Bab 10 - Pria Ini Berbahaya

Penulis Itsme-R
16 January 2026

"Tuan Constantine," Lexie menyapa sambil masuk ke dalam mobil mewah milik pria itu.

"Kau lama sekali," ujar Gavin.

"Maafkan saya, Tuan. Ada sedikit gangguan kecil tadi," tukas Lexie.

"Pakai sabuk pengamanmu." Titah Gavin tanpa menoleh dan mulai melajukan mobilnya keluar dari area itu.

Lexie dengan patuh menggunakan sabuk pengamannya, lalu menatap lurus ke depan begitu dia selesai dengan tangan diletakkan di atas tas di pangkuannya.

"Rileks, Alexandria. Aku seperti sedang membawa bosku alih-alih pegawaiku jika kau bersikap kaku begitu," tukas Gavin.

Lexie langsung melemaskan tubuhnya dan bersandar ke kursi dengan sikap lebih santai, dia bahkan menyilangkan kakinya hingga membuat Gavin tertawa kecil.

"Anda yang meminta saya bersikap santai, Tuan" sindir Lexie ketika mendengar pria itu tertawa.

"Benar, kau bisa bersikap santai saat berdua denganku," ujar Gavin.

"Apa itu sebuah perintah, Tuan?" tanya Lexie.

"Itu permintaan, Alexandria. Tapi jika lebih mudah bagimu menganggap itu sebagai perintah, maka anggaplah begitu," sahut Gavin.

"Tuan, Anda hanya tinggal mengatakan, ya Alexandria itu perintah. Masalah selesai," cecar Lexie.

Gavin tertawa mendengar itu, "Sepertinya kau sudah tak lagi takut padaku."

"Oh, saya masih takut Anda tiba-tiba berubah menjadi makhluk entah apa lalu membantai saya dan semacamnya," tukas Lexie tanpa berpikir.

"Apa yang ada dalam imajinasi kecilmu?" ujar Gavin di sela tawanya.

"Entahlah, sejauh ini saya baru melihat sosok asli Vampir. Apa anda juga akan berubah wujud menjadi seperti itu?" tanya Lexie yang mulai membayangkan pria di sampingnya itu akan berubah menjadi makhluk bersayap dan bertaring.

"Tidak, bisa kupastikan padamu fisikku sejak dulu adalah manusia sama sepertimu," tutur Gavin.

"Makhluk apa yang berwujud manusia berusia ribuan tahun," batin Lexie.

"Aku bukan makhluk, Alexandria. Aku jauh berbeda dari mereka," tukas Gavin.

Lexie sontak mendengus kesal, "Saya akan mencoba mencari tahu apa ada hukum soal pelanggaran privasi yang menyangkut membaca pikiran seseorang tanpa izin."

Gavin tergelak lagi sambil menggelengkan kepalanya, "Kau memang menarik."

"Berapa usiamu saat kau meninggal di tahun 40-an?" tanyanya setelah meredakan tawanya.

"20 tahun," ujar Lexie.

"Pantas saja kau seperti tak mengenal rasa takut saat bicara dengan orang lain," simpul Gavin.

"Kau tinggal sendirian saat itu?" tanya Gavin lagi.

"Tidak, saya tinggal bersama Nenek," tutur Lexie.

Gavin mengerutkan keningnya, "Nenek? dan berapa usia Nenekmu saat itu?"

Giliran Lexie yang menatapnya heran sekarang, dia tak melihat apa hubungannya usia neneknya dengan pembicaraan mereka tapi lalu memutuskan untuk menjawabnya saja.

"Seingat saya, Nenek berusia 79 tahun saat itu," jelas Lexie.

"Orangtuamu?" Gavin bertanya lagi.

"Ibu saya meninggal sekitar 7 atau 8 tahun sebelumnya tepat 3 bulan setelah Ayah saya meninggal," ujar Lexie.

"Siapa nama mereka, Alexandria?" Gavin masih menginterogasinya seakan dia sedang menyelidiki latar belakang keluarga wanita itu.

"Petra dan Claudia Higgins. Sebenarnya apa tujuan anda, Tuan?" Lexie balik bertanya.

"Bukankah sudah kubilang aku sendiri sedang mencari tahu kau ini apa, Alexandria. Aku perlu tahu latar belakang keluargamu" tutur Gavin.

