tangannya di depan bibir dengan kening berkerut, "Jika Anda Immortal, bukankah dengan keberadaan Anda sudah cukup untuk melindungi saya?"
Wanita cantik itu masih begitu jelas mengingat betapa luar biasanya Gavin saat menghadapi semua monster aneh itu semalam. Pria itu seakan tak pernah terkalahkan.
Gavin tersenyum kecil mendengar itu, "Karena, Alexandria. Betapa pun aku Immortal, aku tetap bukan Undead. Jadi aku tak bisa melindungimu seorang diri, apalagi jika kau tak selalu berada di dekatku."
Tuk .. tuk ... tuk ..
Lexie mengetuk-ngetukkan sepatunya ke lantai sekarang. Kebiasaan kecil yang selalu dilakukannya ketika dia sedang berpikir.
"Jadi selama situasinya belum aman dengan para Vampir itu, selama saya tetap berada di dalam gedung dengan penjagaan Anda dan para Lycan, saya akan tetap aman?" tanyanya memastikan pemikirannya.
"Ya, kurang lebih begitu," tukas Gavin.
"Ada ciri khusus dari Vampir yang belum sepenuhnya bangkit ini untuk saya perhatikan? Saya jelas tak tahu menahu seperti apa wujud mereka dalam kondisi seperti ini," tutur Lexie.
"Mudah, perhatikan saja gerak nafas dan kedipan matanya, Alexandria. Mereka tak lagi bisa melakukan itu karena pada dasarnya mereka adalah makhluk tak berjiwa," ujar Gavin.
"Vampir baru tak akan bisa beradaptasi dan berpura-pura menjadi manusia yang bernyawa. Kulit mereka pun seputih kertas. Tapi Vampir yang telah hidup lama dan sepenuhnya bangkit, akan jauh lebih sulit dibedakan,"
"Namun, tak perlu khawatirkan mereka. Cukup jarang ada vampir yang mengusik manusia atau menjadikan manusia sebagai targetnya kecuali mereka yang memang sudah terlalu jauh melangkah dan tak bisa menghentikan kebiasaannya membantai manusia," Gavin melanjutkan penjelasannya.
"Mereka ini tergabung dalam kelompok mafia itu?" tanya Lexie.
"Ya, karena memang itu lah tujuannya. Sang bos mencoba membuat tentaranya sendiri untuk melawanku karena selama ini aku lah yang selalu memburu para prajuritnya yang menyerang manusia begitu aku memutuskan tinggal di kota ini untuk beberapa waktu," jelas Gavin lagi.
Lexie lalu teringat dengan siaran berita yang dilihatnya soal pembunuhan di taman dekat apartemennya, "Tapi berita mengatakan bahwa korban para mafia itu tewas tertembak setelah dilecehkan."
Gavin tersenyum simpul, "Itu lah yang ingin mereka buat kau percaya, Alexandria. Mereka tak mungkin mengatakan wanita itu mati terkoyak dan kehabisan darah, bukan?"
"Kau bisa memeriksa pada keluarganya apakah jasad wanita itu dikremasi atau dikuburkan. Aku yakin jasadnya telah dikremasi bahkan sebelum keluarga wanita itu menyadarinya," tukas Gavin.
"Maksud Anda keluarga korban seperti dihipnotis untuk mempercayai dan menyetujui sesuatu sesuai yang mereka inginkan?" simpul Lexie.
"Benar, karena kalian manusia tak boleh sampai tahu keberadaan mereka sekali pun itu cukup sulit karena beberapa makhluk bodoh begitu ingin kalian mengetahui eksistensi mereka," gerutu Gavin.
"Lalu kelompok yang berada di pihak Anda, mereka pasti tidak sepenuhnya manusia biasa, bukan?" Lexie mulai bisa menyimpulkan banyak hal dari semua misteri tentang pria di depannya itu.
