Posisi Sekretaris

16 January 2026

Pagi itu, gedung Grup Wijaya tampak sibuk seperti biasa. Deretan mobil mewah keluar masuk area parkir, para karyawan melangkah cepat dengan setelan rapi dan wajah serius.

Di lantai paling atas, lift berhenti perlahan, pintunya terbuka. Arema berdiri di samping Jordi. Jantungnya berdebar tak karuan.

Ini adalah hari pertamanya menginjakkan kaki sebagai bagian dari perusahaan besar, bukan sebagai tamu, bukan sebagai pedagang kecil, melainkan sebagai seseorang yang akan bekerja di sini.

Tangannya mengepal pelan. Telapak tangannya terasa dingin.

"Tenang saja," ujar Jordi singkat, seolah bisa membaca kegugupan Arema. "Kamu nggak sendirian."

Arema mengangguk, meski degup jantungnya belum juga mereda. Mereka melangkah keluar dari lift menuju ruang utama kantor.

Begitu Jordi muncul, suasana kantor langsung berubah. Beberapa karyawan berdiri, sebagian lain menyapa dengan hormat.

"Selamat pagi, Pak Jordi."

"Pagi, Pak."

Jordi membalas anggukan sambil berjalan ke tengah ruangan. Ia berhenti, lalu menoleh ke arah Arema.

"Perhatian sebentar." Suara Jordi tenang, tapi langsung membuat ruangan hening. Semua mata tertuju ke arahnya, dan ke Arema.

"Mulai hari ini," ujar Jordi, "Arema akan bergabung di sini sebagai sekretaris pribadi saya."

Arema refleks menunduk sedikit, wajahnya memanas. Puluhan pasang mata memandangnya, ada yang ramah, ada yang penasaran, ada pula yang datar tanpa ekspresi.

"Mohon kerja samanya," lanjut Jordi. "Saya harap semua bisa membantu proses adaptasinya."

Beberapa karyawan tersenyum dan mengangguk.

"Selamat bergabung."

"Selamat datang Mbak Arema."

"Semoga betah."

Arema membalas dengan senyum canggung. Dadanya terasa penuh antara gugup, takut, dan haru. Ia tidak pernah membayangkan berdiri di posisi ini, di ruangan sebesar dan semewah ini.

Namun, di sudut ruangan, sepasang mata menatapnya dengan tajam. Dia adalah Sisca.

Perempuan itu berdiri di dekat meja bendahara, wajahnya dingin. Senyumnya tipis, nyaris tak terlihat, namun sorot matanya jelas menyimpan sesuatu yang tidak ramah.

Tangannya mencengkeram map di dadanya lebih erat. Sekretaris pribadi? batinnya berdesis. Perempuan entah dari mana ini tiba-tiba muncul dan langsung duduk di posisi itu?

Selama bertahun-tahun, Sisca bekerja rapi, disiplin, selalu sigap setiap kali Jordi membutuhkan data keuangan. Ia yakin, cepat atau lambat, posisi sekretaris pribadi itu akan jatuh ke tangannya.

Namun kenyataannya, orang luar justru mendapatkannya.

Arema tidak menyadari tatapan itu. Ia masih berusaha menenangkan dirinya sendiri. Jordi kemudian mengajak Arema berjalan menyusuri lorong menuju ruangannya.

"Ruang kamu di sini," ujar Jordi sambil membuka pintu sebuah ruangan di sebelah ruangannya sendiri.

Arema tertegun. Ruangan itu tidak besar, tapi rapi, modern, dan nyaman. Meja kerja berwarna cokelat tua, kursi empuk, rak arsip tertata, komputer baru, dan jendela besar yang menghadap kota.

"Ini, tempat kerja saya?" tanya Arema pelan, seolah takut salah dengar.

"Iya," jawab Jordi singkat. "Sekretaris pribadi harus dekat dengan saya."

Arema mengangguk pelan. Tenggorokannya terasa tercekat.

"Dulu aku cuma duduk di bangku kecil di depan gerobak martabak. Sekarang aku punya ruang kerja sendiri," batinnya.

Jordi meletakkan map di atas meja Arema. "Kita mulai pelan-pelan. Minggu ini kamu belajar dulu. Jangan sungkan bertanya."

Arema duduk perlahan, tangannya menyentuh permukaan meja. Dingin, halus, nyata.

"Ini jadwal saya," lanjut Jordi sambil membuka map. "Agenda rapat, email masuk, dan dokumen penting. Tugas kamu nanti menyaring semuanya."

Arema mendengarkan dengan saksama, mengangguk setiap kali Jordi menjelaskan. Meski masih asing dengan istilah-istilah kantor, ia berusaha mencatat semuanya.

"Tenang saja," kata Jordi lagi. "Saya tahu latar belakang kamu bukan dari dunia kantor. Itu bukan masalah."