"Anda masih belum bisa menemukannya sampai sekarang?" Lexie bertanya setengah mengejek.

"Jika kau manusia biasa, aku bisa mendapatkan semua detail tentangmu hanya dalam 10 menit, Alexandria. Sayangnya, kau tidak masuk dalam kategori itu, tapi satu yang bisa kupastikan adalah kau jelas bukan mereka, monster yang kau takutkan itu."


Sekumpulan orang berkumpul di sebuah area yang nampak seperti sebuah bangunan dengan tanah luas di sekelilingnya. Kebanyakan dari mereka adalah pria sekalipun tak sedikit juga wanita.

Mereka berkumpul seakan sedang menunggu seseorang sambil berbincang satu sama lain. Beberapa merokok dan berjongkok memainkan ponselnya. Satu hal yang mencolok adalah kulit mereka semua seputih kertas.

Vroomm ..

Sebuah mobil mewah masuk ke area itu dan orang-orang yang berkumpul tadi mulai menegakkan tubuh mereka dan berbaris rapi seakan bersiap menyambut siapa pun yang berada di dalam mobil itu.

Seorang pria yang memakai tongkat, turun dari dalam mobil mewah itu dan melangkah menuju pintu masuk gedung bersama seorang pria lain yang nampak sedikit lebih tua darinya. Semua orang yang berkumpul di sana membungkuk ketika kedua pria itu lewat.

Ketika kedua orang itu telah masuk ke dalam gedung, perlahan semua orang diluar mulai masuk dengan teratur ke dalam gedung dan ketika orang terakhir telah melewati ambang pintu, pintu itu tertutup.

BRAK ...

"Bawakan aku mereka yang akan dibangkitkan malam ini" sang pria yang memakai tongkat memberikan perintahnya.

Pria lain di sisinya mengangguk sambil setengah membungkuk lalu mulai menggestur beberapa orang pria untuk melakukan perintah sang bos. Para pria itu lalu mulai mengeluarkan beberapa orang dari barisan dan meminta mereka menghadap sang bos.

Salah satu di antara mereka adalah Vivi. Wanita itu menatap takut saat diminta menghadap pada sang bos, dia mengingat jelas pria itu. Pria yang ketika dia melihatnya pertama kali memiliki penampilan lebih muda dan mengubahnya menjadi seperti sekarang.

Pria itu menatapnya datar lalu memberinya isyarat untuk berlutut dengan matanya yang tentu saja langsung dilakukan oleh Vivi. Pria itu lalu menyayat telapak tangannya cukup dalam hingga berdarah sebelum menyodorkannya pada Vivi.

"Hisap!" titahnya.

Vivi yang kebingungan, meraih tangan pria itu dengan gemetar lalu mulai menyesap perlahan darah di sana. Sesapan pertama, rasanya aneh. Tapi sesapan kedua dan seterusnya membuat Vivi merasakan sensasi panas yang menyenangkan di tubuhnya.

"Cukup!" Pria itu menarik tangannya hingga membuat Vivi menatapnya tak rela.

Dia lalu melangkah ke arah orang-orang lain yang berjejer di sebelah Vivi dan meminta mereka melakukan hal yang sama, terus sampai ke orang terakhir. Beberapa saat kemudian suasana yang sempat hening, berubah menjadi ramai dengan teriakan dari mereka yang berlutut berjajar itu.

"ARRRRGHH!"

"Uhk!"

"Graaahhh!"

Teriakan, geraman dan erangan tertahan saling bersahutan. Orang-orang itu, termasuk Vivi mulai berubah menjadi sosok-sosok hitam besar dengan semacam sayap dipunggungnya. Sang bos tersenyum puas dan bertepuk tangan heboh seakan begitu menikmati pemandangan di depannya.

"Aldrich!" Panggilnya pada pria yang tadi menemaninya berjalan dari mobil.

"Ya, Tuan?" sahut Aldrich cepat.

"Siapkan mereka untuk menyelinap masuk ke perusahaan milik Constantine dan perintahkan mereka membawakanku wanita itu! Aku tak mau ada kegagalan lagi kali ini," titahnya.

"Baik, Tuan" tukas Aldrich.

"Jika mereka entah bagaimana sampai gagal, bawa para Capo-mu dan bunuh mereka. Aku tak butuh prajurit bodoh!"

Di luar gedung itu, seseorang dengan pakaian serba hitam menatap ke arah gedung dengan tatapan datar. Dia bisa melihat dan mendengar semua yang terjadi di dalam gedung itu walaupun jaraknya sekarang sejauh beberapa ratus meter.

Orang itu menghela nafas gusar, "Tuan Constantine akan sangat marah jika aku melaporkan ini."

Dia lalu berbalik dan menghilang dengan cepat di kegelapan malam seakan tak pernah ada di sana.


Ting .. ting ..

Denting alat makan yang beradu bergema di ruangan privat sebuah restoran mewah. Gavin membawanya ke sebuah restoran yang membuat Lexie merasa ciut karena sepertinya pakaian yang dikenakannya sekarang tak pantas untuk masuk ke restoran itu.

Untungnya dia datang bersama Gavin, mungkin pegawai restoran itu mengira dirinya adalah sekretaris sang CEO atau apalah yang membuatnya bisa ikut makan di sana.

"Kukira aku akan diusir tadi." Pikirnya sambil terus memotong daging di depannya.

"Kau tak akan diusir, restoran ini milikku," ujar Gavin.

TAK ..

Lexie langsung meletakkan garpu dan pisaunya lalu menatap serius ke arah bosnya yang bahkan tak mengangkat sedikitpun tatapannya.

"Tuan Constantine, bisakah kita mulai memperbaiki cara komunikasi yang aneh ini?" tuturnya dengan nada halus yang sangat keras diusahakannya karena Lexie sudah sangat ingin meneriaki pria itu.

"Aneh bagaimana?" tanya Gavin dengan polosnya sambil menyesap minuman di depannya.

"Anda terus mendengar pikiran saya tanpa permisi dan bahkan menimpalinya. Itu bukan cara komunikasi yang bagus, Tuan," tukas Lexie.

"Komunikasi yang kau sebut tak bagus itu yang membuatku tahu kau sedang dalam bahaya kemarin dan hari ini, Alexandria." Ujar Gavin dengan tenangnya.

Lexie tertegun, lalu menghela nafasnya. "Baiklah, itu mungkin benar, tapi saya sungguh sangat kesal jika anda terus melakukan ini."

"Sayangnya seperti yang sudah pernah kukatakan juga, aku tak bisa menghentikannya. Suara pikiranmu itu sudah mengusikku sejak bertahun-tahun lalu yang baru kusadari memang dimulai sejak sekitar tahun 1945," tutur Gavin.

"Jadi anda sudah selalu mendengar suara pikiran saya sejak saat itu?" tanya Lexie tak percaya.

"Ya," Gavin menyahut singkat.

"Lalu?" desak Lexie.

"Lalu aku mencoba mencari tahu suara siapa itu tapi tak kutemukan, ada periode dimana aku tak mendengarnya selama beberapa tahun dan kembali mendengar lagi. Semua cocok dengan siklusmu," ujar Gavin.

"Bagaimana Anda akhirnya bisa menemukan bahwa itu adalah saya?" Lexie bertanya lagi.

"Ada satu waktu ketika aku berada di belakangmu tanpa kau sadari, saat itu kau mengumpati salah seorang rekan kerjamu dan dari ekspresimu yang cocok dengan umpatan itu, aku tahu itu dirimu," jelas Gavin.

"Selain itu, dalam jarak seperti ini aku bisa mencium aroma yang sama darimu seperti yang dicium oleh monster-monster itu," imbuhnya.

Lexie mengedipkan matanya, "Aroma seperti apa yang anda bicarakan ini?"

"Kau tahu Ambrosia?" Gavin balik bertanya.

"Makanan para Dewa" ujar Lexie.

"Aromamu seperti Ambrosia yang juga merupakan simbol Immortality" tukas Gavin.

"Saya masih tak bisa membayangkan seperti apa aromanya, tapi jika itu sesuatu yang dimakan para dewa kedengarannya seperti makanan lezat," celetuk Lexie.

Gavin terkekeh, "Ya, bagi mereka kau memang beraroma lezat."

"Oke, saya mulai membayangkan diri saya seperti Bacon (olahan daging babi) berjalan sekarang," sahut Lexie ngeri.

"Kau perlu belajar menghentikan imajinasi liarmu," komentar Gavin.

Lexie mendengus lalu tanpa mengatakan apa-apa lagi, dia kembali menikmati hidangan yang sempat diabaikannya. Gavin yang melihat tingkah wanita itu kembali tersenyum penuh arti.

"Aku jadi seperti orang lain di depan wanita unik ini."


Gavin terbangun ketika merasakan kehadiran seorang Lycan mendekati mansionnya. Dia turun dari ranjang dan meraih mantel tidurnya sebelum keluar dari kamar. Pria muda itu hanya menyampirkan mantel panjang itu di pundaknya tanpa berniat mengikat bagian depannya, hingga dada dan perutnya yang berotot kuat, tetap tereskpose.

"Puft!"

Lexie yang berada di lantai satu dan bermaksud naik menuju kamarnya, tanpa sengaja berpapasan dengan Gavin dan nyaris menyemburkan air yang diminumnya.

"Tuan, jika Anda mengenakan mantel tidur, tolong kenakan dengan benar." Lexie menegurnya sambil mendelik.

"Aku tak mengerti apa yang kau maksud dengan benar itu," sahut Gavin dengan polosnya.

"Ikatkan talinya, Tuan Constantine." Omel Lexie sambil berusaha tak menatap ke arah dada dan perut berotot yang sungguh menggoda itu.

"Kau yang lakukan," titah Gavin tanpa tahu bahwa wanita di depannya itu sudah sangat salah tingkah sekarang.

"Sa-saya?" Lexie berujar terbata sambil menelan ludahnya kasar.

"Eum." Gumam Gavin sambil mendekatkan tubuhnya pada Lexie.

Wanita itu semakin gugup dan dengan tangan bergetar, Lexie mulai menarik tali yang menjuntai di belakang tubuh Gavin lalu mengarahkannya ke depan dan mengikatnya hingga menutup seperti yang seharusnya.

"Sudah?" Tanya Gavin yang terus memperhatikan Lexie yang wajahnya sudah memerah sejak tadi.

"Su-sudah, Tuan" Lexie menjawab dengan terbata dan mulai melangkah mundur untuk memberi jarak.

Gavin tersenyum kecil, "Terimakasih, Alexandria."

Usai mengatakan itu, dia beranjak pergi dari sana meninggalkan Lexie yang berusaha menetralkan debaran jantungnya yang menggila.

"Pria itu berbahaya, sangat berbahaya." Gumamnya sambil meneruskan langkah menuju lantai atas untuk kembali ke kamarnya.

Sementara itu, Gavin sudah berada di halaman belakang mansion itu dengan mata menatap jauh. Sebuah bayangan hitam yang bergerak cepat mulai mendekat padanya.

BRUK ..

"Tuan," Jonas dalam wujudnya sebagai Lycan berlutut dengan satu kaki di hadapannya.

"Ada sesuatu?" tebak Gavin.

"Ya, Tuan. Mereka membangkitkan vampir baru untuk menyusup masuk ke dalam perusahaan. Tiga diantara mereka adalah pegawai yang kita identifikasi hari ini, lalu lima lainnya mungkin akan menyusup sebagai tamu atau petugas lain yang berkunjung" jelas Jonas.

Gavin mengangguk mengerti, "Baiklah, tak perlu mencegahnya sekarang. Biarkan mereka sedikit di atas angin, lagipula kurasa mereka tak akan langsung memulainya dengan gegabah besok."

"Katakan pada yang lain untuk tetap berjaga di sekeliling Alexandria. Kau juga boleh memanggil beberapa orangmu untuk datang besok. Jika ada yang nekat mendekat dalam cara yang ekstrim, habisi mereka sekaligus!" titahnya lagi.

"Baik, Tuan." Tukas Jonas tegas.

"Ah, Jonas. Kembalilah ke wujudmu sebagai manusia, Nona kecil itu melihatmu dan sedang sangat terkejut sekarang" Gavin berujar sembari terkekeh.

Dirinya menyadari Lexie melihat mereka dari jendela kamarnya yang memang menghadap ke arah lokasinya saat ini dan tentu saja wanita itu melihat sosok Jonas dalam wujudnya sebagai Lycan.

Gavin juga mendengarnya mengumpat dalam hati hingga membuatnya terus terkekeh. Dia lalu menghentikan tawanya ketika Jonas mengatakan sesuatu yang membuatnya terdiam.

"Nona Alexandria sepertinya memiliki bagian darah seperti milik Anda, tapi keabadian dan reinkarnasi itu sepertinya berasal dari kutukan."