"Bingo, kau memang cerdas untuk seorang wanita muda yang tewas di tahun 40-an," puji Gavin.
Lexie sontak memberengut kesal, "Saya tahu kondisi ekonomi dan gizi di tahun itu memang tak sebagus sekarang."
"Oh, itu sebuah pujian, Alexandria." Ujar Gavin sambil terkekeh.
Wanita cantik itu mendengus, "Jika hal semacam itu keluar dari mulut Anda, rasanya selalu seperti sebuah sindiran."
Lexie merasakan hawa dingin yang tak bisa dijelaskannya di ruang rapat siang itu. Dia merasa seperti seseorang sedang mengawasinya sejak tadi. Dia melirik ke arah beberapa orang eksekutif di sana dan mulai mengingat pembicaraannya dengan Gavin.
"Kira-kira siapa diantara mereka Warewolf atau Lycan itu?" batinnya.
"Issh! Aku bisa disangka orang gila jika terus-terusan linglung begini."
"Fokus, Lexie. Fokus."
Lexie bermonolog dalam hatinya berusaha membuat pikirannya kembali berkosentrasi pada rapat penting yang sedang berlangsung. Tak perlu waktu lama baginya setelah itu untuk kembali pada dirinya yang biasa.
Hampir satu setengah jam lamanya rapat itu akhirnya selesai. Lexie yang masih menyelesaikan beberapa catatan bersama asistennya, menjadi yang paling akhir berada di sana.
"Kalau begitu saya akan mengurutkannya sesuai keinginan anda, nona Greco," tukas sang asisten.
"Ya, tolong letakkan saja di mejaku jika kau sudah selesai. Aku ingin membeli kopi di cafetaria bawah dulu." Ujar Lexie sambil mengangguk.
Mereka keluar bersama dan berpisah di ujung koridor dengan Lexie yang menuju lift. Dia menunggu cukup lama sampai akhirnya pintu terbuka.
DING ..
"Eh!" Lexie terkejut ketika sebuah tangan lentik menahan pintu lift yang akan tertutup, dia sontak menekan tombol agar pintu itu tetap terbuka.
"Vivi! Kau mengagetkanku! Bukankah kau sudah kembali sejak tadi?!" ujar Lexie.
"Aku rasa aku juga butuh secangkir kopi," tukas Vivi dengan senyum ganjil di wajahnya.
Lexie sedikit mengerutkan keningnya, dia meneliti cepat penampilan wanita itu yang tak seperti biasanya dan sebuah kesimpulan mengerikan timbul di benaknya.
"Sial, jangan-jangan dia...."
"Apa yang kau lakukan, Lexie? Bukankah kita akan turun?" tanya Vivi dengan nada polos saat mendapati Lexi masih menekan tombol untuk menahan pintu.
"Ah, aku teringat ada sesuatu yang tertinggal. Kau duluan saja." Ujar Lexie yang lalu bergegas keluar dari lift dan melangkah dengan tergesa kembali ke ruangannya.
CTIK ..
Dia mengunci ruangannya dan mengirimkan pesan pada asistennya untuk tidak mengganggunya lebih dulu hingga membuat sang asisten sedikit khawatir mengiranya sedang sakit lagi.
Lexie lalu duduk di kursinya dan berusaha menetralkan jantungnya yang berdebar, "Gila, apa itu tadi? Tidak mungkin Vivi."
"Sial, aku tak akan pergi kemana pun sendirian mulai sekarang," ujarnya lirih.
Lexie lalu mulai menyibukkan dirinya dengan pekerjaan yang harus diselesaikannya hari itu hingga senja menjelang. Dia sadar bahwa sekarang dia tak punya pilihan selain keluar dan menghadapi makhluk apa pun Vivi sekarang.
Ceklek ..
"Speak of the devil," batinnya.
Lexie sama sekali tak terkejut ketika mendapati Vivi bersandar di sebuah pilar yang tak jauh dari pintu ruangannya.