Arema menatap Jordi, sedikit terkejut.

"Yang penting kamu mau belajar dan jujur. Sisanya bisa diajarkan," lanjut Jordi.

Arema menelan ludah, lalu mengangguk mantap. "Saya akan berusaha, Pak. Saya janji, nggak akan mengecewakan Bapak."

Jordi tersenyum tipis. "Bagus."

Waktu berjalan cepat. Arema mulai diperkenalkan pada sistem email, pengarsipan digital, cara menerima telepon, dan menyusun jadwal. Beberapa karyawan mendekat untuk membantu, memberi arahan kecil.

Namun, setiap kali Arema merasa sedikit lebih percaya diri, ia merasakan tatapan itu lagi. Dari kejauhan, Sisca memperhatikan.

Belajar dulu seminggu? Tanggal satu sudah dihitung kerja? Rahang Sisca mengeras.

Enak sekali hidupnya. Saat Jordi kembali ke ruangannya, Arema masih duduk memeriksa dokumen. Tiba-tiba Jordi kembali keluar membawa sebuah amplop cokelat tebal.

"Rema," panggilnya.

"Iya, Pak?" Arema berdiri refleks.

Jordi menyerahkan amplop itu. "Ini buat kamu."

Arema terkejut. "Apa ini, Pak?"

"Uang makan dan kebutuhan kamu sampai akhir bulan."

Arema langsung menggeleng. "Nggak, Pak. Saya masih punya uang. Ini terlalu banyak."

Jordi menatapnya datar. "Terima saja."

"Tapi, Pak ...."

"Ini bukan sedekah," potong Jordi tegas tapi tenang. "Ini tanggung jawab saya sebagai atasan. Kamu kan belum langsung kerja, jadi bukan depan kamu nggak punya gaji."

Arema terdiam. Ia bingung harus apa dan bagaimana.

"Tanggal dua puluh sekarang," lanjut Jordi. "Tanggal satu bulan depan kamu sudah resmi dihitung kerja. Anggap ini uang operasional."

Arema menggigit bibirnya. Ia merasa tidak enak, sangat tidak enak. Namun di sisi lain, ia tahu dirinya memang membutuhkan. Perlahan, ia menerima amplop itu.

"Terima kasih, Pak," ucapnya lirih. "Saya janji nggak akan menyia-nyiakan kepercayaan ini."

Jordi mengangguk. "Kerja yang baik."

Saat Jordi kembali ke ruangannya, Arema duduk memandangi amplop itu lama. Dadanya terasa sesak.

Hidupku benar-benar berubah. Dan aku harus kuat menjalaninya.

Di luar ruangan, Sisca menatap pintu itu dengan mata menyipit. Tangannya mengepal.

"Sekretaris baru itu ... kita lihat saja seberapa lama kamu bisa bertahan di sini, Rema.

Dan tanpa disadari Arema, hari pertamanya di dunia baru bukan hanya awal dari harapan, tetapi juga awal dari sebuah persaingan yang diam-diam mulai menyala.

**

"Ya sudah, saya tinggal dulu, saya masih ada urusan sama kien." Begitu langkah kaki Jordi menjauh, suasana berubah.

Arema masih duduk di kursinya, menata napas, ketika tiba-tiba pintu ruangannya terbuka tanpa ketukan.

Seorang perempuan masuk dengan langkah percaya diri. "Karyawan baru?" tanyanya datar, nyaris tanpa ekspresi.

Arema refleks berdiri. "Eh, iya, Mbak. Aku Arema."

Sisca menyilangkan tangan di dada, menatap Arema dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan sorot mata meremehkan. Bibirnya melengkung tipis, bukan senyum, lebih seperti ejekan.

"Buatin aku kopi," perintahnya singkat.

Arema mengerutkan kening. "Kopi? Tapi, Mbak, aku ...."

"Dengar ya," potong Sisca ketus. "Semua karyawan baru di sini nurut sama aku."

Arema terdiam ....

"Papaku itu saudara dekat Pak Jordi," lanjut Sisca dengan nada angkuh, bohong tanpa ragu. "Kalau aku lapor ke papaku, kamu bisa langsung dipecat dari sini. Mau?"

Wajah Arema langsung pucat. Ia menelan ludah. "Maaf, Mbak. Aku buatin sekarang," ucapnya cepat.

Arema lalu bergegas keluar menuju ruang pantry. Tangannya sedikit gemetar saat menuang air panas ke gelas. Ia mencoba menenangkan diri, meyakinkan diri bahwa ini hanya bagian dari penyesuaian kerja.

Tak lama, Arema kembali membawa secangkir kopi. "Ini, Mbak," katanya pelan sambil menyodorkan gelas.

Sisca mengambil gelas itu, lalu dengan sengaja, tangannya memiringkannya.

Praaang!

Pagi itu, gedung Grup Wijaya tampak sibuk seperti biasa. Deretan mobil mewah keluar masuk area parkir, para karyawan melangkah cepat dengan setelan rapi dan wajah serius.

Di lantai paling atas, lift berhenti perlahan, pintunya terbuka. Arema berdiri di samping Jordi. Jantungnya berdebar tak karuan.

Ini adalah hari pertamanya menginjakkan kaki sebagai bagian dari perusahaan besar, bukan sebagai tamu, bukan sebagai pedagang kecil, melainkan sebagai seseorang yang akan bekerja di sini.

Tangannya mengepal pelan. Telapak tangannya terasa dingin.

"Tenang saja," ujar Jordi singkat, seolah bisa membaca kegugupan Arema. "Kamu nggak sendirian."

Arema mengangguk, meski degup jantungnya belum juga mereda. Mereka melangkah keluar dari lift menuju ruang utama kantor.

Begitu Jordi muncul, suasana kantor langsung berubah. Beberapa karyawan berdiri, sebagian lain menyapa dengan hormat.

"Selamat pagi, Pak Jordi."

"Pagi, Pak."

Jordi membalas anggukan sambil berjalan ke tengah ruangan. Ia berhenti, lalu menoleh ke arah Arema.

"Perhatian sebentar." Suara Jordi tenang, tapi langsung membuat ruangan hening. Semua mata tertuju ke arahnya, dan ke Arema.

"Mulai hari ini," ujar Jordi, "Arema akan bergabung di sini sebagai sekretaris pribadi saya."

Arema refleks menunduk sedikit, wajahnya memanas. Puluhan pasang mata memandangnya, ada yang ramah, ada yang penasaran, ada pula yang datar tanpa ekspresi.

"Mohon kerja samanya," lanjut Jordi. "Saya harap semua bisa membantu proses adaptasinya."

Beberapa karyawan tersenyum dan mengangguk.

"Selamat bergabung."

"Selamat datang Mbak Arema."

"Semoga betah."

Arema membalas dengan senyum canggung. Dadanya terasa penuh antara gugup, takut, dan haru. Ia tidak pernah membayangkan berdiri di posisi ini, di ruangan sebesar dan semewah ini.

Namun, di sudut ruangan, sepasang mata menatapnya dengan tajam. Dia adalah Sisca.

Perempuan itu berdiri di dekat meja bendahara, wajahnya dingin. Senyumnya tipis, nyaris tak terlihat, namun sorot matanya jelas menyimpan sesuatu yang tidak ramah.

Tangannya mencengkeram map di dadanya lebih erat. Sekretaris pribadi? batinnya berdesis. Perempuan entah dari mana ini tiba-tiba muncul dan langsung duduk di posisi itu?

Selama bertahun-tahun, Sisca bekerja rapi, disiplin, selalu sigap setiap kali Jordi membutuhkan data keuangan. Ia yakin, cepat atau lambat, posisi sekretaris pribadi itu akan jatuh ke tangannya.

Namun kenyataannya, orang luar justru mendapatkannya.

Arema tidak menyadari tatapan itu. Ia masih berusaha menenangkan dirinya sendiri. Jordi kemudian mengajak Arema berjalan menyusuri lorong menuju ruangannya.

"Ruang kamu di sini," ujar Jordi sambil membuka pintu sebuah ruangan di sebelah ruangannya sendiri.

Arema tertegun. Ruangan itu tidak besar, tapi rapi, modern, dan nyaman. Meja kerja berwarna cokelat tua, kursi empuk, rak arsip tertata, komputer baru, dan jendela besar yang menghadap kota.

"Ini, tempat kerja saya?" tanya Arema pelan, seolah takut salah dengar.

"Iya," jawab Jordi singkat. "Sekretaris pribadi harus dekat dengan saya."

Arema mengangguk pelan. Tenggorokannya terasa tercekat.

"Dulu aku cuma duduk di bangku kecil di depan gerobak martabak. Sekarang aku punya ruang kerja sendiri," batinnya.

Jordi meletakkan map di atas meja Arema. "Kita mulai pelan-pelan. Minggu ini kamu belajar dulu. Jangan sungkan bertanya."

Arema duduk perlahan, tangannya menyentuh permukaan meja. Dingin, halus, nyata.

"Ini jadwal saya," lanjut Jordi sambil membuka map. "Agenda rapat, email masuk, dan dokumen penting. Tugas kamu nanti menyaring semuanya."

Arema mendengarkan dengan saksama, mengangguk setiap kali Jordi menjelaskan. Meski masih asing dengan istilah-istilah kantor, ia berusaha mencatat semuanya.

"Tenang saja," kata Jordi lagi. "Saya tahu latar belakang kamu bukan dari dunia kantor. Itu bukan masalah."

Arema menatap Jordi, sedikit terkejut.

"Yang penting kamu mau belajar dan jujur. Sisanya bisa diajarkan," lanjut Jordi.

Arema menelan ludah, lalu mengangguk mantap. "Saya akan berusaha, Pak. Saya janji, nggak akan mengecewakan Bapak."

Jordi tersenyum tipis. "Bagus."

Waktu berjalan cepat. Arema mulai diperkenalkan pada sistem email, pengarsipan digital, cara menerima telepon, dan menyusun jadwal. Beberapa karyawan mendekat untuk membantu, memberi arahan kecil.

Namun, setiap kali Arema merasa sedikit lebih percaya diri, ia merasakan tatapan itu lagi. Dari kejauhan, Sisca memperhatikan.

Belajar dulu seminggu? Tanggal satu sudah dihitung kerja? Rahang Sisca mengeras.

Enak sekali hidupnya. Saat Jordi kembali ke ruangannya, Arema masih duduk memeriksa dokumen. Tiba-tiba Jordi kembali keluar membawa sebuah amplop cokelat tebal.

"Rema," panggilnya.

"Iya, Pak?" Arema berdiri refleks.

Jordi menyerahkan amplop itu. "Ini buat kamu."

Arema terkejut. "Apa ini, Pak?"

"Uang makan dan kebutuhan kamu sampai akhir bulan."

Arema langsung menggeleng. "Nggak, Pak. Saya masih punya uang. Ini terlalu banyak."

Jordi menatapnya datar. "Terima saja."

"Tapi, Pak ...."

"Ini bukan sedekah," potong Jordi tegas tapi tenang. "Ini tanggung jawab saya sebagai atasan. Kamu kan belum langsung kerja, jadi bukan depan kamu nggak punya gaji."

Arema terdiam. Ia bingung harus apa dan bagaimana.

"Tanggal dua puluh sekarang," lanjut Jordi. "Tanggal satu bulan depan kamu sudah resmi dihitung kerja. Anggap ini uang operasional."

Arema menggigit bibirnya. Ia merasa tidak enak, sangat tidak enak. Namun di sisi lain, ia tahu dirinya memang membutuhkan. Perlahan, ia menerima amplop itu.

"Terima kasih, Pak," ucapnya lirih. "Saya janji nggak akan menyia-nyiakan kepercayaan ini."

Jordi mengangguk. "Kerja yang baik."

Saat Jordi kembali ke ruangannya, Arema duduk memandangi amplop itu lama. Dadanya terasa sesak.

Hidupku benar-benar berubah. Dan aku harus kuat menjalaninya.

Di luar ruangan, Sisca menatap pintu itu dengan mata menyipit. Tangannya mengepal.

"Sekretaris baru itu ... kita lihat saja seberapa lama kamu bisa bertahan di sini, Rema.

Dan tanpa disadari Arema, hari pertamanya di dunia baru bukan hanya awal dari harapan, tetapi juga awal dari sebuah persaingan yang diam-diam mulai menyala.

**

"Ya sudah, saya tinggal dulu, saya masih ada urusan sama kien." Begitu langkah kaki Jordi menjauh, suasana berubah.

Arema masih duduk di kursinya, menata napas, ketika tiba-tiba pintu ruangannya terbuka tanpa ketukan.

Seorang perempuan masuk dengan langkah percaya diri. "Karyawan baru?" tanyanya datar, nyaris tanpa ekspresi.

Arema refleks berdiri. "Eh, iya, Mbak. Aku Arema."

Sisca menyilangkan tangan di dada, menatap Arema dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan sorot mata meremehkan. Bibirnya melengkung tipis, bukan senyum, lebih seperti ejekan.

"Buatin aku kopi," perintahnya singkat.

Arema mengerutkan kening. "Kopi? Tapi, Mbak, aku ...."

"Dengar ya," potong Sisca ketus. "Semua karyawan baru di sini nurut sama aku."

Arema terdiam ....

"Papaku itu saudara dekat Pak Jordi," lanjut Sisca dengan nada angkuh, bohong tanpa ragu. "Kalau aku lapor ke papaku, kamu bisa langsung dipecat dari sini. Mau?"

Wajah Arema langsung pucat. Ia menelan ludah. "Maaf, Mbak. Aku buatin sekarang," ucapnya cepat.

Arema lalu bergegas keluar menuju ruang pantry. Tangannya sedikit gemetar saat menuang air panas ke gelas. Ia mencoba menenangkan diri, meyakinkan diri bahwa ini hanya bagian dari penyesuaian kerja.

Tak lama, Arema kembali membawa secangkir kopi. "Ini, Mbak," katanya pelan sambil menyodorkan gelas.

Sisca mengambil gelas itu, lalu dengan sengaja, tangannya memiringkannya.

Praaang!