"Lexie, bagaimana jika kita pulang bersama?" sambut Vivi dengan senyum riang seperti biasanya.
"Ah, maafkan aku, Vivi. Tapi aku ada janji malam ini dan seorang supir sudah menjemputku dibawah." Tukas Lexie yang berusaha menampilkan sikap seperti biasa.
"Sayang sekali," lirih Vivi.
"Maaf." Lexie menyahut dengan ekspresi menyesal.
"Tak apa, tapi kau besok harus pulang bersamaku ya," pintanya lagi-lagi kali ini dengan senyum yang nampak ganjil hingga Lexie merasa merinding.
"Aku tak bisa berjanji, Vivi," sahut Lexie tanpa berpikir.
"Nona Greco." Jonas, sekretaris Gavin tiba-tiba muncul dan memanggilnya.
Kedua wanita itu menoleh ke arah pria muda itu dan entah bagaimana Lexie bisa melihat tubuh Vivi sedikit gemetar saat melihat Jonas.
"Tuan Constantine menunggu anda di lobby," tukas Jonas.
"Ah, baiklah. Saya akan ke sana sekarang." Ujar Lexie yang lalu bergegas pergi menuju lift dengan Jonas di belakangnya.
DING ..
Pintu lift terbuka dan Lexie masuk dengan tergesa bersama Jonas yang tetap mengikutinya. Dari sudut matanya, Lexie bisa melihat Vivi masih berada di tempatnya semula seakan mengawasinya bak predator menunggu mangsa.
"Huft!" Lexie menarik nafas lega.
"Terimakasih, Tuan Jonas." Ujar Lexie sembari mengangguk sopan pada pria itu.
"Tak masalah, Nona Greco. Sudah tugas saya untuk melindungi anda sesuai perintah Tuan Constantine," tutur Jonas tegas.
Lexie mengangguk paham, "Boleh saya bertanya, Tuan Jonas?"
"Apa itu, Nona Greco?" sahut Jonas.
"Untuk sesaat tadi saya merasa Vivi seperti takut pada Anda, mengapa begitu?" tanya Lexie yang sudah penasaran sejak tadi.
"Ah, itu karena secara alami kami Lycan adalah musuh Vampir. Lebih tepatnya kami lah yang dulu nyaris membinasakan seluruh bangsa mereka sebelum terjadi perjanjian damai yang di jembatani Tuan Constantine," jelas Jonas.
Lexie justru semakin penasaran setelah mendengarnya sekarang, "Kalau begitu Tuan Constantine lebih unggul dari kalian semua?"
"Tentu saja, Nona Greco," sahut Jonas tanpa ragu.
"Dia itu apa sebenarnya?" lirih Lexie yang masih bisa didengar Jonas.
"Saya takut Anda harus mendapatkan jawabannya sendiri dari Tuan Constantine, Nona," tukas Jonas.
Lexie sontak merengut, "Setelah Vampir, Lycan, lalu apa lagi setelah ini?"
BRAK ...
"Bodoh!"
Vivi meringkuk di sudut gang kecil itu ketika tubuhnya dihempas keras hingga menabrak tembok di belakangnya. Jika dia masih manusia biasa, Vivi yakin dirinya tak akan selamat setelah benturan keras itu.
"Ma-maafkan saya, Tuan," cicitnya.
"Dia jadi begitu waspada dan ada seorang Lycan disana yang melindunginya," tutur Vivi.
"Karena itu aku mengirim dua orang lagi! Kalian seharusnya bekerja sama!" bentak orang yang dipanggilnya tuan itu.
"Sa-saya belum bisa menemukan mereka, Tuan. Mungkin mereka tak datang ke perusahaan hari ini. Saya akan mencoba lagi besok." Vivi berkata, mencoba bernegosiasi sambil tetap menundukkan kepalanya.
"Ini kesempatan terakhir! Jika kau tak berhasil, aku akan menghabisimu